Terbawa Perasaan

1200 Kata
Entah kenapa, saat bersama Noella, nafsu makan Caleb yang tadi tidak ada, seketika muncul kembali. Tanpa sadar mereka makan sambil mengobrol segala hal. "Jadi, Kana menolak cowok itu begitu saja kak, padahal pria itu sudah mendekati dia selama kita kuliah, cowok itu ganteng loh, kek artis hollywood," cerita Noella dengan seru. Caleb hanya diam saja sambil mengambil sedikit nasi goreng buatannya dan memasukkannya ke dalam mulut. Noella terdiam sebentar saat melihat bibir Caleb yang tebal dengan sedikit bulu halus di wajahnya yang melengkapi ketampanan pria itu. "Bagaimana bisa seorang pria memiliki bulu mata lebih tebal dari wanita?" tanya Noella mengagumi wajah Caleb sampai akhirnya pria itu terbatuk karena merasa jengah. "Lalu, tahu nggak yang lebih anehnya?" Noella segera menambahkan seakan dia tadi tidak berhenti bicara. Caleb menatapnya lagi, dan Noella ingin sekali mengambil kamera dan memfoto wajah pria itu. Karena Caleb hanya menatapnya dan tak menjawab, Noella segera melanjutkan ceritanya. "Cowok itu tiba-tiba malah menyatakan cintanya padaku," ujar Noella sambil menyendok nasi goreng dan memasukkan nasi goreng itu sedikit ke mulutnya. "Harus jaga image," ujar Noella dalam hati walau sebenarnya perutnya sudah bergetar berulang kali meminta diisi lebih penuh. "Hah?" Noella terkejut karena baru kali ini Caleb menanggapi apa yang dia katakan. "I-iya…cowok yang aneh kan, hanya jarak 1 bulan dia mendekatiku dan bulan berikutnya dia menyatakan kalau dia jatuh cinta padaku," ucap Noella sambil meraih gelas dan minum. Caleb masih menatapnya seperti bingung. "Lalu, kenapa kamu tak menerimanya?" tanya Caleb setelah dapat mengatasi keterkejutannya. Pria itu memandang Noella yang menurutnya sangat cantik. Rambutnya megar coklat keemasan dan sebenarnya berantakan, tapi menurut Caleb rambutnya itu sangat cocok dengan wajahnya yang putih mungil. Bibirnya yang berwarna merah muda mengkilap karena terkena minyak goreng. Sangat cantik, Noella adalah wanita yang sangat cantik. Wanita itu menoleh dan mengerutkan keningnya seakan-akan pertanyaan Caleb sangat bodoh lalu tak lama wajahnya seakan terluka sehingga Caleb teringat sesuatu. Menurut Aruna, Noella menyukainya, itu tidak mungkin, wanita berambut pirang kecoklatan ini adalah adiknya. “Tidak mungkin Noella menyukaiku?.tidak mungkin kan?” tanya Caleb dalam hati. “Oooh, aku ha-hanya tidak mau bersaing dengan Kana. Tidak mungkin aku pacaran dengan cowok yang pernah menyukai Kana, rasanya pasti aneh kan?” jawab Noella setelah beberapa saat. Hatinya terasa sakit. Apakah Kak Caleb benar-benar yang menanggapi perasaan sukanya? “Ternyata dia benar-benar tak menganggapku sebagai seorang perempuan,” erang Noella sedih dalam hatinya. “Ooh iya pasti aneh ya?” sambung Caleb karena merasa canggung, terlebih ketika Noella tiba-tiba berdiri. “Ah aku sudah kenyang, aku mandi dulu deh, habis itu baru kita susun barang,” ujarnya tersenyum dan tanpa berkata apa-apa lagi Noella segera masuk ke kamarnya. Caleb seketika itu merasa bersalah. “Haish, sepertinya aku salah berkata-kata lagi,” erang Caleb menyesal. Dia menatap nasi goreng Noella yang masih tersisa sambil menghela napas panjang. Noella tahu seharusnya dia tidak boleh terbawa perasaan. Dia memang bukan siapa-siapanya Kak Caleb, jadi wajar saja pria itu bertanya seperti tadi padanya. “Kenapa aku tak menerima cowok blasteran itu ya kemarin, biar aku bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai. Aku sudah berumur 25 tahun, tak seharusnya aku masih saja melajang seperti sekarang,” keluh Noella dalam hati merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Karena terburu-buru tadi, dia lupa untuk berakting kaki sakit lagi. “Ah sudahlah, setelah keanehan tadi, apakah Kak Caleb masih mau membantuku?” tanya Noella dalam hati mulai menyerah. Pria itu masih memandangi punggung Noella saat wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Dengan perasaan tidak enak, Caleb ke dapur dan mulai membersihkan segala perlengkapan masaknya tadi dan piring makan mereka tadi. Nasi gorengnya masih bersisa, pria bermata coklat kehijauan itu menghela napas dan menutupnya dengan tudung saji. “Kana tak mau memakannya, Noella menyisakannya, apakah nasi gorengku tidak enak ya?” desah Caleb dalam hati. Sambil mendesah Caleb melihat handphonenya yang hening dari tadi. “Ini hari minggu seharusnya dia sedang jadwalnya membawa semua bajunya ke laundry. Biasanya Caleb akan datang ke kosan Aruna, dan mengangkati pakaian kotornya lalu membawanya ke laundry, “Apakah dia sekarang bisa melakukan hal itu sendiri? Tangan dia kecil dan lemah, bagaimana kalau dia kecapean nantinya?” pikir Caleb dalam hati tanpa sadar masih saja memanjakan Aruna. ”Apakah seharusnya aku menelponnya ya?” pikir Caleb dalam hati sambil menatap handphonenya lagi Aruna menatap handphonenya dengan kesal. Bagaimana mungkin Caleb tidak menghubunginya. Dari kemarin malam saat berkencan dengan Indra, Aruna sengaja mematikan suara handphonenya, dia takut Caleb akan terus menelponnya, meminta agar dia kembali bersamanya. Tetapi, di luar sangkaannya, ternyata tidak ada telepon dari Caleb sama sekali. Aruna sampai tidak percaya saat melihat handphonenya. Tadi malam dia berpikir mungkin Caleb ketiduran atau melakukan hal membosankan lainnya, tapi pagi ini akan menghubunginya, tapi sampai hari menjelang siang, pria itu masih tidak ada kabar. Apakah Caleb serius melepaskan dirinya? Kenapa sekarang Aruna menjadi kesal sekali. Harusnya pria itu merengek kepadanya dan memohonnya untuk kembali dan Aruna akan dengan senang menolaknya dan menyuruhnya pergi. Dengan itu Caleb pasti memohon dengan bodoh sehingga Arunia bisa menyuruhnya melakukan apapun. Tapi, apa yang terjadi saat ini benar di luar sangkaan. Yang membuat Aruna semakin kesal adalah, sesudah Indra kemarin menciumnya , mereka resmi berpacaran, tetapi pria itu juga tidak menghubunginya sampai detik ini. “Ada apa dengan pria-pria ini semua?” tanya Aruna dalam hati dengan kesal. Dia pikir dia sudah berhasil membuat Indra tergila-gila dengannya, dia berharap Indra bisa menjadi pengganti Caleb yang bisa dia suruh-suruh. Tapi nyatanya. Indra malah sepertinya lupa kalau mereka sudah jadian. Aruna memandang ke sekeliling kamar kosannya dan mendengus. Biasanya dia tinggal meminta Caleb membersihkannya dan kamarnya langsung rapi saat dia pulang dari mall. Sekarang tampaknya Aruna harus mulai merapikan kamarnya sendiri. “Haish, dasar pria menyebalkan!” pekik Aruna kesal sambil menghentakkan kakinya. Saat dia sedang mengangkati pakaian kotornya, handphonenya berdering. Aruna segera tersenyum senang, akhirnya pria itu menyerah dan menghubunginya duluan. Noella segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Air dingin membuat dirinya yang merasa panas karena amarah yang tidak pada tempatnya itu kembali mereda. “Apa hakku untuk marah, sudah untung aku masih bisa menatapnya dan berbicara dengannya. Bahkan sesaat lagi dia akan membantuku untuk merapikan kamar. Seharusnya aku bersyukur, baru beberapa hari yang lalu aku sempat frustrasi karena tak dapat berbicara dengannya sama sekali, sekarang seharusnya aku sangat bahagia!” perintah Noella pada dirinya sendiri dalam hati sambil merasakan dinginnya air menerpa wajahnya. Tapi mengapa pertanyaan pria itu barusan membuat Noella kepikiran? “Haish, Noella kamu tuh harus tahu diri!” pekiknya memarahi dirinya sendiri lagi. Caleb sedang duduk di pinggiran tempat tidur Noella, saat wanita itu masuk dengan hanya mengenakan handuk. Seperti biasa Noella melupakan untuk membawa baju ganti setelah mandi, betapa terkejutnya Noella saat melihat Caleb sedang duduk di atas tempat tidurnya. Caleb terbelalak menatap Noella yang masih mengenakan handuk. “Ma-maaf, seharusnya aku tidak asal masuk saja, ka-kamu berpakaianlah dahulu!” ujar Caleb dengan bola mata membulat saat menatap Noella. Dia tanpa berkata apa-apa lagi segera berjalan keluar. Jantung Noella berdebar kencang. “Astaga, malu!” erangnya saat pintu kamarnya tertutup. “Apakah Kak Caleb melihat kalau aku menggantung pakaian dalam dibalik pintu ini?” tanya Noella meringis sambil segera menarik cangkang penutup bagian atasnya itu dari balik pintu. “Sangat memalukan!” keluh Noella dengan sangat menyesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN