Caleb merasakan jantungnya berdebar kencang. Apa yang dia pikirkan tadi, duduk seenaknya di dalam kamar seorang wanita. “Wanita, iya walau Noella adalah adiknya, tapi jelas dia juga seorang wanita,” gumamnya dalam hati.
Pria itu baru menyadari kalau Noella ternyata memiliki tubuh yang sangat menawan. Caleb segera ke dapur untuk minum segelas air putih untuk menghilangkan bayangan tubuh Noella tadi.
Noella segera berpakaian dan merapikan kamarnya. Bagaimana bisa dia menggantung benda keramat itu di balik pintu, sangat memalukan sekali, untung yang digantung adalah yang model terbaru, bukan model yang membosankan.
“Ish apa yang aku pikirkan, bagaimanapun itu be..ha, benda keramat yang seharusnya tidak boleh dilihat orang lain, terutama Kak Caleb! Haduh bagaimana ini?” tanya Noella meratap sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sambil menghela napas panjang, dia berjalan keluar dari kamar dan mencari di mana pria tampan itu berada. Dengan melangkah pelan-pelan, wanita berambut pirang kecoklatan itu keluar sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Tapi pria itu tidak ada. Noella lalu berjalan ke ruang tengah dan memperhatikan foto-foto jaman dahulu mereka, ada beberapa foto Noella yang terpajang sambil memeluk Kana.
“Kalian bersahabat sudah lama juga ya?” Tiba-tiba suara dalam yang Noella selalu rindukan muncul di belakang tubuhnya. Wanita itu memutar tubuhnya dan pandangan mereka bertemu. Pipinya segera bersemu merah karena teringat insiden yang terjadi barusan.
Caleb juga merasa canggung, karena tak sengaja melihat Noella dengan hanya menggunakan handuk. Sering kali Noella menginap di rumah mereka, tapi baru kali ini kejadian seperti ini terjadi. Disaat mereka hanya berdua di rumah.
“Untung ini terjadi padaku, bagaimana kalau Noella di kosannya sendiri, dasar anak yang ceroboh,” pikir Caleb saat mendekati wanita itu. Noella agak tersentak saat mendengar suara Caleb dan segera tersenyum canggung saat pandangan mereka bertemu.
“Ah…iya sejak SMA, jadi kira-kira sudah 7 tahun deh,” ujar Noella sambil menghitung dalam hati.
“7 tahun dan tidak pernah terpisah ya?” tanya Caleb sambil mengambil foto kelulusan mereka berdua yang di pigura. “Aku ingat kamu yang memaksa Kana untuk berfoto, bajunya masih bersih sedangkan bajumu penuh coretan,” ujar Caleb tersenyum kaku sambil memperhatikan foto itu.
Noella mengambil pigura itu dan memperhatikan wajahnya yang konyol dan wajah Kana yang masam. “Akh aku ingat, aku minta berfoto kalau tidak aku tidak mau menjadi temannya lagi. Aku tak menyangka kalau dia takut kalau tak lagi berteman denganku, padahal aku hanya bercanda. Aku yang akan bingung kalau dia tak mau lagi jadi temanku,” ujar Noella sambil tertawa.
“Aku mau mencoret bajunya, tapi dia tak mau. Kana selalu begitu, tak seru,” sambung Noella tertawa lagi sambil memandang Caleb yang hanya tersenyum.
Mereka berpandangan lagi dan kembali canggung. Semua ini karena benda yang tergantung sembarangan tadi. Ini hal yang baru bagi Noella, biasanya dia tak pernah canggung saat bersama Kak Caleb, tapi pandangan pria itu padanya hari ini rasanya sepertinya berbeda.
“Ah, tapi paling hanya perasaanku saja, dia mungkin merasa aku gadis aneh yang menggantung benda keramatnya sembaranga,” ujar Noella dalam hati membuang kecurigaannya.
“Ayo kita mulai merapikan kamarnya?” ajak Caleb saat mereka saling berpandangan dalam keheningan. Noella segera mengangguk dan tersenyum. “Ayok,” ujarnya lalu kembali berjalan tertatih-tatih ke kamarnya sendiri. Melihat hal itu Caleb kembali merasa bersalah.
Saat pria itu mengikutinya ke dalam kamar, Noella segera mencoba mengambil dus pertama dari tumpukan teratas dan mau menurunkannya ke bawah tapi Caleb segera mengambilnya dari Noella.
"Biar aku aja yang ambil kardusnya, kakimu masih sakit." Pria itu mengambil kardus dari belakang tubuh Noella, sehingga aroma sabun maskulin dari Caleb sangat menggoda indra penciuman wanita itu.
Jantung Noella segera berdebar kencang saat merasakan kedekatan mereka. "Haish kenapa Kak Caleb wangi sekali. Wahai jantungku, harap tenang, dia hanya mengambil dus," ujar Noella dalam hatinya. Dia mundur dan memberikan jalan buat Caleb meletakkan box itu di lantai.
"Apa ini isinya, berat sekali," ujat Caleb sambil meletakkan dus itu dengan pelan-pelan di lantai lalu duduk di hadapan dus itu.
"Aah, apa ya? Aku lupa kasih nama," ujar Noella sambil menggaruk kepalanya sambil terkekeh. Dia duduk di lantai lalu mencoba mengorek selotip yang menempel di dus.
Caleb mendengus saat melihat apa yang dilakukan Noella, pria itu berdiri dan keluar dari kamar, dan segera kembali dengan membawa gunting.
Noella terkekeh saat Caleb membuka dus dengan gunting. Pria itu membuka dus dan segera menutupnya kembali.
"Engg…sepertinya kamu bisa mengurus yang itu, aku akan menurunkan dus yang lain dari tumpukan," ujar Caleb dengan wajah memerah. Perasaan Noella kembali tidak enak, sebenarnya isi dus itu apa sih?
Dengan takut-takut Noella menbuka dus itu dan ternyata apa yang dia takutkan terjadi. "Haish kalau tadi hanya sebuah yang tergantung, kini seluruh isi kardus itu adalah benda yang serupa dengan berbagai warna yang berbeda.
Wanita berambut pirang kecoklatan itu segera menutup dus dan seketika itu juga kembali memaki dirinya. Satu dus itu berisi pakaian dalamnya semua. Noella segera teringat waktu dia sedang berkemas dahulu, dengan maksud agar mudah, dia mengelompokkan bajunya jadi satu, termasuk pakaian dalamnya.
"Ahh, iya ini nanti saja belakangan urusnya, yang lain saja kita buka." Dia segera tertawa tidak enak sambil mencoba berdiri untuk meraih dus yang lain tapi kaki ya kembali berdenyut ngilu.
"Aah," pekiknya pelan lupa kalau kaki ya sedang terkilir.
"Sudah kamu duduk saja, biar aku yang ambil, sergah Caleb mengerutkan alisnya yang tebal dengan kesal karena Noella yang tak bisa diam. Walau malu melihat isi dus yang tadi, dia tak akan membiarkan Noella mengambil dus sendiri, gadis itu terlihat sangat kesakitan.
Pria itu menurunkan satu dus lagi dan meletakkannya lagi di hadapan Noella, tapi kali ini walau dia sudah membukanya selotipnya dengan gunting, pria itu tidak asal membukanya seperti tadi.
Dengan perasaan tidak enak, Noella membuka dus itu dan merasa lega karena kali ini berisi rangkaian besi untuk rak bukunya.
"Apa itu?" tanya Caleb setelah merasa isi dus itu aman. Pria itu mendekat dan berjongkok di samping Noella.
"Aku senang membaca, ini adalah rangkaian besi untuk rak buku-bukuku," jawab Noella yang juga lega karena isi dus kali ini yang aman. Caleb segera tersenyum senang. Kali ini dia bisa membantu Noella.
"Kakak akan bantu pasang. Kamu tunggu saja sebentar juga jadi," ucap pria itu keluar untuk mengambil peralatan untuk memasang rak itu.
Mereka bekerja sama tanpa banyak bicara, karena Caleb sangat serius dalam mengerjakan rak buku dan rak-rak lain untuk menaruh segala barang wanita itu.
Caleb meletakkan dus demi dus dan Noella pelan–pelan menatanya sampai dus terakhir.
"Ah, ini," gumam Noella saat membuka dus itu. "A-apa isinya?" tanya Caleb sangsi karena takut melihat isi dus yang seharusnya dia tak boleh lihat lagi.
"Tirai buat jendela," ujar Noella sambil menunjuk jendela samping tempat tidurnya yang langsung menuju ke taman.
"Oh gampang, aku akan pasangkan buatmu," ujar Caleb sambil mengambil tirai berwarna coklat krem itu.
"Iya, kalau bisa sih hari ini kak, kakak tahu kan aku takut kalau melihat gelap di luar," ujar Noella sambil terseyum.
"Iya, aku tahu," jawab Caleb yang teringat betapa ketakutannya Noella kalau di tempat gelap.
"Semalam bagaimana kamu tidur?" tanya Caleb penasaran. "Aku tidak tidur," erang Noella dalam hati. Dia terkekeh sambil menggaruk hidungnya.
"Aku masuk dalam selimut," ucapnya bohong.
"Harusnya kamu beri tahu aku, jadi aku semalam pasang itu duluan," ujar Caleb menyesal.
"Nggak apa-apa sekarang kan tinggal pasang," ujar Noella sambil mengeluarkan tirai. Caleb segera mencoba mengambil tirai itu dari tangan Noella dan mencoba memasangnya.
Namun, walau dia tinggi ternyata tempat sangkutan tirai lebih tinggi dia mencoba berdiri di atas bangku, tapi karena bangku yang ada di ruangan itu adalah kursi tua, kursi itu jadi bergoyang-goyang dan berderit dengan bising.
"Waduh, sepertinya bangkunya tidak kuat menahan beban beratku," erang Caleb dengan nada menyesal.
"Kok bisa, badan Kak Caleb kan bagus, berotot," ujar Noella dengan santainya membuat Caleb mendengus mendengarnya.
"Aku tak bohong, sepertinya lari pagi Kak Caleb berhasil membuat tubuh Kak Caleb seperti artis Korea," puji Noella lagi sambil berusaha berdiri.
"Coba kamu, kakak pegangin bangkunya," ujar Caleb mengacuhkan ucapan Noella sambil menyerahkan tirai itu kepada wanita berbola mata keemasan itu. Wanita itu mengangguk dan segera naik ke atas bangku dengan pelan-pelan.
Tepat seperti yang diperkirakan Caleb, tubuh mungil Noella cukup ringan untuk bertahan di atas kursi itu. Kursi walau bergoyang dapat Caleb tahan dengan kedua tangannya. Namun yang tidak pria itu pikirkan adalah, selama wanita itu memasukkan tirainya di batang tirai, tubuh mereka menjadi sangat dekat.
Aroma manis dari sabun Noella mulai menggelitik hidung Caleb. Aroma lembut yang menggugah dirinya.
Sabun dan parfum Aruna selalu menusuk hidung pria itu. Caleb pernah pelan-pelan memberitahukan kalau dia tak begitu suka dengan parfum Aruna. Wanita itu segera marah. Dia mengatakan kalau Caleb, norak dan kampungan karena tak menyukai aroma parfumnya yang bermerk. Wanita itu ngambek selama seminggu.
Sedangkan aroma lembut dari sabun Noella sangat menggoda indra penciuman pria itu, tanpa sadar dia menghirup aroma itu dengan senang.
Awalnya Noella tak merasakannya, tapi desahan dan hidung Caleb yang semakin mendekat pada Noella akhirnya membuat wanita itu tersadar. Jantungnya berdebar kencang, sedangkan bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya berdiri. Merasakan kedekatan ini dengan pria yang dia sukai bertahun-tahun, membuatnya merinding.
"Apakah aku bau? Tapi kan aku baru mandi, kenapa dia mengendus seperti itu sih?" tanya Noella gugup dalam hati. Dia menghela napas panjang untuk menenangkan jantungnya, walau terus gagal.
Saat mau memasukkan kaitan yang terakhir posisinya agak jauh ke kanan, sehingga Noella harus berjinjit sedikit di pojok kursi tua itu. Wanita itu kembali lupa kalau kakinya sedang sakit. Dia berjinjit dan berhasil memasukkan ke batangan tirai, namun sakit menusuk segera muncul di pergelangan kakinya. Wanita itu mengaduh dan tiba-tiba saja Noella kehilangan keseimbangan.
Caleb yang sedang tidak siap, tidak memegang kursi itu dengan benar. Kursi itu terjatuh dan segera patah kakinya. Noella terlempar dan terjatuh di atas Caleb yang sedang mencoba menangkapnya.
Tapi, walau sepertinya klise, dan tak masuk akal, semua terjadi padanya dengan cepat.
Noella bahkan sering mentertawakan adegan itu di drama Korea bersama Kana. "Adegan itu sangat tidak masuk akal, tidak ada kebetulan yang seperti itu," ujarnya kepada Kana yang langsung mengangguk setuju.
Namun, kali ini itu benar-benar terjadi padanya. Bibirnya terjatuh tepat di atas bibir Caleb.
Karena kakinya yang keseleo, Noella mendapatkan ciuman pertamanya dengan Caleb.