Chapter 14

1887 Kata
"Ehm … em … ehem!" Gaishan berdehem membersihkan tenggorokannya. "Kamu dah umur berapa? Lima puluh tahun? Dah kalor, mana kelihatan nggak cool banget," tanya Fathiyah. Fathiyah sudah merubah cara dia memanggil dan berbicara dengan Gaishan setelah Gaishan makan bersama mereka kemarin siang. Fathiyah merasa bahwa, Gaishan ini memang orang baik yang sebenarnya enak diajak bicara atau mengobrol, sifat Gaishan supel dan ramah, tidak banyak neko - neko seperti tuan muda kaya yang lain. "Masih muda. Jangan khawatir, saya-um." Gaishan berhenti berbicara, dia baru sadar bahwa Fathiyah tidak lagi memanggilnya dengan sebutan 'Anda', Gaishan tersenyum senang. Ini artinya pendekatan pertamanya berhasil. Berhasil! Berhasil! Berhasil! Ye! Ye! Ye! "Em, aku masih muda kok, Tia. Ini waktu aku tadi malam masuk ke kamar, nggak sengaja kepalaku nyangkut di celah pas mau nutup pintu, makanya rambut di ubun - ubun aku sebagian kecil tercabut." Fathiyah yang sedang duduk di dasar mikrolet, "...." dia kurang paham penjelasan Gaishan. Apakah orang kaya mengunci pintu lalu kepala mereka, mereka tinggalkan? "Ooh, aku ngerti." Fathiyah manggut - manggut, "Kamu masuk kamar tidak bawa kepala, kepala kamu ketinggalan di luar." Gaishan, "...." entah apa yang terjadi, Gaishan ingin kejang - kejang di dalam mikrolet. "Bajay, kiri, Bang! Ada penumpang." Fathiyah melanjutkan kerja. Sedangkan Gaishan hanya melihat bagaimana cara Fathiyah berteriak memanggil calon penumpang. Ada seulas senyum muncul di bibir Gaishan. Gadis yang dia lihat sekarang ini, sangat kuat dan tahan banting. Gaishan melihat telapak tangan Fahtiyah yang warna kulitnya sekarang tidak lagi gelap. Bahkan terkesan bersih dan kinclong. Hal ini membuat Gaishan bertekad untuk memesan sebanyak mungkin produk perawatan wajah dan badan untuk Fathiyah. Jayadi yang sedang menyetir melirik ke arah sepupu dan Gaishan. Jayadi merasa bahwa, salah satu tuan muda Nabhan ini mungkin ada rasa suka dengan adik sepupunya, tapi dia untuk saat ini tidak ingin berharap lebih, siapa tahu itu hanya perasaannya saja. Waktu berlalu hingga jam setengah dua belas siang. Gaishan melirik jam tangan di pergelangan tangan kiri. Dia harus ke kantor sekarang, sebab dia akan pergi makan siang bersama para kru, sudah cukup dia empat kali putar keliling jalur yang sama. Gaishan melihat ke kaca depan, "Bang Jay, aku turun di depan, yah!" "Oh, turun di sini, Gaishan?" tanya Jayadi, dia memberhentikan mikrolet perlahan di depan pintu kantor milik Gaishan. "Iya," jawab Gaishan, "aku asa janji dengan karyawan. Mereka baru selesai pemotretan di Bali, Lombok dan Jakarta, bolak - balik terus, jadi saya ingin mengajak mereka untuk makan siang bersama. Ah, nanti besok baru kita makan siang bersama, yah? Saya janji." "Ok," sahut Jayadi. Gaishan turun, dia tersenyum ke arah Fathiyah, "Aku masuk ke kantor yah, pegangan yang erat, awas jatuh." "Selama tiga tahun aku jadi kenek, udah pegangan erat - erat, malah tempat pegangan di sini dah bolong, aku colokin dengan jari," uhar Fathiyah menunjuk tempat pegangan di depan pintu bagian dalam, itu ada di langit - langit mikrolet bagian pintu, "nanti kalau masih lihat aku terus, matamu juga bakalan bolong, aku colokin." Fathiyah berbisik agak kuat ke arah Gaishan. Gaishan, "...." salah dia apa sih? Tolong seseorang katakan apa yang dia lakukan salah? Gaishan kembali tersenyum tanpa dosa. Beberapa karyawan menyapa bos mereka. "Pak Gaishan." "Selamat siang, Pak Gaishan." "Wah, ada Pak Gaishan." "Pak Gaishan, selamat siang." Gaishan mengangguk, "Selamat siang semua." Saat dia hendak berbalik untuk masuk ke pintu kantor, Fathiyah berteriak, "Woy, belum bayar!" Gaishan menghentikan langkah kakinya. Sedangkan beberapa karyawan Gaishan melirik bingung ke arah Fathiyah yang masih bergelantungan di depan pintu mikrolet sambil melotot ke arah Gaishan. "Naik enak - enak sampai berjam - jam, keliling muter - muter jalur banyak kali, tapi tidak mau bayar. Bajay! Jangan jalan dulu, aye mau minta bayaran." Gaishan berbalik dengan gaya cool ke arah Fathiyah, dia tersenyum manis semanis mungkin agar Fathiyah berniat lompat ke arahnya dan menggigit wajahnya yang tampan. "Untuk pembayaran, sudah saya diskusikan dengan Bang Jay tadi pagi, bahwa-" "Bahwa situ mah ngutang?" potong Fathiyah. "Hoe, gue bergelantungan macem monyet di depan pintu mikrolet, teriak sana - sini macam singa lapar, lu kate bayarnya ngutang?" Gaishan masih mempertahan senyum manis. Harus manis, harus tahan iman, harus tahan hati. Ingat, laki - laki Nabhan tidak menjambak perempuan. "Oh jangan salah paham, saya bayar lewat transfer bank." "Fathi, lu ngapain di situ? Gaishan dah bayar kok, ini bukti transferan dua juta dah masuk!" Jayadi yang asik melihat ponsel setelah Gaishan turun dari mikrolet. Rupanya pesan masuk adalah sms banking dengan debit masuk dua juta rupiah. Kurang bangga apalagi coba Jayadi itu? "Eh?" Fathiyah menatap cengo ke arah Gaishan yang tersenyum indah tanpa runtuh diterpa angin asap knalpot motor yang bertebaran gentayangan mengisi seluruh ibukota. "Tia, sudah masuk transfer uangnya." Gaishan memperlihatkan bukti transfer dari layar ponsel ke arah Fathiyah agar Fathiyah percaya bahwa dia telah membayar lunas tanpa cicil apalagi utang. "Fathi, buruan narik! Ade penumpang lain nunggu nih!" teriak Jayadi. "Oh, iye … iye." Fathiyah mundur perlahan sambil kikuk melihat wajah Gaishan. Seperti orang yang salah tingkah. Gaishan menunggu hingga mikrolet biru itu menjauh lalu dia berbalik ke arah para karyawan yang sedang melihat adegan tidak disengaja tadi. "Kesalahpahaman, hahahah." "Hahaha." Karyawan yang ada ikut tertawa. Gaishan berjalan masuk ke perusahaan. Dia disapa banyak orang, termasuk beberapa reporter, presenter dan artis yang baru saja melakukan siaran langsung di sebuah acara. "Pak Gaishan." "Halo, Pak, selamat siang." "Ah, ada Pak Gaishan, halo, Pak." "Pak Gaishan, selamat siang." "Ke kantor hari ini, yah Pak?" "Halo, selamat siang semua. Ya, saya ke kantor hari ini karena ada beberapa urusan." Gaishan membalas ramah ke arah orang - orang yang menyapanya. "Saya ke atas dulu," ujar Gaishan sambil menunjuk ke arah lift. "Ah, baik, Pak." Gaishan naik lift lalu pintu lift tertutup. Beberapa orang yang tadi memberi salam pada Gaishan, kini merumpi. "Pak Gaishan itu ramah banget yah orangnya," ujar artis a. "Iya, Mbak Jul, bos kami memang orang yang ramah. Beberapa artis dan penyanyi di sini sangat memuja beliau, para pekerja dibawah naungan Gaishan's entertainment juga sangat menghormati beliau. Selain beliau orangnya supel dan ramah, beliau juga perhatian pada semua keryawan, baik itu repoter atau presenter seperti saya, kru, cleaning servis, satpam, atau bahkan artis papan atas sekalipun yang lahir dari Gaishan's Entertainment, beliau tidak pernah pilih kasih," balas presenter. Artis a yang disapa Mbak Jul itu, manggut - manggut. "Ah, tapi aku dengar dari beberapa desas - desus di beberapa karyawan tadi, bukan tadi juga sih, tapi sudah lama. Ehm, itu, Pak Gaishan ini dekat dengan model terkenal Risty, kan?" Presenter untuk sementara diam, lalu dia tersenyum profesional, "Sebenarnya, Pak Gaishan dekat dengan semua artis dan model, kok." "Bukan dekat secara bos dan pekerja, yang aku maksud, dekat secara hubungan pribadi, yah pribadi, terpisah dari hubungan pekerjaan." Koreksi Mbak Jul. Presenter tersenyum profesional, sepertinya desas - desus kedekatan antara bos dan salah satu model mereka telah beredar cukup luas. Ingatkan dia untuk berhati - hati nanti. "Oh, itu. Hahaha, kalau masalah pribadi bos saya, saya juga tidak terlalu memahami, secara Mbak Jul tahu sendiri kan, saya sebagai orang yang dikontrak kerja di sini, tidak berhak tahu menahu mengenai masalah pribadi bos saya." "Ah, benar juga. Huuhm, aku terlalu banyak tanya. Hahaha." °°° Gaishan keluar dari lift, dia berhenti di lantai lima. Beberapa karyawan dan kru sedang berbincang - bincang santai di ruang santai ini. Mereka menengok ke arah Gaishan yang tersenyum ramah ke arah mereka. "Selamat siang, semua." Spontan semua orang berdiri tegak, mereka mengangguk ke arah Gaishan. "Pak Gaishan, selamat siang." "Selamat siang, Pak." "Sudah menunggu lama? Maaf, saya tidak naik mobil, akhir - akhir ini saya berencana untuk mengurangi polusi udara dengan cara naik kendaraan umum. Tadi mikrolet yang saya naiki muter dulu sesuai jalur lalu berhenti dia depan kantor saya," ujar Gaishan sok bijak. "Ah, tidak apa - apa, Pak Gaishan. Kami baru saja duduk, ya kan?" anggota kru a melihat ke arah kru b. "Iya, Pak. Baru saja duduk," sahut anggota kru b. "Pak Gaishan, duduk dulu, baru sampai kan." Ajak ketua kru. "Hahaha, saya pikir terlambat." Gaishan melihat jam, sudah jam 12 siang, "Oh ya, sebagai tanda merayakan bahwa kru angel telah selesai melakukan pemotretan yang lumayan lama dan perjalanan bolak - balik, saya hari ini mengajak semua kru angel untuk makan siang di restoran Farikin's Food." Semua anggota kru saling melirik. "Tenang saja, gratis. Saya bayar. Hahahaha." Gaishan menggoda para karyawan. "Hahahah!' para anggota kru terbahak - bahak. "Ok, sudah jam dua belas siang, tanpa buang - buang waktu, kita dengan mobil perusahaan saja, ayo!" ujar Gaishan penuh semangat. "Baik, Pak!" °°° Risty disambut hangat oleh para pelayan dan manager. "Nona Risty, Tuan Gaishan sudah memesan tempat di lantai tiga. Jadi, silakan ikut saja," ujar manager. "Kak Gaishan yang pesan?" Risty terlihat kaget sekaligus senang. Manager berusaha tersenyum profesional. Dalam pikirannya, jadi ternyata desas - desus antara salah satu tuan muda Nabhan dengan model terkenal. "Ya, tadi pagi beliau sendiri yang menelepon saya," jawab manager. Risty menutup mulutnya lalu tersenyum malu - malu harimau. "Kak Gaishan itu memang perhatian. Padahal tadi malam saya mengajak makan siang, tidak disangka, Kak Gaishan memesan tempat khusus untuk berdua, ah … saya lupa, Kak Gaishan sangat memperhatikan privasi saya." Manager hanya tersenyum. Dia membuka pintu di lantai tiga. "Mari, silakan masuk, sebentar lagi Tuan Gaishan akan tiba." Risty melihat ke dalam restoran laintai tiga. Pikirnya, Gaishan memesan tempat sebesar ini, untuk mereka berdua, seharusnya bilik privat saja sudah cukup. Ah, mungkin Gaishan ingin suasana lebih luas. Risty tersenyum senang. "Ok." Dia masuk lalu duduk di kursi empuk restoran. Gaishan orang pertama yang memasuki pintu restoran. Beberapa pelayan memberi salam. Kebetulan, manager baru saja turun dari lantai tiga. "Tuan Gaishan." "Ah, Bu Ani, bagaimana kabar Ibu?" tanya Gaishan. "Saya baik, Tuan. Terima kasih," balas manager Ani. "Jadi, artis kita sudah datang kan?" tanya Gaishan. "Sudah, Tuan. Di lantai tiga, sesuai instruksi Anda," jawab Ibu Ani. "Ok, terima kasih. Saya dan para kru akan naik untuk makan siang." Gaishan pergi ke arah tangga, dia berbalik ke arah kru. "Sebaiknya kita naik tangga saja, toh hanya sampai lantai tiga, apakah ada yang keberatan? Atau yang lain bisa naik lift." "Oh, tidak keberatan, Pak. Kami senang naik tangga," balas kru. Gaishan mengangguk. °°° Risty menambal lipstick yang menurutnya sudah termakan angin saat perjalanannya dari tempat parkir ke restoran. Dia melihat bibir merahnya yang berkilau terang yang jika dilihat orang awam akan mengakibatkan kebutaan sementara karena tidak bisa membedakan mana bibir dan mana daging sapi segar yang baru dipotong. Risty tersenyum melihat pantulan bibir merah di depan cermin. Dia melirik jam, sudah pukul 12.40 siang. Bunyi langkah kaki terdengar mendekat, lalu tak lama bunyi gagang pintu dibuka. Risty cepat - cepat memasukkan lipstick merah darah ke dalam tas lalu memperbaiki anak rambut yang menurutnya berantakan. "Risty, maaf yah sudah membuat kamu menunggu lama," ujar Gaishan. Risty tersenyum mempesona ke arah Gaishan, "Kak Gaishan nggak lama kok." Dia berdiri hendak ke arah Gaishan, namun senyum mempesonanya kaku seketika. "Halo, Risty," sapa sutradara. "Halo, Mbak Risty." "Wah, Mbak Risty lebih dulu yah." Beberapa kru menyapanya. Wajah Risty kaku, dia melihat ke arah Gaishan yang tersenyum di depannya. "Nah, ide makan siang ini, semua karena Risty. Ayo semua mari masuk. Makanan sudah ada di belakang kalian." "Ayo, Risty." Gaishan duduk di tengah kursi. Yang lain masuk restoran, banyak pelayan membawa makanan prasmanan mewah. Risty kaku di tempat. Dia berusaha untuk memperlihatkan senyumnya yang tadi sempat kaku. Gaishan melihat ke arah Risty yang sedang berdiri, "Risty, ngapain berdiri terus, ayo sini duduk." Risty tersenyum menahan kebingungan bin kesal. Dia berjalan pelan nan anggun ke arah kursi restoran. Apa - apaan ini?! °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN