Chapter 15

2060 Kata
Risty berusaha untuk tersenyum senatural mungkin ke arah para kru dan sutradara. "Ayo, makanan ini sebenarnya disajikan dengan piring, tapi berhubung kita banyak orang dan semua orang pasti punya selera makan besar, jadi saya putuskan untuk prasmanan saja, jadi semua orang bisa mengambil sebanyak mungkin," ujar Gaishan. "Ayo, makan." Gaishan menimba makanan yang telah disajikan di tempat prasmanan. "Ah yah, habis makan di sini, boleh bawa pulang sesuka hati untuk keluarga," sambung Gaishan. "Terima kasih, Bos!" "Terima kasih, Pak Gaishan." "Bos, terima kasih." "Pak Gaishan, terima kasih." Hahaha menaikkan jempol kanan ke arah orang - orang. Sementara itu, Risty duduk di kursi restoran dengan hati yang penuh dongkol. Dia berpikir bahwa, makan siang ini hanya akan ada dia dan Gaishan. Namun, kenyataan menyadarkan dia dan mengembalikan dia ke dunia nyata. "Loh, kenapa, Ris? Kamu tidak suka makanan ini? Apa aku minta untuk bawakan makanan lain untukmu?" tanya Gaishan setelah dia duduk di kursi. Gaishan melihat, banyak orang yang berlomba menimba makanan sebanyak mungkin, bahkan ada yang telah tambah dua kali, namun artis-nya ini seakan tidak berselera makan. "Suka kok, Kak Gaishan," jawab Risty. Gaishan hanya manggut - manggut, dia mulai menikmati makan siangnya. Risty menggigit bibir bawahnya, dia merasa sangat kesal. Risty berdiri dari kursi seakan dia tidak ingin berdiri. Dia pergi ke meja prasmanan lalu mengambil piring dan menimba makanan. Sedikit, sedikit sekali makanan yang diambil Risty untuk makan. Saat Risty duduk kembali di kursi makan, Gaishan melirik ke arah piring Risty. "Kamu makan sedikit sekali." Risty tersenyum ke arah Gaishan, dia memposisikan dirinya di banyak orang bahwa dia dan Gaishan sangat 'dekat' dan akrab. "Kak Gaishan ini selalu saja memperhatikan porsi makanan Risty," ujar Risty, dia tersenyum ke arah Gaishan. "Harus dong, jangan sampai sakit. Makan banyak itu sehat," balas Gaishan senang, dia sedang mengingat betapa banyaknya Fathiyah makan nasi goreng dan bakso dengan porsi jumbo. Percakapan ini disalahartikan oleh sutradara dan para kru. Mereka saling melirik dan menoel. Sebagian dari mereka sudah menyimpulkan bahwa sang bos dan artis mereka ini memang benar - benar mempunyai hubungan pribadi. Wajah Risty memerah tersipu malu. Yah, entah malu atau gede rasa atas apa yang dibalas oleh Gaishan. "Tadi malam Risty balas pesan Kak Gaishan loh," ujar Risty. Para kru mulia saling melirik lagi, bahkan ada yang sedang menunduk makan, namun mereka melirik dengan ekor mata ke arah teman di samping. Ucapan Risty ini mengartikan bahwa Gaishan yang lebih dulu mengirim pesan pada Risty. "Oh, iya. Maaf, tadi malam aku langsung tidur. Lelah. Kemarin … saya ada urusan pribadi," balas Gaishan. Urusa pribadi …. Urusan pribadi itu adalah urusan naik mikrolet mengelilingi jalur mikrolet berulang kali. "Nggak apa - apa kok. Ah, kabar Tante Gea gimana? Risty mau ke rumah Kak Gaishan, mau ketemu Tante Gea, oh, Bushra sekarang kerja di Pariwisata, pasti sibuk," ujar Risty. "Ya benar. Dia sibuk terus. Papa sampai marah - marah setiap kali dia lembur atau dinas di luar. Bawaannya aku dan Ghifan yang dimarahi," balas Gaishan. Gaishan mengangguk membenarkan ucapan Risty. "Nah kan. Om Busran jadi ngomel pasti," sambung Risty. "Hu'um." Gaishan menyahut. Fix, bos dan Risty ada hubungan. °°° Risty berjalan mengikuti belakang Gaishan. Dia menggenggam tas branded dengan dua tangan. Acara makan siang telah selesai. Para kru keluar dari pintu restoran Farikin's Food dengan perut buncit dan senyum lebar. Perut kenyang, hati pun senang. Masing - masing di tangan mereka menenteng satu atau dua tas paper bag yang di dalamnya ada isi makanan mewah dari Farikin's Food untuk mereka bawa pulang. Tak mau kalah, Gaishan juga menenteng dua paper bag besar dari restoran, hanya Risty saja yang tidak membawa makanan apapun dari restoran. "Ok, karena semua telah selesai makan, saya berikan waktu libur hari ini, silakan pilang ke rumah lalu beristirahat, besok juga boleh libur untuk menghabiskan waktu dengan keluarga atau yang jomblo tidur di rumah," ujar Gaishan. "Terima kasih, Pak Gaishan." "Bos, terima kasih." "Sudah sudah. Hari ini saya dapat banyak terima kasih. Malah saya harus berterima kasih pada kalian semua. Berkat kalian perusahaan dan pekerjaan jalan dengan baik. Ah ya, ada mobil perusahaan yang mengantar kru pulang, tapi jika ingin ke perusahaan, boleh juga, saya tidak larang." "Bai, Pak Gaishan." "Baik, Bos." "Pak Gaishan, kami permisi." Kru dan yang lainnya pulang. Wajah mereka membawa kebahagiaan. Tinggallah sutradara, Risty dan Gaishan saja. "Kak Gaishan, Risty naik mobil kak Gaishan saja ke kantor," ujar Risty. Gaishan menoleh ke arah Risty. "Saya sekali, aku tidak bawa mobil ke kantor. Tadi aku naik mikrolet ke kantor. Ah, begini saja, Risty naik mobil ke kantor dengan pak Seyan saja, Pak Setan mau ke kantor kan? Ataukah mau pulang ke rumah?" Gaishan melirik ke arah sutradara. "Oh bisa, Pak. Saya kebetulan mau ke kantor dulu. Mau melihat hasil kemarin," jawab sutradara. "Oh, tidak usah. Saya naik taksi saja. Saya mau ke rumah saja," tolak Risty. "Oh begitu. Baiklah, tidak apa - apa. Aku berhentikan taksi untuk kamu naik yah?" tawar Gaishan. Dia hendak memberhentikan taksi, namun Risty mencegat cepat. "Nggak apa - apa, Kak Gaishan. Risty bisa sendiri. Risty mau telepon asisten Risty dulu." "Loh? Asisten kamu? Bukannya tadi sudah diantar oleh mobil perusahaan?" Risty berusaha untuk mencari alasan lain. "Ya … em … nanti Risty telepon. Kak Gaishan mau pulang ke rumah?" "Nggak, aku mau pergi ke suatu tempat. Ada urusan dengan teman," jawab Gaishan. "Baiklah, aku duluan. Pak Seyan, saya duluan." "Baik, Pak Gaishan. Hati - hati," balas sutradara. Gaishan mengangguk. Sepeninggal Gaishan berjalan kaki menyusuri trotoar jalan agar mencari jalur lewat mikrolet, sutradara melihat ke arah Risty. "Saya duluan." "Ya." Risty mengangguk. Beberapa lama setelah sutradara pergi, Risty berjalan ke arah basement parkir lalu masuk ke dalam mobil. Puk puk puk! "Hii hii hii!" Risty kesal, dia menampar stang setir. "Apa - apaan ini? Makan siang apa?" "Bukan ini yang aku mau!" Risty hampir meraung gila di dalam mobil. °°° Gaishan menunggu di depan halte. Dia duduk di tempat duduk dan memangku hati - hati dua paper bag besar yang dia bawa. Dia melirik jam, jam menunjukan pukul dua lewat dua puluh menit, sudah lumayan lama dia makan siang sambil bercengkrama dengan para kru dan yang lainnya. Sudah sekitar sepuluh menit Gaishan duduk. Banyak mikrolet yang lewat, namun dia tidak memberhentikan mikrolet itu. Tak berapa lama, ada satu mikrolet familiar yang dia lihat. Gaishan tersenyum cerah, dia cepat - cepat berdiri lalu berdiri di ujung trotoar, dia berusaha memperlihatkan dirinya ke arah mikrolet itu agar orang yang membawa mikrolet lihat siapa dia. Mikrolet berhenti, beberapa orang naik lebih dulu. Namun, Gaishan mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlomba naik. Seorang lelaki mendorong Gaishan agar menjauh dari tempat duduk, namun Gaishan melihat ke arah lelaki itu. "Maaf, Anda duduk di tempat duduk saya,* ujar Gaishan. "Heum? Siapa cepat dia dapat. Saya yang naik lebih dulu. Memangnya di kursi ini ada tulisan nama kamu?" tanya lelaki itu sinis. Gaishan menunjuk ke arah sandaran, "Memang tempat yang ini ada nama saya." Lelaki itu melihat ke arah sandaran belakang tempat duduk. Jayadi melirik ke belakang, ada penumpang tetap. Wah, tidak bisa dibiarkan lolos. Hari ini dia sudah dapat dua juta, itu artinya Gaishan telah membayar dimuka. "Mas, memang tempat duduk itu sudah disewa oleh Mas yang ini," ujar Jayadi. Fathiyah melirik ke arah dalam mikrolet. "Tapi saya yang lebih dulu naik," lelaki itu tidak mau turun. "Tapi saya yang lebih dulu bayar," balas Gaishan. Dia mengeluarkan kartu nama lalu memperlihatkan ke arah lelaki itu. "Tempat ini sudah disewa secara sah oleh Gaishan R. Nabhan, seperti yang Anda lihat, nama di sandaran belakang ini sama dengan nama yang ada di KTP saya." Gaishan tersenyum manis. Lelaki penumpang, "...." "Ehm! Mas, maaf yah, tempat ini sudah dipatenkan oleh Mas ini," ujar Jayadi. Lelaki itu turun dari mikrolet dengan mulut komat - kamit mencebik kesal. Gaisham dengan cepat duduk di tempat yang sudah dia sewa, dia mengembuskan napas lega. Ternyata tidak gampang berebut tempat duduk di dalam mikrolet. "Gaishan, dah duduk, kan? Aku jalan yah?" tanya Jayadi. "Sudah, Bang Jay, jalan gih," jawab Gaishan. Mikrolet jalan. Penumpang melihat ke arah Gaishan yang duduk lega di tempat duduk. Mereka baru tahu, bahwa tempat duduk mikrolet bida disewa. Ingatkan mereka untuk menyewa tempat duduk nanti. Fathiyah duduk di dasar mikrolet sambil melirik ke arah Gaishan. "Dari mana? Perasaan tadi kamu turun di depan kantor kamu." "Aku dari restoran, tadi saya dan kru yang baru saja menyelesaikan pemotretan makan di restoran, jadi aku jalan dari restoran ke halte tadi, nunggu mikrolet ini datang," jawab Gaishan. "Oh, pantas saja kamu keringatan, jalan toh." Fathiyah manggut - manggut. "Tia, kamu dan Bang Jay udah makan siang apa belum?" tanya Gaishan. "Jam segini kalau belum makan, kita dah metong. Ini dah mau jam tiga, jelas kita sudah makan lah," jawab Fathiyah. Gaishan mengangguk mengerti. Dia memperlihatkan dua paper bag kepada Fathiyah dan Jayadi yang sedang menyeti, "Ini aku bawa makanan untuk kamu dan Bang Jay, seharusnya bisa untuk enam orang. Nanti bisa makan malam kalau pulang." "Wah, makasih yah, Gaishan. Kamu baik banget," ujar Jayadi, dia tersenyum. "Sama - sama, Bang," balas Gaishan. "Karena Tia dan Bang Jay lagi kerja, aku pegang yah sampe pulang," tawar Gaishan. "Loh, Shan. Kamu nggak pulang ke rumah? Mau nunggu kita sampe selesai narik?" Jayadi. "Iya, jalan - jalan dikit." Gaishan tersenyum. Fathiyah hanya melihat wajah Gaishan. Dua jam kemudian. "Gaishan, kita mau pulang, kamu nanti aku anterin di depan gerbang perumahan, yah." Jayadi melirik ke arah Gaishan. "Loh, Bajay, kok awal banget? Kita kan biasa pulang jam delapan," Fathiyah melihat ke arah Jayadi. "Dah cukup hari ini, Fat. Yang penting dah dapat harga bensin dan untung," balas Jayadi. "Lagian kayaknya Gaishan capek, seharian ini duduk di mikrolet terus," lanjut Jayadi. "Halah, aku saja yang naik bergelantungan di pintu mikrolet tidak pernah capek. Situ yang duduk aja capek." Fathiyah memutar bola matanya ke arah Gaishan. "Hehehe, saya sudah agak terbiasa kok duduk di sini. Malah rasa nyaman." "Yah deh, Bang. Kite pulang. Nah, semuanya, turun ke tempat yang mau dituju yah, nanti setelah itu kita mau pulang ke rumah," ujar Fathiyah ke arah penumpang. "Ok, Mbak." °°° "Tia, Bang Jay, saya turun, yah. Ini paper bag ini saya taruh di sini saja," ujar Gaishan, dia meletakan paper bag di celah tengah antara kursi penumpang depan dan kursi supir. "Ok, makasih dah kasih ini," balas Jayadi. "Mantap." Gaishan melambai ke arah Fathiyah. "Dadah Tia." Fathiyah hanya mencebik. °°° "Assalamualaikum." "Walaikumsalam," balas Nasir dan Muhajir yang seperti biasa sedang main gaplek. "Eh? Tumben pulang jam segini? Baru setengah enam," ujar Nasir. "Dah dapet lumayan, Ncang. Ini setor hari ini. Semuanya, yang ditransfer Gaishan nanti aye kasih lusa pas ngambil uang ke ATM." Jayadi memberikan semua uang cash yang dia dapat dari penumpang. "Nah, gue demen nih yang kayak pake transfer - transferan. Hahaha, bisa kaya." Nasir tebahak. "Nah, gaya lu juga cakep, Jay. Lu bisa jadi pengganti gue nih, juragan mikrolet namber wan." "Hahaha, Ncang bisa aje." Jayadi ikut terbahak. Dia memberikan dua paper bag pada Nasir. "Ncang, ada makanan yang dikasih teman, itu si Gaishan yang kasih. Makan bareng." "Waah! Mantul bener dah!" Nasir menepuk tangan bahagia. Sementara di rumah Gaishan. "Kamu tumben pulang jam lima," ujar Busran. Dia masih menggunakan kemeja kerja. "Supirnya memang dah pulang dari jam lima, Pa. Makanya Gaishan juga pulang." Busran, "...." Seseorang tolong jelaskan apa yang terjadi sebenarnya. "Maksudnya … kamu pulang kalau mikrolet nya mau pulang?" tanya Busran. Gaishan mengambil air minum, dia mengangguk. Busran terlihat cengo. "Gaishan, jujur saja, kemarin kamu pergi jam delapan dan pulang malam jam delapan juga, kamu … jangan bilang seharian ini naik … mikrolet." Gaishan meneguk habis air di dalam gelas lalu mengangguk membenarkan. "Memang Gaishan kemarin duduk seharian di dalam mikrolet, Pa." Busran, "...." "Kamu bayar ongkos, nggak?" tanya Busran setelah cengo. "Bayar." "Itu … satu hari … em … seharian kamu duduk bayar berapa?" Gaishan merenggangkan badannya, dia juga memutar - mutar pinggul agar terasa enak. "Nggak tahu sih, Pa. Soalnya Gaishan asal comot aja duit yang ada di dalam dompet buat bayar ongkos." Busran manggut - manggut. Jadi sekarang pekerjaan anaknya ini salah naik mikrolet. "Tapi sekarang metode pembayaran ongkos udah berubah." "Maksud kamu? Apa metode pembayaran? Jangan - jangan kamu utang." "Pake jasa transfer, Pa. Hari ini udah berlaku pembayaran ongkos pake jasa transfer." Busran merasa bahwa dia bingung. Bayar mikrolet pakai jasa transfer, memangnya ini bayar grab? "Tunggu, jelaskan, Papa kurang ngerti, kamu sebenarnya naik mikrolet atau naik grab?" "Naik mikrolet lah." "Gaishan sewa tempat duduk dan bayar untuk satu hari dua juta." Busran, "...." tolong ingatkan dia untuk memeriksa, sebagus apa fasilitas yang ditawarkan oleh mikrolet itu. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN