Chapter 16

1934 Kata
"Oh, Gaishan, tumben kamu sekarang ikut makan malam bareng kita?" Gea menaikkan sebelah alisnya. Gaishan meraih jus jeruk. "Ma, memangnya Gaishan selama ini nggak pernah ikut makan malam bareng sama Mama dan yang lainnya? Gaishan ini anak baik, Ma. Mau nginap di rumah Kakek Agri aja Gaishan lapor, apalagi Gaishan ini nggak pernah tidur di luar rumah." "Bukan gitu … maksud Mama, selama seminggu ini kamu pergi pagi pulang malam. Bangun pagi, sarapan cepat lalu berangkat, eh malam jam delapan abis kita makan malam baru kamu datang, jadi Mama heran aja. Udah abis kerja lembur di perusahaan kamu?" jelas Gea. "Siapa yang lembur, Ma?" Gaishan mengerutkan keningnya. "Yah kamu lah yang lembur, kan selama ini kamu sendiri yang bilang pas selesai sarapan, bilangnya mau ke kantor, ck ck ck," jawab Gea, dia menggelengkan kepalanya. Gea mengambilkan nasi ke dalam piring untuk sang suami, sementara Busran hanya menggosok - gosok kedua telapak tangan terlihat sedang senang sekali menunggu makanan yang akan diberikan oleh sang istri. "Oh itu …," Gaishan manggut - manggut, dia mengambil nasi setelah Gea mengambil nasi, "Gaishan emang pergi ke kantor, tapi cuma lewat doang, setelah itu lewat lagi, dan lewat lagi, lalu lewat lagi, pergi makan siang di terminal mikrolet lalu lewat kantor lagi dan lewat lagi, lewat lagi, lewat lagi dan pulang." Gaishan telah selesai mengambil semua lauk dan pauk. Gea, Ghifan dan Bushra, "...." membeo ke arah Gaishan, sementara Busran menerima piring makanan dari sang istri yang melayang di tengah dia dan sang istri, tangan sang istri tidak melepaskan piring, dia ikut membeo. "Gaishan, kamu … maksudnya, kamu cuma lewat dan lewat kantor itu gimana?" tanya Ghifan. Gaishan yang baru saja mengucapkan Bismillah untuk memasukkan sendok nasi ke dalam mulut itu melirik ke arah Ghifan. "Maksudnya yah memang aku cuma lewat kantor doang," jawab Gaishan kalem, dia memasukkan sendok makan ke dalam mulut lalu mulai mengunyah makanan. "Cuma lewat doang?" kali ini suara Gea yang terdengar. Jika Gea ingat lagi ah entahlah, dia tidak mengingat berapa banyak sang anak mengucapkan kata 'lewat lagi'. "Hu'um," sahut Gaishan, dia berusaha mengunyah lalu menelan, lalu Gaishan menyendokkan nasi lagi dan hendak memasukkannya ke dalam mulut. "Kamu hanya lewat di depan kantor kamu?" tanya Gea, dia ingin memastikan lagi kekeliruan dia dalam memahami jawaban sang anak. "Iya, Ma. Gaishan cuma lewat kantor dan perusahaan Gaishan doang," jawab Gaishan. "Loh, kalau gitu kamu nggak ke kantor dong? Kan cuma lewat doang," ujar Gea. "Gaishan ke kantor, Ma. Tapi, Gaishan cuma lewat kantor doang, pantau dari depan pintu mikrolet kalau memang ada satpam dan karyawan yang kerja, selebihnya Gaishan jalan - jalan dikit lalu lewat lagi dengan mikrolet di depan kantor, terus jalan - jalan lahi dan lewat lagi," jelas Gaishan. Gea ingin memijit pelipisnya, dia menyerahkan piring ke tangan Busran lalu dia melihat serius ke anak sulung. "Gaishan, jujur ke Mama, kamu selama seminggu ini bilang pergi ke kantor itu nyatanya hanya lewat depan kantor doang dengan mikrolet?" "Iya, Ma. Gaishan cuma lewat doang di depan kantor dengan mikrolet." Gaishan membenarkan ucapan Gea. Gea tahu selama enam tahun sang anak berkarir merintis dunia bisnis hiburannya, selama lima tahun terakhir ini, sang anak sulung selalu suka - suka dia mau pergi ke kantor jam berapa. Bahkan juga sang anak tidak pergi ke kantor. Tapi … untuk satu minggu ini, Gea benar - benar bingung, kenapa jadwal malas - malasan sang anak sulung telah berubah. Dan yang berubah adalah hanya tempat menganggur sang anak. Yaitu, sang anak tidak ke kantor melainkan jalan - jalan dan hanya lewat depan kantor. "Jadi selama seminggu ini kerjaan kamu hanya naik mikrolet?" tanya Gea penasaran, dia ingin mendengar jawaban yang diutarakan langsung oleh sang anak. "Iya, Ma. Gaishan hanya naik mikrolet doang," jawab Gaishan. "Seharian naik mikrolet?" tanya Gea. Dua saudara Gaishan juga ikut penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh sang kakak. Sedangkan Busran sudah tahu pekerjaan sang anak selama seminggu ini, yaitu cuma naik mikrolet saja, dia tidak peduli dengan naik mikrolet, selain jika itu putrinya, dia akan sangat peduli. "Iya, Ma. Gaishan seharian cuma naik mikrolet doang. Ah, nggak cuma naik duduk - duduk diam aja kok di dalam mikrolet, Gaishan sering obrol sama supir dan kenek," jawab Gaishan, dia ingin melanjutkan memasukkan nasi ke dalam mulut. Sedangkan Busran baru mengunyah makanan. "Itu mikrolet yang punya juragan Makmur?" tanya Gea. "Iya, Ma. Mikrolet juragan Makmur." Gaishan mengangguk, dia ingin memasukkan sendok yang hanya berjarak dua centi saja dari bibir. "Kamu ajak ngobrol supir dan kenek, memangnya kamu akrab sama mereka?" tanya Gea. "Akrab lah, Ma. Yang supir namanya Bang Jayadi Makmur dan yang kenek namanya Tia … Fathiyah Ghaziyah." "Bsuuk! Uhuk! Uhuk!" Busran terbatuk hebat setelah mendengar kalimat terakhir sang anak. Sedangkan Gaishan tersenyum lebar menyebutkan nama Tia lalu memasukkan sendok makan ke dalam mulut. Busran tahu bahwa tadi sang anak sudah menjelaskan aktivitasnya di dalam mikrolet, tapi dia tidak tahu bahwa yang menjadi kenek itu adalah perempuan, dan perempuan itu adalah gadis yang satu minggu lalu memukul sang anak di depan mata mereka. Gea dan dua anaknya hanya bisa beo menjatuhkan rahang bawah mereka. Gaishan asik makan makanan hingga tandas. °°° "Gile, makanan enak banget. Jay, itu si Gaishan bener - bener top banget. Udeh sewa tempat duduk sehari dua juta, sekarang kasih makanan enak beuh, dilihat dari tempat bungkusnnya elegan banget dah." Nasir menaikkan jempol ke arah Jayadi yang sedang tersenyum melihat saldo di dalam rekeningnya lewat ponsel. Farhiyah memandang cengo ke arah kakak sepupu. Dia tahu bahwa tadi siang jam dua belas, Gaishan sendiri yang menunjukkan bukti transfer pembayaran ongkos mikrolet ke arahnya, namun dia hanya melihat nama penerima saja yaitu Jayadi Makmur, sedangkan untuk nominalnya, dia tidak sempat lihat karena dia merasa kikuk dan salah tingkah di depan Gaishan. Baru ini dia tahu nominal yang ditransfer oleh Gaishan, pantas saja bayar menggunakan jasa transfer bank, ternyata nominalnya dua juta. Dan pantas saja jika Gaishan menang melawan penumpang lain yang duduk di depan pintu. Dua juta. Tempat yang hanya secuil muat p****t batu Gaishan itu harganya dua juta. Dan dua juta per hari, per hari, per hari …. Per hari loh, bukan per minggu atau per bulan. "Orang kaya mah bebas," ujar Jayadi, dia memperlihatkan saldo yang ada di layar ponsel ke arah Nasir. Saldo yang ada adalah Rp. 2.100.000,00. Nasir hanya terfokus pada berapa digit jumlah angka keseluruhan dan angka dua di depan. Senyum Nasir melebar seperti tokoh Joker di dalam film Batman. Muhajir buru - buru menengok lihat ke layar ponsel anaknya. "Beuuh, Bang, bener Bang, si Jay kagak bohong ama kite. Emang bener anak orang kaya itu bayar dua juta." Nasir yang masih tersenyum itu manggut - manggut puas. Fathiyah ingin memastikan penglihatan tiga orang lelaki ini apakah benar ataukah tidak, jadi, dia ikut melihat ke arah layar ponsel. Benar. Benar sekali, dia juta. Wow. "Ncang, Be, semenjak Gaishan jadi penumpang kite, banyak banget penumpang yang naik dobel, bahkan ada yang kagak mau turun dari dalam mikrolet kite, mereka rela bayar dobel, bahkan bayar sampai berkali - kali lipat sebanyak berapa banyak kali mereka puter - puter keliling, bahkan aye kagak sempat stop di terminal buat nurunin penumpang, karena mereka kagak mau turun," ujar Jayadi, dia menceritakan apa yang dia alami selama Gaishan naik mikrolet yang dia bawa. "Cakep mah, gue demen nih yang bayar - bayar dobel, bisa cepat kaya, hahahahah!" Nasir terbahak senang. Malam ini dia sangat senang, makan makanan enak dan lihat nominal uang di nomor rekening. Kurang senang apalagi coba? Fathiyah memang tahu bahwa Gaishan adalah orang kaya, sangat kaya malah, bahkan rumah Gaishan saja bak istana, tapi ini memang sudah kelewat kaya, naik mikrolet yang harganya sekali jalan tidak sampai lima ribu itu, dibayar dua juta dalam satu hari, dan dalam satu hari itu, Gaishan hanya duduk - duduk saja keliling di jalur yang sama selama kurang dari sepuluh kali. Kurang kaya apalagi coba Gaishan itu? Fathiyah geleng - geleng kepala. Sekali lagi, orang kaya mah bebas. °°° Busran yang duduk bersandar di kepala ranjang melihat ke arah Gea yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin rias, namun sang istri itu hanya diam saja sambil memberhentikan sisiran rambut di kepala. "Sayang, sisir rambutnya kok sudah setengah jam sih?" tanya Busran. Dia sudah tidak sabar menunggu sang istri yang sisir rambut sama memakan waktu lama. Busran menggosok - gosok dua telapak tangannya, kentara sekali bahwa dia sedang tidak sabar menunggu 'makan malam' ronde kedua mulai. "Bus." Panggil Gea. "Ya? Sudah selesai sisir rambut?" tanya Busran. "Itu, anak perempuan Pak Makmur yang namanya Fathiyah kan? Yang memang Gaishan minggu lalu salah paham dengan dia kan?" tanya Gea. Dia ingin memastikan bahwa ingatannya masih bagus. "Oh … itu, memang gadis yang datang ke rumah kita minggu lalu adalah dia, ada apa?" Gea menurunkan sisir di atas pangkuan lalu berbalik ke arah Busran. "Dia perempuan, kok bisa jadi kenek?" Busran juga tidak tahu jawaban dari pertanyaan sang istri. "Bapaknya kan juragan mikrolet, ya kan?" Busran mengangguk, "Iya, juragan mikrolet." "Kalau Bapaknya juragan mikrolet, kenapa beliau membiarkan anak perempuannya jadi kenek? Bus, jadi kenek loh, ini kenek bukan supir. Kenek yang bergelantungan di depan pintu." Gea merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bapak yang bernama Nasir Makmur itu. Busran pun juga sama, dia kirang paham jalan pikir dari Nasir Makmur. Pria paruh baya 54 tahun itu merasa puyeng, dia turun dari ranjang lalu menarik sang istri dari kursi rias dan menidurkan sang istri di atas ranjang. "Karena berhubung jalan pikir aku lagi macet, sebaiknya mari kita lencarkan peredaran darah dulu dengan olahraga malam ini." Gea, "...." orang lagi serius pikirannya menjurus mantap - mantap terus. Gea mencebikan bibirnya, namun Busran keburu melahap bibir itu. Di kamar Gaishan. Gaishan membuang handuk ke kaki ranjang lalu bersemangat penuh perjuangan meraih ponsel nipon di atas nakas. Dia mulai membuka kunci ponsel dan mencari riwayat terbaru dia mengirim pesan. 'Bang Jay Kakak Ipar'. "Assalamualaikum, Bang Jay, udah tidur apa belum?" Gaishan berbicara pelan sambil menulis kalimat itu. Lalu dia mengirim pesan. Tak berapa lama, pesan dibalas. Kali ini super cepat sekali yang membalas pesan, seakan si penerima takut jika dia tidak membalas pesan ini, maka uangnya akan melambai pergi. 'Waalaikumsalam, belum kok, Gaishan.' Gaishan tersenyum senang. "Wah, Bang Jay belum tidur, mantap nih." "Tadi enak juga yah kita muter - muter keliling kota, jalan - jalan lihat jalanan ibukota, aku senang sekali." Klik. Pesan terkirim. Sedangkan di sisi Jayadi. "Bajay, kayaknya ban mobil kanan belakang kempes, Babe suruh isi angin-" Buuuuurrrrr Brook! "Tahan hp gue dulu, gue mau ke wc, beol." Jayadi buru - buru memberikan ponselnya ke dalam tangan Fathiyah lalu buru - buru berlari ke kamar mandi. Pesan masuk. Fathiyah melirik ke arah pengirim. Masih di isi pesan pengirim pesan. "Tadi enak juga yah kita muter - muter keliling kota, jalan - jalan lihat jalanan ibukota, aku senang sekali." Fathiyah membaca dengan suara kecil pesan itu. Dia melihat nama pengirim. "Gaishan." Pesan masuk lagi. "Bang Jay, aku suka naik mikrolet yang dibawa … Bang Jay …." Fathiyah menjatuhkan rahang bawah nya setelah membaca pesan itu. Alam pikir Fathiyah berubah haluan. Suka. Dia fokus hanya pada kata itu saja. Orang kaya. Laki - laki. Pria. Orang kaya. Sekarang zaman modern. Suka pria. Pria kaya suka. Bukankah kebanyakan orang kaya itu kesukaan mereka sangat tidak biasa dengan orang lain? Jika Fathiyah ingat lagi, tampang wujud rupa wajah Gaishan itu cukup tampan, ah sangat tampan sih. Pria kaya tampan suka …. "Suka … naik … Bang Jay … haahmp!" Fathiyah menutup mulutnya lalu melotot ke arah layar. Pantas saja, pantas saja Gaishan sangat baik dam dermawan pada mereka, ah, bukan mereka, tapi pada kakak sepupunya! Bola mata putih Fathiyah hampir terbalik. Jayadi keluar dari wc. "Ini karena makan makanan terlalu enak, jadi bokee juga enak, eh, Fat, lu nape?" Fathiyah menoleh ngeri ke arah Jayadi. "Bang Jay, Gaishan suka naik badan Bang Jay!" Bruk! "Aduh!" Alawiyah kejedot pintu dapur. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN