"Fat, lu bicara ape sih?" Jayadi terkaget bingung.
"Aye bicara yang sebenarnya, Bang. Si Gaishan itu suka naik badan Bang Jay," jawab Fathiyah dengan penuh semangat menggebu - gebu dongkol.
Alawiyah mengusap kepalanya yang terjedot pintu dapur, setelah mendengar ucapan Fathiyah, Alawiyah buru - buru pergi ke arah Fathiyah.
"Suka naik badan gue bagaimana maksud lu?" tanya Jayadi. Dia berjalan ke arah Fathiyah.
"Bang Jay, selama ini si Gaishan bae sama kite, ah! Bukan bae sama kite, tapi mungkin cuma bae aje sama elu, Bang," ujar Fathiyah.
"Fathi, elu ngomong hati - hati yah, jangan suudzon, kagak bae," balas Jayadi.
"Nah, kagak percaya, kan? Nih bukti!" Fathiyah memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Gaishan agar Jayadi bisa membacanya.
Alawiyah juga ikutan melihat, dia masih bingung dengan pembicaraan sang ponakan ini.
"Bang, orang kaya, laki - laki maco, nyatanya nggak semua itu normal. Bang. Itu di tv - tv terbongkar kasus naena sesama jenis, dan kebanyakan pelaku itu orang kaya semua. Mereka lebih suka lubang belakang dari pada yang original," ujar Fathiyah, dia mulai mengeluarkan semua penjelasan dan apa yang dia tahu.
"Dan mereka cari mangsa itu yah kayak kite ini ah! Bukan, bukan kayak kite, tapi kayak elu, Bang. Ini apa artinya? Dia kirim pesan apa? Ini dah mulai keluar akal bulus dan niatnya. Terbukti dari pesan ini." Fathiyah mulai mengipas - ngipasi lehernya kepanasan.
Pesan masuk lagi.
Kali ini Jayadi sendiri yang baca pesan itu lalu diikuti pelan oleh Alawiyah.
"Bang Jay, tidur gih biar besok ada tenaga dan narik lagi. Nanti singgah di tempat biasa, yah. Babay."
"Nah! Si Gaishan suka Bang Jay!" Fathiyah melotot histeris.
Sementara di rumah Gaishan.
Pemuda 27 tahun itu meletakan ponsel di atas nakas lalu mematikan lampu kamar, hanya lampu tidur yang menyala.
"Aaahh, senang sekali hidupku ini, untung aku buka perusahaan sendiri dan jadi bos, nggak seperti si Ghifan yang jadi karyawan di perusahaan Papa. Jadi aku bisa bebas ke kantor kapan saja, jam berapa saja dan suka - suka hati. Coba kalau si Ghifan? Hahaha yang ada dia tiap pagi dan tiap hari harus ke kantor terus."
Gaishan menikmati masa - masa sekarang dia telah menjadi bos dari perusahaan entertainment tersukses.
Gaishan menutup mata dan menikmati waktu istirahat malam dengan damai, bukan berarti istirahat dengan damai selamanya, jauhkan.
°°°
Di dalam kamar Jayadi.
Pria berusia 29 tahun itu menggigil luar biasa takut. Jayadi bahkan menggigit jari - jarinya sambil terlihat bingung apa yang harus dia lakukan.
"Gaishan udah transfer duit … ini … apa ini artinya gue mesti balas dengan cara nyerahin lubang belakang gue?"
"Aah! Jangan! Kagak mau! Entar gue kagak bisa boker lagi." Jayadi ketakutan.
Dia telah menerima transferan uang dari Gaishan, apakah itu artinya dia harus …?
Oh, Jayadi tidak berani memikirkan lagi hal itu. Jika itu memang benar bahwa dia harus mempersembahkan lubang belakangnya maka ….
"Amit - amit jabang bayik!" Jayadi hampir pingsan.
Jayadi tak tega dan tak berani membanyangka bahwa lubang bawahnya akan di ….
"Nyak! Ya Allah! Salah ape gue?!" Jayadi kalut.
Sedangkan di luar kamar Jayadi, Alawiyah bersedih hati di depan suaminya – Muhajir.
"Bang, kite salah apa sebagai orang tua?" tanya Alawiyah sedih.
"Anak kite udah umur dua puluh sembilan tahun belum kuat - kuat nikah juga. Pas ada yang suka, malah si laki. Aduuhh, hati aye sakiiit, Bang." Alawiyah mulai mengeluarkan kesedihan seorang ibu yang tak kunjung mendapatkan menantu perempuan.
Muhajir menarik lalu mengembuskan napas.
"Wi, elu ini ngomong ape? Pikiran jangan suudzon dong. Siapa tau aje, cuma salah paham doang kayak minggu lalu," balas Muhajir.
"Tapi, Bang, aye lihat sendiri ah bahkan aye baca sendiri pesan itu, dan gimane ye pas aye selesai baca, hati aye kayak ditusuk - tusuk pisau," ujar Alawiyah.
"Wi, emang elu dah pernah rasa kalau hati elu ditusuk - tusuk pisau?"
Alawiya, "...." orang ada serius juga ah si Abang.
Di rumah Fathiyah.
"Nah, niat busuk si Gaishan itu tercium kan, ah! Malah terbongkar!"
Fathiyah menepuk dua tangannya gemas ingin menjambak serta menguleni wajah tampan Gaishan yang sehari - hari dia lihat.
"Fathi, perasaan elu aja kali, yang Babe lihat dari si Gaishan waktu datang di mari, wajahnya bae - bae aje, kagak aneh - aneh kok," ujar Nasir. Dia tidak terlalu ambil pusing perkataan sang anak perempuan.
"Be, jangan menilai orang dari tampang nya, nilai lah orang dari-"
"Nilai lah orang dari ketebalan dompetnya, dah ah, elu tidur sana, cerocos mulu dah satu jam ini," potong Nasir atas ucapan Fathiyah.
Fathiyah, "...." si Babe ah, orang lagi serius juga. Batin Fathiyah.
°°°
Gaishan sedang menyisir rambut pendeknya di depan cermin. Pomade yang dia pakai sudah beberapa hari ini merapikan rambutnya membuat dia puas. Shampo penumbuh rambut sudah lumayan bekerja.
"Udah muncul rambut baru di tempat bekas jambakan Papa, sebulan lagi kayaknya udah bagus, nggak kalor lagi, shampo bagus."
Gaishan fluit sambil merapikan rambut.
Setelah merapikan rambut, dia melihat wajahnya, "Skincare bagus, wajah aku yang kemarin belang - belang sekarang jadi putih bagus."
Setelah melihat tampang wajahnya, dia meraih botol parfum lalu menyemprotkan parfum itu ke kedua ketiak dan p****t celana, pikir Gaishan siapa tahu nanti kenek mikrolet favorit nya cium tempat duduk yang dia duduk, lalu terciumlah semerbak bau harum mempesona dari parfum nya.
Saat menyemprotkan parfum, tiba - tiba sebuah pikiran melintas di kepala kalornya yang sebagian itu.
"Gimana kalau aku pake parfum yang minggu lalu aku belikan untuk Tia saja? Bau badan kita sama, ups! Satu tubuh dong, hahahahaha!" Gaishan tertawa senang.
Ide yang sangat bagus, Gaishan.
"Turun sarapan ah." Setelah meraih ponsel dan dompet, Gaishan keluar kamar untuk sarapan pagi.
Di meja makan, sudah ada semua anggota keluarga, hanya Gaishan saja yang terlambat turun.
"Tidak!"
Suara tegas sang ayah terdengar. Sepertinya mood pagi sang ayah sedang down.
"Pa-"
"Sudah cukup kamu tiga hari menginap di hotel beberapa hari yang lalu, sekarang kamu mau pergi ke Bali untuk dinas selama satu minggu? Sira, pukul kepala Papa dengan batako juga Papa tetap tidak akan mengijinkan kamu dinas di Bali!"
Oh, ternyata hal ini mengenai pekerjaan sang adik bungsu lagi.
Ghifan merasa bahwa sang ayah pagi ini memang benar - benar marah.
Gea hanya mengambilkan sarapan untuk sang suami, dia mendengar saja keluhan sang suami, jika sudah melewati batas barulah dia yang banting tangan, ah maksudnya turun tangan.
"Itu si Kumantoro Sudiro rupanya main - main sama peringatan Papa, dia belum tahu rasa kalau Papa sudah marah, kemarin - kemarin anak perempuan Papa dikasih jatah lembur lalu setelah itu dinas di hotel, sekarang mau kasih dinas di luar kota dari pulau jawa lagi, Bali kan jauh! Banyak bule - bule kurang ajar di sana, kalau mereka lihat wajah cantik anak Papa, bisa - bisa mereka culik!" setelah kata 'culik' melintas di benaknya, Busran meradang ganas.
Tidak! Anak perempuannya tidak boleh berhubungan sembarangan dengan orang luar! Sudah cukup dia mengalami pengalaman menyedihkan dengan dibawa larinya ponakan perempuannya dari Indonesia.
Busran melihat ke arah wajah Bushra yang cantiknya perpaduan antara Baqi dan Nabhan.
"Pa-"
"Tidak!" Busran lebih dulu memotong ucapan Bushra.
Bushra hanya bisa diam saja.
Gea hanya menggelengkan kepalanya. Kalau sudah begini, pasti sang suami memang benar - benar jengkel.
Gea sendiri tahu bahwa sang anak bungsu sekarang sudah bekerja selama hampir setahun di kementerian pariwisata, dia juga tahu kesibukan sang anak setelah bekerja, menguasai beberapa bahasa asing dan cakap dalam berkomunikasi serta punya paras bagus, tentu saja kementerian pariwisata sangat merekomendasikan sang anak untuk mengikuti berbagai kegiatan, ditambah lagi latar belakang dari dua orangtua sang anak yang tinggi, tentu saja orang lain tidak dapat mengganggu sang anak.
Awalnya Gea merasa biasa - biasa saja dengan sistem kerja sang anak, dia tidak marah jika sang anak lembur dan dinas di hotel untuk menyambut tamu kenegaraan, tapi sekarang satu minggu dan itu harus ke Bali, Gea punya firasat bahwa satu minggu di Bali itu pasti akan ada ekor yang ikut, misalnya satu minggu di Lombok, satu minggu di tempat lainnya.
"Pa, kan Sira kerja. Lagian bukan cuma Sira saja yang dapat surat dinas ke Bali, ada lima orang pusat dari kementerian pariwisata yang juga akan pergi, ada kegiatan di sana dengan negara - negara eropa makanya-"
"Yang dengan eropa - eropa itu yang Papa tidak setuju." Potong Busran. Setelah dia mendengar nama eropa, wajahnya berubah jelek.
"Bus, biarkan saja-"
"Oh, tidak bisa." Kali ini Busran memotong ucapan sang istri.
"Sira kan pergi nggak sendiri, pasti juga pergi dengan para pejabat dan beberapa staf menteri, lagian juga resort kita ada di Bali, kan? Telepon menteri pariwisata saja lalu biarkan mereka dan tamu - tamu menginap di resort milik kita." Gea memberi saran pada sang suami yang sekaeang wajahnya memerah seperti udang rebus.
Untuk beberapa detik suasana di meja makan sunyi. Gaishan yang setiap hari bercanda itu tak berani mengeluarkan kentut berbunyi. Sang ayah sedang marah.
Busran melirik ke arah Gea.
"Sayang, kita bulan madu ke Bali hari ini."
Gea, "...."
Semua anak - anak, "...."
°°°
Gaishan keluar rumah sambil geleng - geleng kepala.
Sang ayah menuntut untuk bulan madu kedua.
"Bilang saja mau mantap - mantap di Bali, ck!" Gaishan mencibir.
Dia berjalan keluar gerbang perumahan.
"Sudah agak telat kan, semoga saja mikrolet Bang Jay dan Tia belum lewat."
Gaishan berdiri menunggu mikrolet datang.
Pada awal menunggu kedatangan sang mikrolet impian, wajahnya tersenyum cerah tanpa beban. Tidak dia pikirkan urusan rumah yang tadi sang ayah sempat mengamuk.
Mobil Ghifan keluar dari gerbang, dia sempat melihat kakak kembarnya berdiri di pinggir jalan. Sudah dia tahu sekarang bahwa sang kakak menunggu mikrolet.
"Biarkan saja dia tunggu mikrolet," ujar Ghifan. Mobil Ghifan meninggalkan gerbang perumahan.
Tiga puluh menit kemudian.
"Matahari panas banget." Gaishan mengipas - ngipasi wajahnya.
Dia melap keringat yang keluar dari dahi dan pelipis.
"Untung saja pake skincare, jadi muka nggak terasa terbakar," ujar Gaishan.
"Oh, mungkin mikrolet udah lewat, jadi mungkin agak lama."
Satu jam kemudian.
"Ah, mungkin sedang antri di terminal," ujar Gaishan sabar setelah melihat jam tangan mahal yang menunjukan pukul sepuluh lewat sepuluh pagi.
Dua jam kemudian.
Cukup!
Gaishan cepat - cepat merogoh ponsel di saku celana dan menelepon supir mikrolet.
°°°
"Ah!" Jayadi berteriak kaget setelah melihat nama penelepon.
"Ape?" tanya Fathiyah.
"Ini … Gaishan telepon," jawab Jayadi takut - takut.
"Udeh, kagak usah diangkat kalau nggak mau lubang boker kendor," ujar Fathiyah.
Sepuluh menit kemudian.
"Fat, dah dua puluh kali loh Gaishan telepon," ujar Jayadi merasa iba.
"Ck. Sini, aye yang angkat." Fathiyah meraih ponsel lalu mengangkat panggilan.
'Halo, assalamualaikum, Bang Jay-'
"Kirim nomor rekening kamu sekarang," potong Fathiyah.
'Eh? Nomor rekening? Buat apa?' tanya Gaishan.
"Mau balikin duit dua juta yang kamu transfer kemarin."
'Hahh?!'
°°°