"Berhenti saja di sini." Instruksi Gaishan pada bodyguard yang menjadi supir.
Mobil berhenti di depan g**g perumahan milik Fathiyah. Gaishan turun dari dalam mobil.
"Pulang saja, saya akan masuk ke dalam kompleks perumahan ini," ujar Gaishan.
"Baik, Tuan," sahut bodyguard.
Gaishan berjalan memasuki mulut g**g, sedangkan mobil melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah Gaishan.
Tengah hari seperti ini, matahari di atas kepala Gaishan, sangat panas sekali suhu di ibukota ini. Gaishan berusaha untuk tetap terlihat cool di depan orang - orang yang melihat penuh penasaran ke arahnya.
Mungkin karena terlalu diperhatikan, Gaishan tersenyum standar untuk menyapa dan mengucapkan kata pemisi.
"Halo, saya permisi lewat sini," ujar Gaishan.
"Iya iya Mas," balas seorang ibu.
"Permisi."
"Iya Mas, mari silakan."
"Ini Mas itu mau ke mana, yah?" tanya ibu a.
"Nggak tahu," jawab ibu b.
"Eh, itu dia jalan ke rumahnya Juragan Makmur," ujar ibu a.
"Oh, tamu juragan Makmur kali. Gue dengar kemarin, juragan Makmur bangga - banggain mikrolet yang dibawa si Jayadi, katanya dapat rejeki nomplok dari orang kaya. Nah, yang orang kaya itu katanya salah satu cucu pengusaha Nabhan-ah! Itu! Gue pernah lihat muka itu minggu lalu!" ibu a terlihat heboh.
Gaishan berhenti di depan pintu rumah Fathiyah.
Mikrolet yang biasa dia naik terparkir di samping rumah Fathiyah.
Pokoknya siang ini dia harus meminta penjelasan yang sejelas - jelasnya dari Jayadi dan Fathiyah.
Ada Muhajir yang keluar rumah sambil memanggil Jayadi, "Jay, mau sampe kapan elu mendekam di dalam kamar macam perawan desa? Udeh tengah hari, keluar makan!"
"Si Fathi juga ikutan jagain elu macam pengawal aje," sambung Muhajir. Ketika dia berbalik ke arah rumah sang kakak laki - laki, langkah kaki Muhajir berhenti.
"Ini … ini Gasihan … kan?"
Gaishan tersenyum, "Assalamualaikum."
"Wah waalaikumsalam," balas Muhajir, dia cepat - cepat berjalan ke arah Gaishan, jalannya yang pincang tidak dia hiarukan karena sakitnya kaki kanan.
"Masuk masuk, mari masuk, Bang Sir, Gaishan datang!" Muhajir merangkul Gaishan masuk ke rumah Nasir.
"Ahk!" di dalam kamar Jayadi, Jayadi berjingkat kaget sampai melompat dari tempat tidur.
"Fat! Si Gaishan sampe niat amat ngejar gue ke sini! Gimana ini? Gimana ini?" Jayadi menggigit kuku - kukunya.
"Ck! Ck! Ck! Aye kagak nyangka, si Gaishan itu terlalu cinta mati sama Bajau, sampe bela - belain datang ke sini." Fathiyah geleng - geleng kepala.
"Ah, jangan dong. Kagak mau! Biarpun gue dua puluh kali ditolak cewek, gue tetap masih normal, biarpun si Gaishan itu orang kaya, tapi aye tetap masih punya iman uang kuat kagak bakalan mau jual diri biat dapetin duit!" Jayadi kepanasan macam cacing kena kapur.
"Assalamualaikum, Pak Nasir," salam Gaishan.
"Waalaikumsalam, ah, Nak Gaishan, mari masuk," balas Nasir.
Dia hendak makan siang bersama sang adik, namun dia mendengar teriakan sang adik bahwa Gaishan datang ke rumahnya.
Gaishan masuk lalu duduk di kursi rotan, Muhajir mengambil tempat di sisi kiri Gaishan sedangkan Nasir duduk di depan Gaishan.
"Apakah saya menganggu waktu istirahat siang Pak Nasir? Kalau iya, saya minta maaf," ujar Gaishan sopan.
"Oh, sama sekali tidak," balas Nasir cepat - cepat.
Entah kenapa semakin hari dia semakin suka dengan Gaishan ini, sebab orang ini selain baik, dermawan juga sopan terhadap siapa saja.
"Ada apa Nak Gaishan datang ke sini? Ah. Maksud saya, ada perlu apa?" tanya Nasir.
"Begini, Pak Nasir. Bolehkah saya diberikan kesempatan untuk berbicara dengan Bang Jayadi dan Tia?" tanya Gaishan.
"Wah, boleh saja, kenapa tidak boleh?" jawab Nasir, dia menoleh ke belakang alias ke dapur, "Tun, lu tolong panggilin si Jay dan Fathi, suruh menghadap gue sekarang juga."
"Iye!" balasan Siti Atun.
"Tunggu sebentar yah Nak Gaishan, Ibu Fathiyah sedang ke rumah sebelah, soalnya dari pagi memang si Fathi ke rumah Ncing-nya," ujar Nasir.
"Baik, Pak Nasir." Gaishan mengangguk mengerti.
Siti Atun keluar lewat pintu dapur lalu masuk ke pintu dapur rumah Jayadi. Ada Alawiyah yang juga hendak keluar dapur.
"Mpok."
"Panggilin si Jay dan si Fathi, ada Gaishan datang, itu anaknya Pak Busran yang waktu itu datang ke sini malam - malam," ujar Siti Atun.
Alawiyah melotot kaget.
"Ape dia datang ke sini buat mengakui perasaannya yang sebenarnya ke Jay? Lalu dia mau minta restu dari Bang Hajir dan Bang Nasir-aduh! Mpok jangan ditepok jidat aye." Alawiyah mengeluh sakit saat dahinya ditepuk dengan telapak tangan Siti Atun.
"Otak lu sama aje kayak si Fathi, belum tau kebenaran yang hakiki main asal tebak. Dah ah, aye mau panggilin tuh anak berdua." Siti Atun geleng - geleng kepala sambil berjalan ke arah kamar Jayadi.
Dia mengetuk pintu.
"Jay! Fathi, dipanggilin sama Babe lu berdua di rumah Ncang, ayo keluar."
"Aahhmph!" Jayadi berusaha untuk menutup mulut agar suara kagetnya tidak didengar oleh Siti Atun.
Fathiyah melirik ke arah pintu kamar yang dikunci.
"Jangan dibuka, pasti Gaishan mau datang minta restu dan … lamar gue! Aaaahh! Kagak bisa!" Jayadi malah teriak - teriak tidak jelas.
"Buka pintu! Woy! Babe lu berdua panggilan sana! Gue tau, elu berdua lagi di kamar! Lagian Jay, ade ape elu sembunyi di kamar? Takut ape lu? Laki kok malah takut." Siti Atun mulai mencibir.
"Kagak mau buka yah? Oh! Mau jadi anak durhaka lu berdua, yah! Awas yah, gue sumpahin kagak hidup lu-"
Pintu terbuka.
Wajah Fathiyah terlihat, sementara itu Jayadi terlihat memasukan seluruh badan besarnya di dalam lemari pakaian. Niatnya untuk bersembunyi.
"Woy, mau ngapain elu masuk lemari?" Siti Atun geleng - geleng kepala.
Jayadi menyembulkan kepalanya ke arah Siti Atun, "Mau ngumpet, Ncang." Dengan polosnya Jayadi menjawab.
Siti Atun menaikkan dua lengan baju lalu masuk ke dalam kamar Jayadi, dia menarik badan Jayadi keluar dari dalam lemari pakaian gantung.
"Ncang! Jangan tarik, Ncang! Aye takut! Aye kagak mau pergi ke rumah Ncang Nasir!" Jayadi teriak - teriak takut, sementara Fathiyah hanya memandang iba ke arah Jayadi, dia sebagai anak tidak bisa melawan ibunya. Sedangkan Alawiyah hanya pasrah melihat sang anak ditarik oleh Siti Atun.
"Ape lu mau takut - takut segala? Ayo ke rumah Ncang!"
"Kagak mau!"
"Jangan tarik, Ncang!"
Suara teriakan Jayadi terdengar di rumah Nasir. Wajah Nasir berubah kikuk ke arah Gaishan.
"Hehehe, saya tidak tahu, kenapa si Jay itu berubah takut mau ketemu sama Nak Gaishan," ujar Nasir tidak enak hati.
Gaishan memandang serius ke arah Nasir, "Nah, saya juga tidak tahu mengenai ini, padahal kemarin kami masih bertemu dan baik - baik saja. Tadi saya menunggu mikrolet selama empat jam di bawah sinar matahari, dan hasilnya saya terbakar, namun mikrolet yang dibawa Bang Jay tidak pernah lewat selama empat jam itu. Lalu saya menelepon Bang Jay dan hendak menanyakan bahwa kenapa tidak narik hari ini, namun Tia yang membalas ucapan saya bahwa saya harus mengirim nomor rekening saya dan uang yang telah saya transfer dua hari yang lalu akan dikembalikan. Saya tidak tahu apapun, tidak ada penjelasan apapun."
Muhajir dan Nasir, "...." hanya memandang Gaishan dengan perasaan tidak enak hati.
Siti Atun datang dengan menarik tangan Jayadi masuk ke rumah mereka lewat pintu dapur.
"Ampun Ncang! Aye kagak mau!"
"Stop teriak!" gertak Siti Atun.
Siti Atun hendak memperlihatkan badan Jayadi mendekat ke arah Nasir. Namun, setelah Jayadi melihat tampang Gaishan, dia panik luar biasa.
"Aaaah!"
Plok!
"Aduh!" Jayadi mengaduk sakit setelah dahinya ditepuk kesal oleh Nasir.
"Sini lu. Duduk sini!" Nasir mengunci badan Jayadi agar dia tidak bisa lari, sedangkan Fathiyah duduk di kursi rotan tunggal.
"Sekarang elu berdua harus jelasin yang sejelas - jelasnya ke Nak Gaishan dan ke Babe dan Ncang, ada ape sebenarnya elu berdua mau memutus kontrak sewa mikrolet Nak Gaishan perhari?" Nasir melihat ke arah Fathiyah dan Jayadi bergantian.
Jayadi tidak berani memandang Gaishan, seakan jika dia sekali saja lepas pandangan dan beradu tatapan denga Gaishan, maka Gaishan mungkin akan lebih 'jatuh cinta padanya'.
"Si Jay dah gagap nih, kagak bisa diharepin lagi buat bicara, nah, elu aja deh Fathi." Nasir menunjuk ke arah anak perempuannya.
Fathiyah melirik ke arah Gaishan.
"Jujur saja, apa maksud kamu menyewa mikrolet kami dalam sehari membayar sewa sebesar dua juta?"
Gaishan melihat ke arah Fathiyah.
"Saya senang naik mikrolet Bapak Nasir. Saya mendapatkan teman yang baik dan tidak m******t seperti teman - teman yang lainnya," jawab Gaishan.
Fathiyah terlihat berpikir. Lalu dia merasa bahwa jawaban Gaishan belum pas di hati.
"Saya juga ingin dekat dengan masyarakat biasa. Tidak ada maksud apapun ketika saya naik mikrolet Bapak Nasir. Saya malah merasa senang, bisa berbincang - bincang ria dan bebas dari pekerjaan saya sebagai pimpinan perusahaan entertainment di Indonesia. Juga, saya merasa banyak belajar ketika naik mikrolet bersama kamu dan Bang Jay, saya dapat merasakan betapa lelahnya menjadi supir angot yang duduk berjam - jam di dalam angkot dan terutama sebagai kenek yang berteriak lantang sana - sini mencari penumpang," lanjut Gaishan.
"Jadi kamu tidak suka sama aku, kan?" Jayadi spontan bertanya.
Gaishan melirik ke arah Jayadi, "Tentu saja saya menyukai Bang Jay-"
"Akh! Berarti benar apa kata Fathi bahwa kamu suka naik badan saya dan ingin berhubungan dekat dengan saya!" Jayadi spontan lagi.
Gaishan memandang wajah takut Jayadi lalu dia melihat ke arah Fathiyah dan yang lainnya secara bergantian.
"Saya … memang ingin berhubungan dekat dengan Bang Jay …,"
"Hah?!" yang lainnya melotot.
"Juga ingin dekat dengan Tia …," lanjut Gaishan.
Semua tiba - tiba diam.
"Saya suka Bang Jay dan juga Tia tapi … saya tidak tahu apa yang dimaksud oleh Bang Jay dengan kalimat 'suka naik badan saya' … itu … bisa dijelaskan?"
"Gaishan."
Gaishan melihat ke arah Fathiyah yang memanggil namanya.
"Apakah kamu … suka laki - laki ataukah perempuan?"
Sunyi.
Gaishan, "...."
Setelah Fathiyah mengeluarkan kalimat itu, semua orang tidak berani memandang terang - terangan ke arah wajah Gaishan.
Jadi sekarang keluarga Makmur ini sedang mempertanyakan orientasi seksualnya.
Lima belas detik kemduian.
"Jika di dunia ini hanya ada Bang Jay dan Tia, maka akan memilih Tia karena Tia adalah perempuan."
Semua mata memandang ke arah Gaishan.
Wajah Fathiyah memerah, jadi ternyata dia telah salah paham dengan Gaishan.
Jayadi melongo. Dia menjatuhkan rahang bawahnya. Jadi sebenarnya Gaishan ini adalah normal.
Nasir dan Muhajir merasa tidak enak hati ke arah Gaishan karena keluarga mereka telah mengganggap Gaishan yang tidak - tidak.
Alawiyah menutup malu wajahnya.
Aish, ternyata benar apa kata suaminya, jangan suudzon dulu. Dosa.
Kryuuk kryuuk.
Bunyi misterius dari dalam perut Gaishan.
Menunggu mikrolet selama empat jam telah membuat dia lapar.
"Ehm! Ehem … mumpung kita belum makan siang, ayo Nak Gaishan, kita makan di dapur," ajak Nasir.
Gaishan tersenyum, "Dengan senang hati, Pak Nasir."