"Nak Gaishan, ini, ada sambel pete, mantap dah." Nasir mendekatkan mangkuk sambal petai ke arah piring makan Gaishan.
"Wah, mantap ini, Pak Nasir. Saya suka." Gaishan menyendok dua sendok sambal petai.
"Ah, saya demen nih yang suka makan makanan begini," ujar Nasir.
"Saya ingin rasa semur jengkol, Pak Nasir, di rumah kami, kami jarang makan itu, mau beli tapi tidak sempat karena saya sibuk ke kantor ngurusin karyawan," ujar Gaishan melihat ke arah Nasir, padahal nyatanya, Gaishan duduk santai di rumah pangku kaki dan suka - suka dia mau hari apa ke kantor.
"Nah, mantap nih, istri saya sering masak semur jengkol, nanti kalau besok - besok istri saya masak jengkol, Nak Gaishan makan saja di sini, yah?" tawar Nasir.
"Bener tuh kata Abang saya, Nak Gaishan nanti bisa makan di sini kalau Mpok Atun masak semur jengkol." Muhajir mengangguk setuju dengan ide sang kakak.
"Beneran, Pak Nasir?" tanya Gaishan.
"Iya dong, bener," jawab Nasir.
"Tenang saja, nanti saya telepon, kan sudah ada nomor Nak Gaishan di hp Jayadi," ujar Nasir agar meyakinkan Gaishan.
Gaishan buru - buru mengeluarkan ponsel nipon dari dalam saku celana. Lalu dia membuka kunci dan memberikannya ke arah Nasir, "Ini Pak Nasir, saya mau minta nomor Pak Nasir."
"Ok, Fathi, elu ketik dah nomor elu di situ."
Fathiyah, "...." yang diminta kan nomor ayahnya? Kenapa sekarang malah dia yang harus mengetik nomor teleponnya sendiri?
"Udeh cepeten, jangan banyak pikir, kartu Babe dah mati, kagak bisa hidup lagi, karena setiap hari Babe pake wifi aje nonton berita, tuh karena Enyak lu suka kuasai tv buat nonton sinetron orang kelima."
Fathiyah, "...."
Gaishan membelok haluan ponselnya ke arah Fathiyah, dia tersenyum standar agar terlihat manis.
"Nah, ayo ketik nomor kamu di sini."
"Be, nomornya Gaishan sudah ada di hp nya Bang Jay," ujar Fathiyah melirik ke arah Jayadi dan sang ayah.
"Tapi kan kalian tidak serumah. Bagaimana kalau Bu Atun masak semur jengkol dan Pak Nasir ingin telepon saya tapi Bang Jay lagi pergi, misalnya sholat atau kerja bakti di masjid, atau ikut kegiatan apa begitu, atau bisa jadi tidur, kan tidak mungkin mengganggu Bang Jay, secara kan kerjaan Bang Jay udah berat."
"Nah bener tuh." Nasir dan Muhajir mengangguk membenarkan ucapan Gaishan.
Farhiyah dan Jayadi, "...."
Dengan mencebikkan bibirnya Fathiyah menerima telepon Gaishan lalu mengetik nomor teleponnya.
Setelah mengetik nomor teleponnya, dia mengembalikan ponsel Gaishan.
"Aku taruh nama Tia yah di nama kontak," ujar Gaishan senang.
"Terserah nama apa saja," balas Fathiyah.
Gaishan melirik Fathiyah sambil tersenyum, lalu dia menambahkan ekor di belakang nama kontak Fathiyah menjadi 'Tiaku'.
Save.
Nomor sudah didapatkan. Hari baik hari ini. Kalau Gaishan pikir lagi, mungkin karena ayah dan ibunya pergi berbulan madu ke Bali, jadi apa - apa dimudahkan baginya, karena secara teori perkiraan abal - abal dari Gaishan bahwa mungkin karena ada sang ayah jadi semua usahanya untuk mendapatkan nomor telepon ini susah. Sebab setiap hari dia dan ayahnya berkelahi saling ledek, jambak, tampar bahkan tarik - tarikan.
Setelah puas melihat nama Fathiyah yang dia taruh di kontak, Gaishan melanjutkan makan dengan puas hati sampai perut kenyang membuncit tiada malu di depan keluarga Makmur.
°°°
Jadi, seperti inilah pekerjaan Gaishan setelah makan siang bersama keluarga Makmur.
Dia ikut main gaplek dengan tiga orang laki - laki Makmur. Fathiyah hanya duduk melihat mereka ber - empat main kartu domino.
"Sudah jam tiga siang, kamu nggak pulang?" tanya Fathiyah.
"Jam empat aku pulang," jawab Gaishan, dia membanting kartu enam dobel.
"Aah! Ooh! Kartu enam ada di si Gaishan rupanya, gue pikir ada di Jayadi!" Nasir berteriak heboh.
"Nah, kalah kan, syukurin." Muhajir terlihat senang karena kekalahan sang kakak. Jarang - jarang sang kakak ini kalah.
Jayadi dan Gaishan saling lirik lalu tersenyum bersama, "Mantap Gaishan." Jayadi menaikkan jempol kanan.
"Yoi!" balas Gaishan mengangkat jempol kanan.
"Wah, elu gimane sih, yang kalah gue, kite sekubu." Nasir melotot ke arah sang adik.
Muhajir, "...." dia telah lupa bahwa dia dan sang kakak sekubu.
Siti Atun dan Alawiyah datang membawa nampan berisi teh dan kopi, Alawiyah membawa pisang goreng.
"Ini Bang, teh, kopi dan gorengan," ujar Siti Atun sambil meletakan gelas kopi ke arah sang suami.
"Nah, gue demen nih sama minuman tengah hari masuk sore." Nasir mengambil gelas kopi miliknya.
"Main lagi, gue kagak terima kalah tanpa perlawanan!" Nasir berseru.
"Ok!" Gaishan dan Jayadi membalas.
Jadilah empat pria itu main gaplek lagi.
Fathiyah hanya bisa menarik dan mengembuskan napas lalu mengambil teh, dari pada pusing lihat empat orang pria ini ribut - ribut tidak jelas karena main gaplek, mending dia makan gorengan dan minum teh.
Waktu berlalu hingga satu jam kemudian. Perut Gaishan tak terasa sudah terisi gorengan dan teh, dia melihat jam di tangan lalu tersenyum ke arah Nasir dan Muhajir ingin pamit pulang.
"Pak Nasir, Pak Hajir, saya mau pamit pulang," pamit Gaishan.
"Wah, sudah jam empat, yah? Cepat sekali." Nasir seakan tidak menerima bahwa jam berlalu sangat cepat.
"Bang, bilang aje kalau lu belum mau Gaishan pulang, kan secara elu kocok kartu terus," balas Muhajir.
Nasir melotot ke arah sang adik, "Sok tau loh."
Muhajir terkekeh geli begitupun yang lainnya.
"Saya sangat senang sudah diberikan makan siang hari ini dan main kartu gaplek bersama Pak Nasir, Pak Hajir dan Bang Jay, saya juga disediakan gorengan dan teh, terima kasih yah Bu Atun dan Bu Wiyah, saya sangat suka gorengan nya."
"Sama - sama, Nak Gaishan," balas Siti Atun dan Alawiyah bersama. Mereka tersenyum senang, gorengan dan teh buatan mereka dipuji oleh orang kaya.
"Tia, saya pulang, yah," ujar Gaishan ke arah Fathiyah.
"Hum, hati - hati di jalan," sahut Fathiyah.
Gaishan tersenyum manis, "Baik, terima kasih atas perhatiannya, saya selalu hati - hati."
Fathiyah, "...." perhatian dari mana?
"Ingat yah Bang Jay, besok jangan mogok kerja loh, tadi saya tunggu empat jam loh," ujar Gaishan ke arah Jayadi.
"Siap, Gaishan. Aku nggak bakalan mogok kerja lagi," balas Jayadi.
"Mantap." Gaishan tersenyum.
"Mari, saya permisi pulang, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," balas yang lain.
Gaishan keluar dari teras depan rumah Fathiyah, dia berjalan keluar g**g, seperti dia masuk ke dalam g**g, Gaishan meminta permisi dengan sopan.
Sudah ada mobil hitam mewah yang berhenti di depan pintu g**g, Gaishan naik tanpa perlu dibukakan pintu oleh sang bodyguard yang menjadi supir.
"Lain kali nanti berhenti di samping pintu g**g saja, nanti mengganggu kendaraan lain atau orang lain yang ingin masuk ke dalam kompleks."
"Baik, Tuan." Bodyguard menyahut sambil menggangguk mengerti.
Di teras rumah Nasir.
"Sopan banget dan hormat orang tua," ujar Nasir menilai sifat Gaishan.
"Bener, Bang. Dia kagak pilih - pilih makan, padahal sebenarnya ada ayam di kulkas, mau aye masak semur tadi, tapi dia bilang makan apa adanya saja, wah, anak baik, kagak neko - neko," timpal Siti Atun.
Alawiyah mengangguk, "Iya Mpok. Aye kagak nyangka, orang yang kite suudzon malah bener - bener bae, aye sampe malu tadi, Mpok. Udah kira Gaishan yang kagak - kagak."
"Nah, ini pembelajaran buat kite semua, jangan termakan suudzon. Buang tuh prasangka buruk jauh - jauh," ujar Nasir ke arah Alawiyah dan Fathiyah.
Alawiyah dan Fathiyah hanya bisa menggaruk kepala mereka.
"Terutama lu, Jay. Ncang heran ama elu, udeh mau tiga puluh tahun tapi pikiran masih kayak anak baru gede," Nasir geleng - geleng kepala.
Jayadi, "...."
°°°
Gaishan keluar dari mobil, ternyata sang adik kembar belum pulang.
"Ghifan belum pulang?" tanya Gaishan ke arah kepala pelayan.
"Belum, Tuan," jawab kepala pelayan.
"Sebentar lagi sudah jam lima, tumben belum pulang," gumam Gaishan.
"Saya tidak tahu, Tuan," ujar kepala pelayan.
Gaishan mengangguk mengerti.
"Papa dan Mama saya sudah ke Bali, kan?"
"Tuan, Nyonya dan Nona Sira sudah sampai di Bali, Tuan. Sedang istirahat karena jam dua tadi mendarat," jawab kepala pelayan.
"Baiklah." Gaishan menarik dan mengembuskan napas, "Satu minggu ini aku dan Ghifan saja yang ada di rumah."
"Oh, bagaimana kalau besok main ke rumah nenek Lia saja? Ah! Ide bagus! Mau buat cemburu Kakek Agri ah."
Kepala pelayan, "...." Tuan, besar sekali nyali Anda.
Gaishan berjalan menaiki tangga.
°°°
Gea bangun dari tempat tidur di hotel resort milik Nabhan.
Busran masih tidur enak. Mungkin karena perjalanan dadakan mereka, jadi perlu persiapan secepatnya. Mereka datang ke Bali dengan pesawat pribadi. Para rekan kerja Bushra sudah lebih dulu sampai di Bali, mereka berangkat dengan pesawat jam sebelas.
Gea keluar dari kamar. Sudah ada seorang perempuan tersenyum untuk melayaninya. "Nyonya, apakah Anda ingin mandi air hangat di dalam bathup? Saya akan segera menyiapkan air."
"Tidak, saya mau melihat - lihat daerah sekitar sini," jawab Gea.
"Baik." Pelayan mengangguk mengerti.
Gea berjalan - jalan melihat daerah sekeliling.
Ada beberapa orang asing yang melihat ke arah Gea yang berjalan dengan pakaian santai.
Seorang dari mereka berniat menghampiri Gea.
"Halo, Nona."
Gea menoleh ke arah bule itu.
"Halo," balas Gea.
(Dialog dianggap dalam bahasa Inggris.)
"Mark." Bule itu memperkenalkan dirinya.
"Gea," balas Gea, dia menerima sopan jabatan tangan Mark.
"Anda sedang melihat pemandangan?" tanya Mark.
"Ya-"
"Sayang!"
Gea tahu siapa itu yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan suaminya.
"Saya permisi." Gea pergi ke arah Busran yang masih setengah tersadar mata merah melihat dongkol ke arah Mark.
"Mandi, sudah jam lima, sebentar lagi kita makan malam," ujar Gea.
"Mandi bersama."
Gea, "...."
Busran merangkul Gea masuk.
Salah satu pengusaha yang kebetulan melihat wajah Busran dan Gea cukup terkejut.
"Ah, Tuan Busran dengan sekretarisnya rupanya berlibur di sini."
Mark menaikkan sebelah alisnya.
Sekretarisnya?
°°°
Makan malam tiba.
Busran datang bersama Gea ke sebuah restoran di resort.
Entah kebetulan atau apa, Mark dan beberapa temannya juga ada, termasuk pengusaha yang tadi.
"Tuan Busran." Panggil pengusaha itu.
Busran menoleh ke arah suara.
"Ah, Tuan Steve."
Busran dan Gea berjalan ke arah Steve.
"Saya tidak menyangka Anda dan sekretaris Anda datang ke sini," ujar Steve.
Busran tersenyum, dia hendak membalas ucapan Steve, namun terdengar lebih dulu suara Mark.
"Ah, saya mengerti, Tuan Busran ini memiliki hubungan dengan sekretaris Anda, banyak orang yang seperti itu."
"Nona Gea, senang melihat Anda lagi, Anda tampak cantik dengan dress santai pink itu," puji Mark.
Busran memandang tajam ke arah Mark, sudut bibirnya bergerak, kentara sekali bahwa dia dongkol.
Busran memeluk pinggang istrinya dari samping.
"Tuan Steve, saya dan istri saya datang ke sini bukan untuk urusan pekerjaan, namun kami sedang bulan madu ke dua kami."
Mark, "...."
"Bulan madu pertama kami susah dua puluh delapan tahun yang lalu, jadi yang ini bukan sekretaris saya, tapi istri saya, kami tidak kerja namun bulan madu." Busran melirik Mark dengan ekor mata.
Nah, aura cemburu sang suami mulai berkobar.
°°°