"Ck! Papa ada - ada aja deh, masa aku dikira rayu istrinya?" Gaishan menggerutu di depan cermin.
Rambut di ubun - ubun hampir botak karena jambakan ganas dari sang ayah.
"Aduuh … mana kelihatan kalor lagi, besok kalau duduk di depan pintu pasti kelihatan sama Tia, nih." Gaishan melihat bekas kalor yang disebabkan oleh sang ayah.
"Kan cuma pengen meluk dan cium Mama doang, malah seperti ini. Memang nggak boleh anak sayang sama Mama?"
"Dah tua, masih saja cemburuan, mana sama anak sendiri lagi, ck! Om Rafi dan Tante Cici Cila aja nggak apa - apa tuh dicium sama anak - anak mereka."
"Besok kalau keluar begini nanti rambutnya ditiup angin, pasti akan kelihatan. Pake pomade aja deh, biar lebih rapi rambutnya."
Sedangkan di dalam kamar orangtua Gaishan.
"Marah - marah apa sih, Bus?" Gea hanya menggelengkan kepalanya. Dia naik ke atas ranjang lalu meletakkan kepala di atas bantal empuk.
Gea melihat tangan sang suami.
"Bus, rambut Gaishan mau kamu apakan?" tanya Gea, dia sudah malas dengan tingkah suaminya ini.
"Mau aku tes DNA."
"Buat apa tes DNA? Kamu ada - ada aja deh."
"Buat mencari tahu, apakah ini anak aku atau bukan, mungkin anak kita yang sebenarnya telah tertukar waktu kamu melahirkan di rumah sakit, dua puluh tujuh tahun yang lalu."
Gea memutar bola matanya.
"Kamu sudah tua, makanya pikun. Kamu yang lihat sendiri Gaishan keluar dari perut aku kok, malah kamu sendiri yang kasih tanda kalau itu anak kita, kenapa sekarang kamu ragu?" Gea merasa bahwa otak suaminya ini sudah bocor.
"Bisa jadi, suster menukar anak kita yang sebenarnya." Busran masih kecil perihal tadi.
"Huh, sekarang kasih rambut kamu ke aku. Sini." Gea melambaikan tangan agar Busran mendekat ke arahnya.
Busran mendekat, lalu yang terjadi adalah ….
Sret.
"Auh!"
"Sayang, kenapa kamu jambak rambutku?" Busran meringis sakit.
Gea melihat rambut di tangannya.
"Buat tes DNA."
"Hah? Ngapain tes DNA?" tanya Busran bingung.
Dia naik ke atas ranjang dan mendekat ke arah Gea.
"Mungkin yang satu ranjang denganku sekarang ini bukan suamiku yang sebenarnya."
Busran, "...."
Gea mencebik.
"Tidur di luar, bukan suamiku."
"Sayang, aku cuka bercanda kok. Gaishan memang anak kita, hahaha! Aku sendiri yang melihat Gaishan keluar dari perutmu secara langsung, aku juga yang memberi dia tanda. Gaishan anak kita. Aku tadi cuma agak kesal saja, jangan dibawa serius lah."
"Yah? Yah? Sayang … sayang …." Busran memeluk istrinya.
"Masa bodoh, mungkin suamiku telah tertukar di rumah sakit."
Busran, "...."
"Hahahaha, kamu bisa aja deh bercanda. Aku pijitin yah? Tadi aku lihat kamu banyak urus berkas baru yang masuk. Ah, pasti capek."
Busran buru - buru memijat betis sang istri.
Malam ini dia tidak boleh membuat istrinya marah, kalau marah, alamat dia tidak bisa dapat memijat plus plus dari sang istri, jadi sebagai suami yang baik, Busran mulai lebih dulu acara memijat. Berharap pijatannya dapat menghilangkan rasa dongkol dari sang istri.
"Cuma bercanda itu, kamu kayak nggak tahu aja gimana kita sering bercanda? Biasa juga aku sama Gaishan saling tenang menedang macam bola saat bercanda. Bahkan saling tampar menampar, nah, tadi ini kita bercanda saling jambak."
Busran terus memijat betis sang istri sambil memberi alasan.
Gea hanya menutup mata. Dia sangat lelah dari kantor. Biarkan sang suami memijatnya, itu lebih baik.
"Kan kita biasa main canda - candaan." Pijatan Buatan naik beberapa senti ke arah paha Gea.
Gea hanya mendengar sang suami mengoceh dan menikmati pijatan Busran.
"Biasa itu, kalau Gaishan bercanda bahkan lebih ekstrim lagi."
Tangan Busran naik lagi, kali ini sudah masuk rok tidur sang istri.
"Dia kalau bercanda, suka kelewatan. Nah, sayang, ingat nggak? Saat Ibas nikah, Gaishan teriak sampe Ibu jadi terkejut. Ayah sampe jengkel waktu itu."
Kini tangan itu sudah mengelus b****g sang istri.
"Untung aja Ibu senang hari itu, teman Ibu bisa nikah dengan cucunya, jadi bahagia."
Sekarang jangan ditanya tangan Busean sudah ada di mana. Yang pastinya, celana dalam sang istri sudah raib menghilang entah kemana.
"Bus, kamu mau pijit daerah mana?"
Busran tersenyum tanpa dosa.
"Mau pijit di sini."
Gea yang tidur miring dia tersenyum geli. Suaminya ini ada maunya, dia berbalik ke arah Busran, "Sekarang jam sembilan, setengah jam saja cukup."
Mata Busran berubah biji love.
Dia terkekeh.
"Satu jam yah?" tawar Busran.
Gea menarik lalu mengembuskan napas.
"Jam sepuluh kita tidur."
"Ok." Busran buru - buru membuka seluruh pakaian.
Di kamar Gaishan.
Gaishan tiduran sambil melihat ponsel.
"Bang Jay Kakak ipar, hehehe, nama kontak yang pas."
Setelah memeriksa bahwa berapa ratus rambut yang hilang dari ubun - ubun, Gaishan berencana untuk mengirim pesan singkat pada Jayadi.
'Assalamualaikum. Bang Jay, ini Gaishan.'
Klik.
Pesan terkirim.
Tak berapa lama, Gaishan mengirim pesan lagi.
'Sudah tidur, Bang?'
Pesan terkirim.
Beberapa detik, Gaishan mengirim pesan lagi.
'Tadi enak juga yah, Bang. Keliling muter - muter kota.'
Pesan terkirim lagi.
Beberapa saat lagi Gaishan mengirim pesan lagi.
°°°
Bunyi ponsel Jayadi tiada henti - hentinya.
Jayadi yang baru saja selesai makan malam itu meraih ponsel yang dia charger di colokan pinggi televisi.
Pria 29 tahun itu membuka kode, lalu melihat isi pesan.
"Heh? Banyak pesan masuk, tumben-ooh, dari Gaishan."
Jayadi membaca pesan yang dia terima.
'Bang Jay, saya mau pesan tempat duduk di depan pintu mikrolet.'
'Saya sewa, yah.'
'Satu hari dua juta.'
Melihat pesan terbaru yang dia terima, bola mata Jayadi berubah menjadi biji koin dollar.
"Wah, dapat pelanggan tetap, nih!"
Puk!
Jayadi menepuk tangan gembira.
"Mesti gue bales nih pesan, ini adalah pelanggan yang jatuh dari surge."
Jayadi mulai membalas satu persatu pesan dari Gaishan.
'Waalaikumsalam, Gaishan.'
'Belum, aku belum tidur.'
'Wah, iya. Enak sekali keliling muter - muter kota.'
'Boleh, kok. Boleh sewa.'
'Ok, DEAL, sewa tempat perhari di kursi depan sehari dua juta.'
Jayadi mengirim tanda deal besar pada Gaishan.
°°°
"Ok, deal. Sewa tempat perhari di kursi depan sehari dua juta. Mantap!"
Puk puk puk!
Gaishan bertepuk tangan ria.
"Yes yes yes!" kepalan yes dia kepalan tinggi - tinggi.
"Huuh, biar lebih enak nanti saya transfer lewat rekening ataukah bayar cash saja?" Gaishan berbicara sambil mengetik pesan ke Jayadi.
Untuk satu menit kemudian pesan belum dibalas.
Hal ini membuat Gaishan resah tiada tara hati cenat - cenut macam dicubit - cubit oleh kuku tajam kuntilanak.
Gaishan bangkit dari tiduran. Dia berjalan mondar - mandi di dalam kamar.
"Belum dibalas juga."
Mondar - mandir.
Berhenti.
"Apa si Jay berbah pikiran?"
Mondar - mandir lagi.
Berhenti lagi.
"Ah, nggak mungkin. Jelas - jelas pesannya deal."
Mondar - mandir lagi.
Berhenti lagi.
"Iiihhh, sudah tiga menit kok belum dibalas?"
Mondar - mandir lagi.
Berhenti lagi.
"Apa belum dibaca pesannya?"
Mondar - mandir lagi.
Berhenti lagi.
"Aduh, harus dibaca ini."
Dan kembali mondar - mandir entah kapan berhenti.
°°°
Jayadi berlari masuk ke rumah Fathiyah.
"Ncang?!"
"Ape? Elu nape teriak - teriak?" Nasir membanting kartu.
"Nah, gue menang lagi, nah, kocok kartunya."
Muhajir mencebik ke arah Jayadi.
"Lu nape teriak - teriak? Babe dah kocok kartu sepuluh kali."
"Ncang, Fathi mane?" tanya Jayadi.
"Kagak tau tuh pergi ke mane. Tadi ke tempat anak - anak kompleks kayaknya," jawab Nasir, dia menyeruput kopi lalu meraih camilan keripik pisang.
"Wah, penting banget, Ncang."
"Duduk. Apa yang penting?" tanya Nasir setelah mengunyah keripik pisang.
"Begini, kite bakal dapet rejeki nomplok, Ncang."
"Naah! Yang rejeki nomplok ini yang gue demen, bagimane itu?" Nasir pasang pendengaran baik - baik.
Jayadi duduk di kursi.
"Gini, Ncang. Bagusnya, kalau orang sewa mikrolet perhari bayar dua juta, itu pake uang cash ape pake jasa transfer bank?"
"Huh? Sewa mikrolet perhari bayar … dua juta!"
Brak!
"Aduh, Bang, sabar nape." Muhajir terkaget saat sang kakak menggebrak meja.
"Ho'oh, dua juta perhati, Ncang. Dua juta. Dua juta ini satu hari, Ncang." Jayadi memperlihatkan dua jari terus menerus ke arah Nasir.
"Jay."
"Ye?"
"Hahahaha!" Nasir terbahak.
Jayadi bingung, tiba - tiba paman nya berubah jadi gila.
"Elu sekarang masih sehat, kan?"
Jayadi mengangguk.
"Kagak lagi nge-fly, kan?"
Jayadi mengangguk.
"Lah terus nape elu bicara omong kosong? Mane ade orang yang mau sewa mikrolet sehari bayar dua juta? Otak kagak dipake apa?" Nasir geleng - geleng kepala.
Sekarang Jayadi tahu, sang paman terbahak karena mengira dia gila.
"Ncang, yang mau sewa mikrolet ini, anak sulung Bapak Busran Nabhan yang minggu lalu datang dan istri untuk meminta maaf atas kesalahpahaman minggu lalu."
"Hahahah-" Nasir berhenti tertawa mendadak.
"Ape?"
"Ape lu kate?" Nasir mengorek - ngorek telinganya. Mungkin saja ada kotoran telinga yang telah menggumpal menutup lubang telinganya.
Jayadi mulai menjelaskan dari pertama dia melihat Gaishan naik mikrolet mereka sampai membayar banyak uang tadi sebelum dia turun dari mikrolet.
°°°
Gaishan masih mondar - mandir sambil melihat ke arah ponselnya.
Ponsel bergetar.
Gaishan buru - buru melihat isi pesan.
'Kak Gaishan, Risti udah selesai pemotretan, besok makan siang bareng, yuk? Di kafe Farikin's Food. Risti tunggu jam setengah satu siang, yah. Dadah.'
"Yaahh, kirain Bang Jay balas pesan. Ternyata dari Risti."
Gaishan melihat pesan yang dikirim oleh Risti.
"Yaah, kasihan juga kru dan Risti, pemotretan bolak - balok Bali, Lombok, Jakarta."
"Dari pada kecewain mereka, aku iyakan saja ajakannya. Hitung - hitung baik ke karyawan."
Gaishan membalas pesan Risti. Lalu dia merasa bahwa Jayadi mungkin telah tidur. Gaishan memutuskan untuk tidur.
Setelah Gaishan tertidur pulas, ponsel nipon Gaishan bergetar, dua pesan masuk. Nama pengirim yaitu Risty dan Bang Jay Kakak Ipar.
°°°
Busran minum s**u dengan penuh semangat.
"Oh, Gaishan belum turun juga, yah? Tumben, biasanya dia udah seminggu ini bangun pagi terus pergi pagi."
Ghifan dan yang lainnya melirik ke arah Busran.
Tumben sang ayah ini memperhatikan Gaishan, biasanya sang ayah akan dongkol pada sang kakak.
"Hum? Kenapa pada lihat Papa begitu? Ada yang salah?" Busran memperbaiki tatanan kemeja.
"Em … nggak ada kok." Ghifan menggelengkan kepala.
Gaishan muncul dengan wajah cerah berbinar ceria. Ada yang berbeda dengan penampilannya, kali ini rambutnya terlihat mengkilap licin dan rapi, beruntung rambutnya belah pinggir, jadi dia terlihat maco dan keren. Jika saja itu belah tengah entah jadi apa penampilan Gaishan, mungkin sisa kalor kecil akan terlihat.
Semua mata memandang ke aeah Gaishan.
"Tumben Kak Shan rambutnya mengkilap." Bushra membuka suara.
"Iya dong, harus mengkilap." Gaishan melirik sang ayah, "Karena seseorang telah menganiaya diriku yang lemah tak berdaya ini."
Busran tersenyum tanpa dosa.
"Oh, rambut anak Papa ini sudah rapi dan kinclong. Sini Papa usap."
"Ouh ouh ouh! Jangan diusap, Pa. Nanti kalor bekas jambakan Papa terlihat!"
Semua orang, "...."
"Yahh, sudah diusap." Gaishan menggetarkan giginya menahan dongkol.
"Pft, hahahaha!" bahu Gea bergetar. Dia menahan perut karena terbahak.
°°°
Jayadi sekarang ada yang berbeda dari cara pakaiannya. Jika dia biasanya pergi kerja dengan hanya memakai kaos oblong dan celana jeans lalu dipadukan dengan sandal swallow. Kini gaya berpakaian Jayadi telah berubah. Kaos berkrak, cealan jeans dan sepatu sneaker.
Fathiyah melirik Jayadi dari atas sampai bawah dan dari bawah sampai atas.
"Bajay, kite kagak narik hari ini?"
"Ya narik dong! Harus! Hari ini kite kudu narik biar dapet banyak duit!" Jayadi bersemangat.
"Itu, mau ke mana dengan baju begitu?"
"Mau kerja dong. Ayo!"
Enak saja tidak kerja hari ini. Alamat uang dua juta bakalan raib.
Fathiyah juga melihat tas samping yang dipakai oleh sang kakak sepupu.
Fathiyah hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia mengikuti naik mikrolet dan mikrolet itu berjalan.
Tidak lama, sekitar sepuluh menit, Jayadi memberhentikan mikrolet di depan gerbang perumahan Gaishan.
"Bajay, ngapain kite berhenti di sini? Kagak ada yang naik."
"Ada, penumpang tetap," ujar Jayadi.
"Mane-" Fathiyah melihat Gaishan dengan gaya cool menebarkan pesona sana sini sedang berjalan keluar gerbang perumahan sampai mendekat ke arah mikrolet.
"Gaishan, ayo naik!"
"Mantap! Makasih, Bang Jay." Gaishan menaikkan jempol kanan ke arah Jayadi.
"Ok," sahut Jayadi.
Gaishan dengan senyum lebar naik sambil menyapa Fathiyah.
"Selamat pagi, Tia."
Gaishan duduk di tempat yang telah dia sewa secara resmi tadi malam.
Fathiyah memandangi lama wajah Gaishan. Hal ini membuat hati Gaishan berdebar tak karuan dag dig dug seerr!
Tia terpesona sama ketampananku.
Batin Gaishan.
Pasti dia baru sadar betapa aku sangat mempesona.
Menggoda.
Dan menggairahkan.
Suara merdu terdengar.
"Gaishan, kamu kok kalor di ubun - ubun?"
Gubrak!
Gaishan jatuh dari ketinggian 100 km ke dasar tanah.
Remuk.
Hancur.
Berantakan sudah hayalannya.
Papa tukang cemburu!!!
°°°