Chapter 12

2106 Kata
"Hari ini aku harus naik mikroletnya. Yah, harus." Gaishan sangat bersemangat pagi ini. Dia makan pagi sangat banyak. Niatnya makan pagi banyak itu untuk persediaan tenaga 'bertempur' yang artinya bertempur menunggu mikrolet impian muncul. Gaishan menyemangati dirinya sendiri saat berjalan keluar dari gerbang perumahan menunggu mikrolet lewat. "Ini jam delapan lewat dua puluh menit, jam begini Bang Jay dan Tia pasti dah baru narik," ujar Gaishan. Di sisi lain Fathiyah duduk di depan pintu mikrolet. "Jalan, Bang. Kite narik hari ini. Semoga dapat banyak duit!" Fathiyah terlihat sangat bersemangat. "Dapat banyak duit!" balas Jayadi penuh semangat sambil menginjak gas mikrolet. "Amin! Amin! Amin!" sahut Fathiyah penuh semangat. Semenjak Fathiya menjadi kenek mikrolet yang disupiri oleh Jayadi, pria 29 tahun itu tidak khawatir lagi akan keamanannya dari penjahat. Dua saudara sepupu beda gender itu tertawa senang. Dua hari makan enak di rumah, bagaimana Jayadi tidak senang? Tentu saja dia senang. Kemarin sore mereka panggang bebek, dan bebek itu berubah menjadi bebek bakar enak. Bayar bahkan menjilati tulang - tulang bebek seperti harta berharga ribuan tahun yang tidak dia temukan. Jayadi yang sedang menyetir, melihat serius ke arah depan. Ternyata penglihatannya tidak salah. Di depan ada Gaishan yang berdiri dari duduk di pinggir gerbang perumahan sambil menyingsngka lengan baju lalu dengan senyuman semangat membara memberhentikan mikrolet miliknya. Mata Jayadi berbah menjadi biji koin dollar. Yang melambaikan tangan ke arah mikroletnya ini adalah dollar abadi untuk mereka. Uang sedang melambai ke arah mikroletnya. Mikrolet berhenti. Gaishan tersenyum lebar selebar mungkin. Senyum di bibirnya itu sudah menyentuh dua sisi telinga, macam setan jepang mulut robek yang legendaris, sayang sekali, Gaishan lupa nama setan itu. Ah, nanti saja baru dia ingat - ingat lagi, yang penting naik mikrolet. "Halo, Bang Jay, halo Tia. Saya mau pergi ke kantor," sapa Gaishan penuh semangat ke arah Jayadi dan Fathiyah. "Halo, Gaishan. Ayo naik!" seru Jayadi penuh dengan semangat keuangan. "Sejak kapan nama saya berganti menjadi Tia?" Fathiyah menaikkan sebelah alisnya. "Sejak hari ini aku saya memanggil kamu," jawab Gaishan kalem. "Maaf, kita tidak dekat, dan tidak akan sedekat itu," balas Fathiyah. Gaishan hanya tersenyum. "Saya baca di buku percintaan bab perkenalan memang begitu, tidak dekat, namun kita harus menjalani secara perlahan, lama - kelamaan kita akan sangat intim." Fathiyah, "...." kepalan siap edar akan diedarkan ke arah wajah Gaishan. "Ehm, baiklah. Saya naik." Gaishan membersihkan tenggorokannya lalu naik ke adalah mikrolet. Dia duduk di tempat yang biasa dia duduki, seakan tempat itu adalah benar miliknya. "Ah ya, Bang Jay, kemarin tidak narik?" Gaishan pura - pura iseng bertanya. Namun sejujurnya, dia sangat ingin menanyakan pertanyaan ini. "Ah iya. Kemarin memang kita tidak narik, Gaishan," jawab Jayadi. Gaishan manggut - manggut. Jadi memang bukan salah jalur mikrolet ini. Batin Gaishan. "Itu, hari sabtu juga, yah?" tanya Gaishan lagi, dia memancing percakapan dengan Jayadi terus, seakan jika hari ini dia terus berbicara dengan Jayadi, maka mereka akan menjadi akrab. Gaishan sendiri sangat optimis bahwa dia dan Jayadi akan menjadi akrab di masa depan. "Ah, benar. Kami dua hari ini tidak narik, Gaishan. Babe Fathiyah nyuruh buat istirahat di rumah dulu. Beliau juga bilang, jaga kesehatan kita," jawab Jayadi. Gaishan manggut - manggut. Jadi memang benar, dia telah sia - sia menunggu dua hari untuk kemunculan mikrolet yang sedang dia naiki ini. Tak apalah. Ayo Gaishan! Jangan berkecIl hati! Batin Gaishan menyemangati dirinya. "Bang Jay, saya nungguin loh. Dua hari ful. Sampe wajah saya jadi belang - belang begini," ujar Gaishan. "Kiri, Bang." Seorang penumpang sampai di tempat tujuan. Jayadi memberhentikan mikrolet penumpang laki - laki turun serta membayar ongkos. Lalu mikrolet jalan lagi. "Wah, Gaishan nungguin mikrolet kita yah? Ya ampun sayang sekali, kemarin kita tidak narik." Jayadi bagaikan orang menyesal tujuh turunan karena kemarin tidak kerja. Kalau saja dia kerja, pundi - pundi uang melambai pergi sambil bercucuran air mata. Jayadi ingin menangis sedih. "Iya, saya tunggu loh. Huum, saya kira mikrolet ini sudah pindah jalur lain." Gaishan mengangguk. Mikrolet berhenti, dua gadis cantik naik. Mereka hampir terjedot pintu mikrolet karena terlalu memperhatikan wajah Gaishan. "Oh, Gaishan, kita tidak akan pindah jalur kok. Jalur pencarian kita memang ini saja, tidak pindah - pindah," ujar Jayadi sambil menginjak gas. "Baguslah itu, Bang. Saya setuju." Gaishan mengangguk mengerti, dia bersyukur. Jelas saja tidak bisa pindah. Sumber uang sejati adalah lewat jalur ini. Batin Jayadi. Jayadi sudah optimis bahwa jalur ini adalah jalur terbaik untuk mendapatkan lebih banyak uang. Karena jalur ini ada Gaishan. Pelanggan VVIP merangkap dewa keberuntungan. Gaishan dan Jayadi terlibat obrolan ringan seputar informasi tentang per-mikrolet-an. Empat jam kemudian. Fathiyah sudah tidak berniat lagi membuang suara pada orang - orang yang ada di dalam mikroletnya. Sebab, ini sudah empat jam orang yang sama duduk menanam p****t mereka sekeras - kerasnya di atas tempat duduk mikrolet. Terlebih lagi, Fathiyah sudah malas membuang suaranya pada Gaishan yang sudah empat jam duduk mendekam di depan pintu mikrolet. Fathiyah duduk membelakangi Gaishan yang duduk di depan pintu, dia melirik ke arah Jayadi yang sedang menyetir. "Gaishan." Panggil Jayadi. "Ya, Bang Jay?" sahut Gaishan. Dia mencoba menjaga kewibawaan dan tetap terlihat keren saat menyahut panggilan dari Jayadi. "Ini dan jam setengah satu. Em … itu … jam segini biasa kita cari makan … tapi ini kayaknya para penumpang lupa turun atau bagaimana yah?" "Hehehehe." Jayadi terkekeh sumbang. Gaishan mengerti, dia melihat ke semua para penumpang yang bergender perempuan muda di dalam mikrolet ini. Hanya dia sendiri yang statusnya sebagai penumpang pria. "Ah, biasa Bang Jay dan Tia cari makan di mana? Di pasar atau di terminal?" tanya Gaishan. "Kita biasa cari makan di sekitaran terminal saja, Gaishan. Jangan jauh - jauh," jawab Jayadi. "Ah ya sudah, kita ke terminal saja untuk cari makan sekalian Bang Jay dan Tia istirahat makan siang," ujar Gaishan sambil mengangguk, dia melihat ke arah para penumpang, nanti adik - adik manis ini turun di terminal kan?" Mendengar sebutan manis dari mulut Gaishan, para penumpang hampir kena serangan diabetes melitus. "Ya! Ya, saya turun di terminal." "Saya memang berniat turun di terminal." "Saya turun di terminal, tadi saya lihat macet terus, jadi agak malas turun." "Saya lupa bawa payung, jadi tadi pas mau turun, jadi males, panas." "Saya tadi memang mau turun di terminal, Kak." Gaishan tersenyum. Jayadi hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Fathiyah mencebik sambil memutar bola mata. Sepuluh menit kemudian, mikrolet sampai di terminal. Mikrolet berhenti, dan yang anehnya, tidak ada penumpang satupun yang berniat turun dari mikrolet. Fathiyah dan Jayadi, "...." hanya saling lirik. Gaishan tersadar bahwa sudah sampai terminal, namun tak ada yang berniat turun. "Ah, akhirnya kita telah sampai di terminal. Ayo adik - adik manis. Turun semua yah. Abang supir dan nona kenek cantik mau istirahat makan siang," ujar Gaishan membuka percakapan. Semua penumpang turun. Ada yang enggan untuk turun, namun apa daya, mereka harus turun. Setelah dirasa semua penumpang telah turun, kini Fathiyah bertanya. "Anda tidak turun?" Gaishan tersenyum. "Saya juga ingin makan siang. Ah, di mana biasanya tempat makan siang?" Gaishan bertanya pada Fathiyah. "Penumpang yang lain sudah bayar lima kali lipat, Anda belum bayar." Fathiyah menengadahkan dua telapak tangan ke arah Gaishan. Gaishan tersenyum manis semanis mungkin. "Sudahkah saya katakan bahwa saya ingin pulang naik mikrolet ini juga?" Fathiyah, "...." °°° Jadi, di sini lah tiga orang berbeda profesi itu. "Bang Jay, nasi goreng dan bakso di sini memang benar - benar enak." Gaishan memberi jempol kanan ke arah Jayadi yang sedang serius melihat Gaishan makan. "Gaishan." "Ya?" sahut Gaishan atas panggilan dari Jayadi. "Kamu beneran suka makan di sini?" tanya Jayadi, dia ingin sekali mendengar jawaban sejujur - jujurnya dari Gaishan, Jayadi melihat di sekeliling. Ini gerobak pinggir jalan. "Ya, saya suka makan. Di mana saja, asal yang penting makanan itu halal dan bersih. Kenapa, Bang?" Gaishan menyiapkan nasi goreng sesendok penuh lalu menambal dua sendok kuah bakso masuk ke dalam mulut. Jayadi hanya terlihat takjub. Dia melirik ke arah sepiring nasi goreng dan bakso ditambah es jeruk. Hidangan yang sama juga terlihat di depan Fathiyah yang sedang melihat Gaishan dengan tatapan sulit diartikan. "Anda tidak jijik?" Fathiyah keceplosan bertanya. Suasana terasa sunyi. Jayadi merasa bersalah atas pertanyaan sang sepupu. Gaishan mengunyah makanan lalu menelan, dia menyeruput es jeruk lalu menoleh ke arah Fathiyah yang sedang melipat bibir ke dalam mulut. Dia tersenyum ke arah Fathiyah. "Panggil saja Gaishan. Jangan formal seperti itu, kamu bukan karyawan saya." "Em …," Fathiyah terlihat salah tingkah. Gaishan melihat wajah Fathiyah yang sudah terlihat agak kinclong bebas dari polusi udara serta daki - daki dan kawan - kawan. Dia mengangguk puas, itu artinya Fathiyah telah memakai produk perawatan wajah dan badan yang dia kirim. "Untuk apa saya harus jijik?" tanya Gaishan kembali pada Fathiyah. Fathiyah menjawab, "Kamu kan orang kaya, makan pasti di restoran mahal. Aku dengar, perusahan Nabhan bukan cuma bergerak di bidang keuangan. Tapi … di kuliner juga." "Ya, kamu benar." Gaishan mengangguk. "Ada yang salah kalau saya orang kaya makan di gerobak kaki lima pinggiran?" tanya Gaishan. "Saya bahkan lebih sering makan di pinggir tempat sampah," lanjut Gaishan. "Bsuk!" "Uhuk! Uhuk!" Beberapa pelanggan nasi goreng dan bakso menyemburkan nasi goreng dan kuah bakso mereka setelah mendengar ucapan Gaishan. Fathiyah dan Jayadi hanya memandang serius ke arah Gaishan. "Dan saya menikmati makan di pinggir tempat saya. Saya dan orangtua atau saudara saya, sering duduk makan di pinggir tempat sampah saling bercerita ria, saling menghibur dan saling bercanda." Fathiyah dan Jayadi tidak berniat menyela ucapan Gaishan. Gaishan memandang sisa nasi goreng dan bakso yang ada di dalam piring dan mangkok. "Selama tidak ada kotoran yang diletakan di dalam piring atau mangkok ini, saya senang makan makanan ini." "Saya manusia, tentu saja saya makan makanan yang sama dengan apa yang kalian makan. Toh kita mati, yang ditanyakan oleh malaikat itu bukan 'kamu sudah makan apa saja di dunia?' tapi yang ditanya oleh malaikat itu yaitu, 'perbuatan apa saja yang kamu lakukan di dunia?', itu yang akan ditanyakan." "Mati tidak bawa harta saya. Apalagi bawa perusahaan saya. Mati yah hanya bawa amal perbuatan masing - masing. Mati juga tidak pakai cincin emas, berlian, atau mutiara. Mati cuma pakai kain kafan saja. Saya orang mampu dan yang lain orang tidak mampu, kami sama - sama kakak kain kafan." Pandangan Fathiyah berubah seratus delapan puluh derajat terhadap Gaishan. Tiba - tiba Fathiyah merasa tidak enak telah bertanya pada Gaishan. Ternyata memang benar, orang kaya tidak semuanya bersikap sombong. "Ayo makan. Lanjut makan. Ini sudah mau jam setengah dua. Makanan sudah mau dingin." Gaishan melanjutkan makan nasi goreng dan Bakso. Jayadi menyenggol lengan kiri Fathiyah. Dua sepupu itu mulai makan siang. "Ah, Bang Jay, saya mau simpan nomor telepon Bang Jay, dong. Supaya dipermudahkan jika mau naik mikrolet." "Boleh boleh." Jayadi cepa respon. Dia buru - buru mengeluarkan telepon android standar dari dalam saku celana jeans. "Ini nomor telepon aku." Jayadi memperlihatkan nomor telepon ke arah Gaishan yang telah selesai makan. Gaishan menyeruput es jeruk hingga tandas lalu mengeluarkan ponsel nipon miliknya. Nomor telepon telah disimpan. Gaishan mencoba menelepon Jayadi. "Itu nomor saya." "Ah, baik. Aku simpan di kontak dengan nama Gaishan saja, yah?" "Boleh. Simpan dengan nama adik ipar juga boleh." "Uhuk! Uhuk!" Fathiyah tersedak kuah bakso. Dia buru - buru minum es jeruk. Jayadi tersenyum penuh arti. Sepertinya dia telah mulai memahami alasan Gaishan sering naik mikrolet mereka hampir satu minggu ini. "Hati - hati. Saya tahu kuah bakso ini enak, tapi jangan sampai kuah bakso ini masuk salah jalur," celetuk Gaishan. "Hahaha!" Jayadi terbahak. °°° "Bang Jay, terima kasih yah untuk hari ini, sudah berniat menumpangi saya." "Tidak apa - apa! Besok naik lagi, kan?" tanya Jayadi. "Naik dong. Harus itu," jawab Gaishan. Jayadi tersenyum senang. Dia melihat tumpukan uang nol lima banyak lembar. Matanya berubah menjadi biji koin dollar. "Tia, saya pulang yah, kamu hari ini terlihat manis, cerah wajahnya. Kinclong, sepertinya tidak ada daki yang berani menempel di pipi manis kamu." Fathiyah, "...." tergagap, entah mau bilang apa. Baru kali ini dia tergagap di depan orang. "Masuk duduk di dalam gih, nanti kamu masuk angin." "Bener, Fat. Ayo masuk." Jayadi membuka suara. Fathiyah buru - buru duduk di tempat di mana Gaishan duduk. "J-jalan, Bang." Fathiyah tergagap. Mikrolet jalan menjauh dari Gaishan. Dua pihak hari ini sama - sama mendapat kepuasan. "Huh, barang gampang seperti ini kok malah dibuat susah. Coba dari kemarin aku minta nomor teleponnya." Gaishan berjalan masuk gerbang perumahan. Beberapa menit kemudian dia masuk rumah. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," balas Gea. Gea dan keluarga baru saja selesai makan malam. Melihat sang ibu, mata Gaishan bertambah cerah. "Ma." Gaishan buru - buru ke arah Gea. "Apa?" Hap. Sang anak memeluknya lalu …. Cup. "Gaishan tambah cinta Mama." Sret! "Auuuuuh!" "Berani kamu rayu istri Papa, yah?! Rasakan ini!" "Isshh! Bus, jangan dijambak rambut Gaishan!" Gea ngeri. "Biar tobat! Sayang, telepon ustadz, kita ruqyah ini anak! Ini bukan anak kita, dia sudah kemasukan roh jahat!" Gea, "...." "Anak dan suami memang sudah sama - sama kerasukan roh jahat." Busran dan Gaishan, "...." °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN