Gaishan berjalan masuk ke dalam rumah Basri dengan ditemani wajah cemberut.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, ah, tuan Gaishan, ternyata itu Anda. Tuan Busran dan Nyonya Nabhan ada di gazebo taman bunga, sedang menemani Nyonya Moti setelah makan siang bersama," balas kepala pelayan yang kebetulan baru saja keluar dari rumah, kepala pelayan hendak pergi dengan beberapa pengawal untuk melakukan sesuatu atas suruhan dari Randra.
Gaishan hanya mengangguk.
Dia berjalan masuk ke dalam rumah.
Kepala pelayan merasa ada yang beda dengan tuan muda pertama dari Busran Nabhan itu.
Gaishan berjalan hendak melewati ruang makan. Namun, tujuannya hanya lewat, tidak masuk ke ruang makan.
"Lam mau makan kue coklat stroberi? Kakak Chana ambilkan, yah?" terdengar suara imut gadis berusia empat tahun lebih ke arah bocah laki - laki berumur dua tahun.
"Um, mau!" seru bocah lelaki itu sambil mengangguk senang.
Chana menaiki meja makan melalui kursi makan. Anak gadis cantik nan manis itu jongkok dengan tumpuan lutut dan dua telapak tangan lalu berusaha maju mendekat ke arah piring kaca bertingkat yang ada tepat di tengah - tengah meja.
Chana kecil memisahkan piring kue itu ke dalam pelukan, lalu dia berbalik dan berusaha untuk turun.
Sayang sekali, ketika ingin turun, sisi badan sebelah kanan oleng dan miring ke kiri, akibatnya badan kecil nan chubby itu terbuang ke sebelah kiri hendak jatuh ke lantai.
"Papaaaaa!"
"Chanaaaaa!"
Prang!
Tak tak tak!
Chana dan Aqlam berteriak bersamaan.
Hap.
Langkah lari kaki dengan cepat berlari ke arah gadis manis itu.
Pelayan buru - buru datang dan melihat apa yang terjadi.
"Aah! Nona Chana!" pelayan gemetar ketika melihat nona muda Basri tiarap menjedotkan kepalanya ke arah perut Gaishan.
Badan Gaishan terlentang, dia berusaha meluncur ke bawah lantai untuk menjadi matras bagi keponakannya secepat mungkin, meskipun kepala belakangnya terpukul lantai. Aqlam, bocah dua tahun itu juga berusaha hendak menyelamatkan 'istri masa depan' yang telah ditanamkan oleh sang ayah dalam setiap hari ucapan ayahnya. Namun sayang, hal ini tentu saja membahayakan Aqlam.
"Aahh!" pelayan lain terkaget ketika melihat darah mengucur dari telapak tangan Gaishan. Saat dia berjalan mendekat, lebih histeris lagi, leher tuan kecil Jangan berdarah.
"Aaaahh!"
Beberapa bodyguard datang.
Ben dan Randra terkaget saat mendengar barang pecah serta teriakan sang anak. Begitu nama putrinya disebut, dia dan Nibras berlomba lari ke arah suara histeris.
"Tuan Aqlam! Oh ya ampun! Darah!" pelayan hampir pingsan ketakutan. Mereka ceroboh karena tidak memperhatikan di mana tuan muda Nabhan dan nona muda Basri bermain.
Randra memilih untuk menemani sang istri, meskipun dia khawatir, toh sudah banyak orang yang berlari ke arah ruang makan.
"Eh? Suara Chana, itu ada nama Aqlam," ujar Moti.
Randra tersenyum menenangkan sang istri. "Tidak apa - apa, banyak orang yang pergi memeriksa, Ben dan Ibas juga sudah pergi."
"Ran, ayo lihat. Momok mau lihat."
Atas pinta sang istri, Randra tidak bisa menolak. Dia mendorong kursi roda ke arah ruang makan. Busran dan Gea mengikuti.
Ben buru - buru lari masuk ke ruang makan.
"Chana!" dia cepat - cepat pergi menggendong sang anak yang baru saja digendong oleh pelayan yang pertama kali menemukan situasi 'menegangkan itu'.
"Aduh …," Gaishan meringis sakit.
Ada beberapa langkah kaki yang berdatangan, mereka adalah Liham, Bilal dan Ghifan yang duduk di ruang game.
Nibras meraih tubuh sang anak, kerang baju Aqlam terlihat bercak darah.
"Panggil dokter!"
°°°
"Pengawal dan pelayan ratusan di sini sudah buta, rabun atau makhluk astral?" Gaishan mencibir orang pekerja Basri.
Seorang perawat memberi kompres anti bengkak pada kepala belakang Gaishan. Gaishan memilih terakhir diobati, dia lebih mengutamakan dua keponakannya.
Gaishan melirik kesal ke arah Ben, "Kalau aku tidak lewat ruang makan, tidak bisa kamu bayangkan bagaimana putrimu yang manis itu jatuh melayang dengan mata melotot ke arah lantai."
Ben hanya mampu terdiam bungkam. Sebab dia tahu, dia sebagai ayah lalai dalam menjaga sang anak.
Dahi Chana hanya kejedot perut kotak - kotak Gaishan, namun meskipun hanya itu, tapi perut kotak - kotak itu cukup keras. Jadilah Ben mengusap dan meniup sayang dahi sang anak.
Bem tidak bisa membayangkan, jatuh ke arah perut Gaishan saja sudah terasa sakit, apalagi kepala kecil sang anak jatuh ke lantai yang keras? Maka pasti terbentur dan berdarah.
Aqlam hanya mendapat luka gores kecil dari pecahan piring, namun terlihat panjang menyamping dari leher kanan ke arah d**a kiri. Tidak serius sama sekali, namun karena mereka adalah anak - anak, jadi semua orang panik.
"Om Shan, maaf. Ini salah Aqlam." Suara bocah dua tahun terdengar.
Gaishan menoleh ke arah Aqlam yang berada dalam pelukan Gea.
"Chana jatuh karena Aqlam ingin makan kue coklat stroberi …," nada suara bocah itu terdengar menyesal.
Iqbal dan Laras sebagai orang tertua dalam keluarga, tidak bisa memarahi bocah dua tahun itu. Sebab, Aqlam hanyalah anak kecil yang tidak tahu mana benar dan mana salah.
"Kalau saja Aqlam tidak mau makan kue coklat stroberi … Chana tidak jatuh …."
Mata Chana memerah.
"Ini salah Chana … aaakk hiks hiks hiks!" lalu terdengarlah suara tangisan kuat dari Chana.
Ucapan terakhir Chana membuat Gaishan merasa berubah suasana hati. Tadinya yang suasana hatinya sedang kesal, kini berubah menjadi suasana patah hati bagaikan ditinggal oleh sang kekasih.
"Hum, lihat itu, anak kecil dua tahun macam Aqlam saja berusaha maju ingin menangkap badan Chana, bahkan mereka berdua saling menyalahkan diri. Aku? Siapa yang peduli padaku? Menunggu mikrolet pujaan empat jam saja tidak datang - datang. Muka sudah terbakar matahari!"
"Aaaaa! Hiks hiks hiks!" yang ini adalah tangisan pura - pura Gaishan agar sang keponakan perempuan tidak lagi menangis keras.
Semua orang, "...."
Mereka tahu, ini curhat yang berdasarkan kebenaran, namun unsur bagian kepura - puraan menangis itu sukses membuat Chana berhenti menangis.
°°°
"Jadi, tadi siang itu kamu menunggu mikrolet selama empat jam?" tanya Ghifan penasaran akut.
Gea dan Busran melirik ke arah anak sulung mereka.
"Jangan tanya, kepala belakangku masih sakit akibat terpukul lantai," balas Gaishan datar.
"Pft-uhmp!" Ghifan buru - buru menutup mulutnya yang hampir saja menertawakan nasib apes sang kakak kembar, Gaishan menatap tajam ke arahnya.
"Kamu ke mana? Duduk kumpul di atas dan tidak melihat keponakanmu, heum, tidak ada guna." Gaishan mencibir.
"Apa-"
"Apa? Tadi kalau aku tidak lewat, kepala Chana bisa pecah, pecahan piring akan menggores wajah tampan keponakan laki - laki kita si Aqlam," potong Gaishan.
Gea menendang pelan kaki Ghifan, memberi kode bahwa 'jangan bicara memotong pembicaraan kakakmu'.
Gea tahu, hari ini pasti suasana hati anak sulung itu sedang kesal, karena tidak juga didatangi mikrolet yang ditunggu - tunggu oleh sang anak, plus karena insiden 'berdarah' yang dialami oleh dua cucunya.
"Ya sudah, jangan marah lagi. Makan gih, itu kepala kamu tidak benjol, kan?" Gea berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Nggak lagi kok, Ma. Anak Nabhan kan kuat - kuat," jawab Gaishan.
"Ah, syukurlah. Kalau begitu makan makananmu." Gea menambahkan lauk untuk Gaishan.
"Um." Gaishan mulai memakan makanannya.
°°°
"Tun."
"Ape?" Siti Atun yang sedang menyendokkan nasi dari rice cooker ke arah tempat nasi, menyahut panggilan sang suami.
"Buruan, abis sendok nasi, elu pergi ke rumah sebelah, panggilin si Nasir dan Jayadi buat makan di sini. Bilang ada semur jengkol nih."
"Iye, entah, aye sendok nasi banyak - banyak dulu," sahut Siti Atun. Dia memperbanyak jumlah nasi untuk makan malam.
Setelah dirasa persediaan nasi di meja makan cukup, Siti Atun pergi ke rumah adik ipar untuk memanggil adik ipar dan keponakan laki - lakinya.
"Assalamualaikum, Wiya, bang Nasir dan Jayadi, suruh makam di sebelah gih. Ada semur jengkol, tadi aye masak banyak."
Alawiyah yang hendak menyendok sayur lodeh di dalam mangkuk berhenti.
"Ah, yang bener ada semur jengkol?"
"Iye, beneran."
"Pantesan aye nyium bau jengkol tadi sore. Aye kita Mpok Caca yang masak semur jengkol, ternyata mah Mpok Atun yang masak. Hehehe." Alawiyah terkekeh senang.
"Nah, elu juga mending makan di rumah gue. Banyak semur jengkol. Nah, gue balik yah?"
"Ok, Mpok."
Siti Atun kembali ke rumahnya, sementara itu Alawiyah buru - buru memanggil anak dan suaminya.
"Bang, Jayadi. Buruan kite ke rumah sebelah. Bang Nasir panggil makan semur jengkol."
Muhajir dan Jayadi yang baru saja keluar dari kamar mandi mencoba shampo perawatan rambut yang dibagua untuk dia dan Fathiyah, mengangguk mengerti.
Dia menggantung handuk di tali jemuran di teras dapur, lalu berjalan masuk lewat dapur rumah Fathiyah.
….
"Bang, gue demen nih makan semur jengkol. Elu Abang tertop dah. Jempol kiri buat elu, soalnya jempol kanan lagi buat makan," ujar Muhajir.
"Ah, bisa aje lu, Jir." Nasir terkekeh.
"Besok kite makan bebek bakar," ujar Nasir.
"Ah, yang bener nih, Bang?" tanya Muhajir antusias.
"Iye beneren. Makanya gue bilang ke elu berdua, libur narik dulu untuk hari ini dan besok. Sama aje, kita kagak punya hutang di orang, jadi jangan kerja macem kerja rodi." Nasir menunjuk secara bergantian ke arah Fathiyah dan Jayadi yang sedang berlomba mencangkul semur jengkol campur nasi ke dalam mulut.
Fathiyah dan Jayadi hanya manggut - manggut mengerti.
°°°
Pagi jam delapan, Gaishan berjalan ke arah ruang makan mereka. Dia duduk di kursi.
"Mau keluar lagi, Shan?" tanya Gea. Seperti biasa, dia akan mengambilkan s**u untuk sang suami.
"Iya, Ma." Gaishan langsung mengigit roti bakar bandung dengan selai stroberi yang dibuat oleh Gea.
"Nggak niat mau bawa mobil? Mama dengar dah beberapa hari ini kamu keluar tidak bawa mobil."
"Mau naik mikrolet, Ma," sahut Gaishan.
"Ooh, mikrolet yang kemarin kamu nunggu dan nggak muncul - muncul itu?"
"Iya, Ma."
"Emang kamu harus naik mikrolet itu, yah?" tanya Gea ingin tahu.
"Iya, harus naik mikrolet itu."
"Nggak bisa mikrolet yang lain apa?" tanya Gea lagi.
"Nggak bisa, Ma."
"Emang itu mikrolet siapa sih?" Gea menggaruk ubun - ubunnya.
"Mikrolet itu punya juragan mikrolet, Ma," jawab Gaishan.
Gea, "...."
" … maksud Mama, nama siapa gitu? Kalau punya juragan, yah juragan siapa?" Gea mengubah pertanyaan.
"Juragan Nasir Makmur, Ma."
Semua orang, "...."
Tiga detik kemudian.
"Bus, ini … yang nama Makmur dan Nasir ini … bukannya kita pernah pergi ke … rumah mereka?" Gea bertanya ke arah Busran.
Busran mengangguk, dia menyipit ke arah Gaishan.
"Ngapain kamu harus naik mikrolet Bapak Nasir Makmur?" tanya Busran. Jangan sampai ada kesalahpahaman yang terjadi lagi antara dia dan keluarga Bapak Nasir Makmur.
Gaishan melihat ke arah pandangan menyipit sang ayah. Tiba - tiba dia merasakan bulu kuduk berdiri.
"Jangan salah paham, Pa. Kali ini Gaishan nggak mau cari masalah atau salah paham sama mereka kok. Gaishan hanya mau naik mikrolet mereka untuk jadi penumpang dan bayar lebih kok, itu aja." Gaishan memberi penjelasan.
Busran terlihat berpikir, ada benar juga ucapan sang anak.
Sang anak ini kan kurang kerjaan, kalaupun ada pekerjaan, pasti bergosip urusan orang. Tidak apa - apalah sang anak naik turun mikrolet.
"Um, terserah kamu. Itu bagus kecuali buat masalah."
Gaishan, "...." nah kan, diragukan oleh sang ayah.
°°°
"Bus, Gaishan udah pulang?" Gea bertanya.
Busran sibuk melihat wajah sang putri bungsu yang baru saja pulang kerja selama beberapa hari menginap di luar.
"Apaan sih, Pa? Lihatin muka Sira kayak gitu."
"Jangan sampai wajah anak gadis Papa lecet. Itu si Kumantoro Sudiro – menteri pariwisata bakal Papa gorok."
Yang lainnya, "...." kalau sudah menyangkut anak perempuan, Ghifan mundur alon - alon. Gea bahkan tidak lagi melanjutkan pertanyaan.
Gaishan turun dari kamar. Wajahnya terlihat belang - belang.
"Wajah kamu hari ini kok malah tambah belang - belang sih daripada kemarin?" tanya Gea.
Gaishan yang berwajah cemberut itu hanya melihat sedih kepalsuan ke arah sang ibu.
"Ah, mikrolet yang kamu tunggu tidak muncul lagi?" Gea hendak meneguk air putih, lalu dia melihat Gaishan mengangguk layu, "hari ini tunggu berapa jam?" tanya Gea, dia melanjutkan minum air.
"Sepuluh jam-aaahhh!"
Bryuuur!
"Maaf, Mama tidak sengaja." Gea buru - buru mengambil tisu lalu melap wajah sang anak yang dia sembur.
Gaishan hanya pasrah. Yang menyemburnya adalah ibu kandung. Jadi, tahan diri saja. Ingat, surga di telapak kaki ibu.
"Kalau mikroletnya nggak muncul - muncul, kenapa kamu tidak ambil nomor telepon supir atau kenek kek?"
Sret.
Gaishan tiba - tiba menggenggam tangan kanan Gea dengan dua tangannya.
"Mama."
"Apa?" tanya Gea.
Gaishan tersenyum, sang ibu berkata benar. Kenapa tidak dia ambil nomor telepon Jayadi atau Fathiyah?
Gaishan melihat sang ibu bagaikan dia baru saja mendapat ilham, lalu Gaishan berkata, "Ma, Gaishan cinta Mama."
Cup.
Satu detik kemudian.
Plak!
"Aauuh!"
"Anak setan!"
Busran menampar belakang kepala Gaishan, dia meradang setelah mendengar ucapan Gaishan lalu disusul kecupan Gaishan pada punggung tangan sang istri.
"Papa apa - apa-"
"Apa?! Mau rayu - rayu istri Papa yah?"
"Iiish, cemburuan amat. Nggak usah cemburu, waktu kecil Gaishan sering isap mimi-nya Mama." Gaishan memanasi sang ayah.
"Ah! Sekarang kamu anak iblis!"
Ghifan dan Bushra, "...." berarti mereka juga anak iblis?
°°°