Trauma 2

1519 Kata
"Sttttttt, Inara." Leon memeluk Inara dengan hangat. Tadinya ia ingin berjalan ke arah saklar lampu taman untuk menyalakan lampu taman tersebut. Perlahan-lahan suara ular mulai terdengar. Kenapa ada ular disini?! Ah, itu sangat berbahaya untuk pasangan ini! Leon tersentak, matanya membelak, mulutnya bungkam seribu bahasa. Ia masih memeluk Inara yang terus meneteskan air mata. Hiks …. Leon, jangan kemana-mana …. Hiks …. "Nar sebentar ya." Leon perlahan melepas pelukannya. "Gua janji bakal kesini lagi." Akhirnya Leon benar benar melepaskan genggaman tangannya. Pergi meninggalkan Inara sendirian. Gadis itu takut, sangat takut. Saking takutnya, ia tak ingin membuka mata. Sebelum ada cahaya menerpanya. Sementara itu, Leon Masih mencari desis suara dalam taman tersebut. Kesana-kemari ia mencari, tidak kunjung ditemukan karena suara desisan itu kadang muncul dan kadang hilang seperti ditelan bumi. Anjir dimana cuk? Gua tetep harus waspada sih. Leon mulai memfokuskan Indra pendengarannya. Tapi tetap saja, ia tidak dapat menemukan dari arah mana suara itu berasal. Ck! Anjir! Dimana sih!! Leon terus-menerus berjalan ke sana-kemari untuk mencari sumber suara tersebut. Ia takut kalau ularnya akan membahayakan gadis yang ia cintai. Djustike Inara. Suara desisan itu kini semakin mendekat. Leon memelankan langkahnya, memelankan pula deru nafasnya. Suara itu makin mendesis jelas. Leon yakin, bahwa ular itu ada di dalam sini. Tapi, kendalanya adalah ia lupa menyalakan lampu taman! Ck! g****k! Leon segera bergegas menyalakan saklar taman. Cklek Lampu menyala. Sepi, sunyi. Sementara di lorong sana masih gelap. Masih ada Inara yang meneteskan air mata, wajahnya ditutup sepenuhnya oleh kedua telapak tangannya yang mungil. "Hiks …. " "Leon Lo dimana …." . . . . Ah ternyata gaada anjir! Ck, mungkin ilusi gua aja. Leon segera bergegas menghampiri Inara. Tangannya dengan cekatan menggenggam Inara. "Maaf." Celetuk Leon. Pria itu merasa sudah terlalu lama meninggalkan Inara sendirian. Padahal, gadis itu masih sangat trauma sejak masuk ke ruang gelap tadi. Inara dengan keadaan masih tertutup mata dan dadanya yang megap-megapan, ia merasa dadanya sangat sakit. Dengan cekatan menggandeng tangan Leon dengan erat. Sangat erat. Leon yang diperlakukan seperti itu, tersentak. Ia tersentak kaget. Ia lupa, kalau yang saat ini Inara sedang membutuhkan bahunya. "Nar, tenang ya." Leon menggandeng Ina agar duduk di kursi taman. Ina masih belum membaik. Masih sesenggukan dan air matanya masih menetes air mata. Lumayan deras. "Yon, kenapa cowo jahat banget sih? Hiks …" Ina masih menutup matanya, tetapi sepertinya kesadarannya belum juga pulih. "Ah … iya kita brengsek." Jawab Leon seadanya. Memang Leon bukanlah pria baik-baik. Tapi, ia juga tidak akan menyangkal kalau pria adalah makhluk b******k di dunia. "Gue salah apa? Kenapa mereka terus aja jahatin gue? Hiks …." Leon mengira, Inara sedang mengigau. Maka ia harus segera membangunkannya. "Leon, gue suka Lo … tapi Lo b******k kayak cowok lain gak sih? Hiks hiks …" kepala Inara semakin gusar di bahu leon. Deg! Leon diam membeku, tidak jadi mempersilahkan Inara duduk. Apa ini? Semacam confess? Ah gua juga sama sih … Jadi, sekarang kita pacaran cuk? Leon melamun, ia sibuk berbicara dalam hatinya. Berdiskusi dengan dirinya sendiri. "Leon! Ini dimana?" Tanya Ina, celingak-celinguk. Ia bingung, ini seperti tempat yang sangat asing baginya. Ternyata Inara sudah sadar! Jadi, apakah ia menyadari pembicaraannya yang tadi? Tapi, ekspresinya sama sekali seperti orang tidak tahu apa apa! "O-oh nar, gak. Gaada apa-apa." Leon terkekeh menutupi rasa salah tingkahnya. "Eh! Sekarang udah jam berapa, loh?" Tanya Inara sedikit menyentak. Kemudian celingak-celinguk melihat ke sekitar. Karena gadis itu sadar, posisi wakil ketua kelas adalah tanggung jawab yang lumayan besar! Tapi, sekarang ini mereka sedang bolos! Tepatnya di dalam ruang bawah sekolah! "Ah, Leon … gue harus masuk kelas …" pinta Inara. Entah kenapa nada bicaranya kali ini benar benar tampak seperti Inara yang kemarin. Inara yang ceria! Leon mengulas senyum, akhirnya Inara kembali lagi seperti kemarin. Tidak cuek dan dingin, lagi! Lelaki itu berhadap semoga saja besok dan hari hari selanjutnya Ina tetap bersikap seperti ini padanya. Leon sangat tidak suka, kalau Inara bersifat seperti itu lagi. Sifat dingin nan cuek. "Ah, okey. Kita ke kelas sekarang." Ucap Leon, sembari menggenggam tangan Ina. Dan mengajaknya keluar dari bassment bawah, menuju lantai atas. Gudang sekolah. Ina masih belum paham mereka dimana. Lagipula gudang yang mereka tapaki itu sama sekali tidak pernah ia masuki. Jadi, wajar wajar saja kalau gadis itu merasa asing. Inara melirik wajah tampan sang Leon yang tampak sedang serius memikirkan sesuatu. Ini Leon bawa gue kemana sih? Tangan Leon, ternyata besar dan agak kasar ya? Tapi anget. Hihihi Setelah sampai di luar gudang, Inara baru paham darimana mereka pergi tadi. Ah, ini bukannya gudang yang selalu dikunci itu ya? Waktu main main ke sini sih katanya gudang ini angker! Ah, tapi ko kita bisa ada disini sih? Leon yang bawa gue kesini, gitu? Aneh banget! Tapi, gue baru sadar sih? Ja-jangan jangan leon … Leon udah ngapa-ngapain gue?! Ina melepas genggaman tangan Leon. Padahal mereka hampir sampai di kelas Ina. "Kenapa?" Tanya Leon tak mengerti. Padahal tadi Inara tidak bertingkah apa-apa. Sudah kembali normal. "Gue ga inget gue pernah masuk ke gudang itu." "Jawab jujur." "Lo udah ngapa-ngapain gue?!" Ina menahan Isak tangisnya. Jadi, suaranya terdengar parau tetapi menyentak. "Apa … ? Gue ga ngapa-ngapain Lo kok." Leon berusaha menggenggam tangan Inara lagi. Tapi Ina segera menarik tangannya. Menjauhkannya dari tangan Leon. "Stop ikutin gue. Stop deketin gue!" Pekik Ina, lalu berlari ke arah berlawanan. Entah mau kemana. "Mau kemana, nar? Kelas Lo disono!" Pekik Leon, sembari menunjuk arah kelas Ina, tapi Inara sudah menghilang dari lorong. Gadis itu pergi ke arah kantin. Ah, ck! Leon segera mengejar Ina. Pria itu khawatir dan juga penasaran. Sebenernya ada apa dengan Ina? Gua salah apa sih? Padahal kita udah baikan kan? Eh tapi emang moodnya ga ke kontrol dari awal masuk sekolah sih. Ah, parah sih cecans ku! Labil, tapi gua cinta! Ah, apasi? g****k t***l gak. Lo ini leonara Abran loh! Yang ada tuh ya, cewe yang ngejar-ngejar Lo! Oh, s**t! Ini cewe …! "Hosh … kemana tuh larinya? Hosh …" Leon membungkuk, d**a bidangnya megap-megapan, keringatnya bercucuran karena aktivitasnya pagi ini. Leon celingak-celingukan mencari wanita setinggi bahunya, cantik tentunya. Gua bakal keliling sekolah nar. Gua bakal terus cari Lo! Sekalipun ke ujung dunia! Tetap saja, kondisi disini sangat sepi, tidak ada seorangpun disini. Ah gila Lo larinya cepet banget! Jadi, dimana Inara ya? . . . . . . "Leon, Lo ngapain disitu?" Ucap seseorang dari belakangnya. Leon yang masih mengatur napasnya, tersentak kaget. Lalu mengulas senyum. Kemudian ia melihat ke belakangnya. Benar saja, itu Inara. Gadis yang ia cintai. Bukan lagi gadis yang ia targetkan sebagai 'mangsa'. Leon terkekeh menatap Ina, mengulas senyum. Posisinya adalah Leon menengok ke belakang, kedua tangannya masih bertumpu pada kedua lututnya. Sementara itu, Inara menyandar santai di dinding tembok. Tak lupa dengan tangan yang terlipat menyimpul, dan salah satu tapak kaki yang bertumpu ke dinding tembok. Ina menatap Leon dengan dingin dan datar. Berbeda jauh dengan perlakuan Leon yang manis dan hangat padanya. Bener kan dugaan gue Ini cowo pasti nguntit gue! Argh …! Ck, getol banget sih ini cowo?! Jangan bikin gue jadi orang jahat dong! Merasa napasnya sudah normal kembali, Leon berdiri menghampiri Inara. Pria itu selalu saja mencari tangan Inara! Ada apa sebenarnya? Apakah ia benar-benar obses dengan tangan wanita?! . . . Inara yang sudah hapal dengan perilaku Leon terhadapnya, dengan cekatan ia mengambil alih tangannya. "Ck! Apaan sih! Jangan gatel deh tangan Lo!" Pekik inara, mengumpat pada Leon. Leon terkekeh malu, matanya tidak bisa fokus menatap gadis cantik di hadapannya. Melirik kesana kemari. Kini Jantungnya berdetak tak karuan. Cepat, itu semakin cepat! Tak lupa dengan pipinya yang mulai merah merona! Ada apa sebenarnya dengan pria itu? "Gaperlu di cari! Gue bisa jalan sendiri!" Ina berdecih, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Leon yang terlamun. Sepanjang perjalanan menuju kelasnya yang lumayan jauh, Ina membatin. Suasana hatinya sudah sangat kacau hari ini. Misi Leon untuk membahagiakan Inara, tidak tercapai. Apaan sih! Dia gila ya? Udah jelas dia pasti udah ngapa-ngapain gue, kan! Eh malah ga ngaku! Dasar cowo! Liat aja tuh! Tampilannya kayak cowo b******k gitu! Ah, tapi kalau gue hamil gimana? Hiks …! Tapi, oh tunggu. Gue harus cek dulu kali? Ah, gaperlu lah! Udah pasti dia udah masukin itunya kan? Akhh …! Udah udah, liat aja nanti kedepannya! Inara ingin berfokus saja pada masalah yang ada di hadapannya sekarang. Bagaimana caranya ia masuk kelas tanpa ada halangan? Lorong kelas sepi sekali, padahal sebentar lagi adalah jam istirahat. Inara masih berpikir keras tentang bagaimana caranya ia bisa masuk dengan mulus ke kelas tanpa ketahuan guru. Ia memelankan langkah kakinya. Mengusap dagunya, dahinya mengernyit tanda berpikir, tapi wajahnya memelas lesu. Gimana ya? Ah …. Ina tak sengaja melihat jarum jam yang ada di dalam ruang guru. Sekarang ini, ia sedang di depan pintu ruang guru. Tentu saja tidak ada guru di dalam, karena mereka sibuk mengajar dan mengurus urusannya masing-masing. Pukul 09:20 Ah …! Ya! Itu dia! Bentar lagi kan istirahat?! Ah! Gue ngumpet di kamar mandi aja! Yes. Itu ide bagus, na! Ina segera bergegas ke arah toilet kelasnya, kebetulan saja toiletnya tidak harus melewati kelas-kelas lain. Itu merupakan sebuah keberuntungan bagi Ina. Karena bisa saja, akan ada suatu penghalang kalau ia melewati lorong kelas-kelas!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN