Ada yang dingin

1541 Kata
Pagi ini, ada yang terlihat berbeda dari suasana ruang makan sederhana itu. Sedari tadi, Bu Elna mengulas senyum ringan. Mengunyah makanan, sembari mencuri pandang pada Inara yang sedang sibuk melamun. Ada apa? Makanannya sedikit lagi akan habis. Inara segera tersadar dari lamunannya. Kemudian menatap jam dinding. Jam dinding menunjukkan pukul 05:35 Oh masih sempat, lah. Bu Elna tetap saja menyunggingkan senyum rahasianya, kali ini ia tidak melirik Inara, melainkan menatap Inara. Inara ingin segera bergegas ke sekolah. Tapi, saat ia sedang membereskan piring dan gelas bekasnya makan, kegiatan itu terhenti karena gelagat Ibu asuhnya yang agak aneh pagi ini. Inara menatap sang ibu. Tatapannya datar, tidak ada arti. Berbeda dengan sang ibu asuh yang biasanya ketus dan galak, kini menatapnya dengan senyuman tulus. Ibu kenapa sih? Ah, apa ada yang salah ya sama pakaianku? Atau…? Ah! Darahku! Apa karena noda darah kemarin?! Ah! Bagaimana ini! Tapi tadi aku gak liat ada sih! Eh eh? Kok gua jadi aku aku an sih? Ah gimana nih! Inara mengumpati rasa takutnya, biasanya ia sangat takut pada Bu Elna. "Bu, ibu ngapain sih? Ada apa di mukaku?" Tanya Inara merasa risih. Dan juga, ia tak punya waktu banyak karena harus bergegas ke sekolahnya. "Ina, kemarin malam kamu ada ap-" omongan Bu Elna terpotong oleh Inara. Gadis cantik itu menyadari arah pembicaraan yang di maksud Bu Elna. "Bu, aku lupa! Kayaknya aku ada urusan deh. Pergi dulu ya buu!" Pekik Ina, tangan mungilnya dengan cekatan mengambil tas dan segera memakai sepatunya, lalu berlari agar aktingnya nampak normal. Ia pergi tanpa pamit, tanpa mencium tangan Bu Elna. Dan tanpa mendengar omongan ibu asuhnya itu. _________________________________________ "Ah … hosh … sue bener … hosh …" Inara terbatuk-batuk. Itu karena asam lambungnya naik, dirinya sejak tadi panik bukan main. Keringatnya bercucuran, ia sudah tidak berlari terengah-engah lagi, karena sudah setengah jalan menuju sekolah. Ia yakin, ibunya tidak akan mengejarnya sampai sini. Kira kira, ibu tau ga ya, itu darah apa? Atau ibu nyangkanya itu darah kecelakaan kecil? Darah kebaret tanah sama darah kecelakaan beda kan pasti? Tapi emang ibu bisa bedain? Ah kagak lah! Ngaco! Emang si ibu peramal apa? Kemudian Inara melanjutkan perjalanannya. Ia merasa sudah tidak mual dan batuk-batuk lagi. Sudah lumayan membaik. Lagi-lagi pikiran kemarin teringat kembali. Membuat Inara kesal dan sakit hati, juga malu! Inara merasa ada yang mengganjal di hatinya. Tidak seperti biasanya, yang selalu menunggu pagi hari untuk menjalankan aktivitasnya dengan semangat. Kini, gadis itu dilanda kemurungan. Ia tidak lagi menyapa teman-temannya. Ia juga bukannya tak mau menyapa dan bertingkah ramah pada semua orang di sekolah. Hanya saja, mungkin ia akan menjadi gadis pemurung. Mulai sekarang. "Hai Ina …" sapa salah satu anak kelasnya, Queen. Ia melihat Inara berbeda dari kemarin hari sekolah, gadis cantik itu terlihat melamun sepanjang perjalanan lorong sekolah. Queen mengerutkan dahi, ia bingung dengan tingkah wakil ketua kelas hari ini. Ada apa dengan wakil ketua kelas pagi ini? "Inara." Sapa seseorang dari belakang gadis itu. Dari suaranya, sepertinya ia mengenalnya. Tap. Langkah kaki Inara terhenti, matanya berkaca-kaca, kelenjar air matanya telah memompa dengan instan, jadi itu membuat kedua pelupuk mata Inara penuh dengan air mata yang akan mendarat di kedua pipinya. Leon ya? Ah, mungkin aja bukan! Kenapa gua ngarepin dia sih? Ah, ini kenapa gue mau nangis jir? Gak gak gak Ina, Lo gaboleh nangis di sekolah! Ayo tahan emosi Lo …. Hah …. Gak gak. Pasti bukan Leon. Udahlah …. Inara menghembuskan nafas, lalu kembali melangkah menuju kelasnya yang kira-kira masih harus melewati 4 kelas lagi. Bersamaan dengan itu Grep. "Hey." Leon menggenggam tangan kanan Ina yang masih memegang Tas sekolah di sisi ketiaknya. "Ina, Lo baik-baik aja?" Dari suaranya, Leon tampak sedikit khawatir. Atau memang pria itu bisa membaca kondisi Ina? Posisi mereka masih sama. Inara belum menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang sedang mengajaknya bicara. Padahal, kelas akan mulai dalam 5 menit kedepan. Inara menghembuskan nafas. Ia menoleh ke belakang dengan pikiran 'pasti bukan Leon'. Bersamaan dengan gerakannya, "siapa sih anjing?-" akhir-akhir ini Inara tidak ingin berurusan dengan yang namanya pria. Apalagi pria bertubuh besar dan berpakaian sok berandalan. "Gue Leon." Ucap Leon terkekeh, sembari tangan kirinya mengusap-usap tengkuknya. Akibat salah tingkah oleh perbuatannya sendiri. "Oh." Melihat kebenarannya adalah Leon, ia malah ingin bertindak tidak tertarik serta cuek bebek pada pria itu. Leon membelak sekaligus mengernyitkan dahi. Hah? Anjing. Ini beneran Ina cok? Ina menarik tangannya, tetapi kekuatan tangan Leon lebih besar. Dan dengan cekatan, Leon mempererat genggaman tangan mereka. "Ayo ikut gue." Ajakan itu terdengar seperti sebuah perintah yang tidak boleh dibantah. Ketika serius, leonara terlihat seperti pria dingin yang berkarisma dan lumayan menakutkan. Ina hanya diam. Mengikuti permainan Leon. Setengah perjalanan menuju ruang rahasia sekolah, Inara berdecak memutar malas kedua bola matanya sembari menghela napas, "Kemana?" Tanya Ina acuh tak acuh. Menurut Leon dan warga sekolah, ini adalah versi Inara yang berbeda. Gadis itu tampak seperti gadis dingin dan cuek. Berbeda dengan Inara yang kemarin. Ceria dan selalu bersemangat. Tak lupa polos. Leon tidak menjawab. Ia hanya berpikir, ia harus mengetahui seluk beluk mengapa Inara bertingkah seperti ini. Tentu saja Leon sangat penasaran. ____________________________________ Setibanya di depan gudang yang terkunci rapat dan juga terlihat sangat berdebu, Ina menghentikan langkahnya yang sedari tadi mengikuti Leon. Tap "Ngapain?" Lagi-lagi Inara bertanya acuh tak acuh. Menunduk. "Masuk." Perintah Leon, nadanya dingin dan terkesan memaksa. Ia segera mengambil kunci gudang, dan membukanya. Inara yang sedari tadi tidak acuh dengan Leon, kini dilanda penasaran. Ck ngapain dia bawa gua kesini dah? Eh eeh …. Gila kuncinya banyak amat dah. Dapet darimana dia ya? Oh pasti nyolong. Ck, dasar brandalan. Hah …. Cklek Leon menggenggam lagi tangan Inara yang tadi, lalu menariknya masuk ke dalam gudang. "Leon lu ga budek kan-" Dengan cekatan Leon menggerakkan telunjuknya ke arah bibir Inara. Pertanda ia harus diam. Diam saja. Lalu dengan cekatan Leon mendorong Rak buku raksasa yang ternyata bisa di balik. Kemudian menyeret Inara masuk ke dalamnya. Gelap. Itulah yang Inara rasakan. Phobianya terhadap gelap, perlahan-lahan mulai kambuh. "Hiks …." Walaupun tangan Leon menggenggam tangannya dengan erat, tapi ia tetap merasa sangat ketakutan. "Hiks … haaah …!" Kali ini Inara cegukan. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Bukan deg-degan karena jatuh cinta. Memang betul, ia telah jatuh cinta pada seorang Leonara. Tapi, gadis mungil itu cegukan karena rasa takut dan cemas yang berlebihan. Leon yang mendengar itu, jadi agak tersentak. Pria itu khawatir, semakin khawatir karena cegukan Inara semakin cepat dan tangan yang ia genggam itu gemetar bukan main. Dia kenapa? Langkah gua ga salah kan? . . . Gua niatnya baik, kok? Ngajak Inara ke tempat yang bisa self healing "Nar, kita udah sampe kok lu masih megang tangan gua-" "Argh! Diam!" Tiba-tiba saja Inara berteriak. Tangannya gemetaran. . . . Sesenggukan. Irama nafasnya terdengar tidak beraturan. Terkadang cepat, terkadang Lambat tapi kembali cepat lagi. "Nar, Lo kenap-" Leon berbicara dengan nada lemah lembut, seperti bukan dirinya saja. Tapi hal tersebut keburu terpotong oleh Inara. "DIAM!!!!" Inara memekik lagi. Kali ini jauh lebih keras. . . . . . . . Plak! Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kanan Leon. Bagaimana bisa Inara memukul Leon begitu saja? Padahal, Leon tidak tahu apa-apa! Mata Leon membelak. Emosinya perlahan mulai naik. Hingga mencapai batasnya. Dadanya perlahan panas, tangannya mulai mengepal, dan hembusan nafasnya mulai cepat dan tak beraturan. Tapi, otaknya berkata kalau yang Leon tidak boleh bertindak gegabah, karena wanita itu adalah wanita yang ia taksir! Sialan! Anjing! Dia kira dia siapa?! Argh …! Lo belom tau gua bisa tampol orang sampai ke urat-uratnya! Oh, atau Lo mau ngerasain pukulan gua?! HAHA Leon sudah berusaha mengumpulkan energinya pada tangan yang ia kepal kuat-kuat. Sorot matanya tajam menatap Ina. Sekarang ini, ia tampak seperti pria jahat! Baru saja pukulannya akan mengenai hidung mancung Inara, secara bersamaan gadis itu membuka suara lagi, dan refleks Leon menahan pukulannya. "Hiks … hiks …" . . . Argh! s**t! Dia mainin emosi gua ya?! Padahal dikit lagi kena, Leon g****k! Leon kecewa terhadap dirinya yang mengambil keputusan secara labil! Leon berdecak, masih menatap tajam ke arah Ina. Tapi tangan kepalannya sudah kembali ke posisi awal. Tiba-tiba saja, Ina memeluk Leon dengan cekatan. "Ada orang ya? Anu, tolong selamatkan saya … tolong …" Inara memohon-mohon, sembari mempererat pelukannya. Inara meneteskan air mata, ia menutup mata, tetapi mulutnya terus komat-kamit. "Hiks … hiks …" "Haaaa …. Jangan mendekat! Leon, Lo dimana …." Gadis mungil itu masih menangis tersedu-sedu, alisnya mengernyit dan bibirnya gemetaran seperti orang menggigil. Disertai suara yang sesenggukan. . . . . Deg! Mata Leon membelak, kali ini karena dua hal! Pertama, Inara yang tiba tiba memeluknya. Kedua, Inara yang menangis tersedu-sedu sambil mengucap namanya! Dia bilang apa barusan?! Gua? Dia nanyain gua kan barusan? Atau, ada cowok lain yang namanya Leon? Masa iya? . . . . Ah, jangan terpaku sama omongannya! Gua harus tuntasin emosi gua ke dia! Gila banget dia nampar gua begitu aja! Gua ini Leon! Leonara Abran, loh! Huh! . . . "Hiks … hiks …. Leon ….  Hiks … Tolongin gue … hiks ..." "Ada om om jahat … hiks … disana … hiks …" "Dia makin mendekat … hiks …" Kepala Inara gusar di d**a bidang Leon, matanya masih menutup, dan tangan kanannya menunjuk-nunjuk ke arah depan. Pastinya tidak ada orang selain mereka disini. Karena ini ruang rahasia. Sangat rahasia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN