Ada yang berubah

1525 Kata
Sekarang ini sudah pukul delapan malam. Ibu asuh Ina belum juga pulang. Ina menyeka air mata yang keluar sejak ia pulang sekolah, tepatnya pada pukul empat sore. Itu artinya, gadis malang itu sudah menangis kurang lebih selama empat jam! Matanya sembap. Pipi dan juga hidungnya memerah merona. Ina takut, kalau ibu asuhnya akan memarahinya karena ia telah melanggar aturan, yaitu menangis. Sebab, pantangan di keluarga kecil ini adalah tidak ada yang boleh menangis! Sungguh aneh, bukan? Ina menatap cermin kamarnya. Berdiam diri menatap bayangan dirinya. "Hey, gadis cantik. Luar biasa kuat. Kamu bisa kok menghadapinya? Yes?" Ina berusaha menyemangati diri sendiri. Diri yang ia anggap telah kotor. Lebih kotor dari kejadian 10 tahun lalu. Karena kejadian hari ini. Menutup mata. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Aku janji, sebentar lagi. Kita bakalan bebas dari tempat menyedihkan ini." Ina tersenyum getir, melirik satu persatu sudut ruangan kamar kecil yang berukuran kurang lebih 13×5 cm. Huft … Ina? Kamu pasti bisa melewati ini semua, okay? Tenanglah … Lagian, siapa yang perduli kalo kamu masih perawan atau tidak? Siapa juga, yang perduli kalau kamu sakit hati atas pelecehan ini? Membuka mata, tersenyum dan melihat wajahnya yang menyembunyikan berjuta-juta kesedihan. Bagaimana bisa, aku masih tersenyum untuk hari esok? Apakah aku harus menjadi pribadi yang lebih tertutup? Apakah ini semua salahku, kalau aku bersikap ramah? Apa pria b******k itu udah ngincer aku dari lama ya? Argh! Inara mengacak-acak rambutnya, terlihat sangat kusut dan juga raut muka yang sangat berantakan. Sepertinya, ia memang sudah dilanda kekacauan! Bibirnya bergetar, Isak tangis yang ia tahan sejak tadi, rupanya belum keluar seratus persen! Itu masih tersisa. Luka. Hiks ... "Eh! Gak, gak. Inara! Please, udah cukup nangisnya!!" "Hah …" Menyeka air mata, mengerjapkan mata beberapa kali, mengipasi matanya agar tak ada lagi mata yang berkaca-kaca, apalagi tetesan air mata yang mulus mendarat di pipinya. Tapi, ia memang sudah tidak tahan menahan sesak di d**a. Kekecewaannya pada dirinya sangat amat besar. "Ina …" "Huhuh, oke-oke. Lo bakalan nangis sepuluh menit lagi, aja ya? Janji ya?" Ia mengangguk, menyepakati hal tersebut. Perlahan-lahan matanya yang telah berkaca-kaca, mulai meneteskan air mata. Satu, dua, tiga, empat, lima, dan mulai berjatuhan lebih banyak. Semakin deras. Dadanya megap-megapan. Terasa sangat sakit, panas. Sangat panas. Tampaknya kali ini gadis malang itu benar-benar mengeluarkan semua unek-uneknya. Kekesalannya pada hari ini. Menangis tanpa suara, tanpa mengumpat, tanpa mencaci-maki. Itulah keadaan Inara sekarang. Lebih prihatinnya, sekarang ia melihat bayangan dirinya dengan jelas ketika menangis. Terlihat sangat memprihatikan. Siapa itu? Kasihan sekali Menangis tanpa suara Di temani lampu remang-remang menyinarinya di tengah kegelapan Sekarang sudah pukul sembilan malam. Sudah sepuluh menit setelah perjanjian ina dengan dirinya dimulai. Benar saja, ia sudah berhenti menangis. Lega. Itulah yang dapat ia rasakan sekarang. Jauh lebih lega dari yang sebelumnya. Ina bergegas ke kamar mandi, membuka satu persatu pakaiannya. Lalu membersihkan badannya yang sangat kotor, kotor karena telah dijamah oleh lelaki yang bahkan tak dikenalnya. Di dalam guyuran air yang mengguyurnya, tanpa sadar, ia kembali menangis. Padahal tadinya, dirinya sudah berusaha untuk tidak akan menangis lagi. Haaaa …. Kenapa rasanya nyesek banget ya …. Kenap- Ah udahlah! Gue gak boleh overthinking lagi! Gue pasti bisa menghadapi segala rintangan! Gue wanita tangguh! Ga gampang nyerah! Yak! Merasa telah terpuaskan oleh nasihat batinnya, ia melanjutkan mandinya seperti biasa. Tidak berlama-lama di kamar mandi. Setelah menyelesaikan kegiatan 'bebersihan" tubuh, ina berkaca di depan cermin, menyunggingkan senyuman tulus khasnya. Aku, cantik! Ih, ada orang cantik yah di kaca? Hihihi Ina terkekeh geli, menutup mulut dengan tangan kanannya. Lalu melakukan self healing lagi. Kali ini berbeda dari cara tadi. Langkah pertama yang ia lakukan adalah menarik napas panjang, menutup kedua mata, dan menghembuskan napas yang ia tahan. Ia memeluk dirinya dengan kedua tangannya. Tampak seperti bentuk yang aneh. Tapi, Ina merasa kalau yang ia lakukan itu adalah hal yang normal untuknya. Heheh Hmm, nyaman sekali. Lagi-lagi Ina terkekeh geli. Belum melepaskan pelukannya. Ina, gamau ah. Kamu bau ketek! Heheh Ina terkekeh geli, " hah? Apa? Kamu bilang aku apa barusan?!" Berbicara dengan pikirannya,  nada marah. Aku bilang, lepasin! Bau ketek! Ina terkekeh lagi, "aku kan sayang kamu, tubuhku …" memonyongkan bibirnya. Bersamaan dengan itu Ketukan pintu perlahan mulai terdengar. "Ina! Buka! Ck, basah lagi!" Pekik ibu Asuh sembari mengetuk pintunya. Terlihat perempuan setinggi kira-kira 120 cm, agak bungkuk, mengibaskan tetesan air yang basah di bahunya. Ck! Basah! "Ina!!! Buka!!!!" Pekik ibu asuh, mengetuk-ngetuk pintu dengan keras. "Eh? Kayaknya ada yang ngetuk pintu deh? Em, siapa ya?" Gumam Ina, bergegas keluar dari kamarnya, dan berjalan ke arah pintu. Cklek "Awas, awas!" Seperti biasa, ibu asuh memang terlihat galak. Tapi pribadinya yang sebenarnya adalah sangat baik. "Kamu itu! Buka pintu lama banget!" Dahi Ina mengerut, nanar matanya terlihat seperti orang sedih. "Maaf, Bu." Ujar Inara, sembari menutup pintu, dan mengikuti langkah ibu asuhnya, yang tak lain bernama Elna. Dari pagi-pagi buta sampai malam, Elna terus bekerja di tiga tempat, cafe vanilla, Anggur, dan cafe Manggara. Ibu paruh baya bekerja dengan sangat keras. Tak kenal letih. Wajar saja jika saat pulang, ia terlihat suntuk. Ibu Elna masuk ke kamarnya, tapi ia sadar kalau Ina mengikutinya sejak tadi. Maka ia berhenti berjalan. Kemudian membalikkan tubuhnya, menghadap Inara. Menyunggingkan senyum ringan, lalu menatap teduh nanar mata Ina yang terlihat sembap. Oh tidak! Apa jangan-jangan beliau tahu, kalau Inara menangis selama empat jam lalu?! "Ina, sudah malam. Tidurlah. Oh atau kau belum makan ya?" Suara itu terdengar lembut. Beda dari biasanya. Ada apa ini? Inara yang pemalu sebentar-sebentar menundukkan pandangan, sesekali melirik ibu asuhnya, lalu membuang muka. Dan menghembuskan nafas panjang. Seperti orang yang letih. Melihat gelagat Ina yang sedikit berbeda, ibu asuhnya agak cemas. Perempuan paruh baya itu berjalan mendekat, lalu mengelus-elus pucuk kepala Inara. Mengulas senyum yang tampak tulus, matanya berubah menjadi teduh. Apakah benar ini ibu asuhnya? Inara belum pernah melihat senyum itu, bahkan selama hidup kurang lebih 16 tahun bersamanya. Di mata Inara, sosok ibu asuh tampak seperti wanita kuat, tangguh, serba bisa, dan selalu dapat diandalkan. Ina menatap mata teduh Bu Elna, ia merasa, Bu Elna semakin cantik saja. Walaupun penampilannya kusut dan agak sedikit pengap. "Inara, sini nak." Ucap sang ibu asuh. Memberi aba-aba seolah-olah meminta sebuah pelukan. Grep. Inara dapat merasakan tubuh ibunya yang agak lembap, tetapi hangat. Nyaman. Itulah satu kata yang pantas untuk mewakilinya. Saking hangat dan nyaman, Inara tertidur dalam posisi mereka masih berpelukan. Padahal, mereka baru saja berpelukan sekitar 35 detik yang lalu. Bu Elna sepertinya menyadari kalau Inara baru saja ketiduran. Anak ini, kebiasaan ya. Ina, untung kamu sama saya. Kalau nggak, mungkin saja kamu udah dibunuh waktu itu. Hiks … Suara apa itu? Ternyata ibu Elna juga bisa menangis?! Tapi, mengapa ia memberikan peraturan yang ketat seperti itu pada Inara, ya?! Walaupun ia menangis, tapi Bu Elna tidak mengeluarkan air mata barang setetes pun! "Ina, kamu habis nangis ya?" Celetuk ibu Elna, tutur katanya lembut, mengusap-usap bahu Inara. Yang ditanya tidak menjawab. Sepertinya Inara memang sudah tertidur pulas! Dasar! Masih memeluk Inara yang tertidur pulas di bahunya, Elna mengambil smartphone yang ia rahasiakan dari siapapun termasuk Ina. "Halo, siapa disana?" Tanya Bu Elna, menaruh Smartphone di salah satu telinganya. "Wah, lancang sekali! Masa kau tidaj tahu aku?! Aku ini-" jawab Bu Elna, terdengar agak ketus. "Ah iya. siap Boma Elna. Saya mengerti apa yang harus saya lakukan," jawab seseorang disana. Tut. Telepon terputus. Bu Elna menghela napas, lalu menghembuskan nafas panjang. Puk puk "Inara, sekarang kamu sudah besar ya? Cantik. Kamu cantik sekali. Aku, seperti merawat orang penting saja!" Bu Elna terkekeh malu. Lalu menggendong Inara yang tertidur pulas. Mengantarnya ke kamar Inara. saat tiba di kamar Ina. Deg! Mata Bu Elna membelak. Ia kaget bukan main! Ruangan itu tercium bau amis. Dan juga berantakan. Eh?! Apa ini? Kok banyak darah di bekas baju sekolahnya?! Ia memilih menuntaskan Inara dulu. Meletakkan Inara di tempat tidurnya, menyelimuti gadis malang itu. Sesekali terdengar tangisannya. Dahi gadis itu mengerut, gusar. Bibirnya sedikit gemetaran. Tes Air mata kirinya jatuh. "Bu, jangan kemana-mana Bu …" Celoteh Inara, memegang tangan Bu Elna dengan erat. "Inara sayang ibu …." Sambungnya. Gadis itu masih saja meneteskan air matanya. Tak kunjung berhenti. Tentunya hal itu membuat Bu Elna meneteskan air mata, Isak tangis yang sesenggukan akhirnya telah keluar dari mulutnya. Ia tidak menyangka kalau Inara amat menyayanginya. Padahal, ia tahu betul, dirinya tidak pernah berbaik hati pada gadis malang itu. "Nar, tidur ya. Besok pagi adalah hari indah. Tetep jadi gadis ceria yah?" Suaranya terdengar gemetar, sesenggukan. Nanar matanya terlihat rapuh, terombang-ambing. Besok itu hari indah nar! Kamu harus bisa melewatinya ya? Kamu kan perempuan tangguh seperti ibu! Walaupun saya bukan ibu kandungmu, sih. Perlahan-lahan, kondisi Inara membaik. Gadis itu tak mengeluarkan air mata, tidak menangis lagi. Sudah tertidur pulas. Malam ini, Bu Elna ragu untuk tidur di kamarnya, meninggalkan Inara sendirian. Entah hal berat apa yang telah dijalaninya Yang pasti, aku tau itu sangat menyakitkan. Kasihan Inara …. Tapi, darah-darah dari baju seragamnya itu? Apa Ina habis dirampok ya? Atau habis di bully di sekolah barunya? Aku ngga mungkin bangunin Inara. Besok aja deh. Bu Elna merapikan pakaian dan noda darah di lantai. Setelah selesai, ia keluar dari kamar gadis malang itu, menatap sebentar, memastikan Inara baik baik saja. Masih tertidur pulas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN