Ibunya segera berjalan ke arah yang Gavin tunjuk.
Tepat sekali, putranya menunjuk pada 3 anak berpakaian acak-acakan seperti berandalan. Seragam sekolah yang sudah kusut, dan lecek.
Dari ketiga anak itu, terlihat seorang anak yang amat santai, meminum pop ice dengan gaya 'sok berkuasa' nya. Siapapun yang melihatnya akan berpikiran kalau ia adalah bos diantara kedua temannya itu.
Ibu Gavin menatap satu persatu dari ketiga anak itu. Gerakan matanya terhenti. Terpaku pada satu anak. Anak tengah.
"Permisi, boleh ikut saya sebentar?" Tanya ibu Gavin, diulas senyum ringannya.
"Sape, lu?" Tanya acuh tak acuh murid berandalan, masih menyedot pop ice yang di genggamnya.
"Anak ibu ada keperluan sama kamu, ganteng." Balas ibu Gavin, masih mengulas senyuman ringan.
"Hehe, ada duitnya?" Tanya murid berandalan itu. Kali ini ia merespon dengan agak serius.
"Ada. Nak." Diikuti anggukan ibu Gavin. Akhirnya, murid berandalan itu ikut pergi dengan ibu Gavin.
Saat baru melangkah, seseorang memekik dari sudut ruangan. "Kenzo! Lo ada jadwal piket! Jangan kemana-mana! Awas aja!" Seakan-akan tak perduli dengan keberadaan ibu Gavin.
"Anjing! Diem atau gua palak lu." Balas murid berandalan yang masih menggenggam pop ice di salah satu tangannya. Berjalan mengikuti ibunya Gavin.
Mendadak suasana hening. Itu karena Kenzo merupakan anak yang paling ditakuti di kalangan murid di sekolahnya. Terutama di kelasnya.
Ck mau kemana sih?
Kenzo menatap tajam Gavin. Hal itu membuat Gavin menunduk. Ibu Gavin tidak mengetahui hal tersebut.
"Gavin, ayo kita pergi." Ajak ibu Gavin. Kenzo mengekor di belakangnya.
"Bu! Sebenarnya kita mau kemana?" Celetuk Kenzo, berjalan mendekati ibu Gavin, dan Gavin.
Tak ada jawaban dari sepatah kata pun dari ibu Gavin.
"Di-diem kamu!" Pekik Gavin spontan. Anak lelaki itu memberanikan diri untuk bisa berkata kasar. Walaupun ia belum terbiasa.
Kenzo tersentak. Ibu Gavin tersenyum lebar, bak psikopat!
Mata Kenzo agak membelak, tiba-tiba saja, otaknya berpikir kalau ibu Gavin akan melakukan hal yang buruk terhadapnya!
"Anjing! Jangan bilang kalian mau ngejahatin gua yah?!"
"Hooo. Kenapa juga, kau berpikir begitu?" Tanya Bu Gavin, merasa sedikit penasaran dengan tebakan murid berandalan yang tadinya santai, kini seperti dilanda kecemasan tersendiri.
"I-iya, lah! Gavin! Lo pasti, kan?!" Tanya Kenzo kepada Gavin, tidak. Lebih tepatnya seperti sebuah tuduhan.
Tap.
Ibu Gavin menghentikan langkahnya. Yang otomatis membuat Gavin dan Kenzo memberhentikan langkahnya juga.
Ibu Gavin berbalik, masih dengan posisi menyeringai seram.
Kenzo menatap heran, karena tingkah laku ibu Gavin agak aneh!
Apasih?
Kenapa berhenti?
Udah sampe?
Udah kah?
"Aduh. Kenzo, sepertinya kamu salah tangkap deh?" Celetuk ibu Gavin, berjongkok. Menatap Kenzo yang sudah agak gemetaran.
"Hahahah, kamu kan yang bully anak ibu?!"
Grep.
Dengan cekatan, Ibu Gavin memegang tangan Kenzo.
"Ayo! Ikut saya ke gudang itu!" Ajak ibu Gavin yang telah dilanda kemurkaan. Sudah tak terbendung lagi!
Kenzo diam membeku, ia masih shock dengan hal itu. Tanpa sadar, ia tak melakukan perlawanan, sedari tadi ibu Gavin menyeret Kenzo menuju ke dalam gudang. Lalu melemparkannya.
Brak!!!
Kenzo tersadar saat ia terbanting ke arah tembok kusam. Untung saja, tidak ada barang-barang berat disana.
Matanya membelak.
uhuk uhuk!
Ia baru sadar bahwa posisinya sudah sangat buruk. Dimana pintu gudang sudah terkunci. Mustahil untuknya bisa kabur dari tempat yang jarang terjamah sinar matahari tersebut.
Gavin tertawa puas. Sepertinya, Gavin sudah dirasuki setan yang bersemayam pada ibunya!
Ibu Gavin melirik Gavin, senang karena anak putranya itu akhirnya dapat tertawa lepas.
Gavin, ibu sayang kamu ….
Ibu gamau kamu kenapa-kenapa ….
Ibu Gavin tersenyum lebar. Berjalan mendekat ke arah Kenzo yang merintih kesakitan,
"Nah, ayo sekarang kita mulai! HAHAH!" teriak ibu Gavin, menggelegar memenuhi tempat ruangan itu.
Grep!
Tangan ibu Gavin dengan cekatan memegang kedua tangan Kenzo.
Gua harus apa?
Anjinglah! Gua gatau kalau dia ibunya si cupu!
Anjing! Gavin! Awas aja lu!
Ibu Gavin kembali menyeringai, menatap dalam-dalam mata Kenzo.
Anjing! Cringe banget, cih!
"Kenzo, kamu itu ganteng. Maka dari itu, ibu harus mengukir banyak tanda di wajahmu."
"Hah? Psikopat kayak lu, gausah banyak bacot deh! Cih!" Kenzo masih tetap Semaunya sendiri. Menyunggingkan senyum kanan, menganggap remeh semua yang telah dilakukan ibu Gavin.
Melihat hal itu, Gavin menangis lagi.
Ck!
Dia masih berani?!
Dia masih berharap akan hidup?!
Apakah dia tidak tahu, dia bisa saja mati sekarang, kalau aku mau!!
"Gavin, diam! Biar ibu perlihatkan betapa berbahayanya posisi dirinya sekarang!" Perintah sang ibu, bagaimanapun juga, naluri sang ibu, tidak ingin melihat anaknya sedih atau menangis di hadapannya.
Mendengar itu, Kenzo menanggapi hal tersebut dengan lumayan serius.
Glek.
Kayaknya ibu Gavin serius deh?
Gue mau diapain anjir?
Ah! s**t!
Ibunya memberi isyarat yang Kenzo tak mengerti. Tiba-tiba saja keluar api di bawah lantai tanah.
Ibu Gavin segera berlari keluar dari gudang tersebut, tentunya bersama Gavin. Mereka memperhatikan kenzo dari luar jendela berbahan besi tralis disertai sengatan sertum yang sangat tinggi
"Aduh, kenzo! Bagaimana ini? Apakah saya harus memanggil pemadam kebakaran ya?' tanya ibu Gavin, berpura-pura panik. Kemudian tertawa terbahak-bahak kesenangan. Melihat hal itu, Kenzo semakin panik!
Bagaimana bisa, dirinya terkurung di dalam gudang yang bahkan tidak ada suatu benda yang bisa dijadikan alat untuk menghancurkan teralis jendela gudang tempat Gavin dan ibunya berada.
Hah…. Sial!
Gua harus apa?!
Ah, sialan!!!!
"Arghh!!!!!" Rancau Kenzo. Sekarang ini, Api semakin naik ke permukaan lantai gudang. Menjalar semakin menjalar.
"Ashhh ..." Rintih Kenzo, kakinya tertimpa bangunan atas yang mulai hangus di bakar api yang menjalar dari bawah basement gudang.
"Hey, Gavin. Apakah kamu senang? Heheh." Ibunya terkekeh, lalu menangkup wajah Gavin.
Sementara Kenzo masih berada di ambang ketakutan luar biasa.
Sekarang, Kenzo menangis karena semuanya sudah dipenuhi oleh api yang membara. Dirinya sebentar lagi akan hangus ditelan api yang semakin menjalar ke tubuhnya.
Sakit. Sangat sakit.
Sesak. Dan juga badan Kenzo perlahan mulai habis terbakar. Mau tak mau pria itu menjerit sangat kencang. Apalagi ketika Api menjalar tepat ke bagian d**a bidangnya.
Terasa seperti, jantung sedang terbakar dan nyawanya sebentar lagi akan melayang ke atas. Tidak, tepatnya rohnya yang sebentar lagi akan pergi jauh menghadap sang kuasa.
Sementara itu,
"Pipimu lucu sekali, sih! Anu, mirip apa ya, Teddy bear! Heheh." Ibu Gavin tertawa lepas. Begitupun dengan Gavin. Mereka sesekali melirik pertunjukan menyenangkan itu. Ya, membakar tubuh pembully adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Awal mula dari 'kesenangan' itu di mulai.
"Heheheh, ibu bisa aja." Gelak tawa khas Gavin terdengar kembali saat ibunya mencubit gemas pipi Gavin.
"Gavin, ibu sayang kamu." Tiba-tiba saja, sang ibu berkata seperti itu, tentunya itu bukan hal yang aneh dan tak asing bagi Gavin.
Tapi, perlakuan kedepannya yang membuat Gavin merasakan sensasi aneh, dan hal tersebut adalah hal baru untuknya.
Cup
Tiba tiba saja sang ibu mencium bibir Gavin. Seingatnya, kalau ada wanita dan pria menicum bibir, tandanya mereka adalah kekasih!
"Ibu, apakah kau benar ibuku?" Gavin mulai gugup. Ia merasakan ragu yang cukup kuat untuk bertanya pada ibunya itu. Terlebih, ibunya mempunyai sebuah penyakit yang suatu saat kambuh.
"Diam dan nikmati saja." Ibu Gavin semakin berani melakukan suatu hal yang kurang senonoh. Padahal, itu adalah anak kandungnya sendiri.
"Emmmh, Bu. Apakah kita kekasih?" Tanya Gavin memastikan kebenarannya.
"Tentu saja. Darling, sentuh ibumu ini. Sudah lama sekali sejak ayah meninggal. Aku kesepian dan tidak pernah disentuh belaian pria. Karena aku sibuk merawat cintaku, kamu Gavin." Jelas ibunya panjang lebar, dan kembali melakukan hal tak senonoh pada putra kesayangannya.
Gavin, aku mencintaimu.
Tidak boleh ada seorang wanita yang menyentuhmu selain aku!
Sampai mati.
Gavin yang bodoh, hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan ibunya. Lagipula, ibunya itu telah merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Jadi, Gavin yang polos menanggap kalau hal ini adalah suatu kewajiban. Kewajiban untuk membalas Budi atau berbakti pada ibunya.
Sementara Kenzo sudah terbakar hangus. Jeritannya sudah tak terdengar lagi. Itu karena ia sudah tewas di tempat. Bau gosongnya sangat menyengat. Gavin dan ibunya bak melihat pertunjukan peradilan neraka secara langsung.
"Gavin, kita pergi yuk? Udah selesai pertunjukan pertamanya." Ibu Gavin segera menarik lengan anak Putranya itu.
Hihihi
Gavin, selanjutnya kita lakukan pada kedua teman Kenzo!
Gavin tetap mengikuti permainan ibunya tanpa ada bantahan satu katapun. Ia terdiam. Dan terus diam membisu.
Mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah lagi.
Hah? Mau apa lagi, ibu kesini lagi?
Gavin melirik sang ibu. Tinggi mereka berbeda sekitar 20 cm, jadi itu cukup membuat Gavin kewalahan untuk mendongak cukup lama.
Ibunya terus menatap sekolahnya dengan tatapan penuh arti. Setelah sekitar 30 menit menatap sekolah Gavin. Akhirnya ibunya berjongkok dan berbicara pada gavin.
"Gavin, ibu kasih kamu dua pilihan." Celetuk sang ibu, mengulas tersenyum ringan.
"Boleh Bu." Jawab Gavin dengan nada sopan.
"Jadi, kamu mau bakar sekolah atau bakar teman-temanmu?" Tanya sang ibu, masih mengulas senyum.
Gavin terdiam.
Bagaimana bisa ia disuruh memilih salah satu dari keduanya?
Dua-duanya sangatlah penting bagi Gavin. Baik teman maupun sekolah. Keduanya memiliki arti tersendiri. Tak ada yang Gavin benci. Sesekali Gavin hanya kesal dan marah. Tidak membenci.
"Hm? Gaviiiinnn, darling? Gimana nak?" Tanya sang ibu lagi, menatap dalam-dalam, mengulas senyum ringan.
"Terserah ibu aja Bu." Akhirnya Gavin buka suara. Anak cowok itu sadar, kalaupun ia menolak, pasti tak akan menyurutkan niat sang ibu. Karena ia tahu betul bagaimana watak dan sifat ibunya.
"Wah. Kalau begitu, kita bakar sekolah aja deh? Supaya ibu ga kerja dua kali, heheh." Lagi-lagi ibunya terkekeh untuk sesuatu yang kedengarannya menyeramkan.
Gavin hanya diam sembari memperhatikan sekitarnya.
"Ayo, ibu udah siapin semuanya loh, di mobil. Kamu tunggu sebentar ya, nak?." Dengan cekatan, ibunya menelepon pak Muardi, sopirnya.
"Halo pak, segera bawa bensin dan pemantik api kesini ya? Sekarang." Perintah ibu gavin.
Tak beberapa lama, Pak muardi memberikan apa yang diminta nyonya besar, Ibu Gavin.
"Makasih ya pak." Ucap ibu Gavin, kemudian mengambil selembar uang merah, lalu memberikannya pada pak Muardi.
"Pak, setelah ini pergi yang jauh ya? Kayak biasa, laah." Ucap Bu Gavin. Sembari mengedipkan salah satu matanya. Itu sudah menjadi kebiasaannya.
Setelah pak Muardi pergi, ibu Gavin bergegas masuk ke halaman sekolah bersama Gavin yang tidak tahu apa apa.
'gavin, sekarang kita mulai permainannya ya!" Ucap sang ibu Gavin, sembari menebar Bensin ke semua wilayah taman, dan segera menyalakan pemantik api, lalu membuangnya begitu saja. Yang menyebabkan api besar menggelegar seketika.
Dengan cekatan, ibu gavin menarik lengan Gavin dan segera keluar dan menjauh dari wilayah sekolah. Sembari terkekeh bak ada suatu hal yang sangat lucu, tertawa sampai terpingkal pingkal. Berbeda dengan Gavin yang hanya diam saja. Ia tahu. Ibunya sakit.
Kesenangan itu dimulai sejak kematian Kenzo, hingga sekarang.
Flashback selesai.
________________________________________________