Sebenernya aku ingin menangis
Entah kenapa, ada perasaan bersalah ketika tidak menolak perbuatan om tiriku!
Apa ini, alasan mama yang begitu keras melarangku untuk tidak boleh ada pria yang memegang daerah-daerah terlarang?!
"O-om, a-aku mau p-pppipiss ...!" Tanpa menunggu jawaban dari om tirinya, Ina segera berlari menuju kamar mandi.
.
.
.
.
.
Ina berdiam diri di dalam kamar mandi. Melepas Hadas kecilnya dan merenung sejenak. Memikirkan perbuatan yang baru saja dilakukan oleh om titinya itu.
Tanpa sadar, Ina yang masih polos itu mengeluarkan air mata. Bagian bawah daerah terlarang itu sekarang sakit, terasa nyut-nyutan. Tidak seperti biasanya.
Tentu Ina merasa cemas sekaligus khawatir, overthinking.
Kenapa...
Kenapa rasanya sedih sekali?
Memangnya aku kenapa?
Kenapa ... Hiks .. hiks ...
Hiks ... Aku....
Aku seperti telah merasa melakukan dosa besar ...
Aku, harus apa tuhan?
Hanya seorang anak kecil malang yang sebenarnya dilahirkan tanpa kasih sayang.
Aku ini....
Tak diinginkan sejak ada di rahim mama...
Hiks hiks....
Perasaan Ina semakin kacau, ia masih berjongkok, belum membetulkan posisi pakaian dalamnya.
Mendengar suara tangisan Ina, nenek tirinya mulai terbangun dari tidur siangnya.
"Eh? Siapa itu yang nangis?" Tanya nenek tiri yang baru bangun tidur, suara ciri khas orang yang baru bangun tidur. Celingak-celinguk melihat ke sekitar.
Mendengar hal itu, Ina segera keluar dari kamar mandi, menyeka air matanya dengan cepat. Berusaha tersenyum, senyuman terpaksa yang dipaksa agar semuanya terlihat baik-baik saja.
"Ah, nenek udah bangun yah?" Basa-basi Ina, mengulas senyuman yang menutupi kesedihan yang baru saja terjadi padanya.
"Ina, kamu nangis nak?" Tanya Ina
Ina menggeleng cepat. Masih tersenyum. Kali ini ia berusaha mengukir senyuman yang tampak tulus. Walaupun ada kesedihan yang teramat di dalamnya.
Sementara itu, om tiri Ina berpura-pura tidur.
Dirinya tahu, ia sudah kelewatan batas dan sudah pantas disebut 'b******n' untuk sekarang.
"Gavin, kamu dimana nak?" Tanya cemas nenek tiri Ina. Melirik kesana-kemari, mencari keberadaan anaknya itu.
"Ina, kamu liat Gavin?" Tanya nenek lagi, kali ini pada Ina.
Ina menggeleng. Bagaimana bisa, ia masih memperdulikan orang yang telah memperlakukan dirinya seperti w************n?
Terlebih lagi, gadis belia itu masih dibawah umur.
Ina tetap bersikap baik, seolah tak terjadi apa-apa. Gadis kecil itu memang dituntut untuk lebih dewasa dari usianya. Dalam segala hal.
Lirikan mata nenek tiri terhenti, ketika menemui sekujur selimut yang menutupi tubuh seseorang. Siapa lagi kalau bukan om tiri Ina, Gavin.
"Hey, Gavin. Udah makan kamu nak?" Tanya nenek tiri menoel-noel tubuh anak bujang kesayangannya itu.
Gavin, om tirinya Ina menggeliat. Berpura-pura telah melewati tidur yang sangat panjang.
"Eunghh"
Gavin mengerjap-erjap, menunduk tak berani menatap Ina.
Lagi dan lagi, tubuh Ina gemetaran. Kali ini lebih parah dari yang tadi.
Perasaan gadis belia itu campur aduk. Tidak enak, sangat tidak enak.
Sedih, marah, menyesal, merasa bersalah, merasa terhina, merasa berdosa. Semua campur aduk menjadi satu.
Melihat tubuh Ina yang seperti itu, nenek tiri lantas bertanya, "Ina, kamu kenapa, nak?" Celetuk sang nenek tiri, melirik Ina, mengernyit tak mengerti. Mimik wajahnya terlihat seperti cemas, pada cucu tirinya itu.
Ina masih dalam kondisi gemetaran, menunduk, tak menjawab.
"Hiks ..."
Satu tangisan berhasil keluar. Sedari tadi gadis belia itu terus menahannya. Tapi tampaknya memang sudah tak terbendung lagi.
Om tiri Ina masih menunduk.
Mungkin saja, pria dewasa itu merasa bersalah?
Nenek tiri beranjak dari kasur lesehannya, berjalan mendekati Ina, tiba-tiba memeluknya.
"Ina, kamu tau kan? Apa yang harus kamu tampilkan pada kami?" Omongan nenek terdengar membingungkan. Tidak jelas apa makna tersirat di dalamnya.
Deg!
Mata Ina membelak.
Nada bicara nenek tiri terdengar lembut, dan santai.
Nenek tiri menyudahi pelukan mereka, menatap Ina dalam-dalam, kemudian berkata, "Ina sayang, yah, gimana dong? gapapa ya? Om tirimu emang ga sengaja lakuin itu."
Nenek tiri memegang kedua pundak Ina, mengulas sebuah senyuman yang bermaksud agar Ina menuruti perkataanya.
Mimik wajah nenek tiri itu tampak seperti psikopat!
Senyuman yang sangat menakutkan, apalagi untuk anak perempuan sebelia Ina.
Gadis kecil itu menahan beban di bahunya. Tak ada yang dapat melihatnya menahan semua beban itu.
Bagaimana bisa, gadis kecil itu masih ceria dan senang bersenda gurau?
Padahal, setiap hari ada saja masalah berat yang menguji seberapa kuat kesehatan mentalnya.
.
.
.
.
Ina tidak menjawab, tidak juga merespon apa-apa.
Menatap sang nenek tiri, Mengernyit dahi, karena gadis belia itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan di situasi penuh tekanan seperti ini.
Dadanya megap-megapan, bibirnya mulai gemetar tak menentu, nanar matanya melihat kepasrahan. Itulah kondisi yang tepat menggambarkan sosok Ina yang sekarang.
Merasa tak dapat jawaban, nenek beroceh lagi, "Jawab, 'iya' Inara." Kali ini, nadanya terdengar agak menyentak, tentu saja hal itu membuat Ina sedikit terkejut.
Inara berusaha menahan Isak tangisnya yang sebentar lagi akan pecah bak gelombang lautan yang bergerak seperti tsunami, melanda habis sebuah pulau atau kota.
"Hwahh ... Hiks ... Hiks .."
Aku...
harus apa?
Mmmh, tidak adakah seseorang yang dapat menolongku, yaah ...?
Mama, ayah ...?
Eungh ...?
Oh tidak!
Ina, sadar diri dong!
Hiks, tidak ada yang memperdulikanmu!
Bahkan di saat penting kayak gini!
Ck! Hiks hiks....
Merasa tak ada jawaban, lantas nenek tiri segera mengambil tindakan.
Plak!!!
Sebuah pukulan keras mendarat di bahu gadis kecil tak bersalah, Inara.
"Anjing kau! Jawab hey! Anjing!" Nenek tiri memekik keras. Mimik wajahnya berubah seketika. Tampak sangat murka dan menyeramkan.
"Hnggg" tampak Ina menahan sesuatu di mulutnya, seperti ada yang ingin ia muntahkan.
Ada apa sebenarnya?
Sesuatu apa yang akan terjadi pada gadis mungil itu?
.
.
.
.
.
.
.
Inara tak dapat menahan lagi. Sesuatu itu harus keluar sekarang juga. Mendesak gejolak kerongkongan Inara.
"Mmmh, hu- huwek!" Inara tampak sangat mual. Terlihat sepertinya asam lambungnya naik.
Padahal, akhir-akhir ini penyakit asam lambungnya tidak mudah kambuh.
Inara trus bersikap seolah ingin muntah, tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Hanya beberapa cairan yang keluar menetes di baju atasannya.
"Iiiihhhh!!! Jijik banget sih!!!"
Plak!!!
Sebuah pukulan mendarat lagi di bahu Inara. Kali ini lebih keras dan menyakitkan.
Sangat menyakitkan.
Untuk anak yang tidak bersalah.
Inara tidak bisa menahan tetesan air matanya.
Kali ini ia menangis lagi, menangis dengan sangat tertekan.
Kondisi mentalnya benar-benar sudah rusak, Sekarang.
Bruk!!!
Inara terdorong jauh ke belakang tembok. Kali ini, terdengar ada tulangnya yang lumayan patah.
Sepertinya kakinya. Karena tampak kakinya mem biru yang lunglai.
Semakin membiru.
Inara tak sadarkan diri.
Tergeletak.
Pingsan, atau sudah tak bernyawa, tidak ada yang mengetahui kejelasannya.
Mengapa sangat menyakitkan?
Mengapa hidupku sesakit ini?
Apakah aku harus mengakhiri hidupku sekarang?
Apakah aku harus bunuh diri, saja?
Tuhan ...
Kenapa ini semua terjadi padaku?
Ah ....
Aku ....
Ingin pulang ....
Padamu ...
Haaah ...
Kali ini, Ina benar-benar tak sadarkan diri. Menutup mata sepenuhnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Melihat hal itu, nenek tiri Ina terlihat sangat panik. Sekarang cucu tirinya itu sudah tidak sadarkan diri.
Aku harus apa?!
Anjing!
Kenapa bisa-bisanya aku melakukan itu tanpa persiapan?!!
Ah ... Ada jejak tanganku disitu!
Nenek tiri menoleh ke arah Gavin yang duduk di kasur lesehan, jauh dari arah ruang keluarga tempat Inara bersimbah darah, dan juga nenek tiri yang terpaku diam membeku. Pria itu tampak masih menunduk seolah-olah tak ingin melihat aksi kejam ibunya.
Walaupun Gavin adalah pria m***m, tapi ia juga turut pernah merasakan kekerasan sejak kecil.
Bahkan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ia ingin sekali membantu keponakannya, Inara.
Tapi, bagaimanapun juga, ini semua terjadi karena dirinya, kan?
Gavin yang lupa akan pantangan dan hilang kendali saat melihat keponakannya yang cantik menggemaskan.
Bagaimanapun pria itu menyesalinya, tetap saja tidak akan ada yang berubah!
Nasi sudah menjadi bubur.
Nenek tiri Inara, berjalan dengan gemetar dan perasaan takut, ke arah gavin.
Sekarang ini, gelagat nenek tiri itu seperti seseorang yang sangat menyesal, menepuk salah satu bahu gavin"Hey, Gavin! Jangan diam saja disitu!"
Gavin masih menunduk, tidak merespon, sesekali melirik nenek tiri Inara, yang tak lain adalah ibu kandungnya.
"Ck. Aku lupa pake sarung tangan!" Nenek tiri menampilkan wajah yang memelas.
"Em, Bu. Sebaiknya kita kabur saja?" Akhirnya Gavin angkat bicara. Tapi, tidak menatap ibunya. Pria itu masih menunduk. Merasa sedikit bersalah akan kejadian yang baru saja terjadi.
Nenek tiri itu melihat ke arah Gavin kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar, "Halah! Ngaco kamu ya?! Kalau begitu ceritanya, penjara akan kosong melompong, dong! Dasar tidak berguna!"
Gavin kembali terdiam. Suasana semakin hening.
Gavin yang diam sendiri mengutuk dirinya, mengumpat dalam hati, itu sudah menjadi kebiasaannya. Kepribadiannya memang cukup aneh.
Sedangkan nenek tiri tampak berpikir keras dan berusah mengusir rasa takutnya itu.
Mereka belum mengecek apakah Inara masih hidup atau tidak?
Mengingat respon anak itu yang tertekan baik secara mental maupun fisik. Tapi, mereka tidak memperdulikannya.
Mereka berdua hobi menyiksa anak-anak kecil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hobi itu ditemukan waktu Gavin yang masih kecil, duduk di bangku kelas 3 SD.
Waktu itu, Gavin pulang sekolah dengan menangis begitu pilu. Mengucek-ucek mata kirinya yang gatal akibat terlalu lama menangis.
"Hiks, hiks ..." Gavin masuk rumah tanpa membuka sepatu, dan tanpa menyalami ibunya, malah berlari ke arah kamarnya.
Ibu gavin yang melihat hal itu dari arah dapur, segera setengah berlari menemui anaknya di kamar Gavin.
Kebetulan pintunya tidak dikunci.
"Nak! Kamu, ada apa?!" Nada tanya yang sedikit menyentak. Mungkin saja ibunya khawatir dan cemas pada perilaku anaknya hari ini.
Alih-alih menjawab pertanyaan ibunya, Gavin tetap menangis sesenggukan, "Hiks, hiks, ibu..." Gavin berlari ke arah ibunya dan memeluknya.
"Iya, ada apa sayang? Coba ceritakan ..." Ibunya menyambut pelukan putra semata wayangnya itu. Mengecup pucuk kepala gavin.
"Ibu, hiks ... Tadi ... Hiks ... Aku ... Di bully ... Hiks ..." Gavin berhasil menyuarakan isi hatinya.
Mendengar hal itu, ibu Gavin naik pitam.
Ia langsung menarik tangan Gavin, menyudahi pelukannya, dan bergegas berlari ke arah sekolah.
Entah apa yang akan ia lakukan di sekolah, nanti.
Gavin sudah berhenti menangis sejak di perjalanan ke sekolah, "Em, ibu, kita ngapain ke sini lagi?" Tanya Gavin yang polos.
"Ah, nak. Coba katakan, mana anaknya yang membully-mu?" Tanya ibu Gavin, berjongkok agar lebih mudah menatap mata dan mendengarkan suara Gavin kecil.
"Em? Mau apa Bu? I-iiituu ... Di dalam kelas, mereka biasanya gak langsung pulang sih."
Alih-alih menjawab, ibu Gavin setengah berlari ke arah kelas Gavin.
Meninggalkan Gavin sendirian bukanlah hal yang bagus, karena putranya itu sangat takut akan kesendirian. Ia akan merasa terancam. Apalagi dalam keadaan posisi cukup ramai begini.
Gavin mengikuti jejak ibunya. Mereka sampai di kelas Gavin.
Ternyata, di dalam kelas hanya tersisa sekitar 5 murid. 3 murid duduk bersantai sembari bersenda gurau, sementara 2 murid lainnya menyapu. Mungkin karena jadwal piket kelas.
Terlihat beberapa anak melihat ke arah Gavin dan ibunya. Mereka telah menjadi pusat perhatian.
"Nah, Gavin, mana anak yang membully kamu?" Tanya ibunya, berjongkok lagi. Untuk Gavin, putra kesayangannya.
Gavin tidak menjawab, ia diam sebentar. Berpikir, apa maksud dari perkataan ibunya itu.
Melihat Gavin tidak merespon apa-apa, ibunya segera bertanya lagi, "hm? Gavin? Yang mana nak?" Tanya ibunya sekali lagi.
Merasa terdesak, Gavin segera memberanikan diri untuk menunjuk teman teman yang telah membullynya.