Kejadian tak terduga 4

1553 Kata
Ckitttt!!! Brakk!!!! Ina tergeletak di lantai akibat serempetan itu. Begitu juga dengan pengendara. Motornya terlihat rusak dengan lecetan dimana-mana. "Ashh ... Emm? Gua ... Kenapa yah? Heheh." Ucap Deon yang sepertinya setengah sadar. Ia mencoba berdiri, tertawa getir seperti orang mabuk. Padahal ini masih siang. Sementara Ina. "Ahhh, emmh sakit ... Hiks ... Hiks ..." Ina meringis, badannya sakit semua. Ia tak bisa bergerak. Bahkan sekedar membuka mata saja tak sanggup. Deon mendekati Ina. Benar saja, kondisi yang berpakaian seragam sekolah mirip dengan Ina itu berjalan dengan oleng-oleng dan mata yang mengerjap-erjap. "Ah, ada cewek cantik tuh. Heheh" kondisinya masih sama, seperti orang mabuk. Atau memang tampaknya ia habis nyabu. "Ah hahah halo cantik, lagi apaah ... Hmmm ...?" Tanya Deon. Kondisinya masih sama. Setengah sadar. Grep. Deon berhasil menggenggam lengan Ina. "Aduh cantik. Wangi banget sih?" Deon mengendus-endus Ina. Masih dengan kondisi setengah sadar. Sementara Ina tidak bergerak. Ia hanya menangis karena tubuhnya tidak bisa digerakkan. Semua bagian tubuhnya terasa sakit. Sakit sekali. POV Ina Ini siapa ya?! Gak sopan sekali! Aku ingin memberontak! Tapi.... Percuma saja....! Tubuhku sakit...! Tidak bisa digerakkan....! Hiks! Tuhan, lindungi aku! Bahkan setelah beberapa menit, tubuh Inara tetap tidak bisa digerakkan. ___________________________________________________ . . . Wanginya enak! Hahah... Mirip Qeisha.... Ahhh.... "Waaaahhhh ... Gue kangen lu qei ..." Deon semakin mendekatkan wajahnya pada tubuh Ina. Inci demi inci ia telusuri. Cup Deon melakukan hal tak senonoh. Ia mencium bibir Ina. Yang membuat ia terdiam seketika. Apa apaan cowo ini?! Anjing! Siapa si?!! Ina mendelik. Dengan posisi mereka berciuman. Ina segera memberontak. Sekarang ini, rasa takut terus menimpanya. Rasa takut yang dulu, terulang kembali. Rasa yang sudah ia musnahkan dan lupakan. Kini kembali menghampirinya. Walaupun Ina sudah memberontak, adegan ciuman itu tetap berjalan. Sebesar apapun kekuatan  Ina untuk memberontak, kekuatan dan posisi Inara jauh lebih di rugikan. Karena posisinya Deonlah yang mendidih Ina. Bagaimana ini .... Aku sungguh tak ingin melakukannya ... Tapi, tubuhku sudah berhasil dikuasai olehnya... Oh tuhan, aku harus apa.... Aku tak ada bedanya dengan jalang, kalau seperti ini ...! Menggigil. Itulah satu kata yang dapat mewakili keadaannya sekarang. Sama seperti dulu, Ina selalu menggigil setiap kali merasakan hasrat ketakutan yang berlebihan. "Udah f**k. Lo nikmatin ajah. Yeah ... Hahah ..." Dari suaranya Deon sepertinya memang benar-benar mabuk. Ia terus melakukan hal tak senonoh pada Ina. Mengendus-endus seluruh tubuh Ina. Dari jarak inci per inci. "Lo tuh jalang. Jadi Lo harus puasin apa yang gua mau. Yes? Hahah ...." Deon masih mengendus-endus tubuh Ina. Tetapi kali ini ia sudah membuka pakaian atas Ina. Melakukan hal tak senonoh. Semakin turun, dan semakin membuat Ina takut. Takut kalau pria dihadapannya itu mengambil mahkotanya yang ia jaga selama 16 tahun. Walaupun sempat ada kejadian yang sebenarnya Ina tak mau menganggap hal itu terjadi. Terlalu menyakitkan untuk diingat-ingat. Kalau bisa, gadis malang itu ingin menghapus kenangan terpahit tersebut. Berbeda dengan Ina, Deon semakin menikmati hal yang ia lakukan. Perbuatan asusila yang sangat terkeji. Perbuatan yang tak dapat dimaafkan. Dan perbuatan yang tak akan pernah dilakukan pria baik baik. . . . . . Oh s**t! Enak banget bau badannya .... mirip qeisha.... Apa jangan-jangan ini qeisha, ya? Qeisha cinta mati sama gua kan. Pasti dia belom bisa move on dari gua. Terus dia mata-matain gua deh. Dia nguntit gua. Deon tersenyum miring, masih melakukan perbuatan yang sangat tercela. Semakin tercela karena ia sudah membuka pakaian bagian bawah Ina, sekarang. Hahah pasti iya ....! Ina semakin menangis sesenggukan. Berbeda dengan Deon yang tampak puas. . . . . . . . Ahhhhh qeisha.... Bau Lo enak banget... Candu .... Ahhh .... Bikin gue betah deh... Ahhh.... Deon semakin menandai asusila di setiap inchi tubuh Ina. Pria itu sudah mencicipi seluruh tubuh Ina. Membuat gadis itu merasa berdosa karena tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal seharusnya ia bisa membunuh pria itu sekarang juga. Jika kondisinya tidak sedang sakit seperti sekarang. Ina masih menangis sesenggukan, "Tolong ... Siapapun itu. Berhenti ...! Hiks ..." "Anjing! Gua malu Ama yang di atas ...! Hiks ... Hiks ..." Ina memberontak lagi. Tapi usahanya sia sia. "Ahhh emhh nikmatin aja jalang ...." "Sttt ahhh ..." Deon semakin ingin berlama-lama di  atas tubuh Ina. Karena deon masih dalam keadaan mabuk dan menyangka kalau ia melakukan hal asusila tersebut kepada mantannya, Qeisha. Padahal, itu adalah Ina. Adik kelas yang akan terus berhubungan dengannya. Karena tugas sekolah mengharuskan Ina untuk merubah para siswa berandalan, baik kakak kelas maupun seangkatannya. . . . . . "Hentikan!" Energi Ina sudah pulih kembali. Meskipun belum sepenuhnya. Ina dapat memberontak. Ina mendorong Deon, berdiri. Lalu memelototi Deon yang sepertinya perlahan-lahan sudah mulai  kembali kesadarannya. "b*****t! Anjiing lu! Babi! Cowo b*****t, LU!" Ina menunjuk nunjuk Deon. Walaupun ia tahu, Deon adalah siswa yang satu sekolah. Karena seragam yang masih melekat di tubuh pria itu. Ina membetulkan pakaiannya, menyeka air mata di sudut matanya. Sementara Deon yang telah sepenuhnya sadar, tak mengerti mengapa dan kenapa ia berada disini. Pria itu diam membisu, menatap Ina dengan tatapan tak mengerti. "Hah ...? Apa anjing? Kenap-" Deon berusaha berbicara. Sebab tak mengerti apa arti dari semua ini. Masih dalam keadaan menggigil dan gemetaran. "Argh! Anjing ...!" Ucap Ina frustasi seraya berlari ke arah jalan pulang yang terhenti tadi. Kondisi Ina sekarang adalah, penuh luka dan darah kering. Bagi Ina, harga dirinya sangat jauh lebih penting dibanding luka-luka goresan kecelakaan tadi. Ina berlari sekencang-kencangnya. Tidak memperdulikan sekitarnya. Tidak memperdulikan apa pandangan orang lain terhadapnya. Perasaan Ina sangat kacau. Bagaimana bisa, ia di lecehkan seperti tadi. Walaupun mahkota Ina belum jebol. Wanita normal pasti akan merasa amat sangat malu. Tidak, lebih tepatnya merasa sangat sangat kotor. Gue harus mandi! Anjing! Hiks ... _____________________________________________ Sesampainya dirumah Ina masih menangis sesegukan. "Hiks, hiks. Kenapa dunia berat banget ya?" "Kenapa juga dunia jahat banget sama guee?" "Salah gue apaa sihh?" "Hiks..." "Tolong deh. Padahal baru aja sembuh..." "Kenapa cobaan Dateng lagi gaada abis abisnyaaaa?" Ina menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya. Ina teringat kejadian 10 tahun lalu. Tepat saat ayah dan ibunya berpisah. Dan tidak pernah kembali bersatu hingga saat ini. Air matanya kembali mengalir deras disertai ekspresi wajah yang terlihat sangat menyedihkan. ____________________________________________ Flashback. Ina murung, karena dirinya tidak tahu harus menjawab apa. Sebab ibunya memang egois jika sudah memutuskan sesuatu. Percayalah, walaupun ibunya bertanya mengenai pemikiran gadis kecilnya itu, ia akan emosi ketika mendapati jawaban yang kurang singkron atau susah dimengerti. Ibu Ina akan menyebut Ina, "si g****k t***l" "Ina? Ibu pergi dulu ya? Heheh" ibunya menggandeng tangan lelaki yang bukan suaminya. Jika ditanya mengapa, itu karena mereka sedang kencan. Ya, ibu Ina adalah ibu teregois bagi gadis kecilnya. Jika saja pria itu tidak mengajak ibunya keluar rumah untuk pergi. Mungkin saja kejadian dahsyat itu tak akan menimpa Ina. "Emm, yah Bu." Ina menjawab dengan sedikit takut. Ia sudah trauma dengan tingkah laku ibunya itu. Ina tampak pasrah, menunduk. Tetapi hati kecilnya berfirasat kalau sebaiknya ia tak ditinggalkan dengan om tirinya itu. Kekerasan yang hampir setiap hari ia dapatkan, dan juga tidak lupa disertai kata-kata tercela yang menyakiti hati siapapun yang mendengarnya. "Okeh. Adekmu ibu bawa yaa." Ucap ibu Ina. Sembari keluar dari pintu rumah, dan menghilang bak ditelan bumi. Sekarang ini perasaaan Ina kacau balau tak menentu. Entah kenapa, perasaannya sangat tidak nyaman dengan keberadaan om tirinya itu. Dirinya ditinggalkan bersama nenek tiri dan om tirinya yang baru saja sampai di Jakarta. Tidak ada yang berbicara. Sunyi. Padahal, beberapa menit lalu. Saat masih berkumpul dengan ibu Ina, mereka tampak lumayan akrab. . . . "Ina, kamu mau main sama Abang?" Akhirnya om tiri Ina angkat bicara, setelah beberapa menit berdiam-diaman. " Ah, em ... A-aku cuma punya boneka-bonekaan bang ..." Jawab Ina masih menunduk, sesekali melirik om tirinya. "Hehe boleh kok. Yuk main." Jawab om tirinya itu. Aduh gimana ya? Firasatku makin gaenak ... Main aja atau aku main sama temen aja ya? Ih bingung!!! "Ina?" Melihat om tirinya itu kembali bertanya, tentu membuat Ina segera mengambil tindakan. Mereka pun mulai bermain boneka-bonekaan. Yang menjadi awal dari Mala petaka nya. Beberapa menit masih normal-normal saja. Tidak ada yang aneh. Tetapi, setelah satu jam lebih. Om tiri Ina melakukan hal aneh. Berbie pria yang ia gunakan untuk bermain, malah ia gunakan untuk mengajarkan hal tak senonoh. "Halow, aku gavin! Kita 'main' yuk!" Om tiri Ina mengucapkan kalimat dengan nada cempreng. Mengarahkan tangan Berbie cowonya ke arah dua gundukan  Barbie wanita, yang Inara mainkan. Ina mengerinyit heran. "A-abang? Kok gitu?" Ina yang masih kecil tentu belum paham apa maksud om tirinya. Ia masih sangat polos. Karena usianya yang masih belia, 10 tahun. "Heheh gapapa ini normal." Om tiri Ina tersenyum. "Tapi kata mama, yang kayak gitu gak boleh bang." Jawab Ina polos. "Boleh kok, Ina mau coba? Heheh" tangan om tirinya mendadak mengelus paha Ina yang masih terbungkus celana legging hitam. "Em, em..." Ina tidak tahu harus menjawab apa. Dirinya ingin tahu juga, mengapa mamanya sangat tidak memperbolehkan hal itu? Tapi, ia takut juga kalau mamanya tau, itu akan membuat mamanya sangat murka. Dengan sigap, om tiri Ina perlahan mulai 'melakukan adegan tak senonoh' pada Ina. Tepatnya pelecehan. Ina dilecehkan. Tapi anak itu tak menyadari. Ada perasaan takut di dalam hati kecilnya. Ina ingin memberontak. Tapi tidak bisa, karena takut kalau om tirinya akan marah atau merespon hal yang ia takutkan. Jadi, Ina yang masih kecil itu diam saja tidak menolak. Tetapi sebenarnya tidak menyetujui hal itu juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN