"Apa kalian liat liat saya, hm?!" Tanya Bu Wmi sedikit menyentak, menatap keempatnya secara bergantian.
"b*****t ...!" Tanpa sadar, Leon mengucapkan perkataan yang seharusnya terucap di hatinya saja.
Karena suasana disitu cukup sunyi, jelas saja suara gumaman Leon terdengar jelas di telinga Bu Wmi.
"APA?!!!" Bu Wmi memekik cukup keras sembari menggebrak meja kerja.
Kenza dan Kenta yang sedari tadi menunduk, kini tersentak kaget atas gebrakan itu.
Suasana masih sunyi, tak ada yang berani berkata sekata pun, karena murid murid disini tahu betul bagaimana watak seorang Bu Wmi.
"Cepat bilang maaf." Nada itu terdengar dingin dan menyimpan berbagai amarah yang tesulut.
"Maaf," Leon berdecak. Menatap Bu Wmi seperti tatapan sedang menginterogasi.
Sebenarnya, siapa yang menjadi guru dan siapa yang menjadi murid, sih?
.
.
.
.
"Leon! kamu ini!-" omongannya terpotong dengan bel jam menandakan istirahat
Kringggg!!!! Kring!!!! Kringgg!!!!!
"Ah ... Em, silahkan balik ke kelas kalian masing-masing. Nanti saya buatkan surat peringatan yah," dalih Bu Wmi. Kembali Menyeruput tehnya.
Leon dan teman-temannya bergegas keluar. Bahkan sebelum Bu Wmi memberi perintah.
Begitulah Leon, terlalu semena-mena terhadap guru-guru disitu. Karena ia telah mengetahui rahasia besar yang bahkan tak seorang muridpun tahu mengenai rahasia tersebut.
Rahasia yang telah dikunci selama beberapa tahun silam.
Sementara itu
Bu Wmi tampak tenang kembali, membuka bekal makan siangnya.
________________________________________________
Kelas 10 IPS 1
Tampak Ina yang dipapah beberapa petugas PMR perlahan-lahan masuk ke dalam kelasnya.
Tak lupa berterimakasih pada petugas PMR, Ina merasa ini terlalu berlebihan untuknya.
"Saya bisa sendiri kak. Makasih yah ..." Ucap Ina sembari berjalan menghampiri Queen.
"Eh Ina. Udah baikan kamu?" Celetuk Queen sembari memapah Ina.
Dengan sigap, Ina menolak uluran bantuan Queen. "Ngga Queen. Gue bisa sendiri. Makasih."
Beberapa teman menghampiri Inara. Hanya sekedar kepo mengenai kondisi gadis cantik itu.
Menarik kursi, dan duduk. Menghembuskan nafas panjang. Melihat ke arah pintu kelas karena insting Ina mengatakan, Leon akan segera memasuki kelas itu.
Benar saja.
"Ina!" Pekik Leon. Dengan sigap matanya mencari-cari dimana keberadaan gadis yang ia panggil.
Ina yang melihat Leon pun segera menundukkan wajah. Karena ia merasa pipinya panas sekali. Melihat pria yang telah merebut pertahanan hatinya itu tepat berada di depannya sekarang.
"Ina Lo udah gapapa?" Nada bicaranya terdengar cemas. Memegang bahu cewek itu.
Tentu membuat Ina semakin ingin menenggelamkan wajahnya, karena pasti bahaya jika ia ketahuan menyukai berandalan di sekolah itu. Terlebih ia baru saja mendapat tugas menjadi seorang "wakil ketua kelas", jabatan yang ia inginkan sejak duduk di bangku sekolah dasar.
"Na, Ina. Lo masih sakit yah?" Tanya Queen sembari menggoyang-goyangkan badan Ina.
Tak ada jawaban.
"Leon. Kayaknya Ina gabisa diganggu deh sekarang. Gimana kalo besok besok aja bicaranya?" Queen terpaksa berkata seperti itu. Karena ia merasa harus menjaga kesehatan wakil ketua kelas.
"Hmmm, yaudah deh. Get well soon Inara. Byee ... Eh jagain ya cewe kacamata. Oke? Gua balik dulu dah," Leon bergegas pergi dengan cepat keluar dari kelas mereka.
"Ina. Udah gaada Leon." Beberapa kata dari mulut queen mampu membangunkan wajah Ina yang tenggelam.
"Hmh? Oh iyaa makasih queen." Ina tersenyum dan menguap agar queen percaya kalau barusan Ina tertidur pulas.
"Kamu suka Leon yah?" Tanya Queen tiba-tiba yang membuat pipi Ina menjadi merah merona lagi.
Ina salah tingkah. Itu terlihat jelas untuk Queen yang pintar mengamati gerak-gerik seseorang.
"Heheh ... pasti malu ya? Gapapa kok na. Suka sama cowo itu wajar di usia segini. Apalagi sama Leon." Tebak Queen, seolah dapat membaca pikiran Ina.
Ina belum menjawab.
Entah karena memang itu benar adanya. Tetapi ia tidak bisa begitu saja percaya pada Queen. Teman yang bahkan belum sehari ia mengenalnya.
"Lagian Leon kan ganteng, pinter banget meskipun dikenal berandalan, terus juga sifatnya humble dan ramah banget yakan? Heheh," jelas Queen
"Em? N-nggak kok. Siapa bilang? Biasa aja sih." Ina berusaha menutup rapat-rapat perasaannya. Ia akan sangat malu jika mengakui hal itu.
Mau ditaruh dimana harga dirinya sebagai wakil ketua kelas?
"Gue duluan ya." Queen menyudahi pembicaraan. Berlalu pergi keluar kelas.
Jam istirahat tersisa 15 menit lagi.
Ina merasa dirinya masih lemas. Tapi, ia baru saja melihat bayangan seseorang. Tingginya mungkin sekilas mirip dengan Leon? Batinnya berkata begitu.
Hm? Siapa ya?
Ohh mungkin cuma halusinasi gue aja ...
"Ina. Makan bareng gak?" Suaranya mirip persis seperti Leon. Tapi suara itu terdengar dari belakang.
Apakah benar, itu betul-betul Leon?
Atau hanya seseorang yang mirip dengan suaranya Leon?
Ina memilih untuk menoleh ke belakang agar tahu siapa sebenarnya yang mengajaknya berbicara.
Leon.
Betul, itu benar-benar Leon.
Bukan pria lain.
Sembari tersenyum tipis, menggeret kursi disamping Ina, menaruh dua kotak bekal di mejanya dan ina, Leon duduk sambil menopang dagunya.
Ina sedikit menganga melihat tingkah laku Leon. Dirinya tidak tahu harus kagum atau berekspresi apa.
Untung saja saat ini kondisi kelas sudah sepi.
Tidak ada orang selain mereka di kelas itu.
"Ina? Yuk makan bareng." Leon masih tersenyum tipis, membuka kotak bekal yang ada di meja Ina. Lalu membuka kotak bekal untuknya juga.
Tak ada jawaban dari Ina.
Ia hanya diam melihat perbuatan Leon.
"Oh mau gua suapin yah?" Menyendoki nasi dan beberapa potong lauk yang telah dimasak pembantunya, hendak menyuapi Ina.
"Gak. Makasih." Sebuah jawaban yang mungkin akan menyakiti hati. Karena diucapkan dengan nada ketus dan tak acuh khas Ina. Ina menjauhkan kepalanya perlahan-lahan dari suapan Leon.
Gue harus jual mahal sama dia.
Yes. Gua gaboleh nunjukin kalo gua suka sama dia!
" Loh? Makan dong. Lu mau sakit lagi hm? " Entah kenapa, Leon yang sekarang telihat lebih 'lembut' jika dibandingkan dengan dirinya beberapa jam lalu.
Kenapa mendadak perhatian gini, sih?
Aneh.
Aneh banget.
Jangan jangan Leon mau ninggalin gua pas lagi sayang-sayangnya ...!
"Gua mau tidur aja. Capek lemes," menyilangkan kedua tangannya di meja, menenggelamkan wajahnya.
Pura pura tidur. Itulah jalan ninja Inara saat ia akan terhantam ombak emosi baper yang menggejolak.
"Ah, yaudah. Ini bekelnya gua taro disini aja yaah. Jangan lupa dimakan yah, cantik. Miss u long time, bep," Leon bergegas keluar kelas.
Kringggg!!!!! Kringgg!!! Kring!!!
Pura pura tidur membuat Inara benar-benar ketiduran pulas. Hingga ia tak mendengar bel yang berdering sangat keras.
Ia menyadari tak ada yang membangunkannya. Tetapi, sepertinya ia sudah tertidur cukup lama.
"Eungh. Jam berapa, nih?" Ina menggeliat. Tetapi kondisi kelas ramai dan tampaknya sedang seperti free class?
"Queen. Ini free class ya?" Ina melirik sekitarnya. Lalu menatap Queen.
Tak ada jawaban. Itu karena Queen juga sedang sibuk menonton anime kesukaannya. Benar benar cewe wibu. Ia hanya mengangguk-angguk.
Merasa tak ada mood melakukan apa apa, terlebih lagi Ina lupa membawa novel-novel kesayangannya. Jadi, ia putuskan untuk membaca buku-buku sekolah. Sekaligus belajar.
Lagipula ia takut terkena masalah jika membawa novel-novel kesayangannya. Ia tidak sanggup jika novel-novel tersebut di dibakar atau di jauhkan dari dirinya.
Baginya, novel-novel itu seperti ia menemukan dunianya. Dunia yang tidak jahat dan penuh kedamaian.
______________________________________________
"Ina, lagi apa lu." Suara Leon kembali terdengar dari belakang perlahan mendekat.
Sebenarnya Leon lewat darimana?
Mengapa sedari tadi ia muncul dari belakang?
"Leon? Oh." Ina hanya ber oh saja setelah menoleh ke arah suara itu. Lalu kembali melanjutkan aktifitasnya yang tertunda.
"Wah belajar. Belajar bareng dong. Eh denger denger lu jago IPS ya?" Ucapan Leon terdengar seperti sksd sekali.
Ina hanya mengangguk-angguk. Takut fokusnya buyar lagi.
Leon tidak duduk. Ia berdiri di belakang Ina, sembari memperhatikan gerak gerik Ina.
Beberapa saat setelah itu, ia melangkah lebih maju dan tepat berada di depan Ina.
Leon berjongkok menghadap Ina. Menatap Ina. Tepatnya seluruh gerak gerik cewek cantik itu.
Sudah 2 jam berlalu, Ina masih fokus dengan bacaannya. Membuka lembar demi lembar halaman buku IPS. Mapel favoritnya.
POV Leon
Ternyata dia doyan baca ya?
Padahal gua disini udah 2 jam
Dianggurin aja kayak patung dah
Hmm ...
________________________________________________
Kring!!! Kring!!!!! Kring!!!!!
Terdengar bunyi bel berdering untuk ketiga kalinya.
Ina segera menutup buku bacaannya yaitu buku IPS. Menaruhnya ke dalam tas. Dan menggendong tas miliknya. Tak lupa berdoa dahulu. Di akhiri dengan. Aamiinn.
Sementara Leon masih di posisinya. Tidak bergerak sedikitpun.
Ina curiga, jangan jangan Leon ketiduran dengan posisi mata terbuka?
Ina mengerenyit. Ikut berjongkok. Dan menatap intens Leon.
"Leon, lu ga balik apa?" Ina menatap Leon lebih intens. Untuk mencari tahu sebenarnya ada apa dengan pria di hadapannya itu.
"Ina. Lu cantik, deh hari ini." Leon mendekatkan wajahnya hingga hanya hanya berjarak beberapa inchi saja.
Cup
Leon mencium dahi Ina.
Itu lolos membuat Ina diam membeku seketika. Dan tak lupa, pipi cewek cantik itu merah merona. Sangat merona tepatnya.
Juga detak jantung yang tiba-tiba tidak normal.
Berdebar-debar.
Leon setengah berlari. Padahal ia sudah sering melakukan hal itu dengan adik-adik asuhnya.
Mengapa pria itu rasanya sangat berdebar-debar ya?
________________________________________________
Sementara itu di kelas Leon
Kelas 10 IPS 1
"Leon, darimana saja kamu?" Tidak mendengarkan ucapan Miss Eka, guru bahasa Inggris di sekolah tersebut. Leon malah bergegas mengambil tas dan pulang. Padahal teman-temannya yang lain belum ada yang pulang. Mereka baru saja ingin berdoa dan bersiap-siap pulang.
Miss Eka mendengus. Berdecak berkali-kali. Raut wajahnya tampak pasrah.
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Kompak semua murid kelas 10 IPS 1.
Berbaris secara acak untuk menyalimi Miss Eka. Dan keluar dari kelas tersebut.
__________________________________________________
Di koridor kelas 10, tangga sebelah kanan.
"Ina mana ya? Ah gua ke TU dulu deh! Pasti di TU ada nomornya Ina kan? Heheh," Leon tersenyum nakal.
Apa lagi yang ia rencanakan, ya?
Cowok itu terus saja membuat pesonanya semakin semerbak. Terlebih khusus untuk Ina.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu, di luar gerbang sekolah.
Huh syukur deh.
Alhamdulillah ya, hari ini ga terlalu ruwet!
Heheh ...
Ina berjalan menyusuri komplek Ganbetz. Komplek yang jaraknya sudah lumayan dekat dengan rumahnya.
Sementara itu, di persimpangan jalan. Ada motor besar atau terbiasa di panggil "moge" di kalangan masyarakat, dikendarai secara ugal-ugalan.
Sepertinya si pengendara punya gangguan mental?
Atau mungkin mabuk?
Ina tidak menyangka ia akan mengalami hal ini. Hal yang mengubah segenap kebahagiaan yang ia ciptakan karena sudah berhasil sembuh dari trauma masa lalunya pada pria.
Siapa sangka motor itu menyerempet Ina.