Ck, Leon!

1577 Kata
Kringgg!!!!!! Kringgg!!!! Kringgg!!!!!!!!!!! Anak-anak kelas berhamburan keluar. Jam istirahat adalah jam yang ditunggu-tunggu anak-anak sekolah. Ada yang menunggu jam ini untuk bersenda gurau. Ada pula yang sudah sangat lapar, sehingga harus ke kantin. Dan ada pula yang tidur-tiduran saja di kelas. Dan juga ada yang menanti ini untuk belajar lagi. Tentunya itu adalah siswa-siswi ambisius, sekolah ini! Suasana diluar toilet, ricuh sekali. Ina masih berdiam diri di salah satu bilik toilet. Menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari tempat ini. Ah, gue keluarnya kapan ya? Sialan tuh si Leon! Kenapa sih! kenapa dia semakin ngacauin hidup gue? Ah …! Ina merancau sebal. Eh, tapi, tas gue dimana ya? Apa udah dikelas? Seinget gue …? Ah! Kok gue lupa sih! Yang gue inget, gue lari-larian dari rumah Bu Elna, terus tiba-tiba aja gue sama Leon udah di suatu tempat yang sepi tapi nyaman! Apa jangan jangan Leon udah ngasih gue obat pelupa sama obat tidur ya? Ah anjing!! Gimana sih! Masa iya, gue harus nanya ke Leon?! Gak! gak! Gue gak mau! Gue gak mau berurusan sama b******k itu!!! Tapi, samar-samar gue keinget pernah pas-pasan sama queen sih! Apa, iya? Bener gak sih?! Gue tanya queen aja deh! . . . Karena mengingat Leon, mendadak suasana hati Ina yang tadinya sudah perlahan-lahan membaik, kini memburuk lagi! Ina menyalakan tombol pembuangan air kecil, agar ia tidak ketahuan kalau ia hanya mengumpat disini. Lalu bergegas keluar dari toilet, berjalan ke arah kelasnya. Tidak seperti biasanya yang selalu ramah dan menyunggingkan senyum manisnya, kini Inara tampaknya memang sudah berubah menjadi gadis cuek dan dingin. Terlihat dari sorot matanya dan juga mimik wajahnya yang kurang mengenakkan. "Hai, Ina!" Pekik seseorang dari kejauhan, siapa lagi kalau bukan Queen. Cewek mungil bergaya ala wibu dibalut dengan jaket besar berwarna biru, itu menyunggingkan senyumnya. Menyapa Inara dengan antusiasme yang luar biasa. "Kenapa tuh, Queen?" Tanya Ina pura-pura tidak tahu. "Na, kamu abis dari mana sama Leon? Kok tas nya ditinggal begitu aja, sih?" Tanya Queen penasaran, gadis itu mengerinyitkan dahi, bibirnya sedikit cemberut, menatap Inara. "Oh? Iya? Aku lupa, heheheh." Kali ini Inara memang tidak tahu, tidak berpura-pura tidak tahu. "HAH?!" Tanya Queen shock, matanya membelak dan mulutnya sedikit menganga. Bagiamana bisa, Inara lupa?! Padahal, kejadian itu baru saja terjadi beberapa jam yang lalu! "Hm?" Tanya Inara memperlihatkan wajah polosnya. Mengangkat kedua alisnya. "Seriusan kamu lupa, nar?” tanya Queen lagi. Gadis mungil itu belum bisa mempercayai hal ini. "Iya kok?" Jawab Ina seadanya. Sekarang ini mimik wajah Inara seperti orang tidak bersalah. Queen berusaha memahami Inara. Yang Queen pikirkan adalah, Inara pasti berbohong kali ini. Karena mana mungkin gadis cantik itu bisa lupa? Apakah ia amnesia? Tidak, sepertinya kondisinya baik baik saja, kok. Queen menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar, "Nar, kali ini gapapa ya. Aku izinin kamu bolos. Tapi lain kali, jangan begini lagi. Aku ga terima toleransi walaupun kamu wakil ketua kelas." "Kamu tau kan. Aku menyandang keamanan kelas juga gak mudah. Jadi tolong jangan susahin aku ya." "Oh iya, tasmu udah ku taro ya. Tadi pas kamu pergi sama Leon, kamu jatohin tasmu." Sambung Queen lalu pergi kembali masuk ke kelasnya. Deg! Kenapa si Queen? Argh, jangan-jangan akting gue gagal ya? Ah iya sih, gue salah …. Ck, ini semua gara-gara Leon!!! Ina mengepal tangannya, menghembuskan napas secara kasar. Dan pergi menghampiri Queen. Kayaknya queen marah banget deh …! Aduh, aduh! Gimana nih? Gue harus apa? . . . . "Em, Queen. Maaf." Ucap Inara, menatap Queen. Sebaliknya, Queen tidak menatap Ina. Sepertinya ia benar benar tampak kecewa. Lagi-lagi Queen menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskan napas panjangnya. "Gak papa, nar. Udah ya. Oh tadi Bu Eric nyariin kamu. Tapi aku ngomong kamu lagi sakit perut di toilet." Jelas Queen. "O-oke. Makasih." Inara segera bergegas ke ruang guru. Masalah apalagi yang akan ia hadapi? Ini semua tidak akan terjadi, kalau Leon tidak mengajaknya ke ruangan rahasia itu! Tap tap tap Baru saja ia mau melangkah keluar kelas, Leon mencegahnya. Grep "Mau kemana? Sini dulu." Ucap Leon, sembari menarik Ina. Padahal, waktu istirahat hanya tersisa 10 menit lagi! Inara menghempas tangan Leon. Melepas genggaman mereka. "Heh! Lo budek ya?! Gue bilang apa?! Gausah. Deketin. Gue. Lagi!!" Pekik Ina. Lalu melanjutkan perjalanannya yang terhenti. "Ets, tunggu dulu. Ikut gua." Perintah Leon, kali ini ia menggenggam tangan Inara dengan sangat kuat. Cukup kasar. Mereka memasuki taman sekolah. Tepatnya berada di belakang sekolah. Disitu terlihat banyak sekali siswa dan siswi murid sekolah mereka. Tapi, tentunya ini tempat paling nyaman untuk pacaran. Gila ya? Ngapain b******k ini bawa gue kesini? Ck!! Leon melepas genggamannya. Dan memberi kode agar Inara duduk disampingnya. "Gak." Jawab Inara dingin dan datar. Kemudian berdecak, memutar malas kedua bola matanya. Dan menghembuskan napas secara kasar dan melangkah pergi. Baru saja beberapa langkah, ada sebuah tangan yang menarik lengannya, membuat gadis itu terhenti. Ck, Leon cukup!! Bangsat!!! Karena merasa sudah muak dengan permainan Leon, mau tidak mau Inara mengeluarkan jurus taekwondonya. Dengan cekatan, ia memasang kuda-kuda lalu melayangkan kaki kirinya. Kaki kebanggannnya saat melakukan tendangan ala Inara. Bugh!!! Inara menendang pinggang pria yang membuatnya tehenti, tanpa melihat siapa pria tersebut. "Ah …!" Rintih pria tersebut, terpental ke arah kursi taman sebelah kanan, otomatis membuat suasana yang tadinya hangat menjadi ricuh. Kedua mata cantik Inara membelak! Hah? Anjing! Gimana bisa itu bukan Leon?! Dengan cekatan, mata Ina mencari-cari dimana sosok Leon. Ck! Kurang ajar Leon!! Ternyata masih di bangku tadi, dan tersenyum tipis menatap Inara yang dilanda kepanikan. Salah satu tangannya di buat menopang sisi kepalanya. Pria itu terlihat sangat santai menikmati pertunjukan di depannya. Inara dengan emosi menghampiri Leon. Menendang kaki Leon. "LO! ARGH! GILA!!!!!-" pekik Inara. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya yang meledak-ledak sekarang. "Anu, mba. Temen saya boleh tolong dibawa ke UKS gak?" Tanya seorang cewek cantik, tiba-tiba saja menyurutkan emosi Ina. "Ah, hahah, maafin saya ya, kak." Ucap Inara malu-malu. Sembari tersenyum tipis. Tentu saja, Inara sangat malu dan merasa bersalah! Apalagi, sekarang ini posisinya ia di tonton oleh banyak siswa dan siswi SMA nya! Inara segera membantu pria yang ia tendang tadi, "Maaf ya kak, aku gak sengaja. Ku kira temenku, hehehe." Pinta Ina, agar si cowok bisa memaafkan dan tidak memperpanjang hal ini. "Shhh … em, sejam gapake kondom, berapa cantik?" Bisik cowok yang belum Ina ketahui namanya. Duh, mau taruh dimana muka gueee? Hiks …. Jangan di liatin dong …! Deg! "Oh, lo mau gue bikin masuk rumah sakit atau kuburan?!" Bisik Inara, menatap pria itu dengan tatapan tajam dan menusuk. "Eh, haha gue bercanda." Sekarang ini, si cowok terlihat takut dan ciut. Sesampainya di UKS, Inara segera membantu si cowok berbaring. Dan segera memanggil dokter sekolahnya. Sekarang masalahnya sudah beres, tapi, pandangan murid-murid di sekolah itu jadi berubah drastis. Tatapan mereka seolah-oleh berbicara kalau Inara adalah penjahat yang kabur dari penjara. Atau, tatapan yang mengatakan kalau Inara selama ini hanya menggunakan topeng ramah dan baik untuk menutupi sifat jeleknya. Sungguh memalukan! Seperti tidak memakai busana saja! Tatapan orang orang sangat menakutkan bagi Ina. Gadis itu menunduk malu, dan segera bergegas masuk ke dalam kelasnya. Hah? Kenapa nih? Ko pada natap kek gitu, sih?! Ah … gosipnya pasti udah kesebar ya? Haha gapapa nar. Emang Lo kayaknya gak bakal bisa jadi orang ramah lagi. Yaudah deh gapapa. Seterah mereka aja. Inara menunduk. Ia tak sanggup menatap mata-mata teman-temannya. Mata-mata penuh kebencian, dan caci maki tersirat di dalamnya. "Nar, kamu gapapa?" Tiba-tiba saja, Queen berdiri di tempat duduk Inara. "Lo … Lo …" Inara bingung mau menjelaskan Seperti apa. "Kita kan rekan. Kamu sama aku harus konsisten terus sama-sama dong. Kalau ada apa-apa ceritain aja ya." Jelas Queen, mengusap-usap punggung Inara. Queen merasa, ia tidak boleh terlalu percaya pada gosip murahan yang belum diketahui kejelasan dan kebenarannya. Ia harus melihat dengan mata kepalanya, baru dapat menyimpulkan apakah betul Inara sejahat itu(?) Pasti berat ya nar? Sabar ya … Inara tidak menjawab. Ia merasa bahwa hari kedua semakin membuatnya berperasaan buruk. Terlebih lagi, Leon yang kerap menganggunya. Memikirkan pria itu saja membuat Inara semakin badmood! "Queen, gue izin tidur bentar ya? 2 menit." Celetuk Inara, sembari merentangkan kedua tangannya, dan melipatnya lalu menundukkan kepalanya, tidur. Queen mengangguk, dan kembali ke tempat duduknya. Suasana hatinya ikut badmood, jadi gadis wibu itu mengambil handphonenya dan menyetel film anime kesukaannya. Tak lupa dengan cemilan ringannya. Kringg!!!! Kring!!!!!! Kring!!!!!!! Anak-anak kembali masuk ke dalam kelas masing-masing. Terutama kelas 10. Mereka pasti sudah tau rumor kalau Bu Eric adalah guru killer di sekolah ini. "Masuk bro masuk! Ntar ada Bu Eric!" Pekik salah seorang dari murid kelas sebelah Ina. Namanya Jordi, pria itu adalah keamanan di kelasnya Leon. "Leon! Cepetan! Ngapain disitu, Jing!" Jordi mengintruksikan Leon yang berjalan lesu. Pria itu sedang memikirkan tingkah Ina pagi ini. Dingin, ramah, lalu dingin lagi. Sebenarnya ada apa dengan Inara? Leon berjalan pelan sekali bak keong. Jordi yang melihat itu, tentunya sangat kesal. Padahal Leon adalah sekretaris di kelas tersebut. Yang seharusnya lebih disiplin dan terlihat baik di mata guru-guru. Mimik wajahnya terlihat sangat bete dan sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Seperti bukan Leon saja. Duh, ina …. Inaku kenapa sih? Ah, apa gua surprisein aja ya? Tapi, si Ina suka apa? Ck, nanya siapa coba? Haaaahhh …. Leon mengucek wajahnya, merancau frustasi. "Sikap gua emang nyebelin banget, sih …" gumam Leon yang ternyata terdengar oleh Jordi, karena ia sudah berada dekat ambang pintu kelas. "Lo kenapa? Mau curhat?" Tawar Jordi. "Nanti tapi, pas pulang sekolah. Tapi, minta contekan ya." Jordi terkekeh geli, kemudian mengulas senyum khasnya, dua sempipit bolong yang membuat pria itu semakin manis!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN