Sakit hiks

1600 Kata
" Leon, bro? Jadi?" Tanya seseorang dari belakang. "Kemarin Lo pulang duluan si." Jordi memukul pelan bahu Leon. Pagi ini, Leon tampak seperti orang yang kurang sehat. Dari tadi, mimik wajahnya terlihat kusut dan tidak bersemangat. Ada apa? "Jawab woy, ngapa lu?" Lagi-lagi Jordi memukul bahu Leon, kali ini sedikit lebih keras. Leon tidak juga menjawab, ia merasa tidak perlu menjawab celotehan Jordi, karena ia rasa Jordi hanya ingin tahu, bukannya benar-benar perduli pada masalahnya. "Ck, diem jor." Ketus Leon. Melihat Leon bertingkah kurang baik, Jordi segera pergi meninggalkannya. Mungkin saja pria itu tidak ingin di ganggu saat ini. Leon menghembuskan napasnya dengan kasar, berjalan dengan santai. Biasanya, di pagi hari, aktivitas Leon adalah menjaili anak-anak perempuan sekolah itu. Siapa saja, random. Tak heran kalau ia terkenal sebagai badboy di sekolah itu. Setiap berangkat sekolah, Leon selalu memakai pakaian seadanya, bajunya di keluarkan dari celananya, dan juga dasinya yang kurang rapi. Ditambah dengan kelakuan brutalnya. Sekolah tetap mempertahankannya, karena Leon adalah salah satu pendonasi penting di sekolah itu. Dan juga, nilai-nilainya yang selalu bagus. Padahal ia sangat sering bolos. Entah bagaimana cara belajar seorang Leonara Abran. Yang pasti, ketika disuruh menjelaskan, ia selalu bisa. Tentu saja, itu membuat semua guru terbungkam bisu, sekaligus lumayan kagum dan menyayangi mengapa ia tidak menjadi murid normal yang baik saja. Pada saat tes Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, Leon memang sudah tercacat sebagai murid pintar tetapi lagaknya memang kurang menyenangkan. Padahal baru masuk sehari, tapi guru-guru sudah yakin, ia adalah calon bibit murid berandalan di sekolah itu. . . . . . . . . Leon menunduk, memonyongkan bibirnya, menandakan suasana hatinya memang kurang baik. Siswi-siswi yang melihat Leon yang tidak Seperti biasanya, agak lega. Karena Leon adalah sumber ke badmood an mereka. "Eh, kenapa tuh si Leon? Tumben amat diem-dieman." Celetuk seorang siswi yang sedang berjalan bergerombol ramai. "Gak tau, yang pasti sih, sumber masalah di pagi hari yang cerah ini, lagi ga mood bikin masalah kayaknya." Celetuk siswi yang memakan es krim. Mereka semua terkekeh geli, melirik Leon yang berjalan di sisi kanan mereka. "Yah bagus lah. Doain aja, dia tobat. Kalo dia tobat kan, kita juga yang seneng? Gak repot-repot ngebatin kalo dengerin Bu Eric marah-marah atau ngejar-ngejar Leon." Celetuk seorang pria, tampilannya sangat goodboy, ia tersenyum ringan. Tampilannya tidak cupu, tapi berkharisma. Kemudian melanjutkan perjalanannya. Para siswi kembali terkekeh-kekeh. Saling membagi cemilan pagi hari satu sama lain. Tiba-tiba saja, ada seseorang dengan ciri khas jalan yang Leon kenal. Seorang wanita cantik, dengan seragam rapi, melenggangkan kakinya dengan santai, menatap ke depan. Lurus. Ina! Woah! Eh, tapi kayaknya dia masih marah deh sama masalah kemaren? Ah gua sih! Anjim kenapa si gua kek gitu segala! Halah jancuk jancuk! Leon membatin, mengumpat dirinya sendiri. Leon berpikir keras, apakah dirinya harus mendekatkan diri pada Inara lagi, atau tidak? Setelah berpikir selama kurang lebih satu menit, Leon memantapkan hati untuk tetap mengejar hati seorang Inara. "Hai nar." Sapa Leon, mengulas senyum ringan. Murid siswi-siswi tadi seketika menonton dengan serius, aksi Leon yang sedang mendekati seorang Inara. Wakil ketua kelas di kelasnya, tapi kini sudah tersebar rumor aneh dan anehnya semua orang percaya akan rumor itu. Kecuali Leon. Pria itu menganggap itu hanya candaan dan berita murahan tersebut akan tenggelam seiring berjalannya waktu. Inara meneteskan air mata, walaupun tatapan matanya tajam dan dingin. Mimik wajahnya terlihat jutek sekali. "Naar ... Maaf …" gumam Leon, ia merasa ia perlu minta maaf terlebih dahulu agar hubungannya dengan Inara bisa berjalan mulus kedepannya. Lagi-lagi Inara tidak menjawab. Ia hanya mempercepat langkahnya. Tidak sekalipun menganggap Leon berada di sampingnya. Leon mendengus kesal. Yah dicuekin … Ah, gimana ya? Gimana caranya supaya Inara maafin gua? Gua harus apa? Ck! "Ah, gua kasih coklat aja kali ya? Cewe kan kalau badmood tuh biasanya obat penenangnya coklat." Gumam Leon, kini arah kakinya berubah kendali, berbelok ke arah kantin sekolah. Sesampainya di kantin sekolah, ia bertemu segerombolan siswi cantik, kakak kelasnya. Mereka dan Leon saling mengenal, waktu Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Mereka tertawa cekikikan, melirik Leon malu malu. Biasanya, Leon menggombali mereka. Tapi, kini Leon hanya terfokus pada tujuannya, yaitu membeli beberapa coklat untuk Inara. Cewe yang ia taksir. Leon menunduk, segera melenggangkan kaki keluar kantin. "Tunggu! Leon!" Pekik salah seorang dari Kakak kelas tersebut. Leon berbalik, tapi tidak menghampiri mereka. "Lo kok aneh? Gak gombalin sih? Ahhh, biasanya Lo gombalin kita, loooohhh." Tanya salah seorang kakak kelas berambut sebahu, bajunya sangat ketat, sehingga bentuk tubuhnya sangat terlihat. "Gapapa kak. Duluan ya gua." Leon pergi meninggalkan mereka. Tentu saja, para kakak kelas itu cemberut, menaruh harapan kecewa, karena jujur saja, siapa sih wanita yang tidak suka di gombalin cowok kayak Leon, ganteng, pinter, konglomerat, dan juga sifatnya yang bebas itu. Sangat membuat orang orang nyaman padanya. . . . . . . . . . "Si Leon ganteng udah ada pacar kali ya?" Celetuk kakak kelas berambut sebahu tadi. "Ah gak lah. Badboy kayak gitu ya gak mungkin naksir cewe beneran sih kata gua." Celetuk temannya kakak kelas. Sembari memainkan rambutnya. Bergaya sok imut. "Nanti juga balik lagi tu anak. Percaya gak Ama gua, lu pada?" Kakak kelas berambut Bondol kali ini angkat bicara. "Okelah. Kalau Lo yang ngomong. Kita percaya!" Jawab kakak kelas berambut sebahu. . . . . . . . "Bro, di kelas lu ada Inara ga?" Tanya Leon pada salah satu murid kelas itu, yang sekarang sudah berada di ambang pintu kelas Inara. Pria itu tak berani masuk, karena Queen selalu memarahi anak kelas luar yang masuk tanpa izin kepadanya. Leon masih belum menaruh tas nya, ia pikir akan lebih baik kalau mempercepat permintaan maaf, itu akan jauh lebih baik untuknya. "Ah, gak tau, mau gua panggilan Queen aja?" Jawab Murid tersebut. Leon mengangguk, "cepetan yak. Thanks bro." Ucap Leon menepuk bahu pria tersebut. "Heh, ada apaan?" Tanya Queen jutek. Ia sangat tidak suka Leon. Murid yang terkenal karena Suka bikin onar di sekolah ini. Padahal, ia masih menyandang status murid baru disini. Sama seperti dirinya. "Gua ada perlu sama Inara." Ujar Leon, sembari menunjukkan coklat yang ia genggam. "Oh, coklat? Sini gua aja yang kasihin." Queen baru saja akan merebut cokelat-cokelat yang ada di tangan Leon, tetapi Leon segera menjauhkannya. "Ah, gak. Lo tukang makan, kan? Ntar kalo ga nyampe ke Inara gimana cuk?" Leon khawatir, karena Queen tampak acuh tak acuh padanya. "Ck yaudah. Gaboleh masuk. Bentar lagi ini mau masuk kan! Udah sana!" Ucap Queen dengan gaya sok mengusir Leon bak kucing saja. Lalu menutup rapat pintu kelasnya. Ah! Sumpah dah, keamanan kelas mereka ngeselin banget anjir! Anjinglah! Haaaaah …! Yaudahlah ntar aja pas istirahat! Akhirnya Leon beranjak dari depan kelas Inara, lalu masuk ke kelasnya. Sebentar lagi jam pertama akan di mulai. . . . . . . . . . Kringgggg!!!!! Kringggg!!!!! Kringggg!!!!!! Baru saja, gadis itu merentangkan tangan, ingin tidur sebentar, merehatkan pikirannya, karena ia sudah lumayan letih. Pagi ini, moodnya tidak baik. Sama seperti hari-hari kemarin. "Nar, Lo mau ke kantin bareng kita, gak?" Tanya geng populer di kelas tersebut. Hah? Geng populer di kelas ini ngajak gue? Gak salah tuh? Ah, pasti kayak kemarin deh. Cuma mau di mainin kan? "Em, nggak. Makasih." Jawab Inara, mengulas senyum ringan, lalu merebahkan kepalanya. "Dih, gatau diri banget sih!" Celetuk salah seorang dari geng populer tersebut. Lalu mereka pergi melenggangkan kaki keluar kelas, menuju kantin. Queen sedang menonton anime. Tidak melihat penindasan itu. Penindasan yang bisa dibilang tidak terlihat. Tapi, kalau Queen melihatnya, pasti ia akan segera menindaklanjuti hal tersebut. Sementara itu, Leon yang sedari tadi ingin memberikan cokelat-cokelat untuk Ina, kini  terhenti untuk masuk ke kelas itu. Ya. Dia melihat wanita yang ia sukai, sedang menangis sesenggukan, terlebih lagi, menyebut-nyebut namanya. Hal itu cukup membuat Leon mundur untuk sekarang. Ia berpikir, ia tidak boleh menganggu Inara, mungkin nanti saat pulang sekolah, baru akan ia coba lagi. . . . . Tes ... Air mata Inara menetes, satu, dua, terus menerus. Semakin banyak. Dahinya mengernyit, matanya tertutup rapat, napasnya tidak beraturan cukup menjelaskan kalau situasi hatinya sedang tidak bagus. Ada yang memberontak di alam bawah sadarnya. Hiks … "Kenapa, kenapa gak Leon, gak cowok b******k itu, kenapa kenapa semua orang jahatin gue? Salah gue apa …!" Inara bergumam, dirinya sudah tertidur pulas saat geng populer keluar dari kelas. Inara terus saja meneteskan air mata. Isak tangisnya terdengar tertahan, menangis sesenggukan. Kejadian-kejadian kemarin membuatnya cukup mengalami trauma mendalam. Sakit, sangat sakit. Dadanya sangat sesak. Seperti tertusuk sesuatu yang tajam, benda itu semakin dalam. Mengoyak-oyak hatinya. Hiks …. . . . . Kringggg!!!!! Kringggg!!!!!! Kringgg!!!!! Inara tersentak kaget, matanya memerah akibat tangisan tiba-tiba akibat alam bawah sadarnya yang berontak. Dan juga, gadis cantik itu baru saja tertidur 10 menit. Pantas saja matanya merah. Semua murid bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing. Tapi, Inara memilih untuk keluar dari kelas, bergegas menuju toilet. Ia menutup pintu toilet dengan cekatan, ia sadar kalau suasana hatinya sangat kacau, jadi ia akan menuntaskan kepedihan ini. Kepedihan yang tidak boleh seorangpun mengetahuinya. Perlahan-lahan tapi pasti, dengkulnya mulai lemah dan membuat ia sampai di posisi berjongkok. Dahinya mengernyit, nanar matanya terlihat rapuh dan ada luka dalam di sorot matanya, bibirnya gemetaran, Isak tangisnya tertahan di tenggorokannya. Keringat mulai bercucuran di dahinya, diiringi dengan air mata yang sebentar lagi akan tumpah mendarat mulus di pipi cantik wanita itu. Inara menggigit jari ibu jari tangan kanannya, suhu badannya berubah jadi dingin. Jantunga berdetak sangat kencang. Ia menangis sesenggukan. Hiks … Hiks … Ken .. hiks … Kenapa … hiks …. Hidup gu, hiks …. Gue, berat banget … hiks … Hiks … Apa gue, hiks …. Hiks …. Gak berhak, hiks …. Hiks … hiks ….. Bahagia ….? Hiks … hiks … hiks …. Hiks ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN