"Bro, cepetan. Abis ini mata pelajaran Bu Eric woy!" Pekik salah seorang siswa berkacamata di toilet pria. Inara tidak mendengarnya. Karena wanita itu sibuk mengurusi hatinya yang kacau nan rapuh.
Cklek
"Jir bacot lo." Ucap Siswa yang keluar dari dalam toilet, membetulkan posisi celananya.
Perlahan-lahan tapi pasti, terdengar suara orang menangis, sesenggukan. Sepertinya itu suara wanita.
Toilet wanita dan pria itu hanya dibatasi dinding.
"Eh bro, Lo denger suara cewek nangis gak?" Ucap pria yang membetulkan celana tadi. Gerak geriknya seperti mendengar dengan lebih serius.
"Hah? Emang iya?" Tanya cowok yang memakai kacamata.
"Coba denger, deh …" gumam pria tersebut. Mimik wajah mereka tampak serius.
.
.
.
"Eh iya bro. Siapa yak?"
Pria berkacama mulai melangkah keluar dari toilet pria, diikuti temannya.
"Bro Lo mau ngapain?" Tanya temannya.
"Masuk gak? Toilet cewek … hm …" ia mengelus-elus dagunya, mode berpikir.
"Gas aja." Ucap seseorang dari belakang.
Siapa lagi kalau bukan Leonara Abran. Tampilannya badboy, dan juga baju yang berantakan lecek.
"Ck, kalo mau ngerasain pukulan mastah Leon." Leon menatap tajam, kedua murid tersebut.
Dengan sigap, mereka segera pergi dari tempat itu, dan segera masuk ke dalam kelasnya.
Siapa yang berani melawan Leon?
Seorang pria yang sudah pernah menang lomba MMA.
Leon tersenyum miring. Tanpa berpikir panjang, kaki pria itu melenggang santai ke dalam toilet wanita.
"Hai? Cewek? Ada di dalam, kah?" Tanya Leon sembari mencuci tangannya menggunakan sabun cuci tangan.
"Ah, iya. Siapa ya?" Tanya Inara, menahan sesenggukan dan segera menyeka air matanya.
Berusaha memperbaiki suasana mood hatinya. Mencoba tersenyum, sembari ingin melihat, siapa pria yang berani masuk ke dalam toilet wanita.
Apa keran toilet pria rusak?
Atau apa?
"Cantik, lama banget sih." Suaranya terdengar familiar. Sangat familiar.
Siapa ya?
Leo ...n?!
Hah! Apaan sih!
Nggak!!
Pasti bukan dia!
Ngga bukan dia!!!
Inara berdiri, mencoba merapikan pakaiannya, dan mencoba berusaha untuk tersenyum. Mengerjap-erjapkan matanya beberapa kali, agar matanya terlihat lebih segar. Ia berharap tidak ada yang mengetahui kalau dirinya habis menangis sesenggukan di dalam toilet.
.
.
.
Cklek
"Kamu, siapa?" Suara Inara terdengar parau. Badannya sedikit membungkuk, mimik wajahnya terlihat lesu, warna bibirnya pucat, dan nanar matanya sangat lemah.
Seperti orang yang akan pingsan saja.
Brak!!
Inara terkapar lemas di lantai toilet.
Entah karena apa.
.
.
.
Benar saja, Inara terjatuh pingsan. Tepatnya pada saat Leon belum selesai mencuci tangannya.
Leon tersentak, segera berbalik badan. Dan dengan sigap menggendong Inara ke arah UKS.
Leon tampak sangat cemas, dadanya megap-megapan. Ia takut kalau Inara mengalami sesuatu yang kurang baik.
Nar, nar, bertahan ya?!
nar, Lo kenapa …?
Leon sedikit berlari, karena memang takut Inara tidak tertolong.
Leon segera membuka pintu UKS, tapi ternyata terkunci.
Ah!
Shit!
"BUKA!!!" Leon memekik dengan kuat, sampai-sampai urat lehernya terlihat.
Ah anjing!
Gimana nih!?!!
Leon memutar keras otaknya. Ia berpikir harus mengambil tindakan apa yang tepat pada situasi ini.
"Nar, nar, sabar ya. Lo, Lo bisa tahan kan?" Leon tak bisa berhenti berceloteh.
Mau tidak mau, Leon segera bergegas ke arah ruang guru. Mungkin saja, Dokter UKS ada disana.
"Leon?" Tanya Inara, padahal sebentar lagi mereka akan sampai ke ruang guru. Melewati kelas-kelas jurusan lain.
"Ah! Nar! Lo gak papa?? Lo belom makan yah?! Kok pucet banget sih?!" Tanya Leon panik. Saking paniknya, pria itu tidak bisa bertanya pelan-pelan.
Benar-benar khawatir, sampai-sampai tangan dan kakinya gemetar.
Pertanda apa ini?
Apakah Inara memang sebegitu pentingnya bagi pria ini?
Pria yang suka memainkan hati wanita.
Pria yang selalu berhasil membuat baper para wanita yang ia temui.
.
.
.
.
"Leon …." Lirih Inara, kemudian benar-benar pingsan. Tapi, kali ini, Leon tidak merasakan pergerakan di tubuh Ina.
Perasaan Leon berkata kalau Inara mati suri.
Apakah iya begitu?
Coba, gua cek nadinya kali ya?
Kok perasaan pas dia bangun bentaran, kayaknya dia ngembusin napasnya kasar banget dah?
Leon segera memegang pergelangan tangan Ina. Mencoba mencari-cari sela-sela urat nadi wanita yang ia cintai.
Apa?
Seorang leonara?
Jatuh cinta?
Mustahil!
.
.
.
.
.
Deg!!
Ini udah bener kan?
Gua nyari di tempat yang bener kan?
Kok?
Kok?!! Gak ada anjing!
Jancuk!
Halah …!
Gimana nih!!?
Hiks …
Seorang leonara?
Menangis?
Sangat tidak mungkin!
Hiks …
Na, Lo kemana woy?
Lo mau ninggalin gue sebelum kita nikah?
Hiks …
Apa?
Seorang leonara akan menikahi gadis dingin seperti Inara?
Apakah Leon sudah taubat?
Atau, dirinya hanya terbawa perasaan saat "main-main" dengan Ina?
Hiks …
Kenapa gue nangis anjir!
Halah jancuk!
Oalah cuk, cuk!
Hiks …
"Nar, bertahan yah," Celetuk Leon.
Leon segera bergegas ke ruang guru. Terengah-engah menggendong Inara. Walaupun berat, tapi ia tetap berusaha untuk terus bisa menolong gadis itu.
Gadis yang ia cintai.
"Selamat Siang Bu, pak. Saya kesini-" omongan Leon segera terpotong oleh antuasias guru piket yang melihat kondisi Inara.
"Masyaallah!! Ini kan, si mbak-mbak yang daftar jalur beasiswa!" Guru piket berhijab merah itu kaget seketika, dan mempersilakan Leon masuk dan duduk di sofa ruang tunggu.
Leon tidak duduk. Walaupun kakinya terasa sangat keram karena telah menggendong Inara sejak tadi.
Ia merebahkan Inara di atas sofa tersebut.
Kondisinya memang terlihat buruk.
Membuat seorang Leon sangat khawatir saja.
Ibu penjaga piket dengan cekatan mengambil lembaran kertas tak lupa dengan pulpen hitam.
Menulis sesuatu di dalam kertas tersebut.
"Nak, kamu pacarnya kah? Biar saya tulis dulu disini data orang sakit." Celetuk ibu penjaga piket.
"Iya Bu." Ucap Leon berbohong. Karena, peraturan di sekolah ini, hanya orang-orang penting saja yang boleh mendampingi orang sakit. Menyandang status hanya sebagai seorang teman bukanlah hal yang bagus.
"Benar begitu?" Tanya Ibu penjaga piket, merendahkan kacamatanya, berlagak seperti orang yang serba tahu.
"Em, yes." Jawab Leon, mantap. Menatap mata ibu penjaga piket ruang guru.
Dengan cekatan, ibu penjaga piket segera mengutak-atik telpon seluler sekolah, tampak seperti sedang menelepon seseorang.
Saat panggilannya terjawab, ia buru buru pergi ke luar ruangan tersebut.
Seperti merahasiakan sesuatu.
"Pak, segera kesini ya."
Setelah menunggu beberapa saat, Akhirnya datang seorang dokter sekolah.
Masih muda, mungkin saja baru berusia sekitar 25 tahun.
"Siapa yang sakit?" Ucap Dokter sembari menaruh tasnya, duduk di salah satu sisi sofa.
"Halah, siapa lagi? Mata lu buta-" celetuk Leon, menatap mata sang dokter.
"Hahaha. Saya bercanda." Dokter tersebut menepuk ringan bahu Leon.
"Dih! Cepetan! Awas sampe Inara kenapa kenapa-" ancam Leon, lagi lagi terpotong oleh gebrakan meja dari ibu penjaga piket.
"Leon, silakan kembali ke kelas." Ucapannya terdengar datar.
"Ck." Leon menatap tajam ke arah ibu penjaga piket.
Bagaimana bisa pria itu tidak khawatir dengan kondisi Inara yang belum membaik?
Terlebih, dokter panggilan itu terlihat seperti dokter main-main!
"Ada apa, Leonara Abran?" Kali ini ibu penjaga piket menatap mata Leon, tatapannya terlihat begitu menusuk. Mengisyaratkan Leon untuk tidak membantah perintahnya yang tadi.
"CIH. Oke." Leon benar-benar pergi kali ini. Karena ia berfikir tidak ada gunanya berdebat dengan orang tua.
Terlebih ia belum mengerjakan tugas bahasa Indonesia pagi ini.
Walaupun ia terkenal badboy, tapi Leon tetap harus mendapatkan peringkat tinggi di kelasnya.
Karena tentu itu merupakan hal lumrah yang di haruskan jika anda adalah keturunan keluarga kaya raya terpandang.
Leon berjalan menyusuri lorong kelas. Sekitar satu jam lagi, sekolah akan usai. Tapi, Inara masih dalam masalahnya.
Duh …
Otak gua kagak bisa berhenti mikirin dia …
Padahal mah, kagak cakep cakep amat sih tu cewe
Ah, s**t!
Leon merancau frustasi.
.
.
Setibanya di kelas
"Bro, lu udah ngerjain bahasa Indonesia?" Tanya seorang teman yang tidak begitu ia kenal dekat.
"Dah." Jawab singkat Leon. Meskipun ia baru masuk ke kelasnya, dengan otak jeniusnya, Leon mampu mengerjakan tugas tersebut dengan sangat cepat. Itulah keunikan pria itu.
"Yah liat dong." Ucap cowok yang tadi. Separuh memohon. Ia tahu, kalau menyontek pada Leon, nilainya pasti di atas 85, karena Leon memang sang jenius.
"Gak." Balas Leon, kemudian menutup bukunya, menindihkan pada tangannya yang terlipat, lalu merebahkan kepalanya.
Cowok tadi mendengus kesal. Sebenarnya ia ingin marah, tapi tindakannya pun tidak sekalipun terlihat benar dari segi manapun. Menyontek itu bukanlah hal yang baik.
Ina sekarang lagi apa, ya?
Ina udah sembuh belom?
Apa gua beliin Ina makanan aja ya?
Tapi, apa? Makanan apa?
Kalo orang sakit sih, biasanya makan bubur …
Tapi, Ina emang suka bubur?
Hmm, temen Deketnya.
Tapi, Ina kan kagak punya temen Deket …
Leon mendengus kecil, mimik wajahnya lesu. Sebenarnya ia belum makan apa-apa dari tadi siang sejak istirahat bersama Ina.
Bibirnya sedikit pucat. Menampilkan tampilan badboy yang agak lesu dan tidak bersemangat untuk menggodai anak perempuan di sekolah tersebut.
Sementara itu, Inara sudah di pindahkan ke ruang UKS.
Lagi, lagi, ia balik lagi ke ruangan tersebut.
Entah kenapa, Ina merasa bersalah karena telah banyak membebani orang di sekitarnya.
Sekarang ini ia telah sadar, namun belum pulih.
Dokter bilang, lambung Ina tidak baik baik saja, melainkan harus di tanggapi dengan serius.
Ina yang suka mengabaikan jam makan siang, apalagi saat sarapan pagi hari. Yang mampu membuat asam lambung Ina semakin naik. Kini sudah lebih parah dari orang sakit asam lambung umumnya.
Dokter panggilan juga menyuruh Ina untuk pergi ke rumah sakit besar. Agar di tindaklanjuti.
"Ini saya buatkan obat selama 2 hari." Ucap sang dokter sembari menyodorkan beberapa obat yang telah terbungkus rapi.
Ina mengangguk lemah, bibirnya tampak pucat dan kering.
"Makasih." Jawab Ina, tangannya meraih obat tersebut, dan menaruhnya di samping meja tempat tidur.
"Oke. Saya pamit ya. Lekas sembuh Ina." Dokter mengambil tasnya, lalu pergi keluar ruangan UKS, berpamitan pada ibu penjaga piket tadi.
Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, itu terlihat seperti pamitan sekilas. Ina tidak begitu ingin memperdulikannya.
Ina mendengus pelan, nanar matanya rapuh. Lalu memejamkan mata. Gadis itu ingin kembali tidur. Agar pusing di kepalanya agak sedikit berkurang.
Udahlah na. Lupain.
Sekarang Lo harus bisa atasi semuanya sendiri.
Lo udah bukan cewek yang ceria lagi.
Semua orang udah benci Lo.
Jadi, Lo harus jadi pendiem, oke?
Haaaahh ...