"Nar, sebenarnya lo kenapa?" Tanya Leon, menghampiri Ina.
Ina yang masih berjalan dengan lesu, melirik Leon dengan lemas.
Ina tidak menjawab, ia hanya menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Naaar?" Tanya Leon, kali ini pria itu lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Ina.
Hingga hanya berjarak 7 cm!
Lantas Ina terbelak, sembari menatap kedua mata Leon yang memelas.
Apaan sih! Gila ya?!
"Apa." Ucap datar Ina, lalu pergi meninggalkan Leon.
Melihat hal itu, tentu Leon tidak akan diam. Ia akan terus memepet pada wanita yang sudah menjadi targetnya.
Sampai si wanita terpikat dan tergila-gila padanya. Lalu, habis itu ia tinggalkan begitu saja. Karena baginya, siklus bermain pada wanita, yaitu mendekati, mengbaperi, lalu meninggalkan alias ghosting.
Dan mencari wanita baru.
Itulah Leon. Begitulah seorang Leonara.
"Nar,,, ih tungguin gua!" Leon berdecak sebal, menggerutu tetapi ia tak akan pernah lelah dalam mendekati wanita.
Baginya, Wanita adalah mainan yang paling seru di dunia ini.
"Nar …" lirih Leon. Ia sedikit ngos-ngosan karena Inara memang berjalan sangat cepat. Seperti orang berlari.
Eh anjing anak ini!
Goblok ngeselin!
Kali ini gua pastiin ga salah sasaran!
Ina segera mengancang-ancang kuda kudanya, lalu dengan cepat menendang pipi Leon dengan jurus Balchagi-nya.
Tentunya dengan kaki kirinya. Yang tekenal sangat kuat serta tak terkalahkan.
Bugh!!!!!
Seketika Leon terpental jatuh tersungkur ke lantai tanah dekat lorong sekolah.
Sementara Inara tersenyum miring. Lalu bergegas pergi meninggalkan Leon sendirian.
"Ashhh … gila banget. Hehe." Leon cekikikan sendiri, sementara anak anak perempuan yang mengaguminya membantu pria itu berdiri lagi.
Kebiasaan Leon, ia tidak akan mengucapkan kata "terimakasih", melainkan tersenyum kecil.
Dan jangan salah, senyum seorang Leonara sangat manis dan juga imut. Apalagi di dukung oleh kulitnya yang berwarna putih pucat.
"Duh! Aaaaaa, manis banget!" Pekik salah seorang wanita yang telah membantunya.
Leon segera mengejar-ngejar Inara yang hampir masuk ke dalam kelasnya.
Grep
Leon berhasil menarik cepat tangan Ina.
"Nar, ash, dengerin gua, ash …".ucap Leon tertatih tatih karena sudut bibirnya masih luka dan belum di obati. Rasanya sangat perih. Tapi mau bagaimana lagi, ia yang telah menargetkan wanita tersebut menjadi mangsanya. Dan itu tidak boleh gagal. Karena seorang Leon tidak boleh gagal walau hanya sekali.
"Lo mau ngapain?! Mau ngapain, LEONARA?!" pekik Inara, ia sudah sangat geram pada Leon yang terus terusan menguntitnya.
Baginya, pria hanyalah sampah.
Inara yang sekarang sangat amat membenci pria.
Tes
"Nar, Lo kenapa?" Lirih Leon, air matanya berhasil mendarat lurus di pipi pria tersebut.
Inara menatap Leon dalam-dalam. Kakinya melangkah lebih dekat lagi ke arah pria tersebut.
Hingga kini hanya berjarak 7 cm!
"Apa? Kenapa! Kenapa Lo nangis!?" Sorot matanya terlihat tajam.
"Apa pukulan gue, kurang kuat ya?!" Tanya Inara lagi.
"Mau lag-" sambungnya, kali ini dibungkam oleh kecupan ringan di bibirnya.
Cup
"b*****t! L-Lo, mau- ngapain!?" Mata Inara Membelak.
Sialan Lo!
Nanar mata Lo, rapuh!
Tapi!?
Itu keliatan kayak …!
Kayak sebuah kepalsuan!
Bangsat!
Setelah mengencup Ina, Leon tersenyum sumringah menatap mata cantik tapi galak, khas Inara. Lalu dengan cekatan bergerak menjauh dari gadis galak tersebut.
Namun, Inara juga tidak mau kalah cepat!
Ia dengan cekatan mengeluarkan jurus balchagi-nya lagi.
Inara tersenyum miring, sembari menangkap tangan besar Leon.
Menggengamnya dengan penuh kasar. Lalu menariknya ke belakang halaman sekolah, gang sebelumya mereka pernah kunjungi.
Ah s**t,
Lu kalo mau Deket Deket Ama gua, bilang aja si!
Ah iya, gua kan ganteng. Hehe
Sekarang ini, pipi Leon memerah.
Ia tidak memberontak. Ia menerima perlakuan Ina.
Ada apa ini?
Seorang Leonara?
Biasanya, ketika target atau mangsanya sudah tertarik padanya, Leon akan bergegas meninggalkannya.
Tapi, kenapa, sekarang ia seperti ini?!
Apakah ini pertanda kalau Leonara akan bertaubat?
.
.
.
Saat ini, mereka sudah sampai di bangku taman.
"Duduk." Ucap Inara memberi isyarat.
Leon terkekeh-kekeh, pria itu mengusap tengkuknya.
Pipinya juga memerah.
"Kenapa pipi Lo merah? Sakit Lo" tanya Inara masih dengan nada tak acuh, tapi kini tangannya berhasil mendarat mulus di pipi Leon.
Ngga panas, tapi kok merah banget?
Leon tidak menjawab omongan Ina. Pria itu malah senyum-senyum sendiri menatap cewek di hadapannya.
"Mau gue anterin ke UKS?" Kali ini, nada bicara Ina agak lembut. Dan juga sorot matanya terlihat agak sedikit perhatian.
Karena Ina cemas sekaligus khawatir, ia berpikir kalau mungkin ia harus membawa Leon ke UKS tanpa persetujuan pria itu.
Ina kembali menggandeng tangan besar Leon.
Tangan itu agak sedikit bergetar.
Apa iya, Leon gugup?
Tapi, wajahnya senyum sumringah seperti orang enjoy!
Apalagi tingkahnya benar-benar aneh pagi ini.
Hadeh, nyusahin aja lu.
Untung belom jam 6
Kalo kagak, bodoamat deh. Haha.
.
.
.
.
Sesampainya di depan ruang UKS.
"Wah beruntung lu, itu ada dokterny-"
Cup
Sekali lagi, Leon mengencup bibir ranum Ina.
Kali ini, tentu saja Inara tidak diam seperti tadi.
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi tampan seorang Leonara.
Bukannya marah, Leon malah terkekeh geli.
Lagi-lagi ia tersenyum dan perlahan mendekatkan wajahnya pada Inara.
1 meter …
2 meter …
Semakin mendekat …
"A-apaan sih! D-ddasar cowok m***m!" Pekik Ina sembari mendorong tubuh kekar Leon.
Ina bergegas berlari ke sembarang arah. Padahal ia berniat ingin membantu pria itu, tapi Leon malah melalukan tindakan yang membuatnya sangat risih.
Anjrittt!
Apaan, sih!
Argh!
Padahal gua mau nolongin dia, loh!
Tau, ah!
Seperti biasa, orang-orang memandang Ina dengan tatapan buruk. Seolah-olah Inara telah melakukan kesalahan besar pada mereka.
Tatapan itu terlihat seperti bullyan.
Ck apaan sih anjing!
Gua aja kaga kenal lu pada' ngapa pada kek gitu!
Ah b*****t! Gegara Leon!!
Ina menggerutu sendiri.
"Na, kamu ngga papa?" Tiba-tiba saja Queen berada di depan Inara.
"I' am oke." Jawab Inara sembari tersenyum getir.
Anjing! Sakit bgt!
Kenapa, sih!
Kenapa, gue sakit!
Gak, gapapa nar!
Lo pasti kuat, ko!
Haaaahh …
"Nar, Tadi Leon nyariin Lo." Ucap salah satu siswa yang asal lewat berlalu lalang.
"Em," Ina membalik badan, dan segera bergegas melenggangkan kaki.
Bangsat Leon!
Ngapain lagi, sih!
Sampe dia m***m lagi!
Gue bakal habisin Lo!
Akhirnya Ina sampai di tempat depan UKS tadi.
Ia melihat bahu Leon yang membelakanginya.
Inara berjalan mendekati Leon yang sedang termenung menatap awan.
"Ada apaan?" Tanya Ina, sembari menoleh ke arah Leon.
"Ada cantiknya aku!" Ucap Leon, lalu mencubit gemas kedua pipi Ina. Tapi, itu tidak terasa banyak kenyalan daging.
Dahi Leon mengerinyit, dalam posisi masih mencubit pipi Ina.
Pria itu belum melepas capitannya.
"Ash … sakit, anjing!" Pekik Ina sembari memukul kasar kedua tangan Leon secara bergantian.
Pipi bekas cubitan Leon, terlihat memerah.
"Aduh b*****t! Sakit tau!" Pekik Ina, lalu berdecak dan membalikkan badan untuk pergi dari Leon.
Tap
Leon berhasil menggenggam tangan Ina dengan cepat.
"Nar, gue suka Lo." Gumam Leon. Suara itu sangat kecil. Mungkin saja pria itu malu. Atau sangat malu.
Bagaimana bisa ia menembak wanita duluan?
Biasanya, ia yang dikejar-kejar banyak wanita!
Apa-apaan ini!?
.
.
.
.
Inara tidak kaget. Ekspresinya masih sama.
Cuek.
"Ya terus?" Tanya Inara, sembari menarik tangannya untuk dapat tetap berjalan menjauh dari Leon.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara Leon yang terdiam di koridor dekat UKS itu hanya bisa membelakkan kedua matanya!
Anjing! Keceplosan!
Ah, s**t!
Leon merancau kesal.
Suasana hatinya baru saja tidak baik, tapi sudah ada saja wanita-wanita yang menghampirinya.
Hal itu membuat Leon semakin frustasi.
"Anjing! Sana-sana! Gua lagi kagak mood!" Pekik Leon, sebelum mengejar Inara. Pria itu separuh berlari dari kerumunan wanita yang mendekatinya.
Ah, Ina!
Jadi sebenernya lu nolak gua,
Atau gimana?!
"Hosh … hosh … Ina!" Leon tertatih-tatih menghampiri Ina.
Keringat pria itu bercucuran.
Kali ini Leon berjalan mendekati Ina.
Ia mulai melingkarkan tangannya di perut wanita tersebut.
Lalu mencium pucuk kepalanya.
Harum
"Nar, Lo kenapa sih?"
"Padahal kemaren kemaren kaga kenapa-kenapa, dah?" Tanya Leon penasaran.
Kali ini, ia sangat senang. Karena Inara tidak memberontak sedikitpun.
"Apa, sayang?" Tanya Inara sembari membalikkan badan.
Inara tersenyum sumringah. Membuatnya semakin cantik.
Anjir cantik banget …
Leon terlamun melihat kecantikan Ina.
Rasanya, ia belum pernah melihat aura kecantikan itu. Bahkan sekalipun.
"Leon!" Inara memekik seraya menepuk keras bahu Leon.
Yang otomatis membuat Leon tersadar.
"Eh, iya sayang!?" Tanya Leon sembari tersenyum sumringah.
"Anjing makin gila lu ya. Dihhh .." Ina bergidik merinding. Seakan-akan ia sangat tidak mau menjadi dambaan atau pujaan hati sang Leonara.
"Heheheh," Leon terkekeh geli sembari menyandarkan kepalanya di salah bahu kecil Ina.
Berat banget gila!
Ini pala apa batu, woy?!
"Berat! Dih! Geli gua!" Inara menyentak Leon. Dan berusaha mengusir pria itu agar cepat pergi dari hadapannya.
Ina menyadari kalau tatapan anak-anak cewek di sekolah mereka benar-benar Seperti mengumpat padanya.
Tapi, tidak ada yang berani melabrak atau sekedar basa-basi padanya.
Rupanya, gosip itu masih menjadi topik hangat perbicangan di sekolah ini.
"Ck," Inara memutar malas kedua bola matanya. Leon hanya bisa memperhatikan tingkah aneh gadis yang ia sukai itu.
Cantik …
Cantik, banget!
"Nah lu, liatin apaan!?" Lagi-lagi Inara menyentak Leon.
Leon hanya menggeleng sembari tersenyum malu.
"Mau gua tinju lagi, ya lu?" Tanya Ina dengan nada kesal bercampur emosi.
Kedua tangannya ikut mengepal.
Inara menatap dalam-dalam kedua mata Leon. Agar lelaki itu tahu kalau Inara sama sekali tidak nyaman dengan semua perlakuannya.
"Sayang, kita kencan yuk!" Pinta Leon sembari menggenggam tangan Ina.
Tentu ada beberapa cewek yang menonton adegan romantis itu.
Siapa lagi kalau bukan grup kakak kelas yang suka sama adik-adik kelasnya!
Jir, ngeri juga ini cowok
Tuh kakel langsung sinis dong, hahaha anjim
Inara tersenyum getir ke arah geng kakak kelas tersebut, sementara Leon masih sibuk menatap wajah Ina. Ia masih kagum dengan kecantikan sang Inara.
"Ck, udah masuk kelas. Gausah ngikutin! Gak guna sumpah!" Pekik Inara sembari membalikkan badan, meninggalkan Leon sendirian dan berjalan menuju kelasnya.