"Inara mana ya, Queen?" Tanya Leon memekik sembari berlari cepat ke arah Queen.
"Apa …" tanya Queen sembari melengos ke dalam kelas.
"Queen!! Hari ini, Inara masuk!?" Tanya Leon agak sedikit menyentak. Matanya agak membelak, pria itu benar-benar panik dan juga cemasLeon gajelas banget!
"Yon, lu suka ya, sama Ina?" Tanya gadis berkacamata ala wibu dan juga berjaket berwarna hitam.
"Iya! Mata Lo buta, Yon!" Pekik Queen karena benar-benar sangat capek pagi ini.
"Ah, oke Queen! Makasi." Jawab Leon sembari membalikkan langkah kaki. Ia langsung bergegas ke arah keluar gerbang sekolah.
"Eh! Den, Leon! Kamu mau ngapain?!" Satpam sekolah agak memekik karena kaget dan heran.
"Bentar lagi, masuk!!" Pekik Satpam berusaha mengingatkan Leon. Tapi, pria itu tidak mau mendengar bahkan menutup telinga untuk ucapan Satpam.
Leon terus berlari kencang. Ia berpikir kalau ia harus menjenguk Ina sekarang juga.
Tapi, ada yang janggal!
Eh! Ah, rumahnya …
Lu emang tau rumah Inara dimana?!
Ah, kaga sih!
Leon berdecak, dan membalikkan badan, memutar arah larinya.
Kembali ke sekolah.
"Hosh … hosh …, pak! Rumah, Inara- dimana- ya!?" Pekik Leon, yang masih mengatur deru napasnya, keringatnya bercucuran tak henti henti.
Ah, itung-itung olahraga pagi, lah!
Bagaimana bisa, ia melakukan olahraga di pagi hari tanpa pemanasan dulu?!
.
.
.
.
"Aduh, den. Itu. Saya nggak berani deh! Kalau masalah itu." Satpam itu menggeleng-geleng. Tangan kanannya bertumpu di pagar gerbang sekolahan.
"Ah, yaudah! Makasih pak!" Ucap Leon sembari berlari lagi ke arah ruang TU.
Ah anjir!
Tapi gimana caranya buat pintain?!
Aha, gua ada ide!
Mimik wajah Leon yang sudah tak karuan basah kuyup karena keringatnya, tetap terlihat tampan.
Leon membuka pintu ruangan TU.
"Eyyo! Selamat pagi, Leon!" Pekik Ibu Sinta.
Keliatannya memang ramah sekali, tapi di balik topeng ramahnya, ia adalah wanita yang tidak bisa di kelabui!
Bu Sinta menyeringai ramah, setiap kali menatap matanya, siapapun itu orang yang berhadapan dengannya pasti berhasil untuk terbaca pikirannya!
Tidak tahu, kalau Leon.
Leon tidak pernah berhadapan langsung dengan Bu Sinta.
Tapi, Rumor seperti itu sudah tersebar luas. Entah benar atau tidak. Leon tidak begitu perduli.
Leon membalas senyuman ringan, "Bu gigi ada, kah?" Leon berbicara penuh sopan santun.
Bu Sinta hanya tertawa menatapnya, "Gak!" Entah itu sebuah pekikan atau hanya nada yang terdengar menyentak.
Yang jelas, Leon benar-benar bergidik ngeri saat ini!
"Keluar sana! Saya tau pikiranmu …" mata Bu Sinta menyipit, seperti penyelidik yang sedang mengintrogasi lawannya!
"Ah, iya Bu. Maaf!" Leon segera bergegas keluar dari ruangan TU.
Leon mendengus pelan, "gagal? Ini, bisa di sebut gagal, kan?' gumamnya.
Otaknya kini berputar keras lagi. Tentang bagaimana pria itu harus apa untuk bisa mendapatkan alamat Inara.
"Kenapa, Yon?" Ucap wanita di belakangnya memukul ringan bahunya.
Padahal, tadi tidak ada orang!
"Ah!" Leon agak kaget, seraya menoleh.
"Lo nyariin gebetan yaaaa?" Goda Eril.
Pipi Leon memerah!
Arah Matanya, dan juga gelagat matanya tidak bisa diam!
"A-ahh … iya, hehe-" Leon terkekeh pelan. Ia sangat malu karena ketahuan oleh badgirl di sekolahnya!
"Oh, gua tau si." Ucap Eril acuh tak acuh.
"Anterin gua! Sekarang!" Leon menggenggam tangan Eril. Itu membuat gadis cuek itu agak tersentak kaget.
"O-oke …" jawab Eril. Yah, bagaimanapun juga, ia tidak mau menolak permintaan orang yang pernah menjadi kekasih di hatinya. Meskipun mereka tidak pernah jadian, bahkan Leon tidak pernah mengetahui hal tersebut.
Karena sikap Eril yang cuek dan juga bodoamatan.
"Hey, pak! Kami pergi, ya!" Leon menggandeng tangan Eril, dan tangan satunya ia gunakan untuk memberi isyarat untuk melambaikan tangan pada pak satpam.
Dasar, kelakuan badboy satu ini!
Ada ada saja!
.
.
.
.
Deg deg deg
Anjir apaan si!
Ah, tapi Leon gant-
Anjir! Sadar woy! Leon sukanya sama Inara!
Bukan Ama lu, ril!!!
AAAAAAAAA …..
Si Leon geblek anjir, ngapain tangan gua masih di genggam sih!
Aaaaaaa …
Bisa-bisanya gua BAPER!
Anjir malu-maluin aja!
Melihat tingkah Eril yang tidak biasa, tentu membuat Leon agak penasaran.
Ada apa dengannya?
"Ril lu gapapa?" Akhirnya selama perjalanan, Leon angkat bicara. Leon melirik Eril.
Yah si anying! Pake nanya lagi!
Ya! Gua BAPER Ama, lu!
"Apaan? Kaga papa, gua!" Pekik Eril sembari membuang arah tatapan mata.
Si Anying! Pake nanya, lagi!
Ah, g****k!!! Blok!!!!
Pipi Eril semakin memerah!
"Lu ngapa, ril?" Karena ia cemas, kali ini pria itu memegang pipi Eril.
Tentu saja, hal tersebut dapat membuat Eril semakin salah tingkah!
"A-apaan, sih!" Eril segera menangkis tangan Leon.
Leon mengerinyitkan dahi, pria itu semakin bingung.
Tapi, ia lebih mementingkan kebingungannya mengapa rumah Ina tidak sampai-sampai.
"Ah, rumah Inara masih jauh, Ril?" Tanya Leon membuka topik baru.
"Gapapa, Leonn." Jawab Eril sekilas tersenyum.
"Hah?" Dahi Leon mengerinyit, dan juga mulutnya agak sedikit menganga. Karena memang ia benar benar tidak paham maksud dari jawaban Eril.
Eril menampilkan wajah polosnya.
"E-em, ka-kayaknya kita salah jalan, deh!" Ungkap Eril ragu-ragu.
"Yeh, si anjir!" Leon berdecak sebal. Sekarang ini mimik wajahnya terkesan sangat menahan emosi.
Semakin tampan!
"Ah, gimana kalau pake sepeda, Yon?" celetuk Eril.
Diam-diam Eril merencanakan sesuatu!
"Haaahhh?" Tanya Leon sembari berjalan memutar balik. Ia paham kalau misalnya maksud Eril adalah kembali lagi ke sekolah untuk bisa mengambil sepeda Eril!
"Ah, tapi kalau kita balik lagi ke sekolah, bisa aja satpam bakal lapor-" omongan Eril terpotong oleh tindakan Leon yang sudah menjelaskan jawaban dari semua pertanyaannya.
Leon langsung menarik tangan Eril yang masih ia genggam.
Eril tersenyum tulus menatap lelaki yang menyeretnya.
"Gapapa deh! Gapapa kalau Leon mah! Hehe" Gumam Eril, tapi hal itu terdengar di telinga Leon dengan jelas.
Leon memberhentikan langkahnya.
" Anjir, hah?" Tanya Leon sembari menatap Eril yang masih tersipu malu.
Walaupun wajah gadis itu datar, tapi pipi merah akibat perasaan deg-degan yang jantungnya buat itu telah memperlihatkan kalau sebenernya ia sedang salah tingkah!
Feeling gua kaga enak jir.
Apa iya, Eril …?
Mang, iya?
.
.
.
.
Leon menatap Eril, sementara Eril hanya mencoba melirik untuk berani menatap mata Leon.
"Ah anjir, cepetan, lah!" Tangkas Leon sembari bergegas menarik tangan Eril lagi.
Eril tertawa kecil.
Pipinya masih memerah.
"Ril, lu buruan ambil sepeda ya, gua nya ajak ngobrol satpam supaya dia kaga ngeh, oke?" Tanya Leon terdengar Seperti memastikan. Padahal pria itu sudah tahu, jawabannya pasti iya.
Eril mengangguk. Lalu Eril berjalan ke arah gerbang dan mencari dimana keberadaan sepedanya.
"Ril, cepetan." Gumam Leon, pria itu kemudian mendekati pak satpam yang sedang melihat-lihat situasi sekolah.
"Haloooooo bapakkk!" Sapa Leon sembari melambaikan tangan, tersenyum sumringah. Berjalan mendekat ke arah satpam.
"Den, udah kelar urusannya? Cepetan masuk kelas den, nanti di marahin Bu Er-" ucapannya terputus ketika melihat Eril bergegas keluar membawa sepedanya.
"Eh! Eril! Mau kemana, k-" omongannya terputus ketika Leon menitipkan uang selembar berwarna biru.
"Wah, asik …" gumam Satpam tersenyum sumringah. Ia sudah lupa atas kewajibannya sebagai satpam, yang seharusnya menjaga warga sekolah tetap aman dan disiplin.
Sementara Leon menyusul Eril yang setengah berlari menenteng sepedanya yang berwarna pink, itu pemberian neneknya!
"Ril! Tunggu, lah!" Pekik Leon sembari berlari.
"Hosh … gua udah panik anjir, gua kira bakal ribet, hahaha." Ucap Eril.
"Ada gua mah, aman!" Pekik Leon menyombongkan dirinya. Kemudian menyeringai tersenyum menatap Eril.
Hal itu membuat Eril salah tingkah!
Lagi-lagi pipi Eril memerah bak kepiting rebus!
"Aihhh, pipi kamu teh, memerah terus, ril, ck ck ck." Leon menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin santai sedikit karena peristiwa lucu tadi.
"A-ahhh …. Hahahah …" jawab Eril mengelus tengkuknya.
"Anjir hahaha, lu kalo salting kayak cowok, dah!" Leon tertawa lepas lagi.
"Ah udah ril. Ngapa lu jadi nenteng sepeda, dah?" Leon merampas, oh tidak. Lebih tepatnya memegang kendali utama untuk menaiki sepeda kecil itu.
Eril tersenyum ringan, ia duduk di bangku jok belakang.
"Yon, aku pegang perut kamu ya?" Izin Eril, tiba-tiba saja wanita itu melingkarkan tangannya di perut Leon.
Leon tidak tersentak atau kaget sedikitpun. Itu karena saat kencan dengan wanita-wanita lain, Leon sudah terbiasa pada situasi seperti ini.
Malahan, biasanya para wanita tersebutlah yang deg-degan setengah mati pada Leon.
Inara dimana, ya?
Apa bener, dia ada di rumahnya?
Hmm, apa gua ke apotek dulu ya?
Ah cek dulu apa beliin obat dulu?
Ah s**t!
"Ril, kita ini ke apotek dulu apa ke rumah si Ina?" Tanya Leon. Suaranya terdengar pelan, karena suasana jalan raya sangat padat, tapi hanya mereka yang berkendaraan sepeda.
Tentu saja itu semakin membuat Leon susah mengkayuh sepedanya!
Perlahan-lahan keringat mulai bercucuran di wajah tampan sang Leonara.
Di jalan raya, tidak ada yang tahu kalau mereka berdua adalah anak konglomerat!
Terutama Leon!
Keluarganya adalah penyubsidi terbesar di sekolahnya!
"Anjrit siapa itu! Ganteng banget gila! Haaaa ... mau pingsan ajalah gua …!" Pekik seorang wanita yang berjalan santai bersama seorang pria.
Sepertinya itu pacarnya, tapi, mengapa ia malah memuji Leon?
Tentu saja si cowok menatap sinis sang cewek. Bagaimana bisa si cewek memuji cowok lain di depan cowonya sendiri?!
"Iya! Ganteng ya! Ganteng banget!!!" Pekik Si cowok sembari menatap tajam ke arah Leon. Tapi Leon tidak memperhatikannya. Karena ia berfokus pada tujuannya saat ini. Inara. Gadis yang ia temui namun sudah bisa membuat dirinya jatuh cinta terdalam!
"Apaan Yon, kaga kedengeran!" Pekik Eril, mencoba mendekatkan tubuhnya ke punggung Leon.
Tentunya hal itu membuat sentuhan fisik yang agak ambigu.
"Gua nanya bro, kita mau ke arah jalan rumah Inara dulu apa ke arah apotek dulu??" Tanya Leonara kembali. Kali ini ia sedikit memekik.
"Ah, ke rumahnya dulu, lah! Nanti kaga tau dia sakit apa ngga yakan!" Jawab Eril sembari menyipitkan mata, suasana pagi ini sangat terik. Itu membuat matanya agak silau. Ia yakin Leon juga begitu.
Aihhh, rencana gua berjalan mulus Cok!
Hahaha anjim! Bisa aja dah gua, ckckck hahaha