Inara

1019 Kata
"Dih anjir ini kemana, sih!" Leon menyentak, raut wajahnya terlihat sangat kesal. Leon berdecak sebal, nanar matanya terlihat sangat suntuk. Leon terus mengkayuh pedal sepedanya. Berat anjir Ini cewek makannya apaan sih! Haaaaaahhh … "Ko, ga nyampe-nyampe?!" Leon menyentak lagi. Kali ini ia sudah naik pitam, sedari tadi bahkan ia tak tahu itu ada di mana. Keringat yang bercucuran mulai menetes lagi di bahu sang Leonara. "Woy jawab!" Pekik Leon, dengan nada yang menyentak. "Apaan sih Anying! Bentar lagi juga sampe!" Tak mau kalah dari suara besar Leon, Eril memekik juga. Kemudian gadis itu berdecak sebal. "Ril, belok mana lagi?" Tanya polos dari seorang Leonara "Kanan." Ucap Eril. "Anjing ko ke kanan terus sih!" Lagi-lagi Leon memekik. "Babi, bener tau!" Dan juga lagi-lagi Eril tak mau kalah dari Leon. Leon segera mempercepat kayuhnya. Emang sejauh ini, rumah Ina? "Jir, kasian banget dong. Ini mah kejauhan!" Gumam Leon. Sembari Masi fokus menyetir sepeda. "Gatau." Jawab Eril. Sembari menatap punggung kekar sang Leon. "Yon, nanti di perempatan belok kiri, ya." Pinta Eril lagi.  "Oke." Jawab Leon dengan cepat. "Stop. Rumah Ina yg cat putih ini." Ucap Eril sembari menunjukkannya. "Oh, oke. Lu di luar aja ya. Gua bentaran doang.* Pinta Leon, sembari bergegaslah mengetuk pintu rumah Inara. Agak lama mengetuk, tiba-tiba saja ada tetangga yang meyahut. "Mas ganteng, nyariin siapa?" Tanya tetangga tersebut. "Kenapa, Bu?" Tanya Leon penasaran. "Gaada orang mas rumahnya. Udah pada pergi keluar." Jawab tetangga tersebut. "Oh, Inara kemana ya Bu?" Tanya Leon lagi. "Hah? Oh Nara, dia mah berangkat sekolah atuh. Eh tapi, kalian kenapa kesini?" Tetangga tersebut bertanya lagi. Karena ia semakin penasaran. Kali kali saja ada berita atau info penting untuk di masukkan di berita gosip. "Oalah, iya Bu. Maaf ya Bu, makasih Bu." Ucap Leon untuk menutup obrolan yang mengarah ke pergosipan. Pria tersebut tahu kalau ibu ibu tersebut mau ada niat tidak baik pada Inara dan juga keluarganya.. "Ril, lu berat banget. Gua boleh ga minjem sepeda lu?" Tanya Leon menatap Eril. "Ya terus?" Tanya Eril tidak tahu. "Gua mau sendirian. Gapapa?" Tanya Leon lagi. Tidak. Ini lebih tepat ke arah pernyataan atau pengusiran secara halus. "Oh yaudah." Erils egera turun dari jok belakang. Ia tidak bisa menolak begitu Leon memintanya. Anjir padahal gua masih mau berdua-duaan. Tapi, yaudahlah.  Nanti Leon malah curiga lagi! "Oke, gua balik ye." Ucap Eril memberi salam perpisahan. Ia memeluk cowok itu. Leon tidak kaget. Eril memang biasa begitu, bahkan sejak dulu. Tapi, sebenernya Leon lumayan panik, karena ia merasakan ada yang tidak beres dengan Inara. Eril segera pergi meninggalkan Leon. Sementara Leon dengan cekatan mengkayuh sepedanya kembali, tentunya ke sembarang arah.  Sebenarnya ia tidak tahu daerah situ, tapi karena ia terlalu sibuk memikirkan dimana Inara, jadi ia sibuk untuk mencari-cari Inara. Ini masih jam 9 pagi. Sebentar lagi, semua murid sekolah akan istirahat.  Leon ngos-ngosan karena ini membuatnya cukup berolahraga pagi ini. Jadi, gua kemana nih sekarang? Dompet lupa bawa lagi, ck! Tak terasa terdengar suara kruyuk kruyuk di perut ABS milik Leon. Yah anjir Laper plus haus banget b*****t! "Hai ganteng, tinggalnya dimana?"  Tiba-tiba saja ada seseorang yang menegurnya dari belakang. Leon menampilkan wajah suntuk pada wanita cantik tersebut. "Maksud Lo?" Tanya Leon tak paham. Pria itu menjawab acuh tak acuh. "Lo laper? Lo aus? Tadi perut Lo bunyi tuh!" Celetuk wanita tersebut lagi. Sebenarnya memang benar saja, yang dibilang wanita cantik tersebut. Tapi, Leon mulai kesal karena caranya menyapa tidak begitu baik! Masih dengan wajah juteknya, "apaan anjing! Lu mau ngasih gua makanan?"  "Emmm, bisa aja sih. Asalkan kamu jangan ke rumah Inara lagi." Tutur sang wanita. "Hah? Kenapa anjing?" Leon memang sudah sangat terbiasa dengan omongan kotor. Baginya, itu dapat menambah kesan badboy-nya.   "Gua gasuka tuh cewek!" Wanita tersebut menatap sinis kedepan, sambil mengumpat. Apaan sih anjir Baru kenal udah kea gini Tolol bin g****k! "Permisi." Ucap Leon sembari mulai mengkayuh sepedanya. Tentu saja ia tidak bisa menuruti perintah sang wanita cantik itu karena itu sangat mustahil! "Dih, Lo mau kemana, ganteng? Katanya mau ma'em?" Wanita tersebut terlihat agak kecewa. "Ah anjing! Diem disitu! Gua ilfell!!!" Leon memekik begitu keras, sampai sampai orang yang berada di jalanan menoleh ke arah mereka. Ya, Leon sengaja melakukan itu. "Dih anjing! Ngapain juga segala teriak! Malu b*****t!!" Umpat si cewek cantik. Ia mengambil sesuatu di dalam tasnya. Bedak. Ia melapisi wajahnya dengan bedak lagi. Padahal 10 menit yang lalu ia sudah memakai bedak. Sementara Leon dibiarkannya pergi. Leon terus mengkayuh sepeda milik Eril. Decitan suaranya terdengar semakin jelas karena Leon memperlambat kayuhannya.  Melihat ke sekelilingnya. "Nar, Lo dimana? Lo dimana sih?" Gumam Leon, nanar matanya terlihat begitu banyak harapan. Sebenarnya kenapa? Apakah ini Leon? Kenapa bisa, seorang Leonara yang tidak perduli dengan wanita, sampai sebegitunya dengan wanita satu ini? Sekarang sudah jam 11 siang.  Leon sudah tidak merasakan sakit perut karena kelaparan. Tapi, pria itu masih kehausan.  Demi Inara, ia mencoba menahannya. Masih dalam posisi yang sama, yaitu mencari dimana keberadaan Inara. Jir, capek banget … Inara, Lo kemana sih?! Ga tau apa gua kangen!? Leon mendengus panjang. Pria itu sudah hampir kehilangan seluruh tenaganya. Apalagi perutnya kosong melompong saat ini. Leon terus menerus mengkayuh sepeda, serta celingak-celingukan mencari sosok Ina. Pria itu masih mengira ia akan berhasil menemukan Inara dengan cara seperti itu. "Duh, keram anjir b****g gua …" ucap Leon sembari berdiri di atas sepeda untuk beberapa saat, dan lalu duduk lagi. Ia mengulangi gerakan itu berkali kali. Wajah Leon sudah lemas dan pucat. Tangannya juga sedikit gemetaran. "Nar, Lo kemana sih?" Leon tidak akan berhenti mencari wanita tersebut sampai ia benar-benar mendapatkannya. Perut gua, s**t … Makin sakit, tapi gapapa …! Demi, Inara, ya! Semuanya demi Inara! Tak disangka Leon menemukan sebuah danau. Ia tidak tahu pasti dirinya berada di mana. Tapi, satu yang Leon tahu, disitu ada wanita yang sangat mirip dengan Inara! Eh, tunggu. Ini, gua … Gua, kagak halusinasi kan? Itu, punggungnya Ina kan? Iya gak sih anjir! Atau jangan jangan cewe tadi pura pura jadi Inara? Leon menatap dengan serius ke arah wanita tersebut. Matanya menyipit. Harapannya agar bisa mengetahui meskipun jarak mereka lumayan jauh. Ah sial kaga bisa keliatan! Apa gua kesana aja ya? Kali aja bener itu Inara?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN