Leon memarkirkan sepedanya di pinggir danau, tanpa melepas pandangannya pada wanita tersebut.
Leon melenggangkan kaki, mencoba mendekati wanita tersebut.
"Nar?" Tanya Leon, agak ragu-ragu.
Inara menengok ke arah belakang.
"Lah, iya beneran Inara!" Pekik Leon karena ia sangat senang akhirnya dapat melihat Inara lagi.
Tak sadar, Leon memeluk Inara.
"Nar, gua takut anjing, lu kemana aja si?" Tanya Leon di sela-sela pelukannya.
"Hah? Lu takut anjing?" Tanya Inara. Ia tidak membalas pelukan tersebut.
"Nar?" Panggil Leon. Sembari mempererat pelukannya.
"Gua sayang pake banget nget Ama lu. Please jangan kea gini lagi, ya?" Tutur Leon memastikan agar Inara tetap baik-baik saja.
"Jangan kepedean. Haha, lu siapa Jing?" Tanya Ina sembari berusaha melepas pelukannya.
Anjir tenaganya kuat bener!
"Ck, lepas." Pinta Inara.
"Gak. Lu janji dulu sama gua." Perintah Leon yang tak terbantahkan.
"Gak. Ck, ini lepas atau gua teriak?" Ancam Inara.
"Leon lepas!" Karena merasa benar-benar jenuh, Inara yang berusaha memberontak dari tadi pun, akhirnya terlepas dari pelukan sang Leon.
Pelukannya hangat.
Tapi gua gasuka kenyamanan itu.
Toh dia cuma main-main Ama gua.
"Nar, are u okay?" Kali ini Leon menatap dalam-dalam mata Inara, dan sekilas memegang kedua bahunya.
"Ck, apaan si, gausah sok perhatian!" Bantah Ina, berusaha menyingkirkan kedua tangan Leon yang bertengger di bahunya.
"Nar, Lo udah makan tapi?" Tanya Leon lagi, kali ini mimik wajahnya terlihat serius. Seperti bukan Leon saja.
"Dah." Ucap Ina sembarang kata.
Gausah pura pura baik deh.
Yang Lo mau apa?
Badan gue?
Nih, ambil. Silakan.
Semua cowok cuma mau badan gue doang anjing emang!
Semua cowok sama aja!
Haaaaaaaaaaahhhh …
"Nar, sini deh." Leon menarik pelan tangan Inara, lalu mereka duduk di tepi danau.
"Ck, self healing gua jadi keganggu bro. Gara-gara lu!" Inara mendengus pelan, gadis itu menunduk. Memainkan rumput-rumput yang kadang-kadang bergoyang akibat ulah tangan jailnya.
"Self healing?" Tanya Leon penasaran.
Inara mengangguk pelan. Mendengus lagi, sehingga nafas beratnya dapat terdengar dengan jelas.
"Nar, gua tanya sekali lagi. Are u okay? Tanya Leon memastikan bahwa Inara benar-benar baik-baik saja.
Inara menggeleng pelan, "Gua baik-baik aja." Celetuknya.
Leon mengulas senyum ringan, menatap mata Ina yang sedang menunduk.
"Nar, kalo ada apa-apa, lu boleh banget kok cerita ke gua." Leon mengelus-elus punggung Inara.
Apaan sih?
Kenapa gua ga berontak?
Anjir!
Gausah bikin nyaman deh! Kalo misalnya Lo gamau tanggung jawab nanti!
"Iya, i am fine." Jawab Ina sembari beranjak berdiri.
Tapi, Leon mencegah tindakannya tersebut.
"Duduk." Perintah Leon sembari sedikit menarik tangan Ina.
Inara mendengus pelan, dalam hatinya, mengapa ia harus di pertemukan dengan lelaki seperti Leonara?
Apakah tidak ada lelaki di dunia ini selain dirinya?
Yang lebih baik?
Haaaaaahhh …
"Leon, lu mau ngapain ha?" Raut wajah Ina suntuk. Ia sangat kesal karena harus berdua-duaan dengan pria.
Tiba-tiba saja, Leon menyandarkan kepalanya di rok Inara.
Tentu saja hal itu membuat Inara kaget bukan main.
"E-ehh …" gumam Inara. Matanya membelak. Tubuhnya ingin bergerak menolak. Tapi tenaga Leon terlalu kuat untuk menahannya.
"Bentar aja, kok. Nar." Leon Sekarang benar-benar berada di bawah Inara.
Pria itu dapat melihat dengan jelas raut wajah Inara.
"Nar," tangan besarnya perlahan mulai menyentuh pipi gadis yang ia cintai, Inara.
Inara tidak menatap ke bawah, melainkan tetap menatap ke depan.
Bagaimana bisa ia menunduk?
Sedangkan Leon sedang melihat-lihat dirinya dari bawah sana?
Tentu saja pipi Inara memerah!
Ina tidak bisa fokus, dadanya intens dalam kembang kempis.
Leon mengerinyitkan dahi, "nar, Lo kenapa?" Tanya Leon penuh perhatian.
"Lo ngapain kayak gini sih?" Tanya Inara merasa risih.
"Kita pacaran? Atau …?" Inara meminta kepastian.
Anjir gua ngomong apaan sih?!
Aaaaaa!
Goblok! Blok!
Gua gila ya?
"Wah sabar nar. Kita jalanin dulu. Oke?" Tanya Leon.
Sejujurnya ia ingin mengetahui perasaan Inara terhadapnya.
Melihat dari sikapnya selama ini, Sepertinya Inara belum menyukainya.
"Nar," panggil Leon.
"Hmmmm …" jawab Inara seadanya. Ia tidak menatap mata Leon.
"Nar, liat sini dulu dong." Pinta Leon seperti anak kecil yang merengek.
Inara menatap Leon.
Anjir lucu banget mukanya!
Aaaaaaa!
Inara mengalihkan wajahnya.
"Nar, ish!" Pekik Leon kesal.
"Nar, liat gua …" pinta Leon sekali lagi.
Inara mendengus dan menatap Leon kembali.
"Nar, gua suka Lo." Tutur Leon sembari menatap mata Inara.
Apa ini?
Apakah Leon akan memperlakukan Ina seperti wanita-wanitanya yang dulu?
"Mau jadi pacar gua ga?" Sambungnya.
"Gak." Jawab Inara, singkat, padat dan jelas.
"Lah, kenapa? Bukannya tad-" Leon terheran-heran. Ia tidak bisa menebak pemikiran Ina saat ini.
"Gapapa. Udah ya. Gua mau balik." Ucap Inara sembari beranjak berdiri. Diikuti Leon.
Pipinya masih memerah.
Anjir!
Jadi gini rasanya di tembak?
Kok deg-degan sih!?
Padahal kan, gua kaga ada perasaan sama dia, yah!?
Inara menggeprak-geprakan bokongnya yang kotor akibat duduk di rumput.
"Lo ga harus jawab sekarang." Celetuk Leon, mengulas senyum ringan.
"Lo bisa jawab kapan aja, pas Lo udah siap." Sambung Leon. Kali ini ia menggandeng tangan Inara.
Dih apaan sih!
Ta-tapi gua gabisa nolak sih!
Ah anjir!
Kenapa jadi gini?!
Sesekali Leon melirik Inara, sembari tersenyum tulus.
Kalau Lo nanya gua kenapa.
Gua juga gatau nar.
Tapi yang pasti, gua nyaman banget interaksi sama Lu.
Semoga aja, lu cewek terakhir yang ada di hidup gua.
Jangan pergi ya nar?
I love u, singa comel!
"Apa Lo liat liat?!" Inara Terlihat tidak suka dengan lirikan mata Leon.
"Caper ya?" Tanya Inara sekali lagi.
Leon menggeleng cepat, lalu menyuruh Inara untuk duduk di belakang boncengan sepeda milik Eril.
"Sepeda siapa nih?" Tanya Inara acuh tak acuh. Sembari menaiki boncengan sepeda.
Leon dengan cepat mengkayuh pedal sepeda.
"Punya Eril." Jawab Leon singkat.
Inara mengangguk acuh tak acuh.
"Nar, Lo nyadar gasih." Tiba tiba Leon menyeletuk.
"Ha?" Tanya Inara.
"Lu cantik banget. Lu nyadar gasih?" Jail Leon.
.
.
.
.
Deg!!!
Jir, bohongnya ketebak banget!
"Gue benci cowo pembohong." Bukannya menjawab, Inara malah menjawab sesuai isi hatinya. Tentunya ia hanya begitu dengan Leon. Tidak dengan teman cowo lain.
Leon terkekeh, "Gua kan nggak bohong." Bantah Leon, keringatnya bercucuran membuat parfum yang ia kenakan menyeruak keluar.
Wangi …
Inara tidak menjawab lagi. Ia sibuk berkutat dengan dirinya di pikirannya.
"Lu tau rumah gue?" Tanya Inara memecah keheningan diantara mereka.
"Tau." Jawab Leon. Lagi-lagi pria itu tersenyum simpul. Membuatnya semakin tampan.
"Kok bisa?" Tanya Inara lagi.
Bagaimanapun ia tidak mau menjadi seseorang yang tidak tahu berterimakasih.
Leon sudah baik hati mau memberinya tumpangan.
Jadi, Inara merasa dirinya juga harus membalas kebaikan Leon.
Mengajaknya berbicara di perjalanan mungkin adalah ide yang bagus.
"Bisalah." Jawab Leon di sela sela napasnya yang ngos-ngosan.
"Gue berat ya?" Tanya Inara.
"Ngga sama sekali." Jawab Leon, tersenyum tulus.