"Yon makasih ya." Ucap Inara turun dari boncengan belakang.
Leon hanya mengangguk dan mengulas senyum ringan.
"Oh iya, terus Lo gimana?" Tanya Inara agak cemas.
"Apanya? Oh ini? Gampang lah." Jawab Leonara sembari tertawa getir.
Inara hanya mengangguk pelan. Kemudian melenggangkan kaki ke arah pintu rumahnya, membuka pintu rumah dengan kuncinya.
Sebelum ia benar-benar masuk, "dadah Leon. Hati-hati yah." Ucap Inara.
Leon membalas salam perpisahan itu dengan senyuman tulus. Kemudian mulai mengkayuh pedal sepedanya.
.
.
.
.
Di dalam rumah Inara
Inara tertawa pelan, dan juga senyum-senyum terus.
Oh, jadi gini rasanya di tembak?
Kok seneng banget sih?
Ah, gue takut …
Takut sama kejadian besok-besok …
Emang iya, gue pantes bahagia?
Hm …
Sementara itu Di sekolahan.
Sepeda Eril tampak memasuki daerah parkiran sekolah. Tentunya dikendarai oleh Leon.
"Ya Allah Den, baru balik atuh." Tutur Satpam sembari memperhatikan Leon.
"Mang, udah balik yah?" Tanya Leon sembari memperhatikan suasana sekitar yang sudah sunyi.
"Iya, tadi neng Eril bilangnya biarkeun aja sepedanya di ambil besok." Ujar sang satpam.
Leon tidak menjawab, ia hanya mengangguk cepat, berlari ke dalam kelasnya dan segera mengambil tasnya.
"Ini mang. Makasih mang." Ucap Leon sembari memberikan gumpalan uang berwarna biru di tangan kosong satpam sekolah.
Sang satpam hanya mampu berterimakasih terusan.
Leon segera berlari ke arah rumah Inara lagi.
Tapi, kenapa pria itu mau ke rumah Inara lagi?
Ada apa?
.
.
.
Gue harus beliin Inara makan dulu.
Dia pasti belom makan.
Leon segera mengunjungi salah satu restoran terenak di dekat tempat Inara tinggal.
Untung masih inget jalannya.
"Mba, pesan Menu empat sehat lima sempurna ya?" Pinta Leon.
Ia diam beberapa menit, baru setelahnya pesanannya telah jadi.
Membayar dengan kartu kredit dari hasil main game nya, lalu bergegas menuju rumah Ina.
Gue takut dia sakit
Tar kalo dia sakit terus kaga masuk sekolah, kan gua juga yang ribet
Nar tunggu ya
Setelah berjalan kaki sekitar 30 menit, akhirnya Leon sampai di kediaman rumah Ina.
Sebelum mengetuk, ia menatap bagaimana rupa rumah tersebut.
Minimalis
Lalu mengetuk pintu berkali-kali tapi dengan pelan-pelan.
Kriettt
Inara tampak kaget melihat Leon. Wanita itu sampai mengucek-ucek matanya.
"Leon? Ngapain?" Tanyanya sembari mempersilakan masuk.
Inara memberi isyarat agar pria bertubuh tinggi nan atletis itu duduk di sofa kusam mjlik keluarganya.
Leon tampak menatap dengan detail setiap sisi ruangan tamu tersebut.
Dimana kamar Ina?
Lalu Ina kembali dari dapurnya membawa secampan besar dengan dua cangkir di atasnya, i"Yon maaf gaada ap-"
"Na, duduk deh." Pinta Leon.
"Mau ngapain?" Tanya Inara penasaran.
"Ini. Gua bawain makanan. Lu pasti belom makan kan?" Tanya Leon memastikan bahwa firasatnya benar.
"Dih tuhkan bener bener lu ya." Jawab Leon sedikit kecewa. Jari-jari besarnya mencoba membuka isi dari kresek tersebut.
Ayam geprek
"Nih, makan dulu. Untung beli dua, jadi bisa nemenin lu makan." Leon terkekeh pelan.
Inara terdiam sejenak.
Bagaimana bisa, Leon sebaik ini?
Apa maksudnya?
Ina terdiam dengan posisi masih memegang nampan yang berisi dua minuman hangat.
"Dih malah bengong. GC yok." Ujar Leon.
"Nar duduk sini." Pinta Leon sekali lagi. Tapi kini tempatnya berada di sampingnya.
Inara duduk diam membisu. Suasananya jadi canggung. Entah kenapa.
Padahal ini kan rumahnya sendiri.
.
.
.
"Nar?" Leon menatap mata Inara.
Apa ini? Mengapa mereka terlihat seperti sepasang pasturi?
Inara tidak menjawab, ia melamun.
"Nar, lu kenapa?" Tanya Leon lagi.
"A, em. Gapapa. Yuk makan." Inara berdalih berusaha membuat Leon tak memikirkan tentang dirinya.
"Gausah bohong. Dari mata lu, keliatan." Bantah Leon.
Mereka tidak jadi membuka bungkusan ayam geprek itu.
"Nar, lu boleh cerita ke gua." Leon berbicara hal yang sama. Mengapa pria itu senang mengulang kata-katanya?
Inara tidak menjawab. Ia hanya menunduk diam membisu. Perlahan tapi pasti air matanya mulai menetes.
"Hiks …" Inara menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Apa ini?
Kenapa ia menangis di hadapan Leon?
Kenapa ia terlihat menyedihkan di hadapan pria yang akan ia hindari?
Anjir kelepasan!
Aaaaaaa …
Tapi gimana dong?
Hiks …
"Bagus, oke. Keluarin semuanya nar." Leon mendekat kepada Inara, mengelus punggung wanita yang ia cintai.
"Hiks …"
"Hwah …"
"Hiks … hwah …," air mata Inara mendarat mulus di kedua pipinya, Leon menyeka air mata Inara.
"Nar, dengerin gua." Leon masih mengusap-usap punggung dan juga bahu Inara.
Inara tidak bisa berhenti menangis sesenggukan. Akhirnya, perlahan-lahan ia menenggelamkan kepalanya di bahu Leon.
"Leon, hiks …" Inara masih sesenggukan. Dahinya mengernyit, hidungnya memerah, bibirnya sibuk menahan Isak tangis mendalam.
Sakit, sangat sakit.
"Haaaaaahh …" Inara mendengus panjang.
"Cup, cup cup, Nara … sayang …" Leon mengambil tangan Inara yang sibuk menutup wajahnya.
Kemudian menangkup pipi Ina di tangan besarnya.
Air matanya masih menetes terus menerus.
Sekarang ini wajahnya sangat kucel.
Mau ngapain sih, ini cowok?!
Ah! Kenapa juga, gue kelepasan gini?!
Leon, Lo tau gasih. Idup gue sakit banget!
Ah, percuma. Emang Lo siapa? Sampe harus gue ceritain?
Lo kan orang asing …
"Hiks …" Inara tidak berani menatap mata Leon.
Sekarang ini, wajah mereka sangat dekat. Itu karena ulah Leon yang semakin memperdekat jarak wajah mereka.
Leon yang tampan, sedangkan Inara yang kucel namun tetap terlihat cantik menawan.
Leon menatap wajah Inara. Karena wajah mereka sangat dekat.
Duh, cantik banget diaaaa …
"Nar, liat. Tatap mata gua."
"Hiks … Lo- hiks … mau- hiks … apaa …?" Lirih Inara, wanita itu belum juga menatap wajah sang leon.
"Ya, yaudah. Gapapa. Gapapa, nar."
"Semua bakal baik-baik aja, nar …" Leon tersenyum tulus, tangannya masih sibuk mengelus-elus pundak dan punggung Inara.
"Yon- hiks … kenapa- hiks …, haaaaaahhh …" tangisan Inara semakin menjadi-jadi.
Bukannya marah, Leon malah panik untuk bagaimana cara menenangkan Inara.
"Nar, Lo gaperlu cerita sekarang kok. Gua tau, butuh waktu kan yah." Ucap Leon sembari mengusap kening Inara.
Lebih tepatnya memijat. Karena ia tahu, saat nangis terlalu lama, itu akan membuat mata dan kening sakit.
Leon mengencup dahi Ina. Lalu mulutnya bergerak ke arah telinga Inara.
Iya, benar. Ia memeluk Inara.
Sekarang ini mereka berpelukan.
"Nar. Gue. Ada gue. Tenang oke?" Hembusan napas Leon membuat Inara bergidik merinding. Leon membisikkan hal tersebut sangat sangat dekat dengan telinganya.
Entah kenapa, mendengar hal itu, Inara langsung memeluk Leon. Dan menenggelamkan kepalanya di d**a bidang Leonara.
Wangi …
Juga, hangat …
"Leon- hiks … udah- baik- banget- hiks …"
"Tapi- Ina ngga- bisa- bales- hiks … kebaikan- Leon- hiks …" Inara meneteskan air mata lagi.
"Engga papa, Nara. Leon kan cinta Nara?" Leon mengikuti gaya bicara Inara.
Inara adalah wanita yang sangat galak, tapi ketika wanita itu menangis, ia akan sangat imut dan polos. Serta lucu. Nada bicaranya seperti bukan dirinya saja.
Leon memeluk Inara semakin erat. Mencium pucuk kepala Inara. Serta mengelusnya dengan lembut.