Leon

1334 Kata
"Iyonnn," panggil salah satu kakak kelas di depan gerbang sembari menggoyang-goyangkan telapak tangannya ke atas. Ia tampak antusias menyapa Leon.  Leon tampak tak mengacuhkan ucapan kakak itu. Ia sibuk celingak-celinguk mencari wanita yang ia cintai. Siapa lagi kalau bukan Inara. Wanita yang ia temui sejak pertama masuk SMA. Inara dimana? Kok tumben belom sampe? "Woy!" Tiba-tiba saja ada yang memukul cukup keras bahu Leon. Tentu saja hal tersebut membuat bahu Leon tersentak. Seketika Leon menoleh ke arah si pelaku. Oh, Ryan Ama Riko. Mereka berdua tampak cekikikan, pecicilan, tidak bisa diam. "Jir, Lo dah ga sohib nih Ama kita." Ryan melirik Riko.  "Yah gimana ya bro, dah punya cewek si." Riko tersenyum kecut.  Mendengar hal itu, Leon memasang mimik wajah geram. Tentu saja kedua sahabatnya tertawa cekikikan lagi. Karena usaha mereka tidak sia-sia dalam menjahili Leon. Mereka tahu rahasia dan kelemahan Leon. Yang tidak ada seorangpun yang tahu. Karena Leon sulit di dekati. Baik wanita maupun pria. "Eh lu pada liat Inara kaga?" Leon masih celingak-celinguk. Kedua sahabatnya tidak menjawab, mereka hanya bergidik bahu. "Ah! Itu dia, cinta gua!" Leon antusias, sembari melangkah cepat ke arah Inara. Sembari menggandeng tangan Inara. Inara seperti biasa. Ia jalan lesu tidak berdaya. Tapi, sekali menatap seseorang. Tatapannya begitu tajam juga judes. Leon terkekeh-kekeh, sembari menggandeng tangan Inara. "Ck, lepas!" Ucap Ina seraya menjauhkan tangannya dari Leon. Kemudian tanpa menatap dan melirik Leon sekalipun, Inara langsung berjalan cepat.  Sangat cepat. "b******n itu ngapain sih!" Gumam Inara dengan mimik wajah yang kesal. Tapi, orang-orang sekitar dapat mendengarkannya. Karena mereka memang selalu memperhatikan Inara. Semua murid berbisik saat Inara memasuki lorong sekolah. Di sisi kiri, "Dih itu tuh, yang namanya Inara?" Siswi itu melirik sinis ke arah Inara yang sedang terburu-buru. "Barusan Lo ngomong apa?" Inara memberhentikan langkahnya.  Deg!! Suara tersebut terdengar sangat familiar. Mungkin karena akhir-akhir ini mereka sering bersama saat tidak di sekolah. "Kurang gede. Cepetan ngomong lebih keras!" Bentak Leon, ke arah siswi yang tadi nyinyirin Inara. Leon menatap tajam siswi tersebut. Tentu saja itu karena tingkahnya yang tidak bagus. Padahal masih pagi, tapi sudah berani bertindak ceroboh seperti itu. Apalagi hampir semua orang mengetahui kalau Leon sudah jatuh cinta pada Inara. Karena, orang-orang tahu persis rumornya, Leon adalah lelaki b******k yang sangat gampang memikat hati wanita. Tapi, setelah tahu wanita tersebut menyukainya, Leon dengan mudahnya memutus hubungan dengan wanita tersebut.  Bahasa gaulnya adalah "ghosting." Anjir, Leon. Lo ngapain bertingkah sih!? Argh! Inara ikut menyaksikan kelakuan Leon yang sedang melabrak siswi tersebut. Siswi yang telah berani mencibir Inara.  Gaada cara lain. Gue harus berhentiin ini, sebelum Leon ngelakuin yang makin aneh. Ck! Bujankk kelakuan lu bikin gue ribet, asli! Inara berjalan mendekati Leon. Kemudian menyelipkan tangannya di salah satu lengan Leon. Leon yang mendapat perhatian seperti itu, lantas tersentak sekaligus tersenyum. "Yon, yuk ke kelas." Inara tersenyum sumringah. Dan tak berapa lama, mencubit keci perut Leon. "Everything to you, babe." Lirih Leon di telinga inara. Kemudian berjalan bersama mengikuti perintah Inara. Tentu saja hal tersebut menjadi bahan gosipan yang populer di sekolah tersebut. Leonara Abran, anak penyubsidi terbesar di sekolah ini, berpacaran dengan Inara gadis miskin dan kelakuan yang buruk? Apa kata orang? Apa kata keluarga Leon? . . . . "Eh, sayang! Aigoo!" Ucap Inara dengan nada imut, sembari memonyongkan bibirnya. Kali ini, ia menatap kedua mata Leon. Inara masih memeluk lengan Leon. Mereka belum sampai di kelas masing-masing. "E-eh?" Seketika pipi Leon memerah, tersenyum malu, dan tentu saja tidak berani menatap Inara.  Bagaimana bisa ia menatap wanita yang ia sukai? Apalagi tingkah Inara yang sekarang sangat berbeda! Leon ingin sekali mengusap tengkuknya. Tapi ia tidak bisa. Karena tiba-tiba saja tangannya terasa kaku, tidak bisa digerakkan. Bulu kuduk tubuhnya terasa berdiri semua, karena saat ini jarak tubuhnya dengan tubuh Inara sangat amat dekat. Bahkan tubuh mereka menempel. Lebih tepatnya lengan mereka yang menempel. Njir mendadak banget Lo nar. Untung reflek gua masih cool Coba kalo ke alay an gua tadi kelepasan .. Wah, abis gua.  "Yon!" Inara berbisik. Karena sebentar lagi mereka akan sampai di kelas Leon. "Hm?" Jawab Leon yang juga berbisik. "Ikut gua, yak?" Inara masih berbisik, tanpa anggukan dari Leon, Inara segera menarik Leon ke arah gudang sekolah. Inara terburu-buru menyeret Leon ke arah gudang sekolah. Wah, mau ngapain nih anak? Jangan-jangan mau kasmaran lagi! Wih, keknya dia udah suka gua nih Makanya agresif gini, hahaha  Leon tersenyum puas. Mengikuti permainan Inara. "Lo sebegitu sukanya ya sama gua?" Leon tertawa pelan. Pertanda puas. "Yon, ayo ke belakang gudang." Perintah Ina. Tak terbantahkan. Mimik wajahnya seketika berubah. Tidak seceria dan Seramah tadi. "Hah? Mo-" Inara langsung menyeret Leon dengan cepat. "Diem. Gaada bantahan." Jawab Inara dengan nada dingin dan datar. Begitu juga dengan mimik wajahnya. Sekarang, mereka sudah sampai di depan gudang sekolah yang biasanya ditempati beberapa siswa nakal. Tapi, kini sepi. Tidak ada seorangpun disana. Ini adalah gudang yang hampir semua murid tau, bukan gudang yang waktu itu Leon dan Inara menemukan jalan rahasia berupa taman indah. Inara membuka pintunya. Leon tidak bereaksi apa-apa. Leon terus saja mengikuti permainan Ina. Sampai …. . . . Brak!!! Leon terpental terjatuh ke samping.  Pipinya memar membiru.  Tendangan tadi benar-benar dilakukan dengan secepat kilat. Sampai Leon tidak bisa melihatnya dan hanya menerima rasa sakit di pipinya. "Ash …" rintih Leon, memegang pipinya yang membiru akibat tendangan balchagi Inara. Leon berusaha berdiri, ini belum seberapa dibanding luka waktu ia ikut lomba MMA waktu itu. Inara menatap tajam, dan tersenyum puas. Kedua tangannya di lipat, berlagak seperti 'tuan'. "Ina, Lo ken-" tanya Leon perlahan Brak!!! Merasa kesal, Inara terus saja menendang Leon berkali-kali.  Tentunya dengan kecepatannya yang membuat lawan tidak dapat berkutik. Itu adalah Inara. Sosok Inara yang buas. Tidak menggunakan kuda-kuda tetap.  Tapi, saat ia ingin melakukannya, kuda-kuda sudah siap! "Hiks … Lo dah tau kan? Gue kayak gimana?" Inara merasa malu karena telah melepas sifat kebuasannya pada Leon. Anjir gimana sih … Tapi, Leon gamungkin ceritain ke anak-anak kan? Mau dibilang apa, gue? Wakil ketua kelas kok gitu? Wakil ketua kelas seram. Atau apa? Hiks … "Lo gapapa?" Tanya Leon, lagi-lagi ia mengusap bahu dan punggung Ina secara bergantian. Wanita yang diperlakukan seperti itu hanya Inara. Walaupun Leon adalah badboy sekaligus playboy terkenal. Ia punya batasan-batasan tersendiri. "Nar?" Tanya Leon sekali lagi.  Inara tidak menjawab apa-apa. Gadis itu masih meringkuk menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menitikkan air mata, merasa bersalah. Kali ini, Leon memeluk Ina. Wanita itu tidak merespon apa-apa. Masih terus berkutat dengan pikirannya. Sembari sesenggukan menitikkan air mata yang tidak ada henti-hentinya. Apa iya, gua cuma buat lu nangis? Apa iya, gua cuma duri buat lu? "Nar, lu ngga papa kan? Please jawab, jangan buat gua khawatir …" lirih Leon.  Pria tampan itu masih memeluk Inara.  Tangisannya tampak begitu pilu, apakah ada sesuatu yang terjadi di masa lampau? Walaupun semua badannya terasa sangat sakit. Karena tadi di hajar berkali-kali. Tapi, Leon tetap saja lebih mengutamakan Inara. Gila, tendangannya sakit juga. Duh, Ampe nyut-nyutan gini pipi gua. "Apa karena gua ngga ganteng lagi, jadi lu nangis?" Tanya Leon. Seketika Inara menahan tawanya. "Pftt … pfttt … haha-" Inara langsung menutup mulutnya. Siapa sih, yang tidak tertawa jika suasana sedang serius seperti ini, tapi seorang pria berkata seperti itu dengan nada polos? "Dih, iya kan? Gua pasti udah ga ganteng lagi, deh." Leon menghela napas dengan kasar. Pertanda kecewa. "Tapi, ngga papa nar. Ini kan buatan lu. Jadi, ya gua oke-oke aja." Leon terkekeh pelan. Memeluk Inara dengan segenggam kehangatan. Inara yang di perlakukan itu tentu semakin merasa nyaman sekaligus tak enak hati. Leon terus saja memperlakukannya sebaik mungkin. Tapi? Inara? Ia malah memperlakukan Leon sesuka hati. Inara menatap wajah Leon. Gimana bisa, gimana bisa gue menghindar dari Lo, Kalo Lo kayak gini? Gue sama Lo itu beda, Yon. Gue ngga pinter, ngga kaya, ngga cantik, orang susah. Sementara lu? Populer, tampan, nilai selalu tinggi. Lagipula kehidupan lu sempurna banget.  Beda jauh sama gue. "Kenapa, nar? Lu butuh cerita kah? Atau apa? Gua siap." Leon menatap mata Ina yang sedari tadi menatapnya. Pria itu mengulas senyuman tulus. Nanar matanya terlihat menghanyutkan hati siapapun yang melihatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN