Masih tentang Leon

2337 Kata
"Yon, gue mau lu jauhin gue." Ucap Inara, tak terbantahkan. Inara menatap mata Leon. Mereka masih berpelukan, tapi kini sudah agak di renggangkan. Leon yang mendengar itu tentu saja terheran-heran. Dahinya mengernyit lagi. Menatap heran, Inara. Hah? Kemudian ekspresi wajahnya seketika berubah jadi sedih. Inara yang menatap mata Leon tentu saja terhanyut oleh ketampanannya. Ah, s**t … Gantengnya … "Ah, y-yon. Jangan natep kayak gitu!" Pipi Inara memerah. Ia mengalihkan pandangannya dari Leon. Tapi, sesekali melirik wajah tampan Leon yang masih setia menatapnya. Nar, Lo tau gasih, Lo lucu banget Leon tersenyum simpul. Sembari  "Kenapa, nar?" Tanya Leon, kali ini Inara melepas pelukannya. "Gue risih." Jawab Inara berbohong. "Tapi gue cinta Lo-" cekal Leon. "Udahlah." Inara menghela napas, ia baru saja akan keluar dari gudang sekolah, tapi tindakannya dicegah oleh Leon. "Ngapain lagi?" Tanya Inara pelan, karena tangannya ditahan oleh Leon. "Gue sayang banget sama Lo, nar." Ucap Leon lemah lembut, perlahan tapi pasti, Leon berjalan mendekati Ina lagi, dan memeluknya dari belakang. Ah … Hangat … Inara memejamkan mata, seketika terbuai oleh perlakuan halus Leon. Tapi setelahnya ia sadar, dan bahunya agak menyentak, lalu berusaha melepaskan pelukan sepihak itu. "Gak. Nar. Biarin kek gini beberapa waktu. Gue pengen." Celetuk Leon karena ia berusaha melepas pelukannya. Inara melirik Leon, lelaki itu memejamkan mata. Kenapa? Kenapa seorang Leonara ingin memeluk bahkan sampai memohon seperti itu? Inara hanya bisa diam, menikmati permainan Leon. . . . . Sementara di seberang sana, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka berdua. Ckrek Entah untuk apa bukti foto itu, tapi sepertinya ada seseorang yang tidak menyukai kebersamaan mereka. . . . "Yon," ucap Inara, pertanda sudah jengah oleh pelukan tersebut. Leon tersenyum, masih dalam posisi menutup mata, ia melepaskan pelukannya. Leon menghela napas. "Gue balik." Ucap Inara, sembari melangkahkan kaki keluar gudang. "Ehh, bareng." Ucap Leon sembari berjalan mengikuti Inara yang sudah mau keluar dari gerbang sekolahan. "Nar! Tunggu! Ada barang Lo yang ketinggalan." Leon memekik keras, ia masih tetap berlari. "Buset. Cepet banget tuh bocah." Ucap Leon, sembari mengatur-atur napasnya. Ia menjadi sangat ngos-ngosan karena berlari tanpa persiapan. "Den, nyari siapa? Sampe ngos-ngosan gitu. Ada maling, ya?" Tanya pak satpam.  Tiba-tiba saja, pak satpam sudah berada di belakangnya.  "Yeh pake nanya." Jawab Leon seadanya. "Inara. Inara dimana? Liat gak?" Tanya Leon yang masih mengatur deru napasnya. "Oh! Inara? Tadi sih kayaknya udah naik busway deh!" Jawab pak satpam sembari mengingat-ingat. Sebenarnya Inara ada di belakang Leon.  Baru saja, ia ingin mengageti Leon, tapi itu kalah cepat dengan kedatangan seorang wanita cantik. Rambutnya panjang, pinggulnya ramping, buah kembarnya juga terlihat sangat montok. Kulitnya putih.  Sungguh wanita yang amat cantik. "Ah? Eh? Siapa nich!" Antusias wanita cantik tersebut. Mata cantik dengan bola mata berwarna biru terang itu menatap ke arah Leon. Sedikit membelak. *Wah, Leva! Makin cantik lu! Gila-gila!!" Jawab Leon yang tak kalah antusiasnya.  Leon mengencup bibir Leva. Begitupun sebaliknya. Mereka tampak seperti seorang kekasih. Inara tidak jadi mengageti Leon.  Perlahan tapi pasti, Inara berjalan mundur-mundur. Tidak ada lagi senyum yang terukir di wajahnya.  Suram. Itulah satu kata yang dapat mewakili mimik wajah Inara. Apa nih Jadi gue dibohongin? Jadi selama ini Leon udah ada pacar Haha. Lucu banget yah  Selamat deh. Bagus, kan? Jadi, besok-besok gue gausah ngusir-ngusir dia pake seribu macam alasan. Yes. Betul. Ah, tapi … Kenapa, d**a gue nyeri … Gak biasanya kek gini … Inara memegang dadanya yang sakit. Ia mengelus-elus perlahan. Kemudian berlari ke arah pintu belakang gerbang sekolah. Tak mungkin ia melewati pintu gerbang umum. Leon masih berdiri dan bersenda gurau dengan wanita cantik tersebut. Ia tampak bahagia bersamanya Inara segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Dadanya terasa semakin nyeri. Terutama di bagian uluh hati. Kenapa? Apa karena ia telah cemburu? Tapi, Inara tidak mau mengakui kalau dirinya sudah menyukai Leon. Baginya, Leon hanya akan menjadi penambah masalah di hidupnya. Gue gaboleh lemah gini Apaan sih! Gue kan Inara! Gue ngga bakal suka-sukaan sama cowok! Leon, pertama dan terakhir kalinya. Iya, bener. Inara berlari untuk bergegas pulang ke rumah. Tapi, barusan ia melihat ada sebuah bus yang berhenti di depan jalan besar dekat dengan sekolahan. Dan juga, banyak sekali siswa maupun siswi yang turun dari bus tersebut. "Gapapa, Besok-besok gue coba naik bus itu. Supaya bisa hindarin Leon." Gumam Inara sembari memantapkan dirinya. Inara berlari kencang ke arah rumahnya. Ia takut kalau Leon akan mengejarnya. "Yon, maafin gue ya. Tapi kita ngga bisa sama-sama. Kita nggak cocok." Gumam Inara di sela-sela larinya. Sembari ngos-ngosan. "Nar …" tiba-tiba saja di telinga Inara, ada seseorang yang memanggilnya. Itu terdengar seperti suara Leon. "Yon?" Tanya Inara. Ia merasa sangat ketakutan sekarang. Suara siapa itu? Apakah itu hanya halusinasi Inara? Atau, apa? Seseorang? Seseorang menguntitnya? Inara berusaha tidak memperdulikan suara yang terus terngiang-ngiang di kepalanya. "Siapa, sih anjing!" Inara memekik agak keras. "Keluar kalo berani!" Sambungnya dengan nada ketus dan menyentak. "Hadepin gue!" Pintanya dengan mata membelak, lalu keluarlah beberapa orang berjas hitam. Wajahnya semakin hari semakin bahagia. Apalagi saat bersamanya. Padahal, Inara masih lumayan kesal karena adegan cipika cipiki tadi. Itu tadi siapa ya? Saudaranya Leon? Atau … Mantan ceweknya? Atau jangan-jangan … Pacarnya?! Mata Inara membelak dan segera melepas genggaman tangan Leon saat dirinya membatin 'pacarnya'. Gimana bisa sih, pria itu mendekati Ina, jika dirinya sudah punya pacar? Apakah ada masalah pada otak pria tampan itu? "Ihh! Nar!" Bentak Leon, pria itu memonyongkan bibirnya. Sepertinya Leon sangat kesal karena tindakan tersebut. "Yon, gue duluan." celetuk Inara dengan nada dingin, dan Inara memasang mimik wajah datar. Kemudian berjalan cepat, lalu berlari agar Leon tidak dapat mengejarnya lagi. Leon menatap punggung Ina yang semakin lama semakin jauh, dan hilang di penghujung batas mata memandang. Mengapa pria itu tidak mengejarnya? Itu karena, Leon merasa dirinya sudah melampaui batas pada Inara. Tindakannya sudah membuat Inara ilfell. Jadi, pria itu memilih untuk diam saja.  Tentunya dengan memikirkan rencana selanjutnya. Rencana yang penuh kejutan. Akan sangat menganggu Inara. Maaf nar Gua cuma nggak mau Lo kenapa-kenapa. Leon tersenyum, dan berbalik arah. Arah rumah mereka sangat berbeda. Tapi Leon ingin pulang setiap hari bersama Ina. Pria itu ingin memastikan sendiri kalau Inara baik-baik saja. Gua bakal lakuin apa ya pulang sekolah? Oh, apa gua bilang aja, gua nggak bisa ngerjain pr matematika? Emang dia bakal percaya? Toh gua pinter. Selalu dapet nilai tertinggi. Ah, s**t. Kenapa gua pinter sih? Oh, apa gua pura pura bodoh aja ya? Tapi, emang Inara bakal percaya? Hm … Leon mengusap-usap dagunya, ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa menuntaskan rindunya pada wanita yang ia cintai. Inara. Setelah diam beberapa menit, akhirnya Leon punya ide yang terbilang cukup bagus untuk di gunakan! Gimana kalau gua suruh bibi masak? Kesukaan Inara, apa ya? Oh, gua tau. Kayaknya dia suka apa aja deh! Hahha kemaren aja makannya lahap banget! Ih, gemes banget sih! Iya, nih!  Gua kudu bawain makanan tiap hari, supaya Inara punya pipi tembem! Gila pasti bakal lucu banget sih. Leon tersenyum memikirkan jika Inara bisa sampai mempunyai pipi tembam karena ulahnya. Pria itu mempercepat jalannya. Sembari bersiul-siul.  Ina, Ina. Seumur idup gua, kaga pernah sampe SE perhatian ini sama cewek. Cuma lu doang. Lu doang deh, haha! Eh anjir jadi kepikiran tar gua nikah ama Ina. Hahaha masih lama g****k. Ah tapi pasti Inara cakep banget dah kalau pake gaun bikinan keluarga gua. Hm … Leon terus saja tersenyum simpul. Pipinya memerah, ia menghela napas. Oh gua tau! Biasanya setiap Minggu kan bakal ada acara pertemuan sesama perusahaan. Apa gua ajak Inara aja ya? Tapi apa dia mau? Mau, lah! Gua kan ganteng! Hahahaha anjir pede banget … Hmmm … Tar gua pilihin deh gaun apa yang cocok sama dia  Kayaknya si gaun warna putih ya.  Biar kayak bidadari surga!  Hahahaha anjir … Tak terasa ia sudah hampir sampai di rumahnya. Kediaman Keluarga Abran. Leonara adalah putra pertama dan terakhir. Anak tunggal Ferdi Abran dan Kesya Abran. Rumahnya seluas 1 hektar dengan pilar megah dimana-mana. Ayah Leon adalah pekerja keras dan tangguh juga cerdik.  Begitu juga ibunya, penulis terkenal nomor 5 di dunia. Di rumah, hanya ada Bibi dan ibunya yang tengah sibuk mengetik cerita sepanjang hari. Biasanya, kalau tamu, pasti harus lapor dan memencet bel rumah megah yang terdiri dari 5 lantai itu. Leon biasanya memanjat pagar pilar rumahnya. Para satpam hanya terlihat biasa-biasa saja. Karena memang itu sudah menjadi kebiasaannya sejak bisa berjalan dari kecil. Tingkah pria itu memang sedikit aneh atau bahkan terbilang cukup aneh untuk keluarga konglomerat. "Liat tuh, den Leon. Kelakuannya gapernah berubah." Satpam itu menggeleng-geleng tak habis pikir. Ia menceritakan pada satpam baru yang bekerja sekarang. "Emang kelakuan den Leon kayak gitu tiap keluar rumah? Ama nyonya boleh?" Tanya satpam baru yang penasaran. Satpam lama tidak menjawab, ia hanya mengangguk. Mereka berdua tidak bisa percaya. Ada orang aneh yang berani memanjat pagar setinggi 2 meter itu. Terlebih itu adalah anak kesayangan keluarga ini. Leonara Abran. Leon menepuk-nepuk kedua telapak tangannya. Lalu menghela napas, dan menyapa para satpam. "Pak!" Ucap Leon sembari menaikkan kedua alisnya. Baru saja para satpam ingin menghampiri Leon untuk tes keaslian kulit dan DNA. Leon yang jahil seperti biasa berlari dengan cepat. Begitulah Leon. Sangat suka bercanda dan jail. Banyak rumor yang beredar kalau Leon berkali-kali menghamili wanita-wanita yang dekat dengannya. Tapi, itu tidak benar-benar terjadi. Walaupun gaya seorang Leonara sangat badboy. Tapi dirinya selalu ingat pesan mamahnya, seperti ini. "Kalau mainin wanita jangan sampai kebablasan ya. Mama gapernah larang kamu ganti-ganti pacar. Tapi, jangan pernah lakukan 'hubungan yang biasanya dilakukan orang yang sudah menikah' kalau kamu tidak serius sama wanita itu. Temuilah cinta sejatimu. Alangkah baiknya menikah dulu. Buatlah wanita itu merasa terhormat karena dinikahi oleh Leonara Abran." Leon terus mengingat pesan itu. Sampai kapanpun. . . . . Leon berhenti sejenak, berjalan dengan santai sembari agak ngos-ngosan. Mengapa ia harus berlari? Jawabannya tentu saja adalah "ya gapapa. Gua mau aja." Itulah Leon. Semaunya. "Biiiikk!" Teriak Leon, sembari mengatur napasnya yang sudah mulai normal kembali. Leon menjatuhkan dirinya ke Sofa depan TV. "I-iya den?" Bibi tersenyum dan menunduk.  Peraturan di keluarga konglomerat ini, semua bawahan harus menunduk jika berhadapan dengan majikannya. Itu adalah peraturan yang dibuat oleh kepala keluarga, Ferdi Abran. "Ck, gausah nunduk bik. Gaada papah." Ucap Leon jengkel.  Leon memang tidak setuju bahkan sempat membantah untuk peraturan satu ini. Karena menurutnya, semua manusia punya hak untuk berbicara dalam keadaan tegap. Apapun pekerjaan mereka, itu adalah cara kita saling menghargai tiap individu. Tidak terkecuali dengan pekerjaan pembantu. Menurut lelaki itu, semua pekerjan halal itu sangat bagus dan patut di apresiasi.  "Jangan den. Disini ada kamera yang tuan bisa liat. Nanti saya dimarahin den." Ucap sang bibi. Nanar matanya terlihat rapuh dan ketakutan. "Ck yaudah. Bik, tolong buatin ayam geprek yah? Yang krenyes Krenyes, okay. Semoga bibi bisa yak." Leon tersenyum hangat, kemudian jalan mendekati bibik. "Salim bi. Leon lupa, heheh." Leon terkekeh, mengambil tangan kanan sang bibi, dan mencium punggung tangan kanan Bibinya. "Ah, den. Bibi kan bukan siapa- siapa-" bantah bibi, merasa tidak enak. Setiap hari, Leonara terus bertingkah seperti itu jika tidak ada orang dirumahnya. "Bi, bibi yang urusin Leon dari kecil, loh? Leon udah anggep bibi, itu ibu Leon sendiri." Ucap Leon sembari mengusap-usap bahu bibi. Bibi itu terharu. Nanar matanya terlihat mengatakan kalau Leon terlalu baik padanya. Itu membuat dirinya jadi rindu pada anaknya yang ada di kampung. Bibi segera bergegas ke dapur. Ingin membuatkan permintaan Leon tadi. Selama ini, Leon tidak pernah meminta masakan khusus seperti itu. Baru kali ini, bibi juga agak heran. Tapi ia lebih memilih untuk fokus saja pada memasak ayam geprek sesuai pesanan Leon, "yang krenyes-krenyes." Tidak butuh waktu lama, itu karena peralatan di dapur Leon sangat memadai.  Bibi sudah bisa menyiapkan sajian makanan panas yang terlihat sangat menggugah selera. Sebenarnya Leon bisa saja membeli di luar, tapi pria itu ingin Inara merasakan betapa nikmatnya masakan bibinya itu. Setiap hari, apapun masakan bibi, pasti selalu enak. Dan cocok di lidah keluarga Abran. Terutama Leon. Leon yang sudah berganti baju dan bebersih diri, keluar dari kamar menuju meja makan. Ia ingin makan siang dengan Ina. Tapi, itu terlalu cepat jika ia memaksa Ina untuk main kerumahnya. Bibi menyajikan makan siang di atas meja megah yang terbuat dari keramik yang di dalamnya ada beberapa ikan ikan kecil yang berasal dari beberapa negara. Konsep rumah Leon memang unik. Dan juga menyehatkan mata memandang. Leon tersenyum-senyum, tidak biasanya. "Tumben den, mesem-mesem gitu?" Tanya bibi yang masih menyajikan makanan ke atas meja makan yang lumayan lebar. "Bik, Leon boleh cerita, kah?" Tanya Leon agak ragu-ragu. Pria itu takut kalau bibi akan terusik atau bahkan masih sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Untungnya, pembantu di rumah itu tidak hanya bibi, tapi ada beberapa pembantu lain yang berusia muda. Jadi, bibi tidak akan kecapakan sendiri. "Monggo, den." Bibi tersenyum simpul. Sebelum Leon mengangkat bicara, bibi bertanya dahulu, "den, ini ayam gepreknya mau di bungkus?" Tanya bibi. Tentu saja hal itu di angguki dengan cepat oleh Leon, "dua ya Bi." Tambahnya. Sembari bibi menyiapkan ayam geprek, Leon memulai mode curhatnya. "Bi, kalau cewek kadang baik, kadang ketus. Itu kenapa sih?" Tanya Leon polos. Menatap bibi yang sedang menyiapkan bekal untuknya. "Hmmm, kayaknya sih den Leon lakuin kesalahan kalau dia sampai jutek gitu. Sebenarnya dia baik, cuma ya itu, den Leon lakuin kesalahan yang tanpa sengaja atau sengaja." Jawab bibi, tangan gempalnya dengan cekatan memasukkan ayam geprek ke dalam dua kotak bekal. Menaruh hiasan-hiasan ciri khasnya. Leon tidak menjawab lagi, ia hanya mengangguk. Sejujurnya ia tidak paham apa maksud bibi, tapi pria itu lebih memilih untuk diam dan merenungi omongan bibi. Sampai ia tahu apa arti dari perkataan tersebut. "Nih den." Ucap bibi sembari menyerahkan rantang berkilauan emas perak. "Oke deh Bi. Makasih banyak ya Bi. Maaf banget udah repotin bibi." Leon cemberut karena merasa tak enak pada bibi tersebut. Bibi hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Bibi itu tidak habis pikir, karakter dan kepribadian Leon sangat baik padanya. Sehingga kadang kala membuat lupa kalau itu adalah Leonara Abran. Anak dari konglomerat kelas kakap yang harus dihormati. Leon bergegas ke rumah Inara.  Kali ini, ia naik motor Vespa miliknya. Ia berniat ingin mengajak jalan-jalan Ina setelah makan siang bersama nanti. . . . . . Sementara itu, di rumah Inara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN