Anak kodok

1550 Kata
Pagi ini genap 2 bulan Leon mendekati Inara. Setiap hari Leon mendekati tanpa henti. Itu membuat Ina sangat muak dan kesal tentunya.  Seperti pagi ini… "Haiiiiii inaaaaaaaaaaaaaaaaa!!" Ucap Leon panjang lebar dengan memainkan nada suara naik turun.  Ina berdecak sebal Ck..! Bocah ini lagi… gumamnya disertai memutar bola matanya dengan malas. Muka jutek nan datar selalu terpasang setiap saat diwajah Ina.  "Ina! Ke kelas bareng yuk?!!" Celotehnya seraya tersenyum lebar dan menggenggam tangan Ina. Dengan cepat Ina menghempaskan tangan Leon. Dan bersiap mendendangkan kakinya ke arah wajah Leon dengan sangat cepat. Brak!!! Leon terpental. Seisi sekolah menatap Ina ketakutan. Sekarang ini, Ina di cap sebagai wanita tergalak nan bengis di sekolahnya. Semua tatapan mata mengarah kearahnya. Tatapan mata mereka seolah menyorotkan kebencian juga ketidaksukaan yang begitu menonjol. Semua siswa berbisik-bisik. Sudah jelas Ina akan dikenal satu sekolah karena perilakunya yang terlalu berlebihan. Sekarang Ina berada di ruang BK. Dari tadi Ina hanya memainkan ponselnya. Membuka sosmed seperti orang santai tidak ada masalah. Sejujurnya Ina sangat khawatir. Ia takut dirinya dikeluarkan dari sekolah.  Sedangkan Leon masih belum sadar. Posisinya adalah tersenyum lebar. Senyumnya tak bisa ditutup oleh petugas UKS.  Karna itu terasa kaku. PMR terus memberikan minyak kayu putih diujung hidung Leon.  Beberapa saat kemudian barulah Leon tersadar dan bisa menormalkan ekspresinya yang sedari tadi kaku.  "Ina mana?!" Tanyanya seraya memakai sepatu lalu bergegas meninggalkan ruang UKS "DI BK!" teriak salah satu petugas PMR. Leon sekarang sangat panik. Ia takut kalau gadis itu kena masalah besar. Atau bahkan dikeluarkan dari sekolah. "Ah... membayangkannya membuatku merinding…" batin leon. Ia melangkahkan kaki dengan cepat. Separuh berlari. Disertai tetesan keringatnya. Leon segera mengetuk dua kali pintu ruangan BK itu lalu membukanya tanpa seijin empunya. "Permisi pak. Saya Leonara. Maaf pak, cewe ini temen saya. Tadi kita cuma bercanda pak. Dia lagi latihan bela diri." Bela Leon disertai cengengesannya. Entah mengapa ia ingin sekali menyelematkan gadis yang sedari tadi hanya mentap ponsel bermuka jutek itu. "Duduk Leon" ucap pak Aris dingin. Wajahnya datar menandakan moodnya sangat tidak bagus. Leon segera duduk disebelah Ina.  Ina menatap sinis Leon kemudian memutar bola matanya dengan malas seraya berdecak pelan. Setelahnya. Pak Aris menarik nafas panjang-panjang dan menghembuskannya secara kasar. "Leon Leon Leon leonaraaaa! Ina Ina Ina inaaraa!! Kalian lagi kalian lagi…!" Ucapnya seperti beo. Leon dan Ina semakin menunduk. Mereka tahu mereka salah. Kini Leon memutar otaknya dengan keras supaya cepat keluar dari ruangan engap ini. "Pak. Jadi kita harus apa?" Tanya Leon memecah keheningan. "Bisa gak Ina!!? Bisa gak kamu gak main kekerasan!!! Aduuh…!" Bentak pak Aris.  "Iya pak. Saya akan mencoba." Jawab gadis itu dengan santai. "Iya iya doang kamu mah! Kamu itu cewe na!! Udah udah! Sana keluar! Belajar yang benar..! Oiya Leon. Kamu jangan deketin Ina lagi. Nanti ada masalah lagi, bapak lagi yg kena tahu gak!!!" Ucap pak Aris panjang lebar. "Iya pak." Ucap kami kompak dengan posisi masih menunduk. Ina segera melenggangkan kaki keluar ruang BK. Leon juga ikut. Oh tidak. Dia mengikuti Ina. Lagi. Ina setengah berlari ke kamar mandi wanita. Kini dia harus memenangkan dirinya terlebih dahulu agar saat belajar emosinya sudah reda atau bahkan hilang. "Apaansi. Yon. Kelas Lo dimana bego. Ck penguntit dasar" Ina memutar bola matanya dengan malas dan berbalik badan. Ternyata Leon sudah pergi.  Ah apa perasaann gw aja? Ah gataulah bodoamat. Batin Ina. Tak lama setelah di toilet, Ina segera keluar dan menuju kelas. Tapi kini, ada yang memegang roknya. Oh shit..! Siapa lagi….! Argh…! Batin Ina. "Ina. Oh nama Lo Ina." Ucap pria dibelakangnya. "Siapa" ucap Ina datar. Kemudian membalikan badan untuk melihat pelaku. Deg!!!  Jantung Ina terasa sakit. Sesak. Nafasnya tersengal-sengal. Perasaan panik itu datang lagi.  Pria itu…! Ini kesempatanku! Bertahanlah aku! Sebentar saja. Ya! Batinnya. Ina segera menendangkan kakinya dengan sangat cepat ke pipi pria itu. Pria itu tersungkur ke lantai sekolah. Sebelumnya mengenai tembok. Lalu jatuh ke lantai. Tendangan yang sangat keras membuat getaran di sekolah itu. Ya, kini mereka berada di lantai 3. Kelas Ina ada di pojok dekat kelas Leon. "Ashh..! Sialan Lo!" Rintihnya sambil memegang pipinya yang kini membiru. Sekarang semua siswa mengelilingi Ina berbetuk seperti lingkaran. "Eh ada apa ini! Ina!!!! Kamu lagi kamu lagi!!!!" Geram ibu kepala sekolah. Mengangkat satu tangan lalu melayangkan tanda siap memukul punggung gadis itu.  Namun Leon yang melihat itu segera berdiri dibelakang Ina. Plak!!! "Ash… sakit…!" Rintih Leon.  Ia acting seolah olah itu membuatnya sangat kesakitkan padahal tidak begitu sakit. Ia hanya ingin masalah ini kelar secepatnya. Leon juga tidak ingin Ina kena marah lagi. Mata kepala sekolah itu terbelak. Anak penyumbang terbesar disekolah ini..! Bagaimana bisa aku…! Ah! Batin ibu kepala sekolah. "Le-leon.. maafkan ibu y-yya..? Jangan bilang orang tuamu ya? Ibu tak sengaja sungguh Leon. Jangan cabut dana sumbangan sekolah ini ya.. hiks" ucapnya sambil menangis.  Ya, kepala sekolah sedang akting walaupun tidak  ada casting disini. Kepala sekolah akan melakukannya. Itu semua demi kejayaan kantong pribadinya. "Iya Bu. Ayok Ina." Ucapnya seraya menggenggam tangan Ina yang kini dingin sekali. Ina… kenapa tangan lu dingin banget ebusettt…! Batin Leon. Leon hanya bisa melihat Ina yang menunduk malu dan tak berkutik. Seolah ada kejadian besar yang menimpanya.  Apa yang ngebuat si Ina begini ya? Bukannya dia cewe pemberani? Ah mungkin karna dimarahin kepsek? Tapi tadi gue liat ada si b******k Deon..! Ungkap batin Leon.  Matanya terbelak saat mengetahui bahwa dirinya tanpa sadar menyebut Deon. Ah Ina.. semoga Lo ga kenapa kenapa ya…! si muka jutek.. hehe. batin Leon.  Sekarang ini Leon sangat sedih melihat Ina yang terus menunduk. Ina yang seperti takut pada sesuatu. Tidak seperti biasanya. Ina mengingat semua kejadian yang terekam jelas di kepalanya setahun lalu. Ina benar benar takut, cemas dan juga merasa bersalah pada dirinya sendiri. Mengapa waktu itu ia tidak bisa menghentikan aksi pria b***t itu.  Sekarang, kepalanya terasa sakit dan muter muter. Sorot matanya lelah seperti habis mengerjakan sesuatu. Iya, mental Ina sedang dikeroyok oleh pikirannya sendiri. Oh ayolah Ina… ah… tetep aja gabisa keluar dari pikiran ini… batin Ina. Dari tadi Leon berusaha menggoyangkan tangan Ina. Leon pikir, Ina bisa cepat sadar saat ia melakukan itu. Namun tak kunjung sadar. Ina malah seperti orang linglung dengan tatapan kosong. "Ina…" ucap Leon lemah lembut. Sambil menggerakkan tangan yang digenggamnya. Tapi sayangnya sekarang tangan Ina semakin dingin. Juga menetes di tangan Leon, menatap Ina yang terus menunduk.  Oh, tidak. Sekarang gadis disampingnya ini menangis. Oh, Leon ada ide.  "HAIIII INAAAAAAAAAAAAAA!!!" ucap Leon seraya memainkan notasi nada tinggi rendah.  Ya, itu sudah menjadi kebiasaan Leon saat pagi hari menyapa Ina. Mata Ina terbelak. "Ah!!! Si anak kodok!!!" Ucap Ina dengan lantang.  "Hah? Siapa? Anak kodokk?!" Ucap Leon sembari manyun. Ina menoleh ke sampingnya untuk melihat siapa lawan bicaranya. "Hiih!!!!!" Ina bergidik ngeri. Kemudian dirinya melihat tangannya yang digenggam oleh Leon. Ina dengan cepat langsung melepaskan genggaman itu. Leon tertawa lepas.  Ternyata begitu cara mengobati Ina. Sekarang dia sudah tahu. Ah… syukurlah…! batin leon lalu tersenyum tipis. Ina berlari menuju kamar mandi wanita. Ina segera mencuci tangan bekas genggaman Leon. Sabun. Bilas. Sabun. Bilas. Sabun. Bilas. Sabun. Bilas. Dan akhirnya Ina benar benar merasa sudah bersih sekarang. HAHHH…. Syukurlah… tangan gw udh bersih! Ucapnya lega. Kringg!!!  Pertanda bel istirahat berbunyi. Haaah makan apa tidur? Oceh Ina pada dirinya sendiri. "Ah tidur aja? Tapi abis ibu mtk loh! Waaah mtk!" Antusias ina pada diri sendiri.  Kini Ina bersiap melenggangkan kaki ke arah kantin. "WAYO!!! Apa kabar naaa?!!!" Pekik Leon. Disetsit antusias yang luar biasa.  "Hm. Baik." Jawab Ina seadanya. "WAAAH!!! KITA BERI APLUOSE UNTUK INAA!!!" pekik Leon lagi lagi memekakkan telinga Ina. "Diem!" Ucap Ina seraya mengayunkan tangan bersiap memukul pipi lawan bicaranya. Plak!!! "Aw! Ashh.. sakit! Tapi,.. sakit cinta! Hahah!!" Tawa Leon dengan garing. Tak ada yang tertawa sekeras dia saat ini. "Dih apaansi alay" Ina memutar bola matanya dengan malas seraya melenggangkan kaki pergi meninggalkan Leon. "Siapa yg alay? Perasaan cuma gue Ama Lo deh disini" sembari mengejar Ina. Ina memberhentikan langkahnya.  "LO. L.O!" ucap Ina sambil menunjuk Leon dengan jari telunjuknya. Ina kembali melenggangkan kaki meninggalkan Leon. Kini ia berjalan lebih cepat. Tidak sesantai tadi. Sementara Leon masih mengejar Ina.  "Ina tunggu!!!" Pekik Leon sambil lari. "Apaansiiii.. apaaaannnnn!!!! Apaaaaannnnn!!!!! APAAN WOY?!!!! A. P. A.?!!!" pekik Ina Sambil menunjukkan ekspresi yang tak pernah ditunjukkan pada orang lain. "Ini ada yang ketinggalan." Ucapnya murung sambil memanyunkan bibirnya. Dih sok imut..! Argh..! emang imut si.. ah apasi!!? Batin Ina saat menatap wajah Leon. "Paan" ucapnya dingin tanpa menatap wajah lawan bicaranya. Ina mendengus pelan.  Leon benar benar menganggu waktu istirahat nya. Ingin sekali membunuh Leon. Tapi tidak bisa, Leon terlalu imut dan baik. "Sini liat kebawah" bisiknya pada Ina. Ina lagi lagi mendengus pelan. Lalu melihat kebawah.  Tidak ada apa apa disana.  "Jejak Lo, inaa" bisik Leon sambil menginjak sepatu Ina. Lalu lari terbirit b***t.  Leon tahu, Ina pasti akan memukul atau menendang bahkan menampar Leon dengan keras. Ina terdiam. Dia ngapain ya lari.  haahh yaudah deh bagus! Anak kodok udah pergi! Batinnya. Ina menarik nafas lega lalu melenggangkan kaki dengan santai ke arah kantin. Setelah memesan makanan dan minuman. Ina duduk dimeja makan. Ina memang sudah terbiasa sendirian. Walaupun sangat sakit rasanya sendirian.  Tapi ia tetap bersikeras untuk serba sendirian. Ia termenung beberapa saat. Ia juga ingin mempunyai beberapa teman, setidaknya satu.  Ah sudahlah… lupakan.. suara batinnya. Kini Ina akan menyantap makanan yang sudah tersedia didepan matanya.  "Bismillahirrahmanirrahim…!"  Ucap ina seraya meraih sendok. "Inaaaaaaaaaaaaaaa" ucap seseorang disebrang sana. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN