Suaranya terdengar familiar. Ah dia tau.
Pasti itu anak kodok…! Batinnya. Lalu mendengus pelan dan tak menghiraukan ucapan Leon.
"Ah Ina! Udah deh gue samperin aja!" Leon berjalan menuju tempat duduk Ina. Kemudian duduk didepan Ina.
"Ina! Makan yang banyak! Lo abis ini pelajaran mtk kan?! Pasti mikir banyak-" omongannya terpotong oleh Ina yang menggebrak meja membuat orang disekelilingnya melihat ke arah mereka.
Brak!!
"Diem." Ucap Ina dingin.
Leon malah tersenyum lebar.
Benar benar cewe tipe gw banget….! Batin Leon seraya melihat Ina yang sedang menyantap habis makanannya.
"Gue duluan Yon." Ucap Ina pelan tanpa melihat kearah lawan bicaranya.
Wah! Ina! Si muka jutek! Udah mulai suka kali ya dia Ama gue?! Waaaah!!! Batin Leon sambil tersenyum lebar.
"Wah ngape lu! Eh lu gombalin si Ina? Brani amat dah. Gue denger denger Lo udh babak belur kesekian kalinya sama si Ina itu Yon?! Wah parah si. Dia Gatau kali ya Lo itu juara MMA !" Celoteh Riko panjang lebar.
"Sutttt! Hahahaha! Gak. Gue cuma iseng doang godain ina! Abisnya dia jutek amat si hahaha" Leon tertawa lebar.
"Wah parah Lo masih aja jadi penggombal sejati" jawab Ryan seraya berdecak berkali kali.
Mereka bertiga tertawa. Ryan, Riko dan Leon. Mereka sudah bersahabat sejak masih bayi. Merekalah penerus keluarga konglomeratnya. Makanya mereka berteman hanya bertiga.
Kringgg!!!!
Bel sekolah berbunyi pertanda waktunya pulang.
Ina bergegas membereskan mejanya. Memasukkan semua buku dan peralatan tulis kedalam tasnya. Mengecek kolong apakah ada sampah atau barang-barang aneh.
Setelah selesai. Ia berdoa juga, semoga insiden kelas 10 tidak terulang kembali.
"Aamiinn" mengusap wajahnya pelan.
Menarik napas sedalam mungkin dan menghembuskannya secara pelan pelan.
Hari ini banyakkk bangettt masalah.. kapan ya idup gue bisa setenang cewe umumnya.. hahah apaansi. Batin Ina.
"Heyyy! Inaaaaaaaaaaiaiaiaiaaaaa" teriak Leon mengejar Ina yang berjalan makin cepat.
"Ina! Tungguin!" Ucap Leon bernada manja ciri khasnya yang tak ada pada pria lain.
"Apaansi yonn! Gue lagi gamau nyari masalah nii yaa" ucapnya membalikkan badan, sembari senyum terpaksa.
"I-i-iiiiinaaaa!!! Lo senyum!?" Ucapnya penuh haru.
Berakting terharu tersedu sedu. Itulah Leon. Seseorang Penuh kejutan.
"Gue tinggal ni. Cepetan. Ck" ucap Ina santai. Lalu melenggangkan kaki.
"Inaaa!! Lo ko cepet banget siii!?" Leon menghampiri Ina sembari menyamakan nada hentakan kaki mereka.
"Ya. Gw atlit dulu" ucap Ina sambil menatap kedepan tanpa memperdulikan ekspresi wajah Leon.
"Oalah … gituuu! Ina keren!!! INA NYA GUE KEREN!! YAHUUU!!!" Pekik Leon sembari mengarahkan tangan yang terkepal keatas.
Seperti memberi motivasi saja.
"Ih sumpah Ni bocah malu Maluin banget ya Tuhan… jauhkanlah saya dari makhluk seperti dia..!" gumam Ina yang terdengar oleh Leon.
"Hah apa? Lo juga cinta sama gue? Iiiii serius na? SERIUS LO JUGA CINTA SAMA GUEEE??!!!" Ucap Leon terdengar sangat dilebih-lebihkan.
"Dasar alay. Udh bye. Deketin lagi gw tonjok lo" ucap Ina dingin kemudian berlari ke arah busway yang sudah akan segera berhenti.
Leon tertawa keras.
"Hahahahah hahahahhah gemes banget si diaaa…!" Ucap Leon pelan sembari senyum tipis.
Ryan dan Riko yang sedang naik motor menhampiri Leonara.
"Woy? Eh tunggu. Lu kayaknya udh suka ya? Lu.. lu suka ni sama Ina! Seriusan suka kan lu?! Mampus! makanya jangan gombal mulu..! hahahaha" tawa Ryan menghilang karna setelah berbicara seperti itu Leon pasti sangat marah.
Leon tidak suka ditebak duluan. Dia ingin teman temannya diam jika memang sudah mengetahuinya.
Ya, begitulah seorang leonara. Aneh, absurd, kocak, namun pria yang tulus juga setia.
Saat didalam bus. Ina mendengar suara hp yang terus berdering.
Ada apa ya… argh..! Batin ina. Ia sangat tidak suka saat sedang tidur didalam bus namun ada yg mengganggunya.
Itu benar benar menaikkan emosinya.
Ina mengambil hp nya dan melihat nomor tak dikenal menelponnya.
Angkat ga? Gw takut.. gw takutnya itu si cowo b***t itu? Hiks.. ah apasi jangan cengeng! Kalo cengeng Lo pasti di tindas! Udah layanin aja na…! Lo pasti bisa! Ya! -batin Ina
"Halo" ucap pria disebrang sana.
"Ya." Jawab Ina dengan suara khasnya.
" Apa benar ini dengan ibu Inara ?" Sambung pria disebrang sana.
"Ya" jawab Ina dengan ragu. Takut takut kalau ini orang jahat.
"Saya…" celetuk pria disebrang sana.
Sepertinya dia orang kantoran.. soalnya bahasanya formal banget. Apa ya? Eh siapa maksud gw. Siapa ya?-batin Ina
"Iya, anda kenapa?" Tanya Ina santai.
Dalam hatinya, ia sangat deg-degan. Takut takut kalau ini memang orang jahat.
"Yang… coba ibu teruskan dengan kata yang terputus tadi." Tambah pria itu.
"Iya? Em.. saya...yang..? Sayang?" Ucap Ina asal-asalan.
Deg!!!
Kenapa jadi dia yang bilang sayang pada pria tua ini? Pasti gw bakalan kena masalah lagi? Argh! Sialan! Ini pasti sinyalnya kann yang salah?! Aduh gimana dongg…! Inaa ceroboh sekali kamu…!-batin Ina.
"WAHAHAHAHAHA INAAAAAIAIAIAIAIIAIA IYA AKU JUGA SAYANG KOKKK MWUAHH-" teriak pria sebrang sana.
Deg!!!
Mata Ina melotot. Darahnya berdesir panas.
Kali ini, Leon pasti akan menanggung semuanya!!!
Awas lu Leon…!-batin Ina.
Sementara itu, diseberang sana.
Kediaman rumah Leon.
"Hahahaha!" Tawa lepas Leon Penuh kemenangan.
"Ada apa den? Kok ketawa gitu? Den lagi seneng ya?* Tanya pak Deden penuh tanya. Biasanya Leon memang suka tertawa, tetapi tidak sekencang itu.
"Emmm.. nggak pak! Makasih ya pak!" Ucap Leon tersenyum tipis sembari mengembalikan telpon pak Deden.
"Gue udah mastiin Lo baik baik aja naaa! Hehe gw Gatau kenapa. Iya deh kayaknya udah jatuh cinta sama Lo! Hahaha" gumam Leon.
Masih tersenyum tipis. Leo kembali lanjut belajar. Malam hari nanti ia akan memikirkan bagaimana cara memastikan Ina baik baik saja lagi.
Leon memang tipe cowo yang berbeda. Dia selalu punya cara sendiri untuk hal yang dia inginkan.
Inaaa…. bahkan setelah pulang sekolah gue Masi kepengen liat muka Lo yg jutek itu…. hahaha- batin Leon.
Kediaman rumah Ina.
"Hadehh gw pusing banget sumpah! Kenapa siii gw mesti ketemu cowo macam Leon?!! Sumpah gw ga tertarik Ama cowo! Mendingan juga 2d" Ina lagi lagi berbicara pada diri sendiri.
Memegang dahinya tanda ia telah memikirkan banyak hal hari ini.
Hmmm… tapi Lo bakal liat gue yang berbeda besok leonnn! -batin Ina disertai senyum smirknya.
"Udahlah lanjut belajar. Kalo ga belajar gue ga kaya. Kalo ga kaya gue bakal miskin. Kalo miskin orang orang bakal nindas gue seenak jidat mereka! Yups mari belajar!" Celoteh Ina pada diri sendiri.
Dirumah Ina, ia hanya seorang diri. Ayah dan mamanya pisah. Dan mereka sudah menikah masing masing. Kini Ina sendirian.
Ina adalah anak satu satunya. Tak punya adik tak punya kakak.
Ah, Ina hanya ingin punya kakak. Bukan suami.
Tapi. Itu jelas tak bisa. Sangat sangat sangat mustahil.
Ina sedih jika melihat dirinya yang begitu kesepian seperti bukan makhluk hidup saja.
Tapi, Ina selalu menguatkan dirinya. Suatu saat ia akan berbaur dan memiliki banyak teman.
Tapi tidak untuk sekarang atau dalam waktu dekat ini.
Ah kayaknya gue telpon Rion aja deh!-batin Ina.
Telpon
Halo yon!-ina
Iya na? Ada apa?-Dion
Eh Ina siapa? Ina temen gue?-suara seseorang
Eh… kayak familiar…! Le.. Leon! Si anak kodok!- Ina
Hah? Apa? Anak kodok? Gw gapunya kodok na! Ngaco Lo ya? Hahahah - Rion
Eh… SINIIN DONG HAPENYAAA! INAA SAYANGG!!! -Leon
Bang Rion. Udah dulu deh ya. Keknya gw kecapean deh. Bye bang! Mwuah! Muwah!-Ina
Ina menutup telpon secara sepihak. Dia berharap itu hanya halusinasi nya.
Apa yaa… mana mungkin bang Rion kenal anak kodok…
Atau gue tanya aja ya? Ah males bangettt kerajinan hummm…-gumam Ina
Sementara diseberang sana.
Kediaman keluarga Riondra
"Ah!!! Lu mah!!! Ish!" Teriak Leon
"Apaan" tanya Rion santai sambil menghisap rokoknya.
"Itu temen gue!!!" Oceh Leon seperti burung beo
"Ya. terus? Dia jodoh gue. Jan macem macem lu Yon" ancam bang Rion seraya menatap sinis Leon.
"APAAANNN?!!!!! APA LU BILANG?!!!! SEKALI LAGI NGOMONG GUE SLEDING LU!" pekik Leon seraya menunjukkan gaya Handala MMA nya.
"Hahahahah panas amat bang" tawa Rion sambil mengusap kasar bahu Leon.
Leon masih dengan posisinya yang emosi, tidak terima, tidak suka. Posisi kedua tangan terlipat, duduk menyila, juga raut wajah yang seperti orang memendam amarah yang meluap.
"Gini gini. Gue sodaraan Ama Inara. Lo emang beneran kenal Inara?" Tanya Rion penasaran.
Karna setau dia, kondisi Ina sedang tidak baik baik saja. Dia bukan lagi gadis periang seperti dulu. Entah apa yang membuatnya berubah Rion juga belum tahu pasti sebabnya.
"Kenal lah! Yakali ngga! Inarakuuuu.." berbicara sambil memonyongkan bibir manyun khasnya.
Itu sangatlah imut. Memang, muka Leon itu gemas. Oh Tidak. Menggemaskan sekali tepatnya.
"Dih!!!! Kesambet lu ye! Yon… kalo Lo mau Inara. Lo…….. eh… jangan-jangan Lo mau aneh aneh ya!? Ngaku Lo!" Tuduh Rion membuat Leon tersudutkan.
Namun bukan Leon namanya kalau tidak bisa menggertak balik lawannya.
"Hmmm jangan jangan lu nih! Lu kan udh lama kenal Ina. Jangan jangan lu pernah lihat Ina gak pake busana, ya! Wah parah lu!" Tuduh Leon balik seraya menunjuk-nunjuk bang Rion yang lebih tua setahun dari dirinya.
"Dih!!!! Gada akhlak!" Geram bang Rion. Mendorong Leon hingga goyah pertahanan keseimbangan badannya.
"Iiiiiii bang rionnn acuuu! Mwuah!!" Akting Leon lagi.
Melihat itu, Rion tentu cepat cepat pergi dari dedemit itu.
Hih sungguh membuat orang bergidik ngeri saja…!-batin Rion seraya berlari masuk ke kamarnya