Masalah

1551 Kata
Ina termenung sendirian di kelas, seperti biasa, kegiatannya hanya membaca buku dan juga belajar dengan keras.  Walaupun suasana di kelas sangat berisik, tapi ia tetap bisa fokus belajar karena gadis itu punya sebuah ego yang kuat untuk bisa melampaui tindakan di luar batas. "Nar, Lo nggak capek apa belajar mulu?",tanya seseorang di seberang sana. Ina tidak menjawab apa-apa. Ia masih terus sibuk membaca buku dan menghafal rumus-rumus yang ia baca. Ngapain nanyain gue? Apa pedulinya mereka? Ah, paling kehabisan bahan gibahan … Udahlah biarin aja … Gue harus fokus terus baca buku. Mumpung lagi konsen gini … Inara terus memperhatikan setiap kalimat di dalam buku tersebut.  Bagi Inara, hidup itu sangat keras. Ia tidak punya teman, harus punya nilai tinggi agar tetap bisa mendapat beasiswa. Kalau beasiswanya di cabut, ia harus sekolah dimana lagi? Terlebih ibunya itu galak dan juga bengis. Mungkin saja, bisa-bisa Inara tidak sekolah. Sudah bisa masuk ke sekolah bergengsi seperti ini saja sudah membuat Inara sangat senang. Sekolah ini menjanjikan untuk murid yang rajin, pintar, dan selalu dapat nilai tertinggi, dapat masuk ke universitas negeri bergengsi dengan jalur beasiswa. Seperti biasa, Inara membaca buku dengan mimik wajah yang datar. Sejak Bu Eric masuk, sudah tidak ada jam pelajaran lagi. Dan juga, semua tugas dari Bu Eric sudah di kerjakan dengan tuntas dan baik oleh Inara. Tentu saja, sekarang ia gabut. Jadi gadis itu memilih untuk membaca buku saja. Atau sekedar berlatih soal hitung-hitungan. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kelasnya. Siapa lagi kalau bukan Leonara. Pria itu terus saja menguntit Ina. Terlebih lagi ia sudah selesai mengerjakan semua tugas-tugas di kelasnya. Tentu itu membuatnya lebih leluasa untuk melakukan hal tida penting.  Tidak ada yang bisa melarangnya. Leon lagi? Leon, Leon, Leon, dan Leon. Ck, bosen. Kali ini, Inara menutup bukunya, lantas membaringkan kepalanya dengan posisi miring, dan terakhir, menutup mata. Berpura-pura tidur. . . . . Seorang pria tampan dengan bahu lebar dan juga tinggi lebih dari 170 cm, Leonara Abran. Melenggangkan kaki dengan santai, tangannya menggenggam dua kotak bekal. Tersenyum sumringah. Membuat siapa saja yang melihatnya terheran-heran. Seorang Leonara? Sampai tersenyum-senyum seperti itu? Ada apa? Baru saja memasuki beberapa langkah kelasnya Inara, Leon di hentikan oleh Queen, karena wanita wibu itu telah menyandang bagian Keamanan kelas.  Bagaimana bisa, Queen diam saja saat melihat ada seseorang yang masuk tanpa seizinnya? "Leon. Berhenti di situ." Perintah Queen tak terbantahkan. Tentu saja Leon mengikuti perintahnya, langkah kakinya terhenti. Seketika mimik wajahnya menjadi suram dan datar.  Leon sangat kesal. Queen menghampiri pria itu, sembari menggenggam beberapa cemilan di tangannya.  "Mau ngapain?" Tanya Queen dengan cuek. Wanita berpakaian jaket wibu itu menatap tajam Leonara. "Ck, segala nanya. Udah minggir!" ketus Leon, pria itu hendak mendorong Queen tetapi tangan kekarnya segera di tangkap oleh Queen.  Queen meremas-remas tangan Leon, masih menatap Leon dengan tatapan datar. Tentu saja membuat sang empunya meringis kesakitan.  "Lepas anjir! Jangan pegang-pegang!" Bentak Leon, sembari menarik kembali tangannya. Tapi, entah kenapa hal itu sangat susah. Sebenarnya Queen menggunakan energi apa? Genggamannya sangat kuat. Sekelas Leonara saja, yang sudah pernah menang lomba MMA, tidak bisa mengalahkannya. "Ck, Queen. Oke-oke. Gue izin ya, mau ketemu calon istri …" celoteh Leon, masih berusaha menarik tangannya yang di tahan oleh genggaman Queen. Queen menghela napas, tatapannya masih datar, "oke deh. Lain kali tau sopan santun ya. Jangan SENGA. Gue benci cowok senga modelan Lo." Jawab Queen, kemudian melepas genggaman tangannya. "Ashhhh …" rintih Leon, sembari melihat kondisi tangannya yang semakin memerah. "Di apain anjir tangan gua?! Behhh sakitt …" gumam Leon, sembari lanjut melenggangkan kaki ke arah kursi Inara. Lah, tumben tidur? Abis ini bukannya pelajaran Pak Zain ya? Biasanya baca-baca buku nih anak. Leon menatap wajah Inara yang sedang berpura-pura tidur. Kemudian menaruh dua kotak bekalnya di samping Ina.  Tangan kekarnya mulai menempel pada pipi Ina. Pria itu cemas, mengapa Inara sudah tidur tidak seperti biasanya. Ngga panas sih Tapi kok, dia tidur ya? Leon melamun, ia tidak tahu kalau Inara sudah bangun dan menatapnya dengan tajam. "Jir, kaget gua." Ujar Leon, bahunya sedikit menyentak, ekspresinya polos. "Kenapa." Ucapan pertama yang keluar dari mulut Inara adalah, suara datar yang seakan akan menyuruh pria itu cepat pergi. Yaps benar, wanita itu terusik. Tepatnya sangat terusik. Pandangan Inara beralih ke dua bekal kotak makan yang pria itu bawakan. Kemudian menatap lekat-lekat kedua mata Leon. Tatapannya seperti mempunyai sebuah pertanyaan. Leon yang sudah tahu akan maksud pertanyaan Inara, segera berusaha menjelaskan," oh itu, bibi gua masakin. Terus berlebih, daripada dibuang sayang kan? Jadi gua pikir bungkusin buat lu juga-" Leon belum selesai menjelaskan, tapi ucapan pria itu terhenti ketika Inara menyingkirkan dua kotak bekalnya dengan cepat, otomatis dua kotak bekal itu terjatuh ke lantai. Kemudian Inara melanjutkan tidurnya, dengan posisi tadi.  Leon menatap tajam Inara. Sebenarnya pria itu sudah naik pitam, tapi ia sangat amat berusaha menahannya. Biar bagaimanapun, Leon tidak boleh menaruh trauma pada Ina. Terutama trauma kekerasan. Ia tahu betul, hati wanita begitu sensitif dan juga mudah rapuh. Leon menghela napas, dan segera mengambil dua kotak bekal itu, lalu melangkahkan kaki ke arah keluar kelas. Tentu saja, murid-murid di kelas itu memperhatikan peristiwa itu dengan serius. Ada banyak bisikan tentang Inara yang begitu bengis dan menakutkan. Contohnya seperti di sisi kanan kelas. Grup anak-anak perempuan yang doyan bergosip. "Dih, Inara sok banget gasih? Iya kan? Gila ya, seorang Leon di tolak mentah-mentah gitu." Ucap cewek cantik dengan wajah penuh makeup.  "Iya anjir. Gatau diri itu namanya." Jawab salah satu teman grupnya. Sebelum melangkah keluar kelas, Leon menitipkan pesan pada Queen. Pesan yang dapat mampu membuat Inara merasa bersalah selama beberapa Minggu kedepan. "Oke. Gua balik. Have fun, nar." Ucap Leon sebelum benar-benar keluar dari kelasnya. Kini Leon benar-benar sudah tidak ada di kelas Inara. Pria tampan itu kecewa tapi juga merasa bersalah, karena merasa telah menganggu Inara. . . . Sementara itu, di dalam kelas Inara. "Hey, nar!" Ucap geng wanita yang bergosip tadi, sembari menggoyang-goyangkan Inara yang sedang tidur pulas. Inara tidak bereaksi apa-apa. Ia lebih memilih diam, sampai semuanya tenang. Itu sih, namanya bangunin macan dari sarangnya! "Nar!!!" Pekik wanita cantik berwajah full make-up. Wanita itu merasa geram karena Inara tidak menanggapi mereka. Karena merasa sangat muak dengan semua drama yang sedari tadi di mulai sejak ada Leon, Inara bangun dengan mata membelak. Emosinya sudah tidak dapat ditahan. Plakk!!! Inara melayangkan satu tamparan keras di pipi wanita berwajah full make-up. Yang otomatis membuat para siswa di dalam kelas menjadi ricuh membicarakan Inara. "EH SUMPAH YA! LO PIKIR GUE TAKUT SAMA ORANG-ORANG KAYAK KALIAN?!!!" bentak Inara, jari telunjuknya menunjuk-nunjuk semua siswa yang ada di kelasnya. Yaps benar, Macan telah keluar dari sarangnya. Queen segera bertindak, menghampiri Inara, lekas menarik tangannya menuju pintu kelas. "Nar! Stop, stop!" Perintah Queen saat mereka akan benar-benar keluar dari kelas. Queen ingin membawa Inara kemana? Queen melepas tangan Inara.  "Gue minta maaf, tapi kita harus ganti wakil kelas mau gak mau. Dan Lo, Lo juga harus masuk ke BK ya. Please nurut." pinta Queen memohon-mohon. Suaranya terdengar lembut, berbeda dari biasanya. Inara tidak menjawa apa-apa. Ia tahu ia salah, dan sekarang wanita cantik itu hanya bisa merenungi kelakuannya. Sekarang ini, mereka sedang menuju ruang Bimbingan Konseling. Terlihat Leon yang sedang berdiri di luar kelas. Berposisi menyandar santai di salah satu sisi dinding. "Jir, segala ada Leon." Umpat Queen merasa agak kesal.  Tentu saja, Leon tidak akan membiarkan mereka lewat begitu saja.  Dahi Ina mengerinyit, kenapa Leon ada di luar kelas, ya? Pria itu sedang di hukum, atau memang sedang bolos? Bagaimana bisa?  Padahal pelajaran Bu Eric? Leon menghela napas, ia terlamun sejenak, tapi di sudut matanya terlihat ada dua orang berjalan ke arahnya. Lantas Leon menoleh, matanya sedikit membelak, ia sangat senang bisa melihat Ina, apalagi di tengah-tengah jam pelajaran seperti ini! "Nar …," lirih Leon sembari menatap Inara dengan mimik wajah menyedihkan. Grep Leon berhasil menggenggam tangan Ina. "Nar, mau kemana sayang?' tanya Leon, sembari tersenyum simpul. "Yon. Jangan ganggu." Perintah Queen, sembari menarik tangan Ina, agar tidak terlepas darinya. Hal itu membuat Leon secara otomatis melepas tangan Ina. Sepertinya Leon sudah tahu seberapa menakutkannya seorang Queen. Mengingat kejadian tadi, sebenarnya Leon tidak takut. Tapi, pria itu hanya mengalah karena Queen seorang wanita. Ekspresi Leon mendadak mulai pucat, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Glek Leon meneguk ludahnya sendiri.  "Kali ini gua biarin dah." Gumam Leon menghela napasnya.  "Inget inget yang tadi. Serem juga njir." Sambungnya, kemudian menyandarkan tubuhnya di sisi dinding lagi.  Ia bersantai. "Tu cewe wibu apa sikopat si." Ucap Leon bergidik ngeri. Leon menatap punggung kedua wanita tersebut. Yang semakin menjauh darinya. Ina kenapa ya? Masa, sih?  Leon memikirkan kalau Inara mengalami sesuatu yang sangat fatal. Ah … Gua bingung … Mau ngikutin mereka. Tar di omelin Queen … Leon mengerinyit, pria itu berpikir keras. Ia harus apa? Ah yaudahlah ikutin aja. Mumpung belom jauh Cok! Akhirnya Leon memantapkan hati untuk mengikuti mereka. Melenggangkan kaki perlahan-lahan seperti orang mengendap-endap. Jangan sampe ketauan Queen tapi … "Leon, mau kemana?" Tanya seseorang yang sepertinya familiar. Suaranya tegas, dan juga terkesan galak. Siapa lagi kalau bukan Bu Eric. Lantas Leon memberhentikan langkahnya. "Leon!" Bentak Bu Eric, mempercepat langkahnya. "Heh! Di tanyain! Punya mulut gak anak ini!!" Hardik Bu Eric, sembari menepuk keras bahu Leon. "A, em, mau pipis Bu." Ucap Leon berdalih. Kemudian menyunggingkan senyum cengengesan ke arah Bu Eric. "Oke. Saya tungguin." Jawab Bu Eric, sembari mencubit lengan Leon. Membuat pria itu merintih kesakitan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN