Ada apa dengan Inara?

1704 Kata
Sudah sedari tadi, Bu Eric menunggu, tapi Leon tak kunjung keluar dari toilet siswa. Kemana anak itu? Bu Eric berpikir, sebaiknya titipkan Leon pada satpam saja. Seperti biasa. Anak itu sudah terlalu nakal. Bagaimanapun juga, Bu Eric harus mengajar dan juga melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru. Tapi, kalau perhatiannya dihabiskan pada Leon saja, lalu bagaimana murid-murid yang lain? "Yon, saya catat nama kamu di catatan bimbingan konseling ya." Gumam Bu Eric sebelum benar-benar pergi dari depan toilet siswa. Sementara itu, di dalam toilet Tampak pria tampan dengan tampilan seragam putih sekolah yang di keluarkan dari dalam celana abu-abunya. Rambutnya sedikit acak-acakan dan juga basah, tapi itu tidak menutupi ketampanannya, malah terlihat sedikit seksi. Pria itu mondar-mandir sejak masuk toilet. Ia gusar dengan wanita cantik yang terlihat murung tadi. Siapa lagi kalau bukan Inara. Wanita yang telah berhasil mengambil hatinya. Mengambil hati pria badboy yang tukang main cewek.  Leon mengacak-acak rambutnya lagi, lalu menepuk-nepuk tengkuknya. Mimik wajahnya menampakkan kecemasan dan keseriusan dalam menanggapi masalah Inara di kepalanya. Gimana caranya keluar dari tahanan Bu Eric? Oh, yaudah. Pokoknya gua harus disini terus,  sambil ngecek Bu Eric masih ada apa kagak di luar, tuh  Leon mengangguk. Memantapkan hati. Dari balik celah pintu toilet, Leon mengintip-intip, apakah Bu Eric masih disana? Gak ada. Yes. Pria tampan itu segera membuka pintu toiletnya, lalu berkaca sebentar Masih ganteng Leon membatin seperti itu. Pria itu memang punya tingkat percaya diri yang sangat tinggi. Lagipula memang kenyataannya ia adalah pria tampan di sekolah itu. Sayangnya, beberapa rumor negatif tentang Leon  menyebabkan pria itu kehilangan beberapa fansnya. Tapi, Leon bukanlah tipe pria yang senang ber-drama. Baginya, hidup itu simple jadi jangan di persulit seperti itu. Ada yang suka, ok. Tidak ada yang suka, tidak mungkin. Leonara' kan tampan.  Dan juga berkharisma. Leon segera bergegas mengikuti jejak Ina. Ke ruang Bimbingan Konseling, ya? Kemudian bergegas ke sana. Saat di perjalanan, Leon mengendap-endap. Ia takut jika harus berpas-pasan dengan Bu Eric, rencananya kali ini akan gagal. . . . "Leon, Lo gaperlu ikutin gue." Ucap seseorang disaat Leon sedang menoleh ke belakang. Siapa? Ternyata itu Inara. Ia sendirian. Tidak bersama Queen.  "O-ooh, nggak ko. Siapa bilang gua ..." bantah Leon dengan santai, yang terputus ketika Inara melengos mulus melewatinya. Leon terdiam,  Sebenarnya apa salah pria itu? Padahal, kemarin-kemarin hubungan mereka sudah membaik! .  . . . . Leon tidak paham dengan situasi saat ini. "Nar." Leon berbalik badan, menyeret tangan Inara. Sekarang ini, Inara dan Leon memasuki ruangan seni musik. Leon mengunci pintu ruangan seni musik. Dan menyuruh Inara untuk duduk lesehan di lantai. "Lo jahat." Celetuk Inara yang mulai duduk. Raut wajah cewek itu terlihat rapuh tapi tertutup dengan kesan dingin dan datarnya. Itu terlihat dari sorot nanar matanya. Leon mengerinyit tak paham.  Maksudnya? "Nar, ada yang perlu kita selesaiin." Ucap Leon sembari mendekatkan wajahnya pada Inara. Menatap cewek itu dengan dalam. "Gaada. Gaada yang perlu di selesaiin." Jawab Inara. Kemudian beranjak bergegas berdiri. Leon menghela napas, menarik tangan Inara. Ia menatapnya dengan dalam, kemudian berkata "duduk. Dengerin gua."  Inara yang sudah tidak tahan dengan semua sikap Leon yang kadang-kadang baik dan kadang kadang terlihat mengesalkan, akhirnya berteriak. "LEONARA. GUE BENCI SAMA LO!"  tes Satu air mata mendarat mulus di pipi cantik cewek bernama Inara. "GUE BENCI DEON!" ungkap Inara yang langsung mengeluarkan semua Isak tangis yang ia tahan sejak tadi. Suara tangisannya begitu pilu. Sesenggukan yang terdengar sangat menyakitkan baginya. Sebuah tangan kekar melingkar di leher jenjang cewek tersebut.  Sembari mengendus-endus bahu kecil itu. Sepertinya orang yang ada di belakang itu ikut menangis juga? Siapa? "Nar .." lirih suara yang terdengar familiar itu terdengar sangat dekat di dekat telinga Inara. Itu pasti suara Leon. Karena disini tidak ada orang lagi selain mereka berdua. Cewek itu tidak menjawab. Dia sibuk mengurus suasana hatinya yang sedang kacau.  Akibat seorang pria. Pria yang seolah olah memberi harapan bahwa 'aku mencintaimu' tapi, juga berlagak seperti itu pada cewek-cewek lain. Mengapa nasibnya harus menyukai seorang badboy? Apakah tidak ada cowok yang lebih baik? Leon memang tampan. Berkharisma.  Sosok yang sempurna untuk ukuran pria mahal. Tapi, mengapa ia bertingkah murah seperti itu? "Udah cukup Yon …" lirih Inara sembari berusaha melepas tangan yang melingkar di lehernya. Tidak bisa dipungkiri, kalau Leon telah menyakiti hatinya. Begitu dalam, begitu pilu. Gue kira Lo tuh suka sama gue. Makanya gue berusaha ngebuka hati. Tapi kenyataannya …? "Gak. Gua gabakal lepasin. Sebelum lu jelasin, lu kenapa." Ucap Leon dengan lemah lembut, cowok itu menempelkan dahinya di bahu kecil cewek itu. Sekarang ini, tidak ada jarak antara mereka.  Tubuh mereka saling bersentuhan. Leon meneteskan air mata entah untuk keberapa kalinya. Cowok itu tidak tahan saat melihat cewek yang ia cintai menangis begitu pilu di hadapannya. Mereka menangis bersama.  Begitu pilu, begitu menyakitkan. Begitu tulus  Dari hati ke hati. "Gue okey kok." Ucap Ina dengan nada parau, sembari menyeka air mata di sudut matanya. Kalau gue bilang yang sejujurnya. Lo pasti makin makin bertahan lama di sisi gue. Padahal, kita adalah duri yang saling memeluk.  Menjalin kasih sayang walau saling menyakiti. Leon menggeleng-geleng, dahinya masih menempel di bahu Ina. Dan juga tangannya yang melingkar. Masih di posisi sama. Di sela-sela Isak tangis sesenggukannya, cowok itu berkata, "Lo berbohong."  Hah? Gimana bisa lo tau? Oh iya, Lo kan cowok buaya, ya. Mana mungkin nggak tau. Di sela-sela Isak tangisnya, cewek itu masih berusaha melepas pelukan tangan Leon yang bertengger di lehernya. "Lepas Yon," pintanya. Tetap saja, masih sama.  Cowok itu menggeleng-geleng lagi, kini Isak tangisnya semakin pecah.  Bagaimana bisa, cowok itu menangis? Apakah Leon adalah seorang pria yang mudah menangis? Tentu jawabannya, tidak. Cowok itu mengingat dengan jelas, terakhir kali ia menangis adalah saat masih berusia 6 tahun. Dan sekarang? Ia menangis 'lagi'  di hadapan cewek yang ia sukai? . . . Dua orang dengan tingkat gengsi dan keegoisan juga keras kepala yang sama, ditakdirkan saling mencintai? Apakah mereka bisa bersama? "Lo mau sampai kapan begini?" Tanya Inara, yang sekarang merasa suasana hatinya sudah lebih baik.  Tapi, tetap saja. Cewek itu merasa sangat malu karena kelepasan meluapkan emosinya di depan Leonara. Cowok yang akan ia jauhi. "Sampai Lo ngaku." Jawab Leon seadanya.  Cewek itu menutup mata, menarik napas panjang, lalu menghembuskan napasnya dengan perlahan-lahan. Kemudian berkata, "Mau gue ngomong juga semuanya udah telat. Gaada yang bisa ngerubah Lo."  "Dan kalo Lo nggak jelasin. Gua gabakal pernah tau." Ucap Leon, menyambung kata-kata cewek itu. Sekarang ini, tidak ada yang angkat suara lagi. Hanya suara Isak tangis yang sesekali terdengar. Entah itu berasal dari cowok itu atau Inara. Setelah beberapa menit saling berdiam-diaman, memilih untuk berkutat dengan isi kepalanya masing-masing. Akhirnya Inara angkat bicara, cewek itu berkata, "Gue mau Lo berubah." "Berubah gimana? Jelasin. Everything i'll do, just for you," ucap Leon sembari mempererat pelukan tangannya yang bertengger di leher Inara. Cewek itu menghela napas lagi. "Jauhin gue." Celetuknya. Mendengar hal itu, Leon tertegun, sampai-sampai matanya membelak. "Kenapa? Gua ada salah Ama lu?" Tanya Leon dengan suara parau. Suara ciri khas seseorang yang habis menangis begitu pilu. Cewek itu menggeleng pelan, lalu berkata, "gapapa." Menarik napasnya dan berusaha melepaskan tangan Leon yang memeluk lehernya. Berhasil. Sesuai janjinya, sekarang Inara sudah merasa bebas karena tubuhnya tidak bersentuhan lagi dengan cowok yang akan ia jauhi. "Lu gabisa gitu, nar. Itu namanya egois." Celoteh Leon tak terima, sembari menyeka air matanya. Cewek itu tersenyum ringan, menatap dalam-dalam mata Leon.  "Lalu, gimana dengan Lo selama ini?" Ucapnya dengan nada santai. "Lo datang dan pergi ke banyak cewek. Lo kira cewek itu apa?  Mainan? Iya, Mainan yang bisa Lo pake saat Lo butuh dan Lo buang pas Lo nggak butuhin lagi." Jelas Inara panjang lebar, masih menatap mata Leon. Leon mengerinyit tak paham, lalu berkata, "Gak. Itu  ...-"  "Oh gue lupa, Lo kan badboy, ya. Jadi menurut Lo, itu hal wajar, kan. HAHA." Cekal Inara sembari tersenyum miring. Apa ini? Apa maksud Inara memasang wajah seperti itu? "Gua kayak gini cuma sama Lo, nar. Gua gapernah nangis di hadapan cewek. Cuma lo-" lagi-lagi omongan cowok itu di potong oleh Ina. "Cukup. Cukup dan jangan pernah sok kenal lagi. Mulai sekarang kita asing." Bantah cewek, dengan mimik wajah yang menjengkelkan.  Menatap Leon, dan dengan cepat melangkahkan kaki ke arah luar ruangan seni. Cowok itu menghela napas, dan mengikuti jejak langkah Inara. Cewek itu segera membuka pintu, tapi tidak bisa terbuka. Terkunci. Hampir saja lupa, Leon telah menguncinya tadi. "Sabar." Celetuk Leon sembari membuka pintu ruangan seni musik yg terkunci. Inara memasang sorot mata tajam.  Apa yang sebenarnya cewek itu pikirkan? Kemudian benar-benar lenyap dari hadapan Leon. Cowok itu menghela napas, mengusap wajahnya dengan kasar. Salah gua apa? Apa katanya? 'mainan'? Gua nganggep cewek mainan? Maksud dia apasih? "Kayaknya gua harus ke kelas dulu dah. Pasti ada tugas."  Ucap Leon sembari melenggangkan kaki ke arah kelasnya. Biar bagaimanapun, seorang Leonara harus mendapat rangking di kelasnya. Dia memang cowok pintar, tapi ada pepatah mengatakan 'percuma pintar, kalau malas.'  Makanya, mau bagaimanapun situasinya, cowok itu tetap mengerjakan tugas dengan baik dan benar. Itulah yang membuat cowok itu semakin berkharisma.  Seorang Leonara. Walaupun termasuk ke dalam golongan anak konglomerat, tapi dirinya tetap memegang kejujuran dalam nilai. Cowok tampan itu pernah berjanji pada mamanya. Flashback saat cowok bernama Leon berusia 7 tahun, awal masuk sekolah dasar. Pagi hari, biasanya Leon sarapan tanpa ayahnya. Keluarga mereka belum sekaya sekarang.  Masih golongan orang kaya, tapi kategori orang kaya biasa. Dan ayahnya yang punya jiwa ambisius tinggi, tidak pernah pulang ke rumah dengan alasan sedang bekerja. Ayahnya itu ingin membuat keluarga kecilnya semakin sejahtera dengan cara membuatnya menjadi keluarga konglomerat terkaya di Asia. Maka dari itu, ayahnya bekerja sangat keras. Di sela-sela sarapan pagi, tiba-tiba saja, Mamanya Leon yang tak lain adalah Qey, bertanya, " Mama mau kamu janji satu hal." "Hm? Apa mah?" Tanya Leon sembari mengaduk-aduk sendoknya yang berisi sarapan pagi. Ceplok telur setengah matang bersama dengan nasi hangat juga sedikit kecap. Sangat nikmat. "Janji, kamu tidak akan menyontek dan akan belajar keras untuk mendapatkan nilai terbaik versi Leon. Oke?" Leon tidak menjawab. Cowok itu masih berpikir-pikir.  "Ingat loh, Yon. Pria itu yang di pegang ucapannya. Yang di percayai tindakannya." Sambung Qey sembari mengunyah makanannya. Leon mengangguk, "iya mah. Apapun buat mamah deh." Ucap Leon antusias. Lalu tersenyum simpul. "Kamu sudah berani bicara iya. Artinya kamu harus pegang kata-katamu ya." Qey mengusap tangan putra kecilnya. Lalu tersenyum ringan. Flashback selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN