Penganggu

1828 Kata
Kringgg!!! Kringgg!!!! Bel sekolah ketiga berbunyi keras seperti biasa. Tak ada yang spesial hari ini.  Semua murid-murid bergegas mengemasi barang-barangnya dan segera pulang menuju rumah masing-masing. Tentu saja, kondisi lorong riah ricuh yang membuat tubuh para murid satu sama lain bersenggolan. Apalagi, banyak siswa siswa gengnya Leon yang suka bercanda seperti hari-hari biasa. Menggoda teman cewek. Semua murid keluar kelas dengan bersemangat. Tapi tidak dengan cewek satu ini.  Inara. Cewek dengan pakaian yang agak berantakan, berjalan menggontaikan kakinya dengan santai, menunduk lesu. Menghela napas. Sepertinya pikirannya sangat ruwet dan juga suasana hatinya tidak baik. Leon yang sedang berada di dekat gerbang sekolah, samar-samar melihat satu cewek di tengah kerumunan siswa yang sedang bercanda. Cewek lesu itu terlihat pucat, nanar matanya begitu rapuh, dan gaya berjalannya tidak seimbang. Brak!!! "Inara!!!" Pekik Leon sebelum berlari ke arah cewek yang terjatuh di lantai. Tidak. Tidak ada seorangpun yang memperdulikannya. Padahal disitu ramai.  Sangat ramai. . . . . Lagi-lagi untuk entah keberapa kalinya, cowok itu meneteskan air matanya lagi. "Nar! Lo, Lo gapapa?!" Pekik Leon sembari menampar pelan pipi cewek berbibir pucat itu. "Hiuh ngapain sih, Yon? Biarin aja kali." Ucap seseorang yang terdengar familiar.  Cowok itu segera berbalik badan, menghadap wanita tersebut, dirinya mendadak naik pitam akibat ocehan murahan wanita itu. "b******k!!! Maksud Lo apa?!" Pekik Leon sembari mencengkram kuat-kuat kedua bahu wanita tersebut. "Jaga, mulut hewan Lo!!!" Sambung Leon, masih dengan posisi sama, matanya semakin membelak, menatap wanita tersebut. Kemudian cowok itu bergegas menggendong Inara di pundaknya. Sabar ya, nar. I'll do anything for u! Leon setengah berlari, cowok itu takut kalau petugas UKS sudah pulang. Keringat-keringat cowok itu mulai bertetesan membasahi dirinya yang terengah-engah menggendong Inara. Semua orang di lorong menatap mereka dengan sinis. Hampir selalu terdengar seperti ini. "Apa, Inara? Cewek jalang itu?" "Haha lagaknya galak bengis. Padahal ciut begitu." "Dasar cewek brengsek." "Mati cepet aja sih. Dasar gengster!" . . . Leon mengerinyit heran, napasnya masih terengah-engah, kakinya tak lelah untuk berjalan menuju Ruangan UKS sekolah. Maksud mereka apa? Gua? Ah, gak. Mereka bilang 'cewek' Gender gua apaan anjir, jantan, ck. Siapa ya? Leon masih berpikir keras, suara isi hatinya menuduh Ina. Tapi ia terus menyangkalnya. Ina? Apa iya? Njir berarti hidup dia selama ini kesusahan dong? Pantesan dia badmood tiap hari Sialan. Tar gua beresin deh semua cecurut cecurut itu! Sabar ya, nar. Duh, abisnya lu kaga pernah cerita ke gua sih. Ah, emang gua siapanya, sampe dia harus cerita? Leon tertawa getir. Tapi sebentar lagi gua bakal jadi seseorang kok. Seseorang yang amat berarti di hidup Lo. Inara. . . . . . . Brak! Brak! Brak!! "Buka!!" Bentak Leon, membuat orang yang berada di dalam ruangan UKS terkejut. Siapa sih?  Petang begini tidak sopan mengetuk pintu? Dokter sekolah mengerinyit, lalu langsung mempersilakan mereka masuk. Dokter sekolah mulai mengecek kondisi Inara yang tak sadarkan diri. Dokter itu menghela napas, melirik ke arah Cowok itu, dan berkata dengan santai, "dia kenapa lagi? Gak capek apa langganan UKS mulu."  Mimik wajah dokter tersebut terlihat kesal. Leon yang melihat ekspresi itu lantas membentak, "apaan sih! Lu niat gak jadi dokter! Kerja yang bener!" Bentak Leon. Tetap saja, ekspresinya yang membuat orang jengkel itu, tetap di pertahankannya. "Yah, dia gapapa. Cuma asam lambungnya naik." Ucap sang dokter sembari menulis obat resep. "Lain kali pacarnya dijaga ya. Lebih di perhatiin makannya." Sambungnya sembari memberikan kertas resep yang harus di tebus di bagian apotek sekolah. Cowok itu tidak menjawab apa-apa, ia bertindak dengan sigap dan cepat, menggendong Inara di pundaknya lagi.  "Mau kemana? Ceweknya taro disini aja. Berat, kan." Celetuk dokter yang membuat Leon berhenti melangkah. "Gak. Dia milik gua." Balas Leon tanpa menoleh.  Lalu melenggangkan kaki ke ruang apoteker. Cowok itu tidak bisa meninggalkan Inara sendirian. Apalagi setelah melihat kejadian itu, membuat hati Leon sakit. Bagaimana bisa, tidak ada yang memperdulikan wanita yang ia cintai? Tampaknya selama ini, hidup Inara tidak baik-baik saja. Dada pria itu sakit.  Karena ia baru tahu sekarang.  Dan untuk masalah kemarin, ia tidak tahu apa-apa yang di maksud Ina. Cowok itu mengumpat pada diri sendiri, mendongkol, Mengapa dirinya sangat bodoh?! Leon menggigit bibir bagian bawahnya dengan emosional. Maaf maaf maaf …! "Oke, atas nama Inara Djustike?" Ucap sang petugas apoteker sembari mengemas obat-obatan Inara. "Bayarnya pake apa nak?" Tanya apoteker lagi, menatap Leon yang memasang mimik wajah badmood. Leon segera mengeluarkan black Card miliknya. "Oke semoga cepat sembuh ya, pacarnya." Ucap sang apoteker ramah tersenyum. Sebenarnya dari tadi Leon memikirkan, mengapa setiap orang yang mereka temui, selalu menganggap bahwa mereka adalah pasangan? Tapi ada yang lebih penting. Kondisi Inara. Yang belum membaik juga. Sekarang ini, mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Leon. Karena Leon pikir, jika di rumahnya, Inara akan merasa nyaman. Sabar ya nar. Gua bakal terus stay di sisi lu. Leon mengusap-usap pucuk kepala cewek itu, lalu mencium keningnya. Pak supir segera membukakan pintu mobil pada sisi kanan. "Sini den, saya bantu bawain pacarnya." Ucap pak supir bersiap membopong Inara. "Gak. Minggir!" Ketus Leon, mimik wajahnya terlihat sangat kesal. Bagaimana bisa, cowok itu menyerahkan Inara pada orang lain? Leon segera menggendong cewek yang masih belum juga sadarkan diri. Menapaki pintu rumah megahnya, kediaman keluarga Abran. Belum masuk ke dalam rumah megahnya, Leon sudah di cegat oleh beberapa pembantu rumah yang biasanya menyapanya saat pulang ke rumah. "Den, mau kami bantu?" Tanya seorang pembantu yang sepertinya telah berdiskusi dengan pembantu-pembantu lain. "Ya." Jawab Leon sembari menyerahkan Inara pada mereka. Para pembantu segera membopong Inara ke arah ruang keluarga, tepatnya sofa. "Tidurin coba posisinya telentang." Ucap pembantu yang membopong salah satu bagian tubuh Ina. "Hey, siapa bilang taro disana? Noh, di kamar tamu VIP!" Ucap Leon tegas, tetapi mimik wajahnya begitu datar.  Leon menghela napas, merentangkan kedua tangannya. Wajar jika cowok itu capek sekali. Oh iya, Gua harus siapin makanan buat Ina. Jadi pas dia bangun, Udah ada makanannya! Leon mengangguk, dan segera bergegas mencari si bibi.  Pembantu di rumah ini yang paling lama mengabdi, dan juga yang terkenal masakannya paling nikmat. "Bi, maaf. Leon mau repotin bibi lagi," Ucap Leon lemah lembut disertai cengengesannya. "Alah kayak Ama siapa aja, den, den," balas bibi yang tersenyum, sembari melirik Leon. "Apa, den?" Sambungnya. "Tolong buatin makanan favorit aku ya, bi." Pinta Leon dengan lemah lembut. "Oalah … iya-iya, den. Tunggu ini rapi ya." Jawab si bibi sembari tangannya kembali mengelap-elap furniture berbahan kaca itu. Leon mengangguk, tersenyum simpul, pipinya memerah. Tidak seperti biasanya. Ada apa? "Buat siapa, den? Cewek yang tadi?" Tanya bibi sembari tersenyum jail, tangannya yang sedang sibuk mengelap furniture, menoel lengan Leon. Bibi tersenyum penuh maksud. "Yaa …, gitu deh." Balas Leon yang tersenyum sumringah menampakkan gigi-gigi rapinya. Mengusap tengkuknya pertanda salah tingkah. "O-oh, itu siapa den? Pacar?" Celetuk si bibi lagi, ia berniat menggoda Leon sedikit lebih lama.  Karena Leon memang terkenal akan ke badboy-annya tapi, cowok itu tidak pernah sekalipun menyuruh masuk para wanita-wanita yang pernah ia dekati.  Ini, kali pertama si bibi melihat Leon membawa teman cewek masuk ke dalam rumah, apalagi sampai-sampai minta di buatkan makanan favoritnya seperti ini. Tentu sebuah kejanggalan yang amat terlihat jelas. "Em, belum bi. Tapi Leon pastikan, iya." Jawab Leon mengangguk tersenyum simpul, pipinya masih memerah. Sang bibi masih terus berkutat dengan pekerjannya sembari tersenyum sendiri. "Dah dulu ya, bi. Leon mau nyusul pelayan-pelayan." Celetuk Leon sembari menyalami tangan bibi seperti hari-hari biasa saat pulang sekolah. Sang bibi hanya mengangguk, tangannya tetap berkutat dengan pekerjaannya yang tak kunjung selesai. Itulah Leonara Abran. Seseorang yang penuh kejutan. Tampilan dan tingkah senganya seperti cowok b******k, tapi di balik itu, cowok itu mengumpat-umpat saat menjadi cowok baik yang penurut juga lemah lembut. Leon yang di rumah dengan Leon yang ada di luar rumah, alias sekolah. Sangat jauh berbeda. . . . . . Saat ini, Leon sudah mengganti bajunya, dan ia sudah berada di kamar VIP tamu, tempat dimana Inara terbaring lemah. "Pelan-pelan ya. Itu bidadari gua." Ucap Leon dengan tegas, sembari menatap datar satu-satunya pelayan yang sedang membaringkan Inara. "Den, ini mau di apain lagi?" Tanya salah satu pelayan yang aktif. "Em ..., kalian bisa tolong gantiin bajunya gak? Keknya itu perlu deh. Soalnya bajunya pasti udah kotor' kan ya." Pinta Leon sembari menatap kerja para pelayan. Kalau para pembaca berpikir, tentang bagaimana bisa Leon menyuruh seperti itu? Apakah ukuran  pakaian dalamnya ada?  Leon kan laki-laki, mana mungkin punya pakaian dalam wanita? Jawabannya adalah, Leon sudah memesan semua nomor dan kode juga tipe dari semua pakaian dalam dan juga beberapa pasang pakaian tidur wanita. Tentu saja dengan black Card miliknya. Leon tersenyum kecil memandang Inara yang tertidur di rumah megah milik orang tuanya. Terhenyak oleh kecantikan Inara yang sedang sakit, cowok itu di kejutkan ketika salah satu pelayan mulai membuka baju atasan alias baju potong berwarna putih ciri khas seragam hari Senin. Matanya membelak, pipinya memerah lagi dan juga cowok itu jadi sangat salah tingkah. "E-eh, saya keluar dulu, deh." Celetuk Leon sembari melangkah ke luar kamar tersebut. Para pelayan saling pandang dan kemudian tertawa kecil. Mereka menggeleng-gelengkan kepala, sebab tak percaya Leon selucu itu. Sembari tangannya tidak berhenti dalam menuntaskan pekerjaannya. Mengganti pakaian Inara. Juga memandikannya. Setelah selesai rapi, bersih dan wangi, dan di kembalikan dengan posisi tidur,  Perlahan-lahan mata Inara terbuka, sembari dahinya mengernyit. "Aaaahh …" rintih Inara, memegang dahinya. "Wah udah bangun." Celetuk seorang pelayan yang sedang memungut pakaian kotor cewek itu, dan ingin segera mencucinya. Inara melirik wanita pelayan tersebut. Nanar matanya terlihat rapuh, karena kondisinya belum stabil. Baru saja pulih. Tapi … Matanya membelak dan badannya dengan cepat berdiri tegak tak lupa dengan tangannya yang berusaha mengambil semua pakaian yang ada di genggaman sang pelayan. Kejadian tarik-menarik pun di mulai. Tentu saja pelayan tidak akan memberikan pakaian kotor itu, lagian, ia pasti akan dimarahi Leon habis-habisan kalau tidak bekerja dengan benar. "Siniin!!!" Pekik Ina sembari matanya melotot, tangannya tak mau mengalah tetap menarik pakaian dalamnya. Njir, malu banget! Ini dimana sih?! Argh!!! "Jangan …" lirih sang pelayan, dengan suara seperti  ingin menangis. Melihat hal itu, entah kenapa egonya menjadi turun.  Ia membiarkan pelayan itu pergi membawa pakaiannya. Entah mau di apakan. Tapi, betapa kagetnya Inara saat melihat dirinya telah memakai pakaian tidur entah milik siapa. "Anjir! Anjir! Ini!? Kok!?" Ucap Ina terkaget-kaget, sembari memegang baju yang ia kenakan. Inara segera bergegas keluar dari kamar megah tersebut, dahinya masih terus mengerinyit tak paham dengan semuanya. "Woy!!! Rumah siapa ini!!!" Pekik Ina karena ternyata rumah itu sangat besar, dirinya telah berada di atas lantai dua.  Njir ini rumah apa lapangan bola?! Gede amat!!! "Eh, cewek gua udah sadar." Celetuk seseorang di belakang Ina. "Anjir ini rumah lu?!" Tanya Inara dengan suara emosi tinggi. "Lu gila ya?! Pakaian! Ini!" Ucap Ina sembari mencengkram kuat-kuat pakaian tidur yang ia kenakan. Leon mengangkat kedua alisnya, pertanda tak paham. Pura-pura polos. Cowok itu berniat mengerjai Inara sekali-kali. "Anjing! Lu liat tubuh gua?!" Bentak Ina, sembari mencengkram kuat-kuat tangan Leon. Lagi-lagi Leon tidak menjawab, pria itu malah menarik tangan Ina ke arah meja makan. "Dah, makan dulu. Tar maag lu kambuh." Ucap Leon mempersiapkan makanan untuk cewek itu. Njir, jangan bilang dia udah liat tubuh gua?! Aaaaaa!!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN