Rumah anak kodok

1551 Kata
"Gamau." Jawab Inara tak acuh, membuang muka. "Iya-iya, ntar gua jawabnya." Jawab Leon sembari menggeser piring perak ke tempat Ina. "Yok makan." Ucap Leon, sembari mengucap Bismillah. Inara pun segera memakan makanan itu, mau tidak mau, perutnya kini memang lapar sekali. "Lo ga makan?" Tanya Inara, di sela-sela kunyahannya. "Bentar, deh." Ucap Leon yang tampaknya memikirkan sesuatu. Cowok itu bergegas pergi dari meja makan berhias ikan-ikan hidup di bawah meja makannya. Si bibi dimana? Leon tampak celingak-celinguk melihat-lihat ke berbagai penjuru arah rumahnya yang mewah. "Bi?" Gumam Leon, sembari berjalan menyusuri bagian-bagian rumahnya. Terlihat sang bibi yang sedang menyiram tanaman rumah. "Oalah bibi disini rupanya." Ucap Leon sembari menghampiri wanita paruh baya itu. "Bi, udah makan sore?" Tanya Leonara sembari mengambil alih kerjaan siram siram tanaman. "Belum, den." Jawab si bibi dengan sopan. "Udah-udah. Yuk ikut Leon." Ucap Leon menaruh teko siram tanamannya di lantai, menggenggam tangan si bibi yang masih agak basah. Dengan sigap bibi menarik tangannya, tapi Leon bersikeras untuk menggenggamnya, "gapapa bi." . . . . . . Kini mereka sudah berada di ruang makan tempat Inara sedang makan. Makanannya tampak sudah habis. Bersama dengan Inara yang kekenyangan. "Yuk, temenin makan Bi." Ucap Leon yang menarik kursi untuk mempersilakan si bibi duduk dan makan bersamanya. "Sini, Leon sendokin." Ucap cowok itu tapi, tangannya di cegat oleh tangan bibi. "Gausah den. Bibir sendiri aja." Cekal si bibi, mengulas senyum ringan. Leon menghela napas, "Bibi mah kebiasaan. Padahal Leon mau berbakti Ama bibi." Ucap Leon di sela-sela makanannya. Mereka berdua belum sadar kalau ada seorang cewek yang ketiduran di meja makan. Beberapa menit kemudian. "Bi, cewekku lagi tidur. He-he-he" ucap Leon sembari senyum mesem-mesem.  Sesekali melirik Inara yang tertidur pulas. "Ceweknya den Leon cantik, yah." Ucap bibi di sela-sela kunyahannya. Tentunya, sembari tersenyum tulus. "Iya bik, cantik sih cantik. Tapi kok putri tidur, yah?" Jail Leon sembari menoel-noel lengan cewek itu. Leon dan si bibi tertawa bersama. "Gini-gini tuh galak loh Bi. Aku pernah di tendang." Ungkap Leon, sembari merapikan uraian rambut Inara yang berantakan. Tentu saja hal itu membuat Inara kegelian. Cewek cantik dengan pakaian baju tidur itu menggeliat. Mengerjap-erjapkan mata. Dan menyeka air liur di sudut bibirnya. Matanya menyipit dan juga dahinya mengerinyit heran. Kenapa ia bangun di tempat tadi? "Leon? Leon kan?" Tanya Inara dengan mata menyipit dan juga suara yang parau ciri khas orang bangun tidur. Leon tersenyum tulus, kemudian menggenggam tangan Inara. Mengusapnya dengan lemah lembut. "Nar, will u marry me?" Ucap Leon dengan penuh keseriusan, menatap dalam-dalam mata Inara. Bibi hanya bisa tersenyum sendiri dan diam menyaksikan adegan romantis itu. Yang cowoknya sudah penuh keseriusan dalam mengungkapkan ajakannya. Tapi, sayangnya yang cewek tidak paham apa maksud si cowok. Ia tidak mendengar dengan jelas, mungkin karena nyawanya baru saja kembali.  Jadi, kefokusannya buyar. Dah Ina mengerinyit, "Hah?" "Den, belum waktunya." Celetuk bibi, kemudian membereskan piring-piring perak yang berserakan. Leon terkekeh geli, "iya ya bi? Bercanda kok, tadi latihan." Dahi Inara semakin mengerinyit tak paham, Apa maksud mereka sih? "Yon. Gue pulang." Ucap Ina sembari bangkit berdiri dan melepas genggaman tangannya. Tapi, Leon dengan cekatan menggenggam kuat tangan Ina. "Gak. Nar. Lu belum pulih." Ucap Leon sembari menarik tangan Inara. "Ck, mau ngapain sih." Ucap Inara yang kini badmood. Inara duduk kembali.  Dirinya teringat sesuatu. "Oh iya, pakaian gue mana?" Tanya Inara melirik Leon dengan jutek. "Di cuci lah." Ucap Leon sembari mengelap-elap mejanya. "Lu ngapain tuh?" Tanya inara yang terheran-heran. "Lu ga liat?" Jawab leon seadanya. Tangannya masih berkutat dengan meja makannya. "Gak. Buta mata gue." Ucap Ina yang agak jail. Cewek berambut sebahu itu tersenyum jail. Leon yang mendengar itu, segera melirik Ina. Kemudian segera menyelesaikan pekerjaannya dalam membantu si bibi. "Makasih den, udah bantuin bibi." Celetuk si bibi yang tiba tiba berada di belakangnya. "Gitu tuh neng. Den Leon, kalo gabut, biasanya bantuin si bibi." Sambung si bibi, sembari merapikan makanan yang ada di atas meja. "Neng udah berapa lama jadi pacarnya den Leon?" Tanya si bibi yang kali ini lebih intens. "Hah? Siapa yang pacaran?" Tanya Inara polos, sembari melirik Leon. Oh, Leon udah punya pacar? Kok dia ga bilang sih? Ah, lagian gue siapanya coba? "Oh, Leon ya?" Celetuk Inara lagi, karena tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya. "Bi?" Ucap Ina karena omongannya di kacangin sedari tadi. Leon dan bibi hanya tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya Inara tidak menyadari kalau dirinyalah yang disebut sebagai 'pacar leon'. "Yon, gue harus belajar nih. Gue pulang ya-" pamit Inara sembari beranjak dari kursi makan. Leon menghela napas, dan berjalan ke arah Inara. "Nar, lu tinggal disini sampe besok ya?" Pinta Leon dengan muka memelas. Wajahnya dan juga nanar mata cowok itu terlihat sangat amat berharap pada cewek berpakaian baju tidur di depannya. "Hah? Ngapain?" Tanya cewek itu tak paham. Apalagi sih, gila banget ni cowok Udah ada pacar, tapi gue tetep di Iket gini. Anjir emang Ck … Inara memasang muka emosi, "mau Lo apaan sih!" Bentak Inara sembari memelototi Leon. "Biiii!!! Inara galak!." Pekik Leon sembari memanggil si bibi. Yang di panggil segera datang, "a-ada apa, den?"  Leon hanya bisa mengisyaratkan pakai bahasa isyarat agar Inara tetap disini sampai besok. "O-oh … neng Ina, disini dulu ya? Soalnya udah di panggilin dokter sama den Leon." Ucap si bibi, agak ragu. Karena sejujurnya wanita paruh baya itu melihat semua kejadian tadi. Kejadian saat Inara membentak Leon. Memang benar, itu terlihat sangat galak. "Ah, tapi …," ucap Inara yang terputus karena dirinya masih bimbang. Masa nginep di rumah cowok, sih?! "Ya-yaudah deh." Ucap Inara sembari menunduk malu. Cewek itu tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apalagi lawan bicaranya adalah wanita paruh baya yang mengingatkannya pada ibunya di rumah. Si bibi mengantarkan Inara ke kamarnya.  "Neng nanti bunyiin lonceng ini ya, nanti saya Dateng. Kalo ada perlu apa-apa tidak usah sungkan." Jelas sang bibi sebelum benar-benar meninggalkan Ina. Sekarang ini, Inara bingung. Tapi kakinya tetap melangkah masuk ke kamar mewah itu, dan menutup pintu yang sangat tinggi. "Gue harus apa? Biasanya kalo gabut, gue belajar." Ucap Inara, lalu cewek itu menghela napas. Tuk tuk tuk Ina mengerinyit,  Siapa malam-malam begini ketua-ketuk pintu? Masa' bibi? "Nar, ini gua, Leon." Ucap seseorang dari luar. Dari suaranya, Ina kenal betul kalau itu suara yang terdengar familiar di telinganya.  Ya, benar. Itu Leon. Inara membuka pintu dengan mimik wajah sinis. "Ngapain." Tanya Inara datar, cewek itu membuang muka dengan cuek. "Gua mau masuk." Ucap Leon sembari berjalan ke dalam kamar. Inara semakin mengerinyit, Gila ya ni cowok?! "Ngapain masuk? Mau m***m!?" Tanya Inara dengan nada menyentak. Menatap Leon dengan tatapan yang tajam. "Gak. Kata lu tadi mau belajar." Ucap Leon sembari menaruh buku-buku yang ia genggam. "O-oh, ngomong-ngomong dokternya mana?" Tanya cewek itu sembari mengekor di belakang Leon. "Ntar lagi paling Dateng." Jawab Leon, menghela napas. "Gimana nar, suka kamarnya?" Celetuk Leon yang ternyata sudah duduk di ujung ranjang megah. "Kalo lu mau, kapan aja kesini. Boleh banget." Ucap Leon, menatap cewek tersebut. "Hah? Ngapain gue kesini? Lu kira gue gaada rumah?" Tanya Inara terheran-heran. Leon hanya tersenyum miring, dan berkata "yah, sebentar lagi juga lu bakal tinggal disini kok."  Tangan Leon mengusap-usap sprei kasur. "Sini nar." Ucap Leon menepuk kasur mempersilakan Inara duduk. Inara menatap tajam, penuh maksud." Ngapain? Tuhkan m***m lu." Tuduh Ina menyipitkan mata. Leon terkekeh pelan, lalu berdiri dan menghampiri Ina. "Yuk." Ucap Leon sembari menggenggam tangan cewek yang ia cintai. "Mau ngapain …" lirih Ina. "Belajar." Jawab Leon sembari membuka buku tulisnya. Jari-jari besarnya terlihat keren saat menulis seperti itu. Cewek itu hanya diam melihat tingkah Leon. "Oh iya, besok ada pr yah …" ucap Inara, matanya melirik seisi ruangan yang akan menjadi kamar tidurnya untuk malam ini. "Hmmm, nih tulis." Ucap Leon sembari melempar pelan buku tulis ke tangan Ina. Dengan sigap Inara menangkapnya. "Bukunya kosong?" Tanya Inara dengan tatapan mata masih menatap buku tulis yang ia pegang.  Jari-jari kecilnya mulai membuka buku tulis tersebut. Kosong. "Ya iyalah. Masa ada isinya. Tar lu nulis pr nya gimana dong?" Ucap Leon gemas, kemudian cowok itu mencubit pelan pipi Inara. Membuat empunya merintih. Kini mereka saling tatap-tatapan. Lalu … "Dah,dah. Tar bukan belajar. Malah unboxing anak orang gua." Ucap Leon terkekeh geli. Inara membelak, kemudian dengan respon cepat, tangannya melayang dan menampar keras pipi Leon yang sedang terkekeh. Leon meringis sakit, melirik Ina dengan tatapan heran. "A-ah, em, anu, em …, maaf …" lirih cewek itu sembari tangannya mengelus-elus pipi tempat ia menampar tadi. Leon malah menggenggam tangan Ina yang mengelus pipinya, kemudian mengencup punggung tangan kecil itu, lalu melirik empunya sembari tersenyum tulus. Inara terlihat salah tingkah. Pipi cewek itu terlihat merah bersemu. Kenapa? "Are u okay?" Tanya Leon khawatir. Menatap mata Ina. Cewek berpakaian baju tidur itu tidak menjawab apa-apa.  "Bentar, gua telpon dokternya." Leon segera mengambil handphone-nya yang berada di saku celana pendeknya. Sepertinya tersambung. "Halo, dok? Dimana? Cepetan. Sekarang yah." Ucap Leon lalu mematikan telepon secara sepihak, tidak ingin mendengar alasan sang dokter. Sebenarnya Leon bukanlah pria seperti itu, bukan pria brengesek atau badboy sungguhan. Ia adalah lelaki baik dan juga ramah. Cuma memang sifatnya yang lumayan menyebalkan, sukses membuat orang-orang menganggapnya badboy. Leon bertingkah seperti itu, karena cowok tampan itu tidak mau kehilangan kesempatan berdua-duaan bersama wanita yang akan ia nikahi, suatu saat nanti. Inara Djustike. Leon segera memasukkan handphone-nya ke dalam saku celananya lagi. Lalu menatap Ina dengan intens,  "Nar, Lu tau gasih. Lu cantik banget?" Ucap Leon dengan mimik wajah sangat serius.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN