Kesalahpahaman

1570 Kata
"Iya Yon. Gua emang cantik banget." Jawab Ina sembari memakan cemilan yang tersedia di kamar itu. "Jadi kita belajar apa, pak guru?" Tanya Ina di sela-sela mengunyah makanan ringan. Menepuk-nepuk tangannya, mulai mengambil alat tulis. Cewek itu menulis namanya di sampul buku. Leon tersenyum melihat tingkah Ina. "Belajar apa, ya?" Tanya Leon sembari menatap Inara dengan jail, cowok itu tersenyum penuh maksud, semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Inara. "Jangan macem-macem." Ucap Ina sembari mencubit paha bagian kulit yang tipis. Sukses membuat pria itu meringis kesakitan. "Ashhh, nar, sakit njir." Ucap Leon sembari mengelus pahanya yang kini memerah. "Tapi, lu suka kan?" Tanya Leon sembari menatap Ina dengan jail. Lagi. Ina tersenyum miring, kemudian membuang muka. "Gua tau, lu suka gua kan." Ucap Leon perlahan mendekatkan wajahnya pada cewek itu lagi. Inara menanggapi dengan wajah datar khasnya. Tidak menjawab apapun. Meras tidak ada jawaban. Membuat Leon berpikir, lalu berinsiatif berucap, "ngaku aja. Gua tau kok." Ucap Leon yang menatap mata Ina dalam-dalam. "Lu ganteng. Tapi tingkah lu aneh. Jadi jangan banyak berharap." Ucap Ina, sembari membuang muka lagi. Tangannya tidak berhenti bergerak ke arah paha Leon. Cewek itu mencari cari kulit tipis dari kulit cowok itu. "Ashhh! Sakit! Gila banget …Ash …" rintih Leon. Kali ini ia tidak sanggup jail lagi kepada bidadari di depannya. Karena cubitan kali ini terasa sangat nyelekit alias sakit. "Udah, ah! Cepetan nulis!" Dongkol Ina, sembari tangannya mulai menulis tanggal hari dan bulan juga tahun pada sisi kanan atas lembar kertas buku tulis tersebut. "Nih, gua udah kerjain. Lu nyontek aja." Ucap Leon sembari menyodorkan buku tulisnya. "Gua mah Baek." Sambung cowok tampan itu, mengulas senyum sok gayanya. Inara yang melihat hal itu menjadi agak sewot.  "Apaan sih! Gua bisa ya, kerjain sendiri!" Ucap Ina menolak buku itu. "Yah, coba. Mau taruhan gak?" Celetuk Leon, sembari tangannya membuka lembar-lembar jawabannya. Cowok tampan itu memeriksa apakah jawabannya ada yang salah atau tidak. Apakah sudah benar atau tidak. "Boleh." Balas Ina, tidak menatap Leon. Matanya masih fokus mengerjakan soal-soal pr matematika. "Kalo besok, diantara kita ada yang dapet nilai 100. Pemenangnya bebas mau minta apapun. Dan yang kalah harus nurutin. Deal?" Ucap Leon sembari melirik ina. Cewek yang berpakaian baju tidur itu hanya mengangguk. Pandangannya tak teralihkan dari buku tulisnya. Seperti biasa, Inara memang pintar untuk dapat menjawab soal-soal tersebut tanpa melihat buku panduan. "Ah, Alhamdulillah … kelar." Ucap Ina menghela napas, merapikan bukunya. Sedangkan Leon, cowok tampan itu sudah selesai dari tadi. Jadi, ia hanya melamun seperti menyusun rencana baru untuk mendekati Ina lagi. "Oh ya, terus gua besok sekolah gimana?" Celetuk Ina, membuyarkan lamunan Leon. Bersamaan dengan itu, terdengar ketukan pintu dari luar kamar VIP tempat Inara dan Leon berada. "Den, anu, dokternya udah sampai." Ucap seorang pelayan yang kemudian membukakan pintu kamar VIP tersebut. Seorang dokter tampan, berjalan santai masuk ke kamar tersebut. "Siapa yang sakit?" Tanya dokter itu menatap Leon. Menunggu jawaban. "Ina." Jawab Leon sembari melirik Inara yang memasang mimik wajah polos. "Kenapa? Hah? Gua kagak sakit-" cekal cewek cantik dengan rambut terurai itu. Sang dokter tidak menghiraukan perkataan Inara, ia tetap memeriksa cewek yang memakai baju tidur itu, kening, bagian d**a atas, dan juga perut. Tapi, saat alat periksa itu mendarat di d**a Inara, Leon langsung mencegat tindakan itu. Lalu menatap sang dokter, "gua aja yang megang." Tegas Leon tak terbantahkan. Tentu saja sang dokter memperbolehkan hal itu.  Ina yang melihat tindakan itu hanya bisa mengerinyit bungkam. Kenapa , sih?  Mimik wajah apaan itu? Cemburu? Masa, sih? Inara tak berhenti memandang Leon yang sedang banyak bicara pada dokter tampan tersebut. "Kenapa harus lu?" Tanya Ina tak paham. "Gaada yang boleh megang-megang lu." Jawab Leon seadanya. Masih berbincang dengan dokter. "Lah, kenapa? Lu siapa gua, anjir?" Tanya Ina tersentak kaget mendengar jawaban Leon. "Lu bakal jadi milik gua." Ucap Leon santai, melirik manja pada Inara. "Idih, belom tentu!" Cekal Ina, matanya menyiratkan ketidaksukaan dengan ucapan Leon barusan. Apaan sih anjir Pede banget "Oh, belom tentu ya? Tapi gua pastiin itu bakal terjadi." Lagi-lagi Leon berucap santai, seperti hal sepele saja yang cowok itu ucapkan. "Kalo gua gamau gimana?" Tanya Ina, dengan nada mengejek. Sebenarnya cewek itu kesal, tiada hari tanpa Leon.  Mengapa? Bosen anjir liat muka lu terus "Ya lu pasti mau. Dan harus mau." Tegas Leon tak terbantahkan. "Idihh." Inara memutar memutar malas kedua bola matanya, melirik tajam mata Leon, dan membuang muka. Tiba-tiba saja, tangan leon menyentuh salah satu pipi Inara. Membuat pipi Inara sedikit memanas. "Duh, panas nih dok. Sakit nih calon istri saya." Ucap Leon berlagak seperti anak kecil polos. Mata Ina membelak mendengar hal itu, sekarang ini pipinya semakin memerah dan juga panas. Istri?! Apa katanya, calon istri?! "Duh, panas banget tangan gua." Ucap Leon meniup-niup tangan yang tadi menyentuh pipi Ina. Ina menatap datar mata Leon. Sembari tangannya mulai meraba-raba perut sixpack milik cowok itu, lalu sepertinya mencari bagian tersensitif untuk ia lakukan sesuatu. Ketemu Inara tersenyum miring, lalu mencubit dengan penuh tenaga di bagian itu. Lebih tepatnya memelintir kulit sensitif nan tipis itu. Membuat empunya meringis sampai ternganga-nganga. "Awhh, galak kamuu, nanti aku bilang si bibi loh!" Lagi-lagi cowok tampan itu berbicara dengan nada anak kecil polos. Membuat siapa saja yang mendengarnya kesal setengah mati. Interaksi mereka di berhentikan oleh dokter yang ternyata sudah selesai memeriksa Inara. "Ini resepnya. Nanti di tebus di apotek terdekat ya." Ucap sang dokter sembari menyodorkan secarik kertas bertuliskan tulisan yang tidak bisa mereka baca. Sedari tadi saat dokter itu masuk ke ruangan ini, Inara terus saja gelisah. Sepertinya ia memperhatikan dokter itu, namun saat dokter itu menoleh ke arahnya. Inara malah membuang muka seolah-olah tidak melihat atau memperhatikannya. Leon tidak tahu akan hal itu. "Oke. Siap!" Antuasias Leon sembari mengambil kertas tersebut. Sang dokter keluar dari kamar tersebut, tentunya di antar dengan pelayan tadi. Sudah di ambang pintu, dokter itu berhenti dan sedikit berbalik badan kira-kira sembilan puluh derajat, lalu berkata, "Pacarnya dijaga. Dari tadi liatin saya mulu, takut kepincut." Ucap sang dokter disertai lanjut melangkah ke arah keluar. Leon yang mendengar hal itu tentu saja kaget bukan kepalang. Leon merasa dadanya seperti sangat nyeri mendengar tuturan kata seperti itu. Cowok tampan yang sekarang itu menampilkan wajah yang terlihat sangat emosi. Melirik tajam ke arah Ina yang seolah tidak tahu apa-apa. Inara menaikkan dagunya secara spontan. Seperti isyarat bertanya, 'kenapa?' "Gua kurang apasih anjing." Gumam Leon sembari membereskan buku-bukunya. "Sial gua di sia siain sama cewek kayak lu. Sial banget asu." Sekarang ini Leon tidak dapat menahan emosinya lagi.  Cowok itu dengan cepat beranjak berdiri ingin melangkah keluar. Tapi, tangan kekarnya dicekal oleh Inara. "Kenapa?" Tanya Inara santai. "Gak. Lu ga salah." Ucap Leon tanpa menoleh. "Gua salah. Maaf ya, Yon." Ucapan Inara itu dapat membuat Leon berbalik badan dan segera mengencup bibirnya. "Anjingg! Baru aja gua mau baik! Tapi lu udah kek gini lagi!" Leon semakin mencium bibir Inara lagi, pria itu ingin membungkam bibir kecil Inara. Terus menerus memperdalam ciummannya. Menuntut lebih. Tapi, Inara tidak paham dengan hal seperti ini. Yang cewek itu tahu, orang yang melakukan ciuman itu ketika sudah resmi ada hubungan. Seperti pacaran. Gua harusnya nolak. Tapi, ciuman ini rasanya lembut dan penuh perasaan. Beda banget sama cowok b******k yang berusaha perkosa gua waktu itu Ah, pala gua pusing … Badan gua juga panas … Kayak ada rasa aneh yang menjalar di tubuh gua … Kini, Inara dan Leon sudah berada di posisi paling nyaman, yaitu dengan Inara yang sudah tiduran di kasurnya dengan Leon diatasnya yang terus saja melumat bibir cantik Inara. Leon … Lo ngebuat gua gila Ciumman itu menuntut lebih, sepertinya Inara akan kehilangan mahhkotanya malam ini. Sekarang, Leon sudah berada di leher jenjang Ina, pria itu menciumm perlahan-lahan turun ke arah dadda cewek itu. Diluar dugaan, Leon menyudahi adegan panas itu. Membuat hati Ina sedikit kecewa. Ina dan Leon saling tatap-tatapan. "Kenapa berhenti?" Ucap Ina dengan suara lembut. "Udah cukup. Sisanya kita lakuin setelah nikah." Jawab Leon, sembari merapikan Inara yang sekarang terlihat berantakan. "Lu bisa nahan?" Tanya Ina karena penasaran. Bagaimana bisa ada seorang cowok tampan yang bisa menahan hawa nafsunya? Padahal, ia adalah cowok yang terkenal akan kenakalannya. Banyak juga rumor negatif yang bersangkutan dengannya. Leon hanya mengangguk. Sekarang ini pipi Leon sangat merah, mungkin cowok itu salah tingkah. Inara tertawa getir kemudian menatap Leon dengan intens, "bukannya lu kebiasa nanem benih yah?" Ucap Inara penuh maksud. Leon mengerinyit tak mengerti. "Maksud lu? Lu denger itu darimana?" Tanya Leon penuh penasaran. Sebab, cowok itu juga baru tahu tentang rumor baru itu. "Gak penting. Yang jelas, lu kek gitu kan." Ucap Inara sembari menatap tajam dan juga sinis pada Leon. Tentu saja cowok itu ingin sekali menjelaskan kalau dirinya tidak seperti itu, tapi, tanpa ada bukti yang jelas, tentu saja itu hanyalah bullshit semata.  Dan juga, mustahil untuk Inara bisa percaya padanya. Jadi, Leon berpikir untuk mencari tahu dulu informasi tentang hal tersebut. Darimana rumornya tersebut dan siapa orang pertama yang membuat rumor itu. Gak beres nih  Ada yang gak beres "Gua balik. Have a nice dream." Ucap Leon sembari tersenyum tulus, tapi tumbennya cowok itu menunduk.  Seperti menyimpan sesuatu. Ina tidak menjawab. Cewek itu mulai tiduran di kasur tersebut. Sambil memikirkan, kenapa tingkah Leon berubah lagi? Belum selesai cewek itu memahami sifat Leon yang susah di tebak. Kini sudah ada sifat baru yang muncul lagi, ketika pertengkaran bungkam itu terjadi. Mereka bertengkar, tapi tidak ada klimaks disana. Hanya ada beberapa tuduhan dan kebingungan. Inara menghela napasnya. Mengusap-usap dahinya. Gua salah? Masa sih? Leon kenapa ya? Gak kayak biasanya ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN