Sekarang ini, pukul 05:30.
Leon dan Inara sudah siap-siap menuju sekolah.
Di dalam rumah kediaman keluarga Abran.
"Hari ini gua pake sepeda pak." Ucap Leon sembari menggandeng tangan Inara.
Yang di gandeng diam saja. Sembari menggeliat karena memang Inara masih ngantuk.
"Ngantuk, kan? Jangan naik mobil ya. Sepeda aja." Ucap Leon yang di angguki Ina.
,Terlihat dari mimik wajahnya, Inara sangat lesu.
Oh, Leon melupakan satu hal!
Matanya membelak saat Leon sedang mengeluarkan sepeda antiknya di dalam bagasi.
"Nar! Udah minum obat? Tadi malem, udah?' tanya Leon tiba-tiba menepuk bahu Inara.
"Hah? Belom." Jawab inara dengan santai sembari menguap lagi.
Dengan cekatan Leon menutup mulut wanita tercintanya itu dengan punggung tangannya.
"Tunggu!" Ucap Leon sembari melirik jam di tangan kirinya.
"Sabar, nar! Tunggu! Gua ambilin yah!" Ujar Leon sembari berlari.
Itu karena jarak rumah megah kediaman Abran sangat jauh dengan garasi rumah.
Si bibi saja sampai sering bergumam 'apa gabisa rumahnya di deketin kayak kampungku aja ya?'
Rumah dengan luas 750 hektar itu sudah seperti stadion bola luasnya.
Dimana semua bagian bagian rumah seperti pekarangan, taman, kolam renang, dan garasi juga pos satpam itu berposisi masing-masing sangat jauh jaraknya.
Inara tidak memperdulikan Leon.
Menurutnya, seterahlah cowok tampan itu mau berbuat apa, yang pasti Ina hanya ingin ke sekolah dan pulang ke rumah.
Dirinya tidak ingin terus terusan bersama Leon.
Cewek itu sudah bosan.
Lagian, cewek itu belum izin sama ibunya.
Jadi, tentu saja ia sudah kepikiran pasti akan kena pukulan tangan lagi.
Inara menghela napas panjang, sembari memutar kedua bola matanya dengan malas.
Beberapa menit kemudian, Leon kembali lagi.
"Nar, nih. Ayok minum dulu." Ucap Leon yang ngos-ngosan sembari memberikan beberapa pil obat juga botol air minum.
Inara yang tidak tega melihat Leon yang sebegitunya berusaha keras, langsung menuruti perintah itu tanpa ocehan sedikitpun.
"Oke. Makasih." Ucap Inara sembari menutup botolnya. Kegiatan minum obat sudah selesai.
"Sekarang, yuk berangkat sekolah." Ucap Leon yang ternyata sudah siap menggoes kayuhan sepeda.
"Gua jalan kaki aja, Yon." Lirih Ina karena merasa tak enak, cewek berseragam SMA itu menunduk pilu.
"Gak. Nar. Lu belum pulih." Tegas Leon tak terbantahkan, mendengar itu, Inara menghela napas dan akhirnya mengikuti perintah Leon.
"Pelukan nar. Pegang perut gua." Ucap Leon yang belum menggoes kayuhan sepedanya.
"Ck, jalan." Bantah Ina, lagi dan lagi, cewek cantik dengan rambut di gerai itu menghela napas.
Kenapa sih, Leon seneng memperibet sesuatu?!
"Peluk. Kalo ga, ga jalan." Leon kembali memerintah, cowo tampan berambut klimis itu menggenggam stang sepeda dengan kuat. Sampai-sampai otot lengannya agak terlihat.
Inara menghela napas lagi, dan kemudian mulai melingkarkan tangannya di perut Leon.
Rasanya agak geli, karena mereka tidak mempunyai hubungan apapun, tapi sudah seperti seorang kekasih saja.
Inara tersenyum malu,
Sebenernya gue beruntung Yon
Walaupun gue ngga ada ayah
Tapi, Lo
Lo ngewarnaiin hari hari SMA gue dengan baik
Lo nggak maksa buat pacaran
Lo terbaik!
Inara tertawa cekikikan di dalam hatinya. Kemudian memandangi punggung lebar Leon.
"Duh jangan deket-deket nar. Geli kuping gua." Celetuk Leon yang berhasil membuat Inara sedikit menyentak kaget.
"Jangan nyender juga. Ntar iler lu nempel di baju gua." Sambung pria itu dengan nada terkesan ketus.
"Dah, kaga tampan lagi dah gua." Ujar Leon dengan nada sedih. Yang membuat Inara melepas pelukannya di perut sixpack cowok tampan itu. Inara menjauh dari Leon. Ia semakin merasa tidak enak.
Sebenarnya, apa yang ia lakukan sih?
"Lah kok dilepas nar?" Tanya Leon, sembari tangan kirinya mencari-cari tangan Inara.
"Peluk mah, harus. Tar ngejengkang gimana Cok." Ucap Leon sembari menaruh tangan Inara di perutnya lagi.
"Peluk nar …" lirih Leon, sembari menghela napas.
"Peluk tapi jangan deket-deket." Celetuk Leon sembari sesekali melirik ke belakang.
Plak!!!
"Lo maunya apaan anjing? Jangan bikin gua naik pitam ya!!" Hardik Ina, memukul punggung Leon.
Cowok tampan yang sedang menyetir itu menelan ludahnya sendiri.
"Udahlah seterah. Yang penting harus tetep peluk." Ucap Leon sembari semakin mempercepat kayuhan sepedanya.
Sekarang ini, masih sekitar setengah perjalanan menuju sekolah.
Inara tidak berbicara lagi, ia memilih diam seribu bahasa, menunggu sampai benar-benar sampai ke sekolah.
"Nar, gua mau cerita boleh?" Celetuk Leon sembari terus mengkayuh sepedanya semakin cepat, takut-takut kalau telat. Mungkin Inara akan berada dalam masalah besar lagi. Terlebih karena dirinya.
Inara menghela napas, "silakan." Ucapnya semakin mempererat pelukannya.
Hal itu sukses membuat Leonara tersenyum simpul.
"Jadi yah, gua lagi suka sama seseorang. Tapi tuh orangnya kayak kadang kadang nunjukkin suka sama gua, tapi kadang kadang juga bilangnya gasuka tapi dia butuh gua. Gituloh. Aneh kan? Entah maunya apa." Jelas Leon panjang lebar.
Sembari merajuk Ina untuk terus memeluk cowok itu dengan erat.
"Ah, males gue nanggepin lu." Ucap Ina sembari mengendurkan pelukannya.
"Kenapa?" Tanya Leon sembari menahan tawanya.
"Ck, gue ga gobllok ye. Itu gue kan?" Tanya Inara sembari yang tanpa sadar mempererat pelukannya.
"Oh, iya juga ya." Leon tertawa cekikikan di akhir.
"Idihh, ganteng ganteng ketawanya kayak nenek lampir." Ucap Ina sembari merebahkan kepalanya di punggung cowok tampan tersebut.
Leon hanya bisa tersenyum, "ciee nyaman yah, bahu gua." Ucap Leon yang tengah mengejek Ina.
"Punggung." Jawab Ina sembari melirik Leon.
"Sama aja." Sanggah Leon, menghela napas, dan berusaha mengkayuh sepeda lebih cepat lagi.
"Berat ya?" Tanya Ina, yang masih di posisi sama, yaitu merebahkan kepalanya di bahu Leon.
Cowok tampan yang sudah berkeringat deras itu segera menggeleng dengan cepat, lalu tersenyum lagi.
"Nar …" ucap Leon berusaha memanggil wanita kesayangannya itu.
Tapi, tak ada yang menjawab.
Kepala Ina masih menempel di bahu Leon.
Anget …
Kuping gua geli banget dah
Hembusan napasnya Inara, ya …
.
.
.
.
.
Maaf ya, nar. Tadi malem gua kelepasan.
Gua pastiin hari ini, keroco keroco ga berguna itu bakal bungkam.
Tenang ya cantik.
.
.
.
.
Tidak sampai satu jam, kini mereka sudah berada di parkiran kendaran sekolah.
Tentunya ada banyak sekali sorotan mata yang terkejut melihat pasangan baru ini.
Eh, tidak. Ini bukan pasangan baru!
Mereka belum pacaran!
Tapi, siapapun pasti menyangka kalau mereka sudah memiliki hubungan.
Yah, setidaknya pacaran.
Dengan posisi Inara yang tertidur pulas dengan iler yang sudah mulai merembes di baju bagian belakang cowok tampan itu.
Leon tersenyum saat semua mata tertuju pada mereka, tapi ada yang aneh.
Kok, Inara belum juga bangun dari pundaknya ya?
"Nar, nar? Lo tidur?" Tanya Leon sembari menggoyang-goyangkan dirinya.
"Eunghh," Ina mulai tersadar dan perlahan-lahan cewek cantik itu membuka kedua matanya, mengerjap-erjapkan matanya beberapa kali, dan turun dari tempat boncengan.
Berdiri.
"Dih anjir gua bilang apa lu ya, jangan Ampe ada iler!" Oceh Leon karena merasa agak kesal.
"Maaf." Ucap Ina sembari melenggangkan kaki dengan santai, masuk ke sekolah.
Leon yang masih emosi, merasa harus berbicara dengan Inara.
Justru, ini kesempatan besar buat cowok itu, karena posisinya adalah disini ia yang dirugikan, otomatis cowok itu bisa meminta apapun untuk mengganti rugi.
Leon tersenyum miring, otak jahilnya bekerja dengan baik rupanya. Dengan cekatan ia segera menuntaskan pekerjaan dalam memarkir sepeda yang tak seberapa harganya itu.
Cowok tampan itu segera mengejar cewek yang ia taksir, siapa lagi kalau bukan Inara.
"Nar, nar! Tunggu!" Ucap Leon sembari mengambil tangan cewek cantik yang habis bangun tidur itu, untuk di genggam.
Grep
Leon menggenggam dengan hangat tangan cewek itu. Membuat sang cewek melirik dirinya.
Apa ini?
Sepertinya cewek itu benar-benar tidak peduli?
Leon hanya tersenyum ramah saat di lirik oleh Inara.
"Yuk ke kelas! Babe!" Ucap Leon sembari menatap dalam-dalam mata Inara, dan menyunggingkan senyum cengengesannya.
Inara yang otaknya baru bangun dan belum siap untuk hal itu, tentu tidak merespon apa-apa.
Lagi-lagi cewek itu hanya diam mengikuti permainan Leon.
Di sepanjang lorong, ada banyak sekali yang membicarakan juga membisiki tentang mereka.
Seperti …
"Dih, itu mereka pacaran?"
"Si Leon ngegebet cewe berandal tuh? Gila nyalinya besar juga!"
"Wah, mangsa Leon yang keberapa ya?"
"Kak Leon kok sama jalangg itu sih! Padahal aku menyukainya …"
"Ah, kak Leon!!! Jauhin cewek b******k itu! Ish! Pelet apa yang dia gunakan sih?!"
"Wah gila, Leon mulai cari masalah lagi."
"Apaan tuh, kenapa cewek berandal gak berontak? Biasanya gak begitu?"
Dan ada banyak lagi omongan dan rumor yang tersebar tentang mereka.
Disaat semua orang mendadak menghakimi mereka, ada beberapa siswa kelas yang tidak angkat suara tentang mereka.
Tentu saja, teman dekat Leon, yaitu Riko, Ryan, Asya, Geby. Dan juga keamanan kelas Ina, yaitu Queen.
Tentu saja bagi Queen itu bukanlah hal penting yang harus dibicarakan atau diberi pendapat.
Queen lebih mementingkan para cowok cowok 2d simpanannya!
"Duh, ganggu banget anjingg! Bisa diem gak?! Awas kalian semua, sampe ganggu cewek gua, abis!" Bentak Leon memelototi semua orang yang ia temui.
Tentu saja, semua siswa segera menunduk.
Siapa yang berani melawan cowok yang sudah pernah memenangkan kompetisi MMA tahun lalu itu?!
Dia adalah seorang Leonara.
Cowok dengan kepribadian unik, terlebih ia adalah sosok yang punya pengaruh besar baik dari segi nilai, prestasi, maupun kekayaan.
Dan juga aset berharga sekolah tersebut.
Yah, walaupun kelakuannya benar-benar tidak betul.
"Nar," panggil Leon sembari menatap Ina. Memberhentikan langkahnya.
Sekarang ini, mereka sudah berada di depan kelas Leon.
5 menit lagi, bel masuk sekolah, akan berdering keras.
" Ntar pas istirahat, gua main ke kelas lu yak. Jangan ngeselin lagi, loh." Ucap Leon, sembari mengacak gemas pucuk kepala Ina.
"Hah? Kenapa?" Tanya Ina sembari menampilkan mimik wajah polos.
Bersamaan dengan itu,
"Yeeeeh, sekolah nih boss, bukan tempat uwuw-uwuwan!" Ucap Geby dan disertai tawanya Asya dan juga Riko serta Ryan yang menyusul.
Mereka berempat saling pandang penuh maksud.
Tumben sekali, Leon sangat perhatian.
Biasanya, kalau cowok tampan itu hanya main-main pada wanita. Ia tidak akan sampai menggandeng tangannya atau bahkan sampai menggoncengnya ke sekolah.
"Yon, ada apa nih?" Ucap Ryan yang melirik Leon dan juga Inara dengan penuh maksud.
Tentu saja, Inara hanya bisa mengerinyit tak paham.
Dan, karena merasa sebentar lagi akan bel, Inara segera melangkah ke arah kelasnya. Tapi, tangannya di tahan oleh Leon.
"Bentar nar. Gua jelasin dulu sama mereka. Si keroco keroco ga berguna ini." Ucap Leon yang mencegat kepergian Ina, sembari tersenyum miring dan melirik para sahabatnya itu.
"Wih sialan Lo! Kita dibilang apa? Keroco keroco?" Ucap Geby yang tiba-tiba menoyorkan kepala Leon.
Lalu mereka tertawa bersama lagi. Tentunya sambil geleng-geleng kepala.
"Duh, Leon pakboi ni bos! Gada lawan, lah!" Tambah Asya yang ikut bicara. Sembari tersenyum dengan gayanya, menaikkan kedua alisnya secara spontan. Kemudian melirik para sahabatnya.
Leon menghela napas, "jadi, ini calon bini gua, kawan-kawan bangsadd." Ucap Leon yang tersenyum sumringah, sembari mengangkat tangan Ina yang ia pegang.
Ina yang mendengar hal itu langsung menampar Leon.
Plakk!!
Ina menatap tajam Leon yang tersenyum padanya, lalu cewek itu berdecak dan memutar malas kedua bola matanya, dan beranjak pergi dengan melenggangkan kaki dengan cepat.
Leon dan empat teman dekatnya hanya bisa tertawa.
"Gila ya lu, kok mau mauan sih sama cewe kek gitu!" Oceh Geby disertai tawaannya yang terdengar begitu keras.
Jika Geby saja tertawa, tentu saja Asya juga ikut tertawa. Karena hubungan keduanya memang sedekat itu.
"Tau anjir. Kayak gaada cewek lain aja." Tambah Riko yang dengan gaya sok dinginnya.
"Pasti kena pelet lu ya? Pelet Ina kuat banget anjir!" Ucap Ryan sembari tertawa cekikikan menggelengkan kepala saking tidak kuatnya dengan tingkah konyol Leon pagi ini.
"Gak. Gua cuma berusaha taklukin dia." Ucap Leon sembari tersenyum getir.
"Yakali gua suka sama cewek kayak gitu. Ngga banget." Ucap Leon dengan nada 'sok' nya.
Tapi, yang dihati berkata lain.
"Oh, jadi lu cuma main-main sama dia? Kayak cewek cewek yang kemaren dong?" Tanya Ryan berusah menyimpulkan.
"Yes. Jangan lupa bro, gua buaya sekolah ini. Dan belom mau pensiun." Ucap Leon dengan nada sok keren. Tapi memang keren karena cowok itu tampan.
"Wih, cewek tuh!" Ucap Leon sembari melempar tasnya pada Ryan. Mata cowok tampan itu berbinar-binar saat melihat ada cewek cantik yang sepertinya anak jurusan IPA.
Leon bergegas ke sana.
Untuk apa?
Tentunya untuk menggoda cewek tersebut. Dengan rumus dan rayuan gombalan mautnya.
Geby, Asya, Ryan, dan Riko hanya bisa tertawa lepas dan tentunya geleng-geleng kepala saat melihat tingkah Leon.
Jelas-jelas mereka tahu kalau Leon bertingkah tulus pada cewek bernama Inara itu.
"Wah, gila. Keren banget si Leon. Boongnya total!" Celetuk Asya yang membuat tiga orang itu ikutan tertawa cekikikan lagi.
.
.
.
.
.
"Cewek!" Ucap Leon sembari mengedipkan mata, mendekat pada cewek cantik berkulit putih pucat itu.
"Jir, bener-bener dilakuin dong!" Ucap Ryan yang ditarik Riko untuk masuk ke kelas.
Sementara itu, saat Ina sudah hampir masuk ke kelasnya, ada seseorang pria di belakangnya yang berkata sesuatu yang membuat Ina semakin penasaran pada sosok Leon.
"Hati-hati yah, mantan wakil ketua kelas. Lu udah jadi target buat Leon. Dan lu cuma dimainin. Leon itu cowok brengsekk. Mungkin dia sukses baperin Lo dengan salah satu caranya. Asal lu tau, dia udah pro dalam urusan cewek." Ucap seseorang yang segera masuk kelas.
Tapi, Inara tidak sempat melihat wajah orang tersebut. Karena waktu itu, tubuhnya si cowok tidak jauh berbeda dengan segerombolan yang masuk ke kelas itu, apalagi sembari mendorong Ina untuk cepat masuk ke kelas.
Hah? Maksudnya?