Baikan

2030 Kata
Kringgg!!!!! Kringgg!!!!!! Kringgg!!!!! Seperti biasa, pada jam istirahat, semua murid keluar kelas entah untuk sekedar bangkit dari kursi, atau makan sembari bercanda dengan teman atau orang yang ia suka. Leon tersenyum kecil, ia membawa buku tulis pr yang sudah di nilai. Lalu segera berlari keluar. Tentu saja ke arah kelas Ina. "Naraaaa!!! Cintaku!!!" Ucap Leon sembari berlarian di lorong dan langsung menerobos pintu masuk yang sedari tadi di awasi Queen. "Leon! Ck!" Queen yang sedang mengawasi anak-anak saat sedang keluar kelas dengan teratur sesuai prinsipnya. Sorot mata Queen seperti berkata, 'keluar! Tunggu gue diluar!' Tapi, bukan Leonara namanya jika tidak mau menaati peraturan. "Gua ada perlu!" Ucap Leon sembari berjalan cepat ke arah Inara yang lagi-lagi tidur. "Ck, ah! Lu, mah! Nar!" Leon menghela napas, karena dirinya benar-benar kesal, tampaknya Inara melupakan janjinya yaitu akan menunggunya pada saat istirahat. "Nara!!! Bangun, dong!!!" Pekik Leon sembari menggoyang-goyangkan tangan Ina. Inara yang mulai merasa risih pun segera bangun dan berjalan keluar dengan cepat. Leon benar-benar membuatnya malu setiap hari. Tapi kenapa lelaki ini tidak melepaskannya walaupun ia sudah bertingkah menolak seperti itu? "Mau kemana, nar?" Tanya Leon yang antusias serta berusaha menggenggam tangan Ina. "Panggilan alam! Apa? Mau ikut Lo?" Ucap Ina sembari melirik datar Leon yang sedang tersenyum ke arahnya. "Oh! Oke, gua tunggu luar yak!" Ucap Leon sembari berjalan berdampingan dengan cewek yang penampilannya agak urak-urakan itu. "Eh ngomong-ngomong,-" ucapan Leon terputus saat Inara berlari ke arah toilet. Pasti dia kebelet banget deh! Leon tersenyum menatap punggung Inara yang perlahan hilang saat memasuki toilet wanita. Beberapa menit kemudian, Inara keluar namun langkahnya sangat cepat. Sepertinya sedang terburu-buru. Leon yang melihat itu, terus mengimbangi kecepatan langkahnya Inara dengan dirinya. "Nar, jadi lu dapet berapa?" Tanya Leon sembari langkahnya makin cepat mengikuti tempo Inara. Inara membuang muka, "sembilan lima." Ucap Inara yang ternyata malah membuat Leon semakin antuasias. "Hah?! Seriusan lu?! Wih! Gua seratus!" Pekik Leon yang menarik tangan Ina, membuat langkah cewek itu terhenti sejenak. "Kenapa lagi anjir? Mau gua tendang-" Leon menaruh telunjuknya di bibir Ina.  "Sttt, jangan berisik. Lu sekarang kalah, loh." Ucap Leon mendekatkan mukanya pada cewek cantik itu. Inara yang melihat tindakan Leon semakin m***m, dirinya segera mendorong Leon sampai cowok tampan itu jatuh, "anjing, m***m!" Ucap Ina sembari melanjutkan langkahnya yang terhenti. "Nar! Lo hsrus turutin perintah gua! Jadi, sekarang lu pacar gua yah!" Ucap Leon sembari teriak. Membuat cewek itu berbalik badan dan mendekatinya lagi. "Gak gitu anjir! Mana ada! Perjanjiannya bukan ngebuat hubungan ya!" Oceh Ina protes yang mulai menarik kerah Leon, karena cewek itu sudah mulai geram dengan perlakuan Leon yang seiring waktu membuatnya semakin ingin mematahkan tulang-tulangnya. Leon tersenyum miring, "okeh, terus apa, ya?" Gumam Leon sembari tersenyum, menatap mata Ina dalam-dalam.  Sukses membuat yang di tatap salah tingkah. "Ga ribet. Lu cuma harus makan siang alias jam istirahat sama gua DOANG." Ucap Leon sembari menggandeng tangan Inara tanpa adanya penolakan. Cewek itu hanya menurut saja. Karena jika dirinya menolak lagi, mungkin saja Leon akan meminta yang aneh-aneh! "Lu mau apa, nar?" Ucap Leon yang sedari tadi melihat Inara hanya melamun ketika duduk bersamanya. "Nar? U okay?" Ucap Leon sembari menepuk-nepuk tangan Ina. Membuat cewek itu tersadar akan lamunannya. "Ah, apa?" Tanya Ina yang menghela napasnya. "Lu mau apa?" Tanya Leon sembari menyodorkan menu makanan di kantin. "Mie sama es teh." Ucap Ina seadanya. Cewek itu tampaknya selalu tidak bersemangat. Kemudian pelayan mulai mencatat pesanan mereka, "tolong tunggu ya kak. Kami akan buatkan." Ucap pelayan itu sebelum benar-benar pergi. "Lu kenapa sih? Kayaknya banyak pikiran?" Tanya Leon sembari mengusap-usap tangan Inara, kemudian menggenggamnya penuh kehangatan. "Eh, gak- gapapa." Ucap Ina mengerjap-erjapkan matanya. Kemudian tersenyum terpaksa. Sebenarnya apa maksud omongan temen cowok itu? Leon? Masa sih? Dia mainin gua? Ah, bodoamatlah. Siapa juga yang peduli itu  Lagi-lagi cewek itu menghela napasnya. Bahkan saat hidangannya sudah berada di atas meja. "Lu mau gua suapin?" Tawar Leon sembari mengambil sendok Ina. Dengan cepat, cewek itu menggeleng pertanda tidak. Tentu saja, Leon dan Inara menjadi pusat perhatian.  Seorang badboy yang ternyata sedang menggodai cewek yang terkenal sangar dan bengis di sekolahnya. Leonara' dengan Inara ibarat malam dan siang. Tidak akan pernah terlihat cocok atau singkron seperti pasangan umumnya. Tapi, mereka belum jadian sampai saat ini juga. "Bismillahirrahmanirrahim." Ucap Ina sembari mengangkat kedua telapak tangannya sebelum berucap "Aamiinn …"  Leon tersenyum melihat Inara, karena setelah cowok itu perhatikan, tidak ada wanita sesopan dan sereligius itu. "Bismillahirrahmanirrahim!" Ucap Leon kemudian mengusap wajahnya sebagai ciri khas orang berdoa. "Nar? Makan yang banya-" ocehan cowok itu terhenti ketika ia melihat Inara yang ternyata sudah selesai makan, dan tinggal menyeruput es teh manis dalam genggaman tangan mungilnya. "Cepet banget." Ucap Leon sembari ternganga-nganga tidak percaya. Sekarang ini pipi Inara memerah, karena dirinya ternyata bertingkah kelewat batas di depan Leon. Dan juga, sekarang ini sudah banyak saja cibiran tentang dirinya yang makan dengan lahap seperti itu. Contohnya seperti … "Dih, rakus banget Si gengster!" "Anjir, celamitan banget, dah? Pasti itu dibayarin Leon!"  "Dih, ngode minta nambah itu! Ih Amit amit gua mah!" "Cewek kok makannya gitu!" "Cewek gatau malu! Dasar jalanng!" "Dih gua sih malu yah kalo jadi temennya!" "Cewek kok makannya kayak orang kesurupan gitu!" Leon yang sedang tertawa karena merasa speechless dengan tingkah Inara, mulai tahu kalau Inara mulai tidak nyaman berada di kantin. Apa lagi? Tentu saja karena cibiran orang-orang di sekitar. Tentu saja Leon tidak tinggal diam. Leon menggebrak meja kantin, membuat siapa saja yang berada disitu sangat kaget. "Lo semua diem!!!" Pekik Leon, sembari menatap sekitarnya. Mendadak suasana kantin menjadi diam. Orang-orang menuruti perintah Leon, tentu saja karena Leon punya kekuatan besar dan juga peran penting di sekolah itu. "Gausah sampe segitunya juga, Yon." Lirih Ina karena merasa tidak enak. Leon begitu baik padanya, tapi lihat apa yang Inara lakukan padanya? Sungguh tidak sepadan! Ryan, Riko, Geby dan asya yang baru saja masuk kantin, terheran-heran karena suasana di kantin mendadak suram seperti tertekan. "Kenapa bang?" Tanya Ryan kepada penjual bakso. "Itu, den. Den Leon marah-marah tadi." Ucap sang penjual bakso dengan nada berbisik-bisik, sembari menuangkan bakso pesanan keempatnya. "Oh, biasa itu mah. Pms kali dia." Jawab Riko sembari tertawa lepas. Otomatis semua pandangan tertuju pada cowok berambut agak ikal itu. Leon yang sudah mengetahui kalau itu adalah suara teman dekatnya, tidak menghiraukan hal itu. "Udah, nar. Jangan sedih lagi, yah?" Ucap Leon sembari menggenggam tangan Ina.  Cowok itu dengan cekatan menghabiskan hidangannya, dan segera membawa Ina ke suatu tempat. "Kemana …" lirih Ina yang kini tangannya di tarik pelan mengikuti langkah Leon. "Nih, kesini." Ucap Leon memberhentikan langkahnya. Sekarang mereka sudah berada di bagian atap sekolah. "Wah …" ucap Ina dengan mata yang berbinar-binar. Mengapa cewek itu baru tau, kalau ada atap outdoor di sini? Leon melirik Ina, sepertinya tindakannya tepat kalau dirinya membawa cewek cantik itu ke atap outdoor sekolah. "Lo seneng?" Tanya Leon sembari merangkul Inara yang sedang menghirup napas dalam-dalam. Inara mengangguk cepat, kemudian melirik Leon yang menatap keindahan langit. Untungnya cuaca pada jam jam 10 ini masih dingin. Mungkin karena semalam hujan, jadi mataharinya terlambat muncul. Tes … Salah satu pelupuk mata Inara berhasil menumpahkan air matanya, mendarat di pipi dengan mulus. "Kenapa, nar?" Ucap Leon sembari menyeka air matanya, dan mulai memeluk Inara dengan hangat. Siapa saja yang ditanggapi selembut itu, tentu membuat kesedihan mendalamnya keluar dengan bebas. Cewek itu menangis begitu pilu sampai-sampai sesenggukan, dan menenggelamkan kepalanya di d**a bidang Leon. "Sabar ya, nar. Gua gatau apa-apa tentang lu selama ini, tapi gua bakal bela lu kok. Mulai sekarang." Ucap Leon sembari mengusap-usap punggung cewek yang sedang menangis sesenggukan begitu pilu begitu dalam di d**a bidangnya. "Dah, dah. Bidadari cantik jangan nangis terus." Ucap Leon dengan nada lemah lembut, dan menangkup pipi basah Ina, lalu menatapnya begitu dalam. "Hiks …, orang-orang tuh kenapa ya? Hiks … gua nggak jahat sama mereka, tapi ap-" omongan Ina di potong oleh telunjuk Leon yang kini sudah berada di bibir mungil Ina. "Udah, urusan mereka, gua yang beresin. Makanya nar, biarin gua terus ada di sisi lu, ya?" Ucap Leon sembari mempererat pelukannya. Kini baju Leon perlahan-lahan mulai basah oleh tetesan air mata Ina yang tidak kunjung berhenti. "Jadi, selama ini, lu galak karena lu nutupin kesedihan lu ini? Hey gabaik nar. Kalo sampe lu kena penyakit mental gimana?" Ucap Leon yang keliatannya sangat khawatir, tangan besarnya mengusap-usap pucuk kepala cewek yang ia sukai, Inara Djustike. Inara, cewek itu tidak menjawab. Dia masih sibuk dengan Isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.  Sekarang ini, mereka tidak berpelukan lagi. Inara menarik napasnya panjangnya, lalu bergegas ingin berteriak, "GUE MAU HIDUP NORMAL!!!!!!!!!"  "GUE MAU PUNYA TEMEN JUGA!!!!!!" "GUE HARAP GUE BISA LULUS DENGAN NILAI TERBAIK!!!!!!!!" Inara ngos-ngosan. Kepalanya agak pusing karena masih pagi, dia sudah menangis begitu pilu. "AAMIINNN!!!!" Leon ikut ikutan memohon permohonan, lalu segera merangkul cewek itu lagi. "Udah? Udah plong?" Tanya Leon, memastikan kondisi Ina sudah lebih baik dari sebelumnya. Inara mengangguk. Cewek itu tidak menatap mata Leon, ia menunduk. Mungkin saja malu. "Nar, jadi gimana jawabannya? Lu bakal nolak gua atau …?" Ucap Leon sembari mengeluarkan cincin berlian yang entah cowok itu umpati dimana. Padahal, sedari tadi, Inara tidak melihat Leon membawa barang sekecil apapun. "Yon, ini keburu-buru banget gasih?" Tanya Ina ragu-ragu di sela-sela sesenggukannya. "Oh, oke. Abisnya gua takut lu di ambil cowok lain." Jawab Leon yang terkekeh getir,  kini pipinya memerah, sepertinya cowok itu salah tingkah. Leon memperhatikan Ina, ternyata wanita itu ketika nangis pun sama saja, tetap sangat cantik di matanya! Nar, Lo tadi bilang apa? Butuh temen? Okey, ntar gua suruh asya sama Geby nemenin Lo, ya. Gua tuh sayang banget sama lu Saking sayangnya, sampe ngebuat lu kesusahan gini Maaf ya, Nara … . . . . "Oh iya, nar. Nanti malem, gua jemput ya?" Celetuk Leon yang sukses membuat dahi Inara mengerinyit. "Hah? Mau kemana?" Tanya cewek cantik yang rambutnya sedikit berantakan itu, dan juga matanya sedikit sembap karena tangisan tadi. "Udah, ikut aja. Yang pasti lu bakal happy." Ucap Leon sembari tersenyum tulus, ia menatap dalam-dalam mata Inara yang terlihat bersinar karena habis nangis. "Tapi, bukannya harusnya kita belajar, yah?" Tanya Ina ragu-ragu. Cewek itu semakin merasa tidak enak pada Leon. Karena perbuatan cowok itu benar-benar terlihat tulus dan baik. Maka, Inara tidak mau mengecewakan Leon. "Hah? Belajar? Nanti juga bisa, oh atau gua atur jadwal belajar bareng kita aja?" Usul Leon dengan tampang polosnya. "Em, boleh." Jawab Inara yang sembari mengangguk. Entah mengapa, dahinya masih mengerinyit. Leon tertawa sumringah, "okeh! Jam 7 malem yah?" Ucap Leon bersemangat. "Sekarang, yok turun." Ajak Leon sembari menggenggam tangan inara. Saat menuruni tangga, terdengar perut seseorang yang berbunyi "kruyuk kruyuk." Yang membuat langkah mereka terhenti. "Siapa tuh yang laper?" Gumam Leon, sembari melirik Ina. Yang di lirik hanya bisa tersenyum getir. "Ngga tau, Yon." Jawab Ina pura-pura tidak tahu. "Yaudah, kita beli roti roti kecil dulu ya, baru abis itu gua anterin lu ke kelas."  Ucap Leon sembari melanjutkan langkahnya yang terhenti tadi. "Yon boleh nggak, kalo di depan anak-anak, lu jangan bertingkah sok kenal sama gue?" Celetuk Ina yang membuat Leon mengerinyit. "Lah, kenapa? Lu takut di omongin lagi?" Tanya Leon yang hanya menebak-nebak. Entah benar atau tidak. Inara mengangguk, tapi sejujurnya bukan itu alasan utamanya. Alasan utamanya adalah karena ia masih menyimpan beberapa dendam dengan pria sejak insiden kejadian di gang jalanan itu. Mungkin, trauma itu belum hilang atau bahkan tidak bisa hilang? Ia harap Leon tidak bertanya macam-macam yang membuatnya harus mengaku jujur. "Em, gimana ya …, gua coba deh. Ga yakin sih. Soalnya lu gemesin!" Ucap Leon sembari tertawa lepas dan mencubit gemas pipi Inara. Inara tersenyum, kali ini Inara ikutan tersenyum.  Leon sangat senang. Hari ini, tugasnya dalam menjaga Inara untuk tetap tersenyum, sukses besar! Tapi, belum tahu untuk nanti malam. Apakah senyum itu masih akan mengembang atau akan ada kejadian tak terduga yang membuat Inara membenci Leon lagi? "Yon, ada yang mau gue tanyain …"celetuk Ina, saat Leon sedang membayar beberapa roti untuk cewek itu. "Gue rasa, kita gabaik ada salah paham gini." Sambungnya, sembari menatap Leon. "Em, ntar. Ntar malem aja, oke?" Ucap Leon sembari menggandeng tangan Inara lagi, dan melangkah cepat ke arah kelas cewek itu. "Ini udah mau masuk, gua gamau lu kena masalah lagi, oke." Ucap Leon sembari menyerahkan beberapa roti ke tangan Ina. Dan sebelum benar-benar pergi dari situ.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN