Malam indah?

2061 Kata
Sekarang ini, siang dan petang telah berganti menjadi gelap gulita, yaitu malam. Tepatnya pukul 7 malam, dimana Leon berjanji akan menjemput Inara.  Janjinya sih, akan membawa Inara ke tempat-tempat yang membuatnya semakin senang. Drtttt drtttt  Terdengar bunyi smartphone Inara yang bergetar di atas tumpukan buku sekolah yang terselip. Cewek itu sengaja menyelipkan disana, karena menurutnya smartphone-nya sangat mengganggu saat belajar. Yaps, benar sekali. Malam ini Inara masih berkutat dengan buku sekolahnya, mau bagaimanapun juga, cewek itu tidak bisa meninggalkan kewajibannya yang sangat amat paling wajib untuk siswa penerima beasiswa seperti dirinya. Inara melamun, berhenti sejenak, "kira-kira Leon mau bawa gue kemana, ya?" Gumamnya di dalam kamar. Cewek itu menghela napas, lalu melirik ponselnya yang kini tidak berdering sedikitpun. Lalu pandangannya teralihkan ke arah jam dinding di kamarnya. Terlihat, pukul 07:19 malam WIB Inara meneguk ludahnya sendiri, lalu karena merasa tenggorokannya kering, dirinya segera bergegas ke arah dapur untuk mengambil minuman di kulkas. . . . . . Kini cewek cantik berpakaian celana sependek atas dengkul, dan baju tipis berbahan katun itu duduk lagi di atas kursi belajarnya yang sudah agak reyot namun masih nyaman dipakai. Menaruh gelasnya di samping tumpukan buku, sembari melanjutkan kegiatan belajarnya. Hari ini tidak ada pr alias pekerjaan rumah. Cewek cantik yang rambutnya di gerai itu melirik ke arah jam dinding lagi, Pukul 7:29 malam Sekarang ini, sangat sunyi, di kamar wanita itu sangat sunyi sampai-sampai dia bisa mendengar hembusan napasnya sendiri. Leon kemana ya? Jadi nggak, sih? Untung gua belum ganti pakaian, loh … . . . . Sampai ada suara motor yang terdengar semakin dekat dengan rumahnya. Inara segera bergegas keluar rumah, masih dengan pakaian sama.  Pakaian santai tepatnya. Karena cewek yang baru saja masuk ke per SMA-an tidak tahu bagaimana ia harus berpakaian. Terlebih lagi, Inara tidak pernah diajak main sekalipun oleh teman atau bahkan teman lelaki? Sekalipun tidak. Hidupnya terlalu keras.  Si ibu yang merawatnya terus menanamkan kedisiplinan dan juga keteraturan dalam hidup, sampai-sampai ia jadi bingung sendiri seperti ini. Cklek Leon melihat sosok Leon yang berbeda malam ini. Dengan motor sport berwarna hitam pekat, dan juga pakaian juga helm lengkap dengan sepatu, dari ujung rambut sampai ujung kepala, semuanya serba hitam. Sampai-sampai Inara agak tersentak. Cewek itu awalnya mengira itu maling.  Tapi, masa sih, maling begitu keren seperti ini? Dahi cewek cantik berpakaian agak seksi itu mengernyit heran. "Leon, ya?" Ucap Inara dengan mimik wajah polos.  Yang berada di motor tidak turun. Mesinnya masih dinyalakannya, tapi, cowok itu mengangguk. Sembari sepertinya tersenyum. Cowok itu tidak bertindak apa-apa, hanya sedikit memainkan gas motornya. Motor Leon mewah banget … Apa … Apa, dia gak malu ya, main kerumah gue yang kayak kandang kambing gini? Inara terlamun, berdiri di depan pintu.  Sepertinya ia terlalu keliatan kalau sedang mengangumi motor sport Leon. Pria itu tertawa kecil, lalu membuka helmnya. "Woy! Nara!" Pekik Leon yang berhasil membuyarkan lamunan cewek itu. Inara terlihat sedikit gelagapan, "a-ah, eh .. y-iya?" Ucap Inara planga plongo. Lagi-lagi hal itu mampu membuat Leon tersenyum ringan, "nar, lu pake gituan doang?" Tanya Leon sembari memberi isyarat kalau bajunya seperti orang santai sekali. "I-iya, Yon. So-soalnya gua gatau ...-" lirih Ina yang sepertinya memang benar-benar polos tidak tahu, tapi Leon langsung memotong pembicaraan dengan menarik tangan Ina untuk masuk ke dalam rumah cewek itu. "Mau ngapain Lo, me-m***m ya!" Ucap Ina sembari gelagapan karena entah kenapa sedari tadi, jantung Ina tidak bisa berdetak dengan normal! Entah karena apa. Yang pasti, cewek itu tidak pernah mengakui kalau dirinya sudah mulai menyukai cowok di hadapannya, Leonara. "Ya mau ngapain lagi? Cari baju, lah." Ucap Leon sembari bergidik bahu, dan mencari dimana kamar cewek yang ia sukai. Niatnya tentu sangat baik, betul-betul tidak ada hasrat terselubung di dalamnya. Leon bukanlah tipe pria pengecut yang asal mengambil mahkota wanita. Walaupun dirinya selalu di cap sebagai cowok badboy. Tentu saja, mendengar hal itu, Inara agak tersentak kaget. Apa? Leon? Seorang lelaki? Ingin masuk kamarnya? Untuk apa? Bukannya kamar itu adalah privasi, ya? "Lu! Lu mau ngapain!?" Tegas Ina sembari menahan langkah Leon dengan menarik tangan yang di genggam oleh cowok tampan itu. Leon Terkekeh geli, kemudian mengacak-acak rambut Inara.  Cowok itu merasa sangat gemas dengan tingkah Ina yang tidak pernah berubah. "Dih, siapa juga yang mau m***m? Gua itu cuma mau bantuin lu." Ucap Leon sembari melanjutkan langkahnya yang terhenti, tentunya sembari menggandeng tangan Ina. "Em, ini kamar lu, ya? Noh, ada buku IPS disana." Tebak Leon sembari melirik Ina.  Cewek itu hanya diam saja. Membalas lirikan itu, dan mengikuti permainan Leon. Entah mengapa, hatinya percaya begitu saja, dan yakin bahkan sangat yakin kalau Leon tidak akan melakukan hal hal yang biasanya dilakukan cowok b******k bin gaada otak diluar sana. Dia mau ngapain sih, anjir? Ini lagi, jantung gue, pake gerak cepet lagi! Kenapa ya, rasanya tuh kayak ada panik panik tapi gue nggak panik. Kayak deg degan yang aneh. Bukan karena cemas. Tapi, … Ah, apa ini namanya jatuh cinta atau falling in love? Ehh …? Anjir! Gak, lah.  Inget, Leon itu badboy kelas kakap! Jadi, lu gaboleh BAPER, nar!! Gak! Gak, boleh!!! Setelah membatin terus di dalam hati, tak sadar kalau mereka sudah berada di depan lemari besar tua yang terlihat kusam sepertinya sudah lama berada di situ. "Em, maaf yah, berantakan banget." Lirih Inara tidak berani menatap mata Leon. "Dih, kenapa sih? Udah ayok GC." Acuh Leon, sembari melepas gandengan tangannya, lalu perlahan cowok tampan itu mulai membuka lemari tersebut. Mata Leon tidak berhenti memperhatikan setiap pakaian yang menggantung di sanggahan kayu tua itu. "Baju lu tebel tebel nih. Good." Ucap Leon sembari memilihkan warna apa yang cocok dipakai cewek cantik itu, Inara. Hoodie biru, putih, abu-abu, hitam. Dan terakhir yang Leon suruh pakai adalah Hoodie hitam dengan celana jeans yang tidak ketat. Kini, cowok itu sudah merasa aman, agar Inara tidak kedinginan malam ini. Entah ia akan membawanya kemana. Yang pasti, malam ini, katanya Inara akan dibuat senang. Sekarang, Inara sudah bersiap mengambil tas kecil yang bertengger di bahunya. Dengan rambut di ikat satu yang tentunya hasil ikatan Leonara, dengan poni yang menutup dahi lebarnya, membuat cewek itu terlihat semakin cantik dan imut.  Tentu saja, itu adalah modus pegang-pegang ala cowok itu. Ternyata, Leonara sudah sangat penasaran dengan tekstur rambut Inara. Akankah keras seperti sapu? Karena sifatnya yang keras kepala juga galak. Atau seperti pakaian sutra yang halus. Entah karena dirawat atau memang tekstur rambutnya seperti itu. Ternyata, tekstur rambut Inara adalah sangat halus. Sampai-sampai Leon agak kesusahan saat mengikat kencang rambut Ina. Sebenarnya sudah rapi, sudah siap untuk di ajak jalan. Tapi, entah kenapa. Inara malah masuk ke kamarnya lagi. Entah untuk melakukan apa. Yang jelas, cowok tampan itu hanya bisa menunggu di luar pintu.  Sedari tadi, rupanya Inara sangat ingin mengusir Leon untuk berdiam diri di depan pintu. Tapi, karena Leon memaksa untuk masuk, jadi cewek itu memberi kelonggaran sedikit. Inara tersenyum simpul, melihat Leon di balik celah pintunya, terlihat agak murung karena disuruh 'menunggu' lagi. Inara tertawa tanpa suara di balik pintu kamarnya, lalu berjalan ke arah kaca besar yang Leonara tidak tahu. Lalu berputar-putar sambil tersenyum dan bergaya-gaya ala gaya sok kerennya. Hmm, pilihan Leon baik juga. Cakep nih, heheh Belum pernah cewek itu merasa sesenang ini, sampai sampai ingin rasanya ia terus berkaca di depan cermin besar itu. Ternyata, dirinya juga sangat cantik jika di dandani atau di permak sedikit seperti ini! Ya, ampun ... dia baru sadar … "Udah, ah! Nanti Leon curiga, lagi!" Ucap Ina sembari menghela napas, dan bergegas keluar dari pintu kamarnya. Lalu cewek cantik yang juga berpakaian serba hitam itu menghampiri Leon, dan menutup pintu untuk menguncinya. Tapi sebelum inara menguncinya, "nar, nanti ibu lu, gimana?" Tanya Leon yang terdengar seperti mengingatkan, sepertinya Leon sudah tahu kalau Inara tidak tinggal seorang diri, tapi, ada seorang ibu yang telah merawatnya. Lebih tepatnya, rumah ini adalah rumah ibu itu. "Ah, gapapa. Ibu gue ada kuncinya kok." Balas Ina, sembari melanjutkan kegiatan mengunci pintu. Inara menghela napas, lalu menatap Leon yang semakin terlihat tampan untuk malam ini. Kedua sejoli itu saling melempar senyum malu, pipi keduanya saling memerah.  Apa ini? Biasanya, Leon yang selalu membuyarkan suasana yang kian hanyut seperti air sungai Rucika yang mengalir. Suasana ini, diam-diaman saling tukar pandang yang kadang beradu. Inara, cewek itu sangat amat menyukainya. Itu persis seperti adegan film yang waktu itu tak sengaja ia tonton. Sudah bertahan seperti itu selama hampir dua menit, tiba-tiba saja, omongan tetangga sebelah yang ternyata telah lama memperhatikan mereka, membuyarkan suasana romantis yang biasanya terjadi di drama-drama Korea. "Yeh! Udah atuh! Kiw! Pandang-pandangan terus! Jalannya kapan atuuuuh?" Ucap seorang pria yang sepertinya sudah beristri, dari perawakannya yang kurang terurus dan penampilannya yang seperti bapak-bapak yang sedang menikmati angin malam. Dua sejoli itu menyentakkan bahu, pertanda kaget.   Lalu Inara yang malu pun segera menundukkan pandangan, kemudian berjalan perlahan ke arah cowok itu, dan mulai menaiki jok belakang motor.  Memegang pundak Leon untuk tempat bertumpu. "Nar, seperti biasa." Ucap Leon dengan nada ciri khasnya, seperti biasa, cowok tampan itu meminta Inara untuk memeluk perutnya lagi. Seperti kejadian tempo hari, saat ia mengantar Inara ke sekolah. "Argh, gausahlah." Lirih Ina, pipinya memerah karena cewek itu sudah gugup sejak pertama Leon masuk ke rumahnya. Apalagi saat di dalam kamar tadi. Leon menghela napas, berkata dengan lembut, "Ck, gabisa nar. Nanti lu ngejengkang. Cause i am a racer." Ucap Leon sembari memainkan gas motornya. Bunyinya nggak mberrrr yaaa, hehehe. Tapi … Brremm!!!! Brremm!!!!!!! Inara menghela napas, kemudian ia diam. Tidak melakukan tindakan apa-apa. Sepertinya memang Inara sudah merasa jengah dengan tingkah Leon yang terlihat 'selalu memaksa'. Cewek berpakaian modis nan gaul, serba hitam seperti cowok yang mengendarai motor sport tersebut, mulai melingkarkan tangannya di perut Leon. Terasa hangat.  Dan, nyaman. Kulit mereka seakan bersentuhan, tetapi terhalang oleh pakaian masing-masing. Dan, rasanya perut cowok tampan itu berbentuk kotak-kotak …? Terasa aneh bagi Ina.  Pasalnya cewek itu belum pernah memegang perut cowok. Apalagi yang rasanya aneh seperti ini. Ini pertama kalinya untuk cewek cantik berambut kuncir satu dengan gaya poni menutup seluruh dahi. "Dah, siap?" Ucap Leon sembari masih memainkan gas motornya. Inara yang berposisi sangat dekat alias menempel dengan tubuh Leon, tepatnya bagian pundak, punggung dan bahu lebar cowok itu, hanya bisa mengangguk. Tentunya Leon merasa agak geli karena ada sesuatu yang bergerak di tubuhnya bagian belakang. Cowok itu dengan cekatan langsung menancap gas.  Untuk pertama kalinya, Inara dibuat terkaget-kaget. Karena ia belum tahu, rasanya naik motor di motor mewah seperti ini, apalagi motor sport yang posisinya sangat menguntungkan si cowok. Yaitu Leon. Mau bergerak sejauh apapun Ina untuk menghindari menempel dari tubuh leon, tetap saja, akhirnya mereka akan saling bersentuhan alias menempel. Karena posisi jog-nya yang cukup 'nunggiing'. "Nar, jangan tidur." Ucap Leon memecah keheningan di tengah malam. Cowok itu takut kejadian 'mengiler' di bahunya terulang lagi. Niatnya, cowok itu ingin berbicara banyak hal pada Ina, di atas motor. "Iya." Jawab Ina dengan nada pelan. "Apa, nar?? ga kedengeran!" Pekik Leon, dengan niat ingin mengerjai Inara yang terlihat diam-diam saja di kaca spion. "Iya!!!" Pekik Ina, sembari mendekatkan mulutnya ke arah telinga Leon. Kali ini, cewek itu ingin memastikan kalau Leonara mendengar dan pasti mendengar dengan jelas. Leon tertawa geli, karena usahanya membuat Ina untuk semakin menempel padanya itu, suskes besar! Tentu saja, perut Leon yang bergoyang-goyang ke atas dan ke bawah juga telah sukses membuat dahi cewek cantik itu mengerinyit tak paham. Hah? Kok perutnya kek gitu sih? Dia kenapa anjir? Sakit, kah? "Lu sakit, Yon?" Tanya Ina dengan pelan. Karena ia ragu untuk bertanya. Kalau dugaannya salah, tentu saja cewek cantik itu akan malu. "Hah?? Apa nar??? Ga kedengeran!!" Ucap Leon berpura-pura tidak dengar, padahal dibalik helm yang cowok itu kenakan, ia sedang menahan tawanya.  "Lo! Lo! Sakit! Leon?!" Ucap Ina dengan penekanan di setiap kata, dan lagi-lagi cewek cantik itu berbicara tepat di telinga Leon. "Oh, kagak. Gua okey. I am okey, babe." Ucap Leon dengan santai. Tapi tetap saja, ekspresinya tersenyum simpul, dan juga pipinya telah memerah sejak tadi. Seumur hidup, walaupun Leon adalah badboy dan juga playboy, tapi, cowok itu tidak pernah sekalipun menggonceng wanita di jok belakangnya.  Itu karena, sedari dulu, Leon benar-benar menjaga hal-hal yang akan ia lakukan untuk satu wanita. Ya, hanya satu wanita yang telah berhasil mengambil ruang penuh di hati cowok tampan itu. Malam ini, menjadi malam yang seru bagi Leon. Malam ini, baru saja menempati pukul 20:15. Masih ada banyak hal yang akan mereka bicarakan. Entah akan berjalan mulus atau tidak.  Sesuai rencana atau tidak. Tergantung pada cowok tampan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN