Kita kemana?

2118 Kata
Malam ini, banyak sekali bintang yang menghiasi malam, sepertinya suasana semakin mendukung. Angin pada malam ini juga tidak terasa begitu menusuk ke tulang. Apa karena keduanya memakai pakaian tebal? Hilir angin yang Leon bawa saat berkendara membuat angin angin sepoi yang kini menghelai-helai melambai di rambut lurus panjang seorang Inara Djustike. . . . . . Tidak ada yang membuka topik percakapan lagi. Tapi, Leon tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi.  Cowok tampan yang sedang mengendarai motor sport-nya itu hanya memberi jeda beberapa saat agar Inara bisa merasa rileks dalam menikmati malam ini, malam yang tentunya tidak bisa mereka lakukan setiap hari. Leonara, cowok tampan itu sepertinya mulai tahu, bahwa kehidupan cewek yang ia sukai tidak seburuk yang ia pikirkan. Bahkan Leon sempat kaget dan terheran-heran ketika Inara dengan wajah polosnya seperti berkata, "gue gak tahu pakaian apa yang harus di pake, soalnya gue gapernah jalan Ama cowo." Hal itu juga membuat Leon terkesima, karena bagi cowok itu, cewek sepolos Inara tidak lagi banyak. Ya, Inara memang sangat menarik bagi cowok tampan itu. Cewek yang bisa membuatnya selalu terpikat. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga semua hal yang ada pada diri cewek itu, sangatlah spesial dan mempesona bagi seorang Leonara. Jadi, pertanyaannya, apakah seorang Leon akan bertaubat? Jawabannya tentu bisa kita lihat dan simpulkan sendiri, pada hari hari kedepan, mengenai bagaimana tingkah Leon. Cewek cantik dengan Hoodie hitam itu semakin melingkarkan tangannya di perut Leon. Jadi, tentu saja hal itu telah membuat tubuh mereka menempel dan tak ada batasan jarak. Ya, Inara merasakan sebuah kenyamanan yang belum pernah ia rasakan selama usianya yang hampir menginjak 17 tahun, tepatnya 4 bulan lagi. Nyaman … Hmmm, badannya Leon hangat banget …. Inara, cewek itu merebahkan kepalanya, lebih tepat memiringkan kepalanya agar bisa bersandar di pundak cowok tampan itu, Leon. "Nar," panggil Leon, yang suaranya agak susah di dengar karena hembusan angin yang otomatis membuat suara pelan nan berat itu sulit di dengar. Betul saja, rupanya Inara tidak mendengar.  Merasa kalau suaranya kurang terdengar, Leon, cowok itu kembali memanggil cewek yang sekarang sudah seperti pacarnya, "Nar!" Pekik Leon yang masih fokus melihat jalanan. "Ah! Iya?" Jawab cewek itu yang terhenyak dari lamunannya, kemudian posisinya berubah. Tidak lagi merebahkan kepalanya. Yaps betul, cewek cantik itu kaget. "Lu kalau misalnya mau keluar, jalan-jalan. Jangan pake pakaian se haram itu." Celoteh Leon tak terima, karena memang benar saja, Inara yang berpakaian ala kadarnya itu terlihat cukup sekksi. Inara tertegun, terdiam sebentar, otaknya yang hanya cepat saat menerima pelajaran, berusaha bekerja keras untuk memikirkan apa maksud ucapan Leon. Hah? Maksud dia? Apa tadi katanya? Pakaian … Em, pakaian se haram? Haram itu, artinya dilarang atau ga boleh di lakuin. Lah, maksudnya apa sih?!  Ah, gue bener bener ngga paham! Cewek itu masih terdiam, namun kali ini dia menghela napasnya, karena tidak kunjung paham dengan ucapan cowok di depannya, Leonara. Merasa tak ada jawaban dari belakang sana, cowok itu mulai menebak-nebak di dalam hatinya, "Lu juga ga paham, apa itu baju haram?" Tebak Leon, yang sepertinya benar. Cewek itu merebahkan kepalanya lagi, seperti posisi awal, yang otomatis membuat mulutnya dengan telinga cowok itu jadi berjarak sangat dekat, walaupun terhalang helm. "Iya," lirih Inara disertai hembusan napasnya yang terdengar jelas di telinga cowok tampan yang sedang mengendarai motor sport-nya itu. Leon tersenyum, dan kemudian menggeleng-gelengkan kepala, "Gua bingung sekaligus speechless, nar." Celetuk Leon yang sepertinya cowok itu berkata sambil tersenyum. Leon menghela napasnya, memilih bungkam beberapa saat. . . . . . . Apa ini?  Mengapa cowok itu nggak ngomong lagi? Apakah ia tahu, kalau Inara sedari tadi memilih bungkam karena cewek itu pikir, Leon akan membuka suara lagi. Entah untuk membahas yang tadi, atau hal lain. Yang jelas, cewek itu menunggunya! Tapi? Leon? Ah sudahlah, lagi-lagi ia membuat suasana hati Inara menjadi sedikit kacau, alias badmood. Ada pepatah mengatakan seperti ini, "Jangan terlalu berharap pada manusia. Atau kamu akan kecewa dengan kesengajaan yang kamu buat sendiri." Ah, tapi tidak berlaku bagi Inara. Cewek itu terlalu polos dan begitu buta akan dunia percintaan. Karena kegiatannya selama ini hanya belajar, belajar, dan belajar.  Hidup wanita itu begitu monoton. Karena memang kehidupannya yang sangat keras membuatnya bertekad tinggi untuk meraih cita-cita.  Tapi, semenjak ada Leonara, hidupnya menjadi agak santai.  Lebih tepatnya, Inara yang sekarang mulai memiliki kehidupan baru yang tentu dengan hadirnya seseorang yang baru untuk hidupnya. Leonara Abran. . . . . . . . Merasa canggung, cowok itu segera angkat suara lagi.  Entah kenapa, hal ini seperti terasa sangat baru baginya, padahal cowok itu sudah menggombali berbagai macam wanita.  Tapi, mengapa sekarang cowok itu jadi seperti ini? Padahal, Leon sudah mau angkat suara lagi, tapi cewek itu malah angkat suara duluan, yang otomatis membuat cowok itu mengurungkan niatnya. "Leon, Lu gaada mau ngomong apa, gitu?" Tanya Ina dengan nada lirih, cewek yang masih nyaman dengan posisi merebahkan kepalanya itu terlihat agak murung sekarang. "Yah, baru aja gua mau ngomong, eh lu udah peka." Leon tertawa getir, membuat suasana mereka kini makin canggung. Inara, cewek itu menghela napas, yang kemudian makin merapatkan genggaman tangannya di perut Leon. "Hm, lu gamau tau gitu, nar. Apa maksud gua tentang baju haram?" Celetuk Leon yang seakan membuyarkan suasana canggung di antara mereka. Inara, cewek itu mengangguk pelan. Sepertinya ia sedang malas menjawab atau memang sedang kepikiran sesuatu. Leonara menghela napas, "Baju haram itu, baju seksi gitu, nar." Ucap Leon sembari menghela napas di akhir ucapan. Cewek itu agak tersentak kaget saat mendengar kata 'baju sekksi'. Dahinya mengerinyit, "Tapi gue tadi ga pake baju sekksi kok." Bantah Ina dengan nada pelan, kurang bersemangat. Leonara ingin membangun suasana yang lebih baik alias yang dapat membuat Inara bahagia lagi, tapi cowok itu merasa dirinya harus menyelesaikan persoalan membahas hal yang lumayan penting bagi cowok itu. Bisa gasih, Yon. Lu ganti topik? Gue ga paham, soalnya … Hiks …! Sekarang, wanita itu cemberut, dan menghela napas berkali-kali. Suasana hatinya tidak membaik, tapi cewek cantik itu juga tidak mau berkata apapun. Sepertinya ia berada di fase mager. Leon, cowok tampan itu menghela napas, "nar, tapi baju bahan katun yang bahannya juga tipis, terus agak nyeplak, dan juga celana rumah lu yang cuma setinggi paha itu. Maaf, itu terasa sekksi bagi gua." Jelas Leon panjang lebar. Cowok itu berusaha menjelaskan dengan baik-baik. Tapi dirinya tidak tahu, akan seperti apa tanggapan dan pandangan Inara terhadapnya. "Jadi, intinya lu ga suka?" Tanya Ina sembari mengeratkan pelukannya. Karena itu memang terasa nyaman. Bahkan sangat nyaman.  "He'em …," ucap Leon sembari menghela napasnya lagi, sepertinya cowok itu ikutan badmood. Dan, jawaban Leon itu malah membuat suasana semakin canggung. Inara kira kira tersinggung gak, ya? Ah … gimana ya … Tapi, kan ini demi kebaikan dia … Seandainya dia ketemu cowok lain di rumahnya, yah seengaknya dia bisa tau, kalau itu bisa mengundang nafsu cowok-cowok yang liat.  Gua yakin sih, apalagi badan Ina juga bukannya nggak bagus … Untung aja, tadi kan gua bisa nahannya.  Ah, lagian gua juga tau, gua harus jaga dia.  Bukan rusak dia. Gua harus sabar. "Nar?" Panggil Leon, yang memecah keheningan suasana canggung ini. "Hem …" lirih Inara yang sepertinya tidak ingin diajak berbicara dulu. Leon diam, tidak melanjutkan ucapannya, cowok itu merasa ia harus berdebat dulu dengan hatinya, agar ucapannya nanti tidak membuat Inara merasa risih atau tidak nyaman. "Oh, nar. Kita makan dulu, yuk." Celetuk Leon yang membuyarkan lamunan cewek cantik yang sedang merenung tentang dirinya yang di tuduh telah memakai pakaian sekksi. Inara hanya mengangguk. Yang tentunya itu akan terasa untuk pundak cowok itu, karena posisinya masih sama. Sebelum mendapat lampu hijau alias anggukan atau persetujuan dari Inara, cowok itu sudah mengendarai motornya ke arah tempat makan atau tempat restoran yang terkenal enak, langganannya Leon dengan teman temannya.  . . . . . . . . Tidak butuh waktu lama, kini motor Leon sudah berada di depan restoran yang tidak terlalu ramai, tapi kelihatannya makanan disana enak-enak. Leon, cowok itu mematikan mesin motornya, dan segera membuka helm yang menghalangi ketampanannya.  "Ey, nar. Bangun." Ucap Leon sembari menggerak-gerakkan pundaknya yang berat karena kepala cewek cantik itu sedari tadi bersandar di pundaknya. "Eungghhh …" Inara menggeliat, mengerjap-erjapkan mata cantiknya. Terdiam sejenak. Sepertinya roh cewek itu baru kembali, jadi otaknya agak lemot menanggapi situasi yang terjadi. Dahi cewek itu mengerinyit, kemudian menghela napas. Sekarang itu, cowok tampan dengan rambut yang agak basah akibat keringat dingin yang terbiasa mengucur ketika ia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi itu membuatnya semakin tampan dan juga sekksi. "Ayo, putri tidur, kita makan dulu, cantik." Celetuk Leon tersenyum sumringah, mengelus-elus pundak cewek yang masih terdiam itu. "Eh, ini dimana?" Tanya Ina dengan mimik wajah polos, menatap mata cowok itu, Leon. "Dimana lagi? Di tempat makan, lah." Ucap Leon sembari membantu Inara turun dari jok belakang motor sport-nya. Inara menghela napas, tidak bersemangat, lalu mengikuti gerak gerik cowok itu, Leon. Sejak tadi turun dari jok motor, cewek cantik yang rambutnya agak berantakan itu tidak berhenti terus menerus memperhatikan setiap sisi dan sudut restoran sederhana itu. Bertuliskan "RIP Doy." Dahi Inara mengerinyit sejak memperhatikan nama restoran itu. Walaupun derap  langkahnya tak terhenti terus mengikuti cowok itu, Leon. Rupanya langkah cowok tampan itu sudah berhenti, yang mengakibatkan terjadinya ketabrakan antara tubuh Leon dan Inara. Terlebih cewek itu tidak memandang ke depan, tapi sedang menatap seluruh ruangan itu secara bergantian. Menatap setiap inci ruangan yang memiliki wangi daun mint. Padahal, disitu tidak ada satu pun pewangi yang bertengger di ruangan itu.  "Nar," gumam Leon, yang kemudian berbalik badan, dan menatap mata Leon.  "Ah, lu kalo misalnya mau berhenti bilang, dong!" Pekik Inara yang membelakkan mata, agak memelototi Leon, cewek itu menjadi agak geram dengan tingkah Leon. Leon terkekeh pelan, kemudian mendekati cewek yang ia cinta, Inara Djustike. "Nar, lu lucu sumpah, deh! Apalagi kalau marah!" Celetuk Leon yang mulai menyentuh pipi cewek itu untuk mencubitnya perlahan-lahan. Gemas, deh!  Gemas banget sama couple satu ini! Inara yang tengah di emosi seketika menjadi sangat deg-degan. Dan tiba-tiba saja ada rasa getir yang membuatnya salah tingkah.  "Nar, ayok ikut gua." Ajak Leon sembari menggandeng tangan cewek itu, Inara. "Gak. Ada yang mau gue tanyain ke lu." Tegas Ina, melepas genggaman mereka. Entah kenapa, mendadak hati cowok tampan itu sakit. Terasa nyeri yang begitu semakin dalam di dalam daddanya, ketika Inara melepas genggaman mereka. Seketika ekspresi cowok itu menjadi suram, terdiam. Melihat hal itu, Leon, cowok itu berusaha menyentuh tangan Ina lagi, sepertinya cowok tampan itu mempunyai obses terhadap tangan cewek itu, Inara. "Ck, gak. Yon," ketus Ina sembari agak mundur, sedikit menjaga jarak dari cowok tampan yang berpakaian serba hitam tersebut. "Nar …" lirih Leon sembari memperlihatkan ekspresi seperti anjingg yang menyedihkan. Nanar mata cowok itu seperti berkata , 'biarin gua pegang tangan lu'. Inara yang masih melirik tajam Leon pun akhirnya berkata lagi, yang ternyata hanya masalah sepele yang ingin cewek cantik itu tanyakan. "Yon. Gue mau nanya. Lu nyium bau parfum daun mint, gitu?" Tanya Ina yang perlahan mulai berjalan mendekati cowok itu. "Eh, iya. Disini emang biasanya pasti ada pohon imut yang bisa ngeluarin bau parfum mint kayak gini." Jelas Leon, sembari menghela napas. Apa yang cowok itu pikiran sebenarnya? Leon menghela napas, "gua kira lu marah …" lirih Leon yang tidak seperti biasanya.  Apa ini? Cowok tampan itu terlihat begitu menyedihkan! "Haah? Em, lu emang nyangka apaan?" Tanya Ina dengan lembut, kemudian mendekati Leon dan kali ini tangannya bergerak untuk menggenggam tangan besar Leonara.  Hal itu bukanlah hal biasa bagi Leon maupun Ina. Bagaimanapun juga, selama ini yang selalu mencoba untuk menggenggam tangan Ina adalah Leon. Cewek itu, Inara tidak pernah berusaha menggenggam tangan cowok itu. Bahkan sekalipun, tidak.  Tidak pernah. Tapi, kali ini?  Kenapa? . . . . Tanpa mereka sadar, kalau di lantai atas restoran itu, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka.  Seseorang dengan pakaian baju kotak-kotak terlihat sedikit lecek, dan juga celana hitam panjang, tak lupa dengan peci yang orang itu kenakan. Orang tersebut sedang duduk di kursi reyot kesayangannya, tersenyum tulus yang mengembang di wajah yang sudah penuh dengan kerutan dimana-mana, melihat ke arah bawah, tentunya ke arah dimana Inara dan Leon yang memberhentikan derap langkahnya untuk perdebatan kecil yang tak penting, tapi sungguh terlihat chemistry yang benar-benar nampak. "Oh, Anak tunggal Abran sudah mendapatkan cinta sejati, ya?" Lirih seseorang tersebut yang memakai kacamata katarak, dan juga ada tongkat disampingnya, membuat siapapun yang melihatnya akan segera menyebutnya dengan "kakek". . . . . Sementara itu di bawah sana, sepertinya pertikaian kecil itu akan segera berakhir. Terlihat Inara yang mulai menyurutkan egonya, dan karena cewek cantik itu merasa tidak enak dengan cowok yang telah membawanya kemari, jadi ia melakukan hal hal kecil sebagai permohonan maaf yang tersirat. Contohnya seperti saat ini, perlakuannya saat ini. Menggenggam tangan cowok yang ia sukai, Leonara. Tapi, cewek itu tidak pernah mengakui hal itu, atau bahkan mengode kalau dirinya telah perlahan-lahan mulai  jatuh cinta pada sosok Leonara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN