"Kemana ini, Yon?" Tanya Ina yang kali ini telah menggenggam tangan besar cowok yang ia sukai, Leonara.
"Atas." Jawab Leon sembari melirik Inara, lalu menyunggingkan senyum cengengesannya.
Tapi, walaupun terlihat konyol, Leon, cowok itu tetap terlihat tampan!
"Ck, bisa ga, gausah ketawa!?" Ucap Ina sembari melayangkan tangannya yang mendarat mulus di pipi Leon.
Tamparan itu tidak keras, hanya saja pelan tapi lebih di tekankan pada pipinya.
Tetap saja, cowok itu masih cengengesan sembari menatap Inara.
"Widiii! Lu lucu tau, kalo lagi marah!" Leon terkekeh lagi, tapi kali ini Inara tidak mau terlalu memperhatikan cowok itu lagi.
Sepertinya cewek itu salah tingkah karna Leonara terus saja cengengesan seperti sedang mengejeknya yang telah menggenggam tangannya lebih dulu.
Kini, mereka bergegas melangkahkan kaki ke atas, menaiki satu persatu tangga yang terlihat sedikit usang berdebu.
Tidak, lebih tepatnya Inara yang menyeret cowok tampan itu, Leonara.
Kini mereka sudah sampai di lantai atas, terlihat ada sekitar tujuh meja yang masing masing setiap meja ada empat kursi berbahan kayu dengan disain yang antik. Sekalipun, Inara belum pernah melihatnya.
Dekorasi lantai atas tersebut juga terlihat sangat unik dan terasa baru bagi cewek cantik itu, Inara.
Inara, cewek cantik itu tertegun memperhatikan setiap inci dan sudut di ruangan tersebut, sepertinya cewek itu berusaha mengingat setiap bagian dan sisi di ruangan atas tersebut.
Tidak ada satupun yang terlewat dari pandangannya.
"Nar, lu suka kah?" Tanya Leon yang ternyata sudah berhenti dari tingkah konyolnya.
"He'em," ucap Inara yang hanya sekilas melirik Leon, itupun dengan mimik wajah datar.
Walaupun tangan mereka masih saling menggenggam satu sama lain, tapi entah kenapa, sepertinya Inara, cewek itu tidak terlihat senang. Melainkan terpaksa.
Apaan sih
Gajelas banget
Ngapain cengar cengir kayak gitu?!
Emang dikiranya tuh, gua lucu apa?!
"Ah, lu kenapa siiiih?" Tanya Leon dengan nada manja dan juga nanar mata cowok itu seperti terlihat seperti puppy eyes, sembari tangannya yang nganggur mengelus-elus pipi Ina yang terlihat sedikit memerah sekarang.
"Jangan marah-marah terus, nar." Ucap Leon dengan nada suara beratnya, khas playboy.
"Ck, diem!" Bentak Inara dengan nada ketus andalannya.
Tanpa mereka sadar, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka, tentu saja kakek tua yang tengah duduk di kursi reyot dekat meja kasir.
Siapakah kakek itu?
Dan, sebenarnya apa tujuan Leon membawa cewek itu kesini?
"Ehem …" lirih sang kakek yang tengah asyik tersenyum memandang keduanya, membuat keduanya menoleh ke satu arah, tempat kakek itu duduk.
Dahi cewek itu, Inara, mengerinyit dan dengan pandangan serius memandang kakek tersebut. Yang sekarang telah menatapnya.
Leon menghela napas, memilih menutup masalah perdebatan tadi, perdebatan yang tidak penting dan juga kalau di lanjutkan, bisa menimbulkan masalah baru. Makin runyam tentunya.
Dahi cowok tampan itu, Leon, ikut mengerut karena ia merasa agak aneh dengan tingkah seseorang yang duduk di kursi reyot tersebut, tidak seperti biasanya.
Grep
Cowok tampan itu, kembali menggenggam tangan Inara yang tengah termenung melihat berbagai desain unik disana.
Aroma di lantai atas, itu beraroma lemon fresh yang di d******i dengan hiliran angin malam, membuatnya semakin tercium dengan menyengat. Tapi baunya sangat enak membuat pikiran kita agak rileks.
"Nar, kenalin, ini Atung gua." Ucap Leon sembari melirik cewek cantik yang berekspresi polos di depannya, tentunya kedua mata cantik itu menatap sang kakek yang ternyata di panggil 'atung' oleh cowok di sebelahnya, Leonara.
Inara menghela napas, mencoba tersenyum, lalu menatap dengan lembut nan sopan pada Atung itu, lalu tangan kanannya menyalami tangan si Atung yang bertengger di sisi pegangan kursi reyot.
Leon tersenyum simpul melihat tingkah cewek cantik itu, Inara.
Cowok tampan itu meneguk ludahnya, yang membuat jakunnya naik turun, terlihat semakin seksii.
"Tung, kita duduk dulu, ya? Atung mau duduk bareng kita, kah?" Tawar Leon sembari membungkuk, menyamakan posisinya dengan si Atung.
Kakek paruh baya, yang terlihat agak rapuh itu tersenyum tulus pada Leon, menatap cucu kesayangannya itu, lalu mengangguk.
Cewek cantik itu, Inara, sedari tadi hanya terbungkam diam membisu ketika melihat perlakuan seorang badboy kelas kakap, Leonara. Yang ternyata bisa bertingkah sebaik dan setulus itu.
Tentu saja, siapapun yang melihatnya akan berkata kalau cowok itu adalah 'pria baik baik'.
"Nar." Ujar Leon sembari berkode kalau cewek itu harus segera duduk di kursi nomor 7 sana. Tentu saja, Inara menuruti perintah Leon, apalagi cowok itu benar-benar terlihat seperti angel versi pria, sekarang!
Inara hanya memperhatikan sosok tampan Leon yang sedang memapah si Atung. Yang entah siapanya Leon, cewek itu belum tahu. Dia memilih bungkam terlebih dahulu. Akan bertanya disaat yang tepat.
"Bismillahirrahmanirrahim, yok bisa yok, pelan-pelan, Tung." Ucap Leon sembari memapah si Atung, ke kursi samping Ina.
Cewek cantik itu hanya bisa melihat saja, lagi-lagi tidak bisa membantu apa-apa.
Mungkin karena Inara takut kalau misalnya Leon akan marah saat dia ingin berusaha membantunya?
Entah kenapa, feeling-nya berkata seperti itu.
Entah benar atau tidak.
"Yups, duduk disini yah, tung." Ucap Leon sembari masih memposisikan Atungnya duduk di sebelah kursi Inara.
Leon menghela napas panjang, dan tersenyum menatap Inara dan Atungnya.
"Disin dulu yah, saya mau ke belakang dulu." Ucap Leon, yang tersenyum sembari berlagak permisi ala barista barista cafe.
"Leon mau kemana?" Celetuk Ina dengan nada sangat pelan, sembari memperhatikan punggung cowok tampan itu, yang sebentar lagi akan benar-benar menghilang dari jangkauannya.
Orang yang di sebelah cewek itu terkekeh pelan, khas kakek-kakek yang sudah sangat berumur. Membuat Inara menoleh dan kemudian cewek itu menunduk karena malu. Padahal dia berniat ingin membatin di dalam hatinya saja, tapi apa?
Omongan tidak penting itu malah terucap di bibir kecilnya yang berwarna pink merona, membuatnya semakin terlihat cantik alami.
"Nama?" Celetuk sang Atung yang memberikan senyum kecilnya, sembari melirik anak cewek di sebelahnya.
"Ah, a-atung. Perkenalkan, nama saya Inara. Dari SMK Kalara, teman kelas sebelahnya Leon, Atung." Cewek cantik itu, Inara, gugup karena Atung Leon juga tampan!!
Kakek paruh baya itu mengerinyit heran, masih dengan posisi tersenyum, "Kelas sebelah Leon, punya temen?" Tanya sang Atung, yang kedengarannya menjadi hal konyol. Apalagi dengan wajah polosnya. Itu terlihat sangat konyol.
Yang tentunya membuat dahi cewek itu ikutan mengernyit heran, "hah? E, eh …," jawab Inara yang langsung refleks menutup mulutnya itu. Mungkin saja, cewek cantik itu merasa telah bertingkah tidak sopan kepada orang yang lebih tua.
"Eh, maaf buat nunggu lama, nar." Celetuk suara seseorang yang tengah memperhatikan keduanya, sembari membawa hidangan di kedua telapak tangannya.
Tapi, pakaian Leon telah sedikit berbeda kali ini, karena sekarang pakaian serba hitam itu terhalang oleh serbet seperti pelayan.
Leonara yang memakai itu, tentunya tetap terlihat tampan, bahkan, kali ini, dahi cowok itu terlihat lumayan lembab alias basah oleh cucuran keringat yang membuatnya semakin seksii dan menggoda.
Dan juga, rambutnya yang berantakan membuat dirinya juga semakin terlihat seperti seorang badboy sesungguhnya.
Tapi, tidak bisa dipungkiri, sifat cowok itu seperti cowok baik-baik saja!
Apakah terasa aneh?
Ya, begitulah Leonara. Manusia paling unik yang pernah cewek cantik itu kenal.
Sang Atung terkekeh pelan, melihat cucu kesayangannya, Leonara yang memakai celemek khas pelayan di d**a bidangnya.
Melihat kedua orang yang saling menatapnya dengan tatapan yang tidak pria itu mengerti, Leonara segera melihat dirinya sendiri.
Ada apa?
Apa yang salah?
"Kenapa?" Tanya Leon sembari bergantian menatap keduanya.
"Lu keren …," gumam Inara yang terlihat mematung ketika melihat Leon.
Sedangkan si Atung hanya menyunggingkan senyumnya.
"Hah? Apa, nar? Ga kedengeran?" Tanya Leon dengan nada jail, berusaha menahan senyumnya yang sebentar lagi akan mengembang.
"Ck, mulai." Ucap Ina sembari memalingkan wajahnya. Lalu tak sengaja matanya bertemu mata sang Atung yang tengah tersenyum memperhatikan tingkah cewek yang telah berhasil merebut hati cucu kesayangannya.
"Ah, eh, ma-maaf, a-atung." Lirih Ina sembari menunduk, karena cewek cantik itu merasa kalau dirinya terus saja melakukan tindakan bodoh yang membuat ia malu sendiri.
Leon yang melihat hal itu, segera memanfaatkan kesempatan kali ini, "Hayoloh, nar … Atung pasti marah banget. Soalnya kakek gua kagak suka cewek gak sopan kayak lu." Oceh Leon yang membuat Atungnya melirik ke arahnya, tentunya masih tersenyum.
"Cewek kamu cantik, Le." Celetuk sang Atung sembari menatap Leon yang tengah duduk di meja makan, cowok tampan itu tidak melepas celemeknya terlebih dahulu.
"Hah? Cewekku? Salah, tung! Ini, mah. Calon bini!" Celoteh Leon yang di akhiri cengengesannya di akhir kata. Sembari menatap usil, Inara yang tengah dilanda salah tingkah akibat ulah mulut jail cowok itu.
Mau bagaimanapun juga, cewek cantik itu tidak mungkin bertingkah semaunya, apalagi di depan orang yang lebih tua. Terlebih itu adalah kakek dari Leon!
"Eh btw, Tung! Jangan panggil Leon, le dong!" Protes cowok tampan itu, yang sedang memotong steak favoritnya, tentunya wajah tampan cowok itu terlihat sangat kesal, dan ia menghela napas beratnya.
Atung terkekeh pelan, sembari memotong hidangan steak yang ternyata agak susah di potong. Mungkin karena usianya yang sudah sangat tua?
Sedari tadi, Inara bungkam tidak bersuara, hanya fokus memakan steaknya, dan juga menunduk. Entah mengapa, cewek cantik itu merasa tidak mau ikut campur dalam topik obrolan keluarga Leon. Yaps, tentu saja, ia takut membuat suasana menjadi tidak bagus, atau hal buruk lainnya yang mungkin akan terjadi.
"Saya bantu, kek. Eh, Atung." Celetuk Ina sembari mengambil pisau steak yang ada di tangan Atung. Lalu mencoba memotong kecil-kecil sesuai potongan untuk anak kecil, karena Inara tahu, kalau orang yang telah lanjut usia itu tidak bisa mengunyah dengan potongan-potongan yang besar sesuai potongan Leon.
Leon yang terpaksa menjeda obrolan tersebut, tampak serius memperhatikan Inara yang tampaknya sangat serius dalam memotong steak itu sampai terlihat sangat kecil.
"Nar," panggil Leon, yang membuat Inara terbuyar dari lamunannya.
Cewek cantik itu menoleh ke arah Leon, tidak menjawab, tapi kedua alisnya terangkat pertanda kalau cewek cantik itu memberi isyarat seperti berkata, 'apa?'
Leon terkekeh geli, "lu motong steak Ampe kecil begitu, nanti Atung makannya gimana?" Tanya Leon sembari menaikkan salah satu alisnya.
"Hah?" Tanya Ina dengan tampang lugunya, lalu melihat ke arah tatakan steak Atung.
"Ah! Maaf, tung! Maaf!!!" Ucap Ina sembari menutup matanya rapat-rapat, sepertinya ia benar-benar tidak bisa bertingkah dengan baik.
Sang Atung yang melihatnya tidak lagi menyunggingkan senyum. Senyum itu tidak mengembang lagi di wajah keriputnya.
"Kok gitu?" Tanya Atung yang menatap Inara dengan tatapan datar, tatapan menyeramkan yang belum pernah cewek itu lihat.
"Wayolo, nar …," lirih Leon dengan nada jailnya. Sifat usilnya itu mungkin memang sudah mendarah daging di dalam tubuh cowok tampan itu.
"Ah …, maaf …," kali ini Inara menunduk, dan mengusap-usap telapak tangannya, sepertinya ia benar-benar sudah merasa sangat bersalah. Dan tidak tahu harus berbuat apa untuk merubah suasana ini.
Leon dan Atung yang sedari tadi saling pandang sejak Inara menundukkan pandangannya. Ternyata mereka tidak benar-benar marah. Terutama Atung. Walaupun sudah terlihat sangat tua, tapi sepertinya ingatan dan juga semangat pria paruh baya itu terlihat masih melekat erat dengan dirinya.
Diam-diaman beberapa menit, sampai akhirnya mereka menyerah karena sudah tidak bisa menahan sesak tawa yang tertahan di tenggorokannya.
Tawa itu pecah.
Kedua orang yang berwajah agak mirip, dan juga tingkat kejailan yang benar-benar mirip, membuat mereka terlihat begitu identik sekarang.
Inara, cewek cantik itu tersentak kaget dan seketika menatap mereka berdua yang tengah tertawa terbahak-bahak.
Ada apa?
Dahi Ina mulai mengernyit lagi, "Kenapa?" Lirih Ina, karena cewek itu tentu saja masih takut karena telah merasa terlalu bersalah pada Atung. Terutama Leon yang telah memperkenalkannya dengan salah satu keluarganya. Seharusnya cewek itu bersikap baik dan menampilkan yang terbaik. Tapi, ternyata Inara malah dilanda kegugupan yang menyebabkan dirinya seperti sekarang.
"Lu, lucu banget, dah." Ucap Leon sembari masih tertawa dengan keras, bersamaan dengan Atungnya.
Entah apa yang lucu, sampai-sampai terlihat di sudut mata cowok tampan itu, Leon mengeluarkan sedikit air mata.
Inara, cewek itu masih mengerinyit, "gue lucu? Emang gue ngapain?" Tanya Ina dengan polos. Masih menatap Leon yang tidak berhenti tertawa sejak tadi.
"Duh, Atung tuh ga marah marah, nar. Atung cuma lagi bercanda!" Ucap Leon melanjutkan tawanya yang sepertinya tidak akan selesai.
Atungnya sudah berhenti tertawa sejak beberapa saat tadi, karena memang orang yang sudah lanjut usia tidak disarankan untuk tertawa terlalu terbahak-bahak.
"Nara, ya? Saya nggak marah kok, neng geulis." Celetuk si Atung yang menatap Inara yang duduk di sampingnya. Begitupun sebaiknya.
"Ah … begitu, ya …, tetep aja, saya minta maaf banget, Atung …" lirih Inara sembari menunduk.
Sepertinya cewek itu tidak bahagia pada situasi ini, tapi Leon dan Atungnya tampak puas telah mengerjai cewek cantik nan polos itu.
"He'em." Ucap Atung sembari menganggukkan kepala, dan mengunyah steak yang tengah di potong-potong Inara.
"Tumben Le masak?" Tanya Atung sembari memperhatikan Leon yang mengunyah steak yang sebentar lagi akan habis.
"Ehem, itu, tung. Soal tawaran Atung yang itu, Leon mau deh. Nih, udah dapet calon bininya, kan." Ucap Leon sembari mengedipkan sebelah mata ke arah Inara yang menatapnya dengan polos. Tentu saja, hal itu membuat Inara menundukkan kepala lagi, karena sebetulnya cewek cantik itu sudah sangat geram dengan tingkah laku Leon sejak tadi, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Alasannya masih sama, karena ada Atungnya.
Inara menghela napas. Lalu membuang muka. Tampaknya cewek itu mulai bosan.