"Nara, Lu gapapa?" Celoteh Leon, sembari mengelap mulutnya dengan tisu yang sedari tadi ia genggam.
Mungkin saja, Leon lumayan peka terhadap perubahan sikap Inara saat di motor dan saat di sini.
Inara melirik Leon, tapi cewek cantik itu tidak menjawab, lalu menggelengkan kepala dengan pelan.
"Oh, gitu mainnya." Jail Leon sembari melirik atungnya. Kemudian tertawa terbahak-bahak lagi.
Sebenarnya mereka berdua kenapa?
"Atung, le pergi dulu ya, Ama Ina. Eh calon bini maksudnya." Pamit Leon sembari beranjak berdiri, yang diikuti cewek cantik itu, Inara.
"Ah, gitu kah? Padahal mau bicara dulu …" lirih Atung yang menundukkan kepala, tampak kecewa.
"Oh, yaudah. Le ke belakang dulu ya. Nar, titip Atung gua yak." Ucap Leon sembari membawa talenan bekas steak mereka, mungkin saja cowok tampan yang pintar memasak itu mau mencuci piringnya?
Inara hanya mengangguk polos, kemudian melirik si Atung yang tengah tersenyum memperhatikan wajah Inara.
"Wajah kamu .., cantik. Mirip seseorang …" celetuk Atung yang tersenyum tengah menatap dalam-dalam mata polos Inara.
"Ah, makasih …" lirih Ina sembari menunduk malu-malu. Sesekali cewek cantik itu melirik Atung.
Kini, hanya ada mereka berdua di ruangan tersebut. Benar-benar hanya mereka berdua.
Atung menghela napas, melirik Inara, "Nara mau tahu tentang Leon, kah?" Tanya Atung, lalu menyeruput minuman hangat yang spesial di buatkan oleh cucu kesayangannya, Leon.
Matanya menutup perlahan, sembari tersenyum tulus, "Nikmat mana yang kau cari?" Celetuk Atung lagi, padahal Inara belum sempat menjawab pertanyaan Leon.
Tapi, sepertinya Inara tidak mau menjawab, karena cewek cantik itu tampaknya masih was-was dengan orang baru. Entah mengapa, dirinya seperti itu.
Inara menunduk lagi, menghela napas.
"Leon itu sedari kecil hidup dengan sulit. Karena dia benar-benar belajar mati-matian tentang semua jenjang sekolah dasar. Maklum, ayahnya orang ambisius …" celetuk Atung, yang mulai membuka matanya lagi, melirik Inara yang tengah terdiam.
"Saya dengar, semenjak lulus SD, dia jadi sering godain perempuan tanpa alasan jelas. Dan itu bergonta-ganti."
"Tentu aja, cerita itu nyampe ke telinga saya, karena Leon sering di marahin habis-habisan sama mamanya."
"Yah, wajar aja sih, orang dulu saya dan ayahnya Leon itu suka mainin wanita, kok." Sambung sang kakek tertawa getir, melirik Ina.
"Jadi, Inara udah paham yah, kenapa Leon kayak gitu." Tanya sang Atung, melirik Ina lagi.
Dahi cewek cantik nan polos itu mengernyit, melirik si Atung yang tengah termenung.
"Em, maaf, apa iya, keluarga Leon kena kutukan?" Tanya Ina ragu-ragu. Tentu saja karena itu sudah termasuk membahas hal yang lebih privasi. Bahkan rasanya tebakannya itu akan segera di sangkal oleh Atung, karena itu mungkin saja menjadi aib bagi beberapa orang.
Atung mengangguk, "yah, gitu. Dan kutukan itu bisa lepas, ketika-" ucapan Atung terhenti ketika melihat leonara yang tengah berlari ke arah tempat duduk mereka, meja nomor 7.
"Nar! Ayok, ada yang mau gua tunjukin!" Ucap Leon sembari menarik tangan Inara, tak lupa cowok itu melepas celemeknya terlebih dahulu, dan juga bersalaman secepat kilat kepada Atung, dan Inara hanya mengikutinya saja.
Melangkah dengan cepat, menuruni anak tangga, lalu bergegas ke arah motor yang terparkir di depan restaurant kuno itu. Bertuliskan RIP DOY.
Segera dengan cepat, Leon mengambil kunci motornya, lalu ngegas dengan kecepatan tinggi.
Mereka terlihat sangat terburu-buru. Sementara Atung hanya tersenyum melihat tingkah Leon yang tidak berubah sedari dulu. Masih sama.
Ck, mau kemana sih, Yon?
Tapi, tadi, Atung mau ngomong apa yah?
Duh, gue ga fokus lagi dengerinnya!
"Mau kemana?" Tanya Ina di sela-sela kebutan motor itu, membuat suaranya tak terdengar.
"Nar! Peluk gua! Kita ngebut!" Pekik Leon sembari semakin menambah kecepatan dengan tinggi.
"Kalo lu takut, lu boleh merem, ya! Bismillah!" Ucap Leon lagi, sembari semakin meningkatkan kecepatan motornya dengan maksimal.
Dengan cekatan, cewek itu segera melingkarkan tangannya, memeluk Leon dengan erat, seakan-akan mereka akan berpisah sebentar lagi, jadi ia terus saja memeluk tanpa ada jarak.
Hangat …
Tubuh Leon, hangat …
Sudah habis beberapa menit di atas motor, masih dengan kecepatan tinggi, mereka belum juga sampai ke tempat yang ingin dituju.
"Nar," ucap Leon sembari melirik kaca spion motor sport-nya.
Bahu Leon yang lebar, membuat Inara selalu berhasil tidur di pundak cowok itu.
Leon tersenyum kecut, "yah. Tidur lagi dia." Cowok tampan yang ketampanannya terhalang helm itu mendengus, menghela napas panjang.
Mulai menormalkan kecepatan motornya, lalu bergerak ke arah sisi kanan jalan, sepertinya Leon ingin membawa cewek yang tengah tertidur itu ke suatu tempat.
Tidak sampai beberapa jam, mereka sudah sampai di tempat tersebut.
Samping cafe yang terlihat ada sebuah vas bunga dandelion beraroma khas belum pernah Inara mencium bau seperti itu. Yang ternyata mampu membuat cewek itu terbangun dari tidur panjangnya.
"Emhh," Inara menggeliat, sepertinya otaknya belum sepenuhnya sadar. Karena lagi lagi cewek cantik itu hanya terlamun, membuat Leon agak kesusahan dalam memapah turun cewek itu.
Sangat merepotkan.
Dan, cowok itu baru tau kalau cewek tersebut tidak bisa diajak keluar terlalu malam.
Sekarang ini, sepertinya penyakit lamanya kambuh.
Membuat cewek cantik itu seperti kesusahan bernapas.
Mukanya memerah, tampak sangat kesulitan bernapas.
Membuat Leon dan teman-teman tongkrongannya panik setengah mati.
"Nar, Lo kenapa?" Tanya Leon sembari mengelus-elus pundak cewek itu.
Jujur saja, ini baru pertama kali cowok itu melihat kejadian orang kesulitan bernapas seperti itu.
Jadi cowok itu benar-benar panik karena tidak tahu harus berbuat apa.
Teman-teman tongkrongan yang masih berada di dalam cafe segera memapah Inara, membantu cowok itu untuk membawanya masuk ke dalam cafe.
"Ri! Lo punya minuman tradisional obat gitu gak?!" Tanya seseorang cowok dengan outfit kemeja abu-abu gelap, digulung sampai sebatas lengan, membuat cowok itu terlihat semakin tampan dan keren. Tapi cowok dengan pakaian kemeja abu-abu itu terlihat ikutan panik karena memang suasana sekarang itu benar-benar sangat membuat orang-orang di sekitar panik.
"Ah, nar! Lu bawa obatnya, kah?" Tanya Leon berinsiatif tanpa aba-aba mulai membuka tas kecil cewek cantik yang terkulai lemas di sofa tersebut.
Cewek cantik yang sekarang rambutnya sudah berantakan hanya bisa menggeleng cepat, dan wajahnya semakin memerah.
Terlihat disitu ada sekitar 7 teman Leon yang membantu Inara. Dari yang mengipasi, memijiti kedua tangan dan kakinya, sampai yang membawa minuman, serta membacakan ayat kursi untuknya.
Sementara Leon sendiri sibuk mengobrak-abrik tas Inara. Berkali-kali cowok itu membongkarnya, tapi, hasilnya tetap nihil.
Leon menggerutu kesal, dahi cowok tampan itu mengerinyit, tampaknya sedang berusaha berpikir keras.
"Ah Anjing! Gimana, nih?" Tanya Leon sembari menatap teman-temannya secara bergantian.
Terlihat seorang barista yang tengah memperhatikan tingkah mereka berdua, langsung melangkah, masuk ke dalam circle tersebut.
Sepertinya ada kepentingan.
"Kalau di Drakor-drakor, ceweknya sesak napas gini, biasanya dikasih napas buatan sama cowoknya sih, kak." Ucap sang barista cantik berambut sebahu, menatap polos ke arah Leon. Mencoba memberi saran.
Mendadak semuanya terdiam dan menatap sang barista, terkecuali Inara. Cewek itu kondisi masih sama tak kunjung membaik, bahkan malah lebih buruk karena sekalan napasnya terdengar makin kecil dan cepat.
Membuat siapapun yang melihatnya ikutan sakit.
Semuanya mengerinyit heran, "iyakah?" Tanya Leon terdengar seperti memastikan kalau memang itu bukan saran Sembarangan. Tentu saja, barista itu dengan cepat mengangguk, dan kembali lagi ke tempatnya.
Leon menghela napas, menatap Inara yang terlihat sangat menyedihkan.
Tapi, cewek itu seperti seakan-akan berkata, 'Jangan cium gue!'
"Gua harus lakuin, nar. Demi kebaikan Lu." Ucap Leon dengan nada pelan, sembari menatap Inara yang meronta dan berusaha menjauh dari cowok itu.
Tapi, apalah daya, teman-teman Leon membantu cowok itu untuk melakukan hal itu.
Mereka menahan tubuh Ina, agar tidak bergerak kesana-kemari. Yang otomatis membuat Leon kesusahan.
Cup
Akhirnya Leon mendaratkan bibirnya di bibir mungil milik Ina, otomatis kedua mata cantik cewek tersebut membelak.
Cowok itu berusaha menghembuskan napasnya lewat mulut, membuat mulut Inara menjadi penuh dengan hembusan napas cowok tersebut.
Tiba-tiba saja datang salah seorang barista lain yang sedang menaruh stok bubuk minuman yang telah habis. Lalu karena penasaran, cewek dengan rambut dikuncir dua itu melangkahkan kaki ke depan, dan melihat kejadian ciuman tersebut.
"Semoga asmanya cewek Leon ceper sembuh, yah." Gumam seorang cewek dengan outfit kemeja biru digulung sampai siku-siku, dan celana levis ketat pendek sepaha membuatnya terlihat cukup seksii.
Dahi barista yang rambutnya terikat dua itu mengerut,
Asma?
Kok asma malah ciuman?
Bukannya itu malah bisa jadi lebih bahaya?
"Mba, itu asma ceweknya? Setau saya, kalo asma mah gaboleh ciuman. Nanti malah makin parah asmanya." Celetuk sang barista yang terdengar juga di telinga Leon.
Mendengar hal itu, tentu saja cowok itu segera melepas pagutan mulutnya.
Lalu segera menggendong Inara ke arah motor sportnya, bergegas memakai helm, sebelum memakai helm, ia menatap tajam ke arah barista yang menyarankan untuk memberi napas buatan lewat mulut.
Awas lu
Mata tajam Leon tak berhenti menatap sang barista berambut sebahu, sampai-sampai barista itu ketakutan dan menundukkan kepalanya, mungkin saja karena merasa bersalah.
Lalu dengan sekali gas, motor sport itu bergerak dengan sangat cepat, sepertinya itu adalah kecepatan paling tinggi yang telah ia gunakan.
Gua tau harus bawa lu kemana
Ke rumah sakit
Bertahan ya, nar
Harusnya Lu bilang, kalo gabisa keluar malem
Kan kita bisa main di rumah aja …
Ck, ini pasti gegara gua!
Shit!
Leon mengumpat dan menyalahkan dirinya sendiri, tapi ada yang lebih penting dari kegiatan mengumpati dirinya, yaitu bergegas membawa cewek yang terlihat kesulitan bernapas itu ke rumah sakit terdekat disini.
Tak butuh waktu lama, sekarang mereka sudah berada di parkiran motor.
Dengan cekatan dan terburu-buru, cowok itu segera memapah Inara yang sudah basah kuyup dahi dan lehernya, mungkin karena kegiatan sulit bernapas atau yang biasanya disebut asma itu membuatnya jadi kepanasan.
"Nar, bertahan ya …," lirih cowok itu, Leon. Sembari mengusap-usap bahu Ina yang sekarang sepertinya setengah sadar.
Kini mereka sudah memasuki kawasan antrian, tapi Leon memaksa petugas rumah sakit untuk membawa Inara ke dalam IGD saja. Supaya cepat ditangani.
Tentu saja, cowok itu memperlihatkan kartu black card miliknya, dan hal itu membuat orang-orang percaya kalau ada anak konglomerat yang datang ke rumah sakit yang tengah sibuk di Landa berbagai pasien.
Sekarang, cewek cantik itu, Inara, sudah di bawa masuk ke dalam ruang IGD. Akan di lakukan pemeriksaan intens dan penanganan yang tepat untuknya.
Leon yang mencoba untuk masuk ke IGD untuk mengikuti Inara, di cekal oleh petugas rumah sakit, walaupun dirinya sudah menunjukkan kalau dia punya black card, yang seharusnya si petugas jadi memperbolehkannya masuk.
"Ah, parah banget! CK!" Rancau Leon frustasi, mengacak-acak rambutnya semakin membuat dirinya terlihat kacau.
Perasaan cowok itu tengah dilanda kepanikan yang tidak banyak orang dapat merasakannya. Karena Leon Sangat takut kehilangan cewek yang ia cintai, Inara.
Dirinya tidak bisa berhenti mencemaskan Inara yang tidak ada di hadapannya lagi.
"Sabar, pak. Boleh kembali lagi, setelah anda menggesekkan kartu hitam anda." Ucap seseorang yang memakai jas, tampaknya itu adalah orang penting yang memegang peran di rumah sakit tersebut.
Leon, cowok itu di antarkan ke bagian pembayaran, dan dengan cekatan dirinya menyelesaikan pembayaran yang entah nominalnya berapa, yang pasti ia hanya mencemaskan kesembuhan ina.
Dirinya begitu shock karena melihat inara yang seperti orang sakaratul maut, kesusahan bernapas, membuat cowok itu semakin khawatir akan kehilangan sosoknya.
Leon yang tengah kembali ke depan ruangan IGD yang masih tertutup rapat, berjalan bolak-balik sembari mengigit bibir bawahnya, dan tangannya tak berhenti menepuk-nepuk geram pahanya.
Sebenernya inara kenapa?
Apa dia punya riwayat sakit?
Eh, tapi, tadi katanya apa …
Asma?
Itu namanya asma?
Ah s**t, gua gatau …!
Deru napas cowok itu tidak bisa terlihat normal, karena memang Leon sedang dilanda kepanikan yang benar-benar.
Sampai-sampai walaupun disini ruangannya cukup ber-AC, cowok itu tetap mengeluarkan keringat di dahinya.
Sepertinya ia benar-benar panik.