Inara belum sadar

2075 Kata
Cowok tampan itu, Leon terdiam sebentar.  Kenapa cewek itu sepertinya telah lama mengenalnya? Padahal, tak banyak yang tahu tentang nama tulisan marga di black card miliknya. Itu Bertuliskan Abran "Siapa anjir …?" Gumam Leon, yang masih terdiam, melamun. Nada suaranya Ngingetin gua banget Siapa, ya? Bahu lebar cowok itu menyentak, lalu segera bergegas ke dalam ruang IGD itu. Sepertinya cowok itu benar-benar tidak sabar untuk melihat dan memastikan kalau cewek yang ia cintai, Inara, baik-baik saja. Derap langkah yang besar dan cepat membuat cowok tampan itu dengan kecepatan kilat sudah dapat masuk ke dalam ruangan IGD tersebut. "Yon, Lu keluar sekarang! Gegara lu, gue jadi kek gini!" Ucap sosok Inara yang terlihat sedang menyandarkan punggungnya di belakang tembok kasur. "Ah? Ma …, maaf nar …" ucap Leon sembari menunduk. Ia benar benar merasa tidak enak pada Inara. Karena ulahnya yang mengajak cewek cantik itu keluar rumah, dia jadi harus seperti ini. Lalu cowok tampan itu memberanikan diri lagi untuk melihat Inara yang sepertinya masih sangat marah. Walaupun begitu, cowok itu merasa tenang karena ternyata Inara sudah lumayan membaik. Betapa kagetnya cowok itu, ketika cewek yang ia cintai ternyata tengah tertidur pulas.  Jadi, tadi itu siapa? Mata Leon membelak melihat Inara yang masih tak sadar dari kasur pasiennya. Sepertinya cowok itu terlalu kelelahan, sampai-sampai berhalusinasi seperti itu. Kasian sekali, cowok yang malang … Hanya ada suara nit-nit dari dalam alat yang terhubung dengan saluran hidung yang terpasang di kedua lubang hidung Inara. "Nar?" Lirih Leon, mendekat hingga akhirnya tepat berada di samping ranjang Ina. Cewek cantik itu rupanya telah berganti pakaian. Yaps, betul sekali, pakaian dari rumah sakitlah yang sudah terpakai di badan cewek itu. Rambut kuncir satu yang telah Leon ikatkan, ternyata sudah terlepas. Entah berada di mana kunciran tersebut. . . . . . Tes  Akhirnya, sedari tadi air mata yang telah menggunung di pelupuk mata belo cowok itu, akhirnya menetes keluar juga, terjun ke bawah sana. Mendarat mulus di pipi seorang Leon. Bagaimana bisa cowok itu tidak cemas? Orang yang ia cintai, tadi bertingkah seolah-olah akan menghembuskan napas terakhirnya? Dan sekarang … Cewek cantik itu, belum juga sadar … Cowok tampan itu, Leon, menunduk pilu, menghela napas beratnya. Sekarang ini, uluh hatinya terasa begitu sakit. Bagaimana bisa cowok itu tidak merasa bersalah pada Ina? Dia yang mengajaknya keluar di tengah tengah kesunyian malam. Dengan kecepatan motor yang tinggi, membuat hembusan angin semakin kencang menerpanya. Lagipula cowok itu tidak pernah bertanya, apakah cewek yang di boncengnya itu merasa kedinginan atau apa. Yang ada di pikiran cowok tampan itu, hanyalah bagaimana cara untuk mencari topik-topik, topik, dan topik! Sekarang, cowok itu sangat menyesal. Sampai-sampai dia sepertinya tidak akan mendekati Ina saat sadar nanti. Setidaknya dia mau memastikan dulu, kalau Inara sudah dalam kondisi membaik. Cowok itu melirik wajah Ina yang masih tidak sadarkan diri. Lalu ia melirik ke arah tangan. Tampaknya Leon  berniat untuk menyentuhnya. Tak butuh beberapa lama, kini tangan besar cowok tampan itu, sudah mulai menyentuh tangan kecil nan mungil itu. Terasa sangat lemah, tak bergerak sama sekali.  "Nar, gua mohon. Sembuh, yah?" Lirih Leon, masih dengan sorot mata yang rapuh. Dan berkaca-kaca.  Suaranya terdengar begitu berat dan pilu, namun juga amat pelan. Leon menghela napas, kini posisinya telah berjongkok. Karena di situ tidak ada kursi. Entah kenapa, ruangan IGD itu, walaupun privat, tapi tidak banyak fasilitas yang memadai. Dan lagipula, cowok tampan itu tidak mau mempermasalahkan tentang hal itu, walaupun biasanya ia paling mempermasalahkannya, terlebih orang-orang di rumah sakit tau, kalau cowok tampan itu adalah anak konglomerat. Pasti. Pasti tahu. . . . . . . Sekarang ini, bunyi dari alat infus itu hanya terdengar nit-nit. Artinya, masih aman. Tapi, sedari tadi jantung cowok tampan itu tidak berhenti berdetak cepat seperti orang jatuh cinta saja. Karena dirinya takut kalau suatu hari, kejadian lama. Kejadian yang begitu pilu, begitu menyiksanya menerjangnya kembali. Ada sebuah masa kelam, dimana Leon sangat menjadi pribadi yang tertutup. Sebelum bertemu Riko, Ryan, Asya dan Geby. Keempat sahabat yang cowok itu temui sejak masuk Sekolah Menengah Pertama, hingga sekarang. . . . . . . . Flashback __________ "Bin, jadi lu ntar ketemu si cewek yang lu ceritain kemaren?" Tanya Leon sembari tertawa jail. Menepuk bahu cowok tampan yang badannya lebih besar darinya, Bintang. "Jadilah bro. Yakali nggak?"Ucap Bintang, terdengar sangat percaya diri. Ikut menyunggingkan senyum khasnya. Ada bolongan di pipinya, sempipit yang cukup dalam membuat cowok itu terlihat semakin manis dan tampan. "Wah, a***y. Keren banget sohib gua! Jangan lupa, tar titip salam buat cewek lu!" Jail Leon, masih tersenyum ke arah bintang. "Yeee, gila lu! Ngapain juga lu pake nitip nitip salam! Cewek gua tar suka Ama lu gimana? Gak kasian apa ya, gua ngejomblo mulu." Ucap bintang sembari memanyunkan bibirnya. Cowok tampan yang memakai kaos hitam dan celana rumah di atas dengkul, pakaian ala kadarnya itu membuat dia semakin blak-blakan. Leonara. Leon terkekeh-kekeh mendengar nada bicara teman sedari mereka orok. Membuat mereka memang selalu bersama, dan terlihat sangat dekat. "Gak lah. Bercanda gua Cok. Oke deh, good luck, yak, bro!" Ucap Leon sembari menghela napas. Mungkin saja cowok itu agak letih karena telah tertawa terbahak-bahak tadi. "Oke. Sejam lagi nih, gua jemput tu cewek." Antuasias bintang, terlihat sepertinya cowok itu sangat excited akan kencannya bersama seorang cewek yang juga teman sekolah mereka. Namanya Noni, cewek paling lucu di sekolahnya. Cewek cantik yang juga sebenarnya telah menyukai bintang sejak awal bertemu. Menurut cewek itu, bintang adalah cowok baik hati yang polos juga ramah kepada semua orang. Terlebih dia tidak suka main cewek. Pola pikirnya sangat berbeda dengan sahabatnya, Leon.  Noni juga masih memikirkan, kenapa Bintang dan Leon bisa bersahabat sampai sedekat itu, padahal karakter dan tingkah laku mereka sangat jauh berbeda! Tapi, tak banyak juga yang tahu, Bintang itu mempunyai sebuah penyakit darah rendah. Makanya saat cowok itu tahu, kalau Noni suka cowok yang jago main basket, dirinya tidak bisa memaksakan untuk masuk ke club' basket.  Terhalang karena sebuah penyakit bukanlah sesuatu yang dapat mencegah Bintang dalam mendekati Noni.  Selama Noni belum mengutarakan dengan siapa. Cewek itu jatuh cinta, Bintang tetap maju sampai darah penghabisan! Sesuai nasihat Leon, sahabatnya. Jadi cowok itu harus pantang mundur! Bisa jadi, itu cewek sebenarnya suka sama Lo! Makanya, gas aja. Jangan kasih kendor!  -Leon2012- . . . . Tentu saja, siapapun tahu, jawabannya karena Bintang dan Leon memang sudah bertemu sejak masih orok, dan selalu bersekolah di tempat yang sama sampai SD kelas 6! . . . Sejam pun berlalu, di rumah minimalis dengan desain yang menawan, rumah kediaman keluarga Ter.  Noni sudah bersiap sejak tiga puluh menit yang lalu. Dirinya telah siap untuk menunggu Bintang di luar pagar dengan motor yang mana, entah Noni juga tidak tahu pasti. Yang jelas, mereka janjian untuk saling bertemu pada pukul 4 sore. Dan ini sudah pukul empat lewat lima belas menit. Noni, cewek cantik dengan rambut di gerai sebahu, dan juga gaun simpel berwarna hitam elegan di bawah lutut dengan gesper hitam di pinggangnya, membuatnya terlihat semakin cantik. Tentunya tanpa polesan makeup. Cewek itu tidak suka berdandan seperti cewek umumnya.  Cewek cantik itu sudah berdiri di depan pagar, sembari menggenggam salah satu tangannya tas yang berisikan handphone dan beberapa catatan kecil, juga beberapa barang kecil yang akan bermanfaat untuk kedepannya, itu menunggu dengan suasana hati yang tidak enak. Ini bukan badmood. Noni sangat paham bagaimana perbedaan rasa badmood dengan rasa suasana hati yang tidak enak. Itu sangat berbeda. "Non, kamu ngapain diluar? Katanya mau dijemput, tah?" Ucap suara perempuan yang menganggetkan lamunannya. Suara itu terdengar begitu familiar.  Noni menoleh, untuk melihat apakah tebakannya benar. Ibunya. Perempuan cantik yang menatap heran sang anaknya, dengan pakaian tradisional yang biasa dia kenakan. Dan juga sanggul yang ada di kepalanya membuat siapa saja melihatnya kalau itu adalah orang keraton, atau darah biru. "Hmmm, iya Bu, Noni juga belum tahu. Padahal udah jam setengah lima …" lirih cewek cantik itu yang sekarang suasana hatinya semakin tidak enak. Brak!!! Tiba-tiba saja, entah kenapa, handphone yang berada di genggamannya terjatuh begitu saja. Dan tentunya mati. Harus di perbaiki dahulu. Ibu yang melihat kejadian itu, segera menghampiri anak cewek semata wayangnya. "Noni, kamu nggak papa, tah?" Tanya sang ibu dengan ekspresi wajah cemas. Noni hanya menggeleng, kemudian mengambil handphone-nya yang terjatuh. "Bu … gimana, nih?" Lirih Noni sembari menatap dalam-dalam mata sang ibu.  Ibunya hanya bisa menggeleng pelan, perempuan yang sudah berumur itu tahu, kalau Noni sangat sedang tidak baik-baik saja. "Masuk dulu, nak. Nanti kalau Bintang dateng, kita keluar lagi." Usul sang ibu, sembari mengelus pucuk kepala anak ceweknya. Noni menghela napas, mengikuti saran ibunya. . . . . Terlihat di arloji besar yang berada di sudut kiri ruang tamu, menampilkan pukul lima lewat lima belas menit. Noni menghela napas, karena sejak tadi, cewek cantik itu berusaha menghidupkan handphone-nya.  Gimana ya … Aku gabisa hubungin Bintang nih … Duh, aku gasuka banget … Nunggu tanpa kepastian gini … Lagi dan lagi, Noni menghela napasnya, sembari masih terus berusaha menyalakan handphone-nya. Tapi, Nihil. Hasilnya tetap nihil. "CK, argh!" Pekik Noni sembari menaruh handphone-nya dengan kasar. Cewek cantik itu, Noni, menghela napas sembari dahinya perlahan mulai mengernyit. Masalahnya adalah, kalau misalnya persoalan tentang Bintang yang jadi atau tidak menjemput Noni, itu permasalahan belakangan. Noni juga tidak begitu mengkhawatirkan persoalan itu.  Tapi, yang cewek cantik itu khawatirkan sekarang adalah, perubahan suasana hatinya saat dia melihat jam di sudut kiri handphone-nya. Tepat saat pukul empat sore tadi. Sebelum insiden handphone jatuh dan lepas dari genggaman tangannya. Feeling-nya mengatakan kalau Bintang sedang tidak baik-baik saja. Tapi, semua nomor ada di handphone itu. Mau menghubungi Leon juga, tidak bisa.  Noni berpikir dengan keras, dirinya masih yakin, pasti ada suatu cara agar bisa tetap mengetahui kondisi Bintang saat ini.  Noni berusaha untuk berpikir jernih. Menghela napas, menarik napas panjang-panjang, dan menghembuskannya dengan teratur.  Begitu terus, sampai kondisinya kecemasannya perlahan-lahan sedikit membaik. "Apa ya …" Noni mencoba berpikir lagi. AHA! Mata cewek cantik itu, Noni membelak, dia tersenyum sumringah, lalu setengah berlari ke kamar ibunya. Mulai mengetuk pintu. "Bu …" panggil Noni dari luar kamar, bersabar menunggu di luar kamar tersebut. Tidak butuh waktu lama, akhirnya pintu kamar itu terbuka, walau hanya setengah. Mungkin karena ibu Noni sedang menyimpan sesuatu yang tidak boleh diketahui anaknya. Tapi, Noni tidak perduli hal itu. Noni segera mengutarakan keinginannya, alias to the point. "Bu, aku boleh pinjam handphone ibu yang lama, tah?"  Tanya Noni dengan wajah yang sangat berbeda dari beberapa menit yang lalu. Kini wajah anak ceweknya itu terlihat begitu sumringah dan seperti punya harapan yang besar. Ibunya mengangguk sembari tersenyum simpul. "Tapi, jangan sampai ayah tau, ya. Kamu tau resikonya …" lirih sang ibu, menatap dalam-dalam mata anak ceweknya. Noni dengan cepat mengangguk, lalu segera beranjak berlari ke lantai atas, dan memasuki ruangan yang bertuliskan gudang itu. Jemari-jemari cantiknya segera membuka pintu yang ternyata tak terkunci. Lalu dengan cepat mencari dimana keberadaan berangkas handphone bekas yang biasanya keluarganya taruh. Sekarang sudah pukul enam lewat empat puluh delapan menit. Noni yang berada di dalam ruangan yang perlahan-lahan mulai gelap, memutuskan untuk dengan cekatan mencari-cari brankas handphone bekas itu. Tapi, tak juga cewek cantik itu menemukannya. Noni mengerinyit, mulai berpikir keras lagi. Cewek cantik itu menghela napas, ",Dimana …" gumamnya sembari memutari sudut dan sisi ruangan tersebut. Seketika pandangannya tertuju pada suatu brangkas yang tertutup kain. Walaupun tertutup kain, tapi dari bentuknya, Noni yakin kalau misalnya itu adalah brangkas yang cewek itu cari-cari. Perlahan-lahan, Noni mulai melangkah, mendekat ke arah brangkas itu. "Yah … di gembok!" Ucap Noni yang menghela napas, dan berpikir lagi. Cewek itu tidak mungkin putus asa begitu saja.  Sekarang ini, yang ada di dalam pikiran Noni adalah, bagaimana caranya agar bisa menghancurkan gembok tersebut. Yaps. Benar. Palu. Dengan cekatan Noni mengambil palu yang tadi ia temukan di ruangan itu, lalu segera memukul gembok tersebut.  Hasilnya nihil. Entah kenapa, gembok itu tidak sedikitpun terpecahkan. Ah, sial! Gimana, dong!? Bentar lagi, ayah pulang! Jangan sampai ketauan ayah! Atau, paling nggak, aku harus mastiin kondisi Bintang dulu! Kalo ayah mau marah setelah itu, atau ngehukum aku, gapapa!! Yosh!  Semangat Noni!!! Noni menghela napas, bersiap untuk mengeluarkan semua tenaganya pada palu yang akan melayang ke arah gembok itu. Brak!!! Berhasil! Akhirnya gembok itu terbuka, sudah terpecah belah, hancur berkepingan.  Noni tersebut sumringah, dan segera membuka brangkas yang masih terbelit rantai, tapi rantai tersebut juga sudah terputus. Tapi, sebelum hal itu terjadi, Noni mendengar ada derap langkah seseorang menuju lantai atas! Lantas Noni memberhentikan kegiatannya, agar tidak ada suara aktifitas di dalam gudang tersebut.  Noni dengan cekatan mencari tempat yang dapat menampung badan mungilnya itu. Siapakah orang tersebut? Apakah ayah Noni? Atau seseorang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN