"Noni." Ucap seseorang dengan derap langkah yang semakin mendekat.
Sepertinya suara ayah?
Keringat dingin Noni mulai menetes satu persatu, hingga pada akhirnya …
"Noni, saya tahu kamu di dalam. Jangan buat saya semakin marah!" Pekik suara lelaki yang terdengar berat tapi berusaha untuk berteriak.
Langkahnya semakin dekat.
Bahkan, sepertinya sudah di depan pintu!
"Noni? Ayolah, sayang. Papa udah pulang ini, loh." Rayu ayah Noni yang tidak suka anaknya berdekatan dengan cowok yang bernama Bintang.
Hiks …
Noni tidak dapat menahan Isak tangis. Entah kenapa, cewek cantik yang sedang cemas itu benar-benar takut terjadi apa-apa dengan bintang.
Karena sampai sekarang, perasaannya tidak juga membaik, malah semakin parah.
Ini adalah firasat mengenai Bintang.
Ada apa dengan cowok itu?
Kenapa belum datang-datang juga?
.
.
.
.
.
.
Apa telah terjadi sesuatu padanya?
Tes
Pada akhirnya, Noni mendaratkan air mata selanjutnya dengan mulus.
Dahi cewek cantik itu mengerinyit.
"Bintang …" lirih Noni yang otomatis membuat ayahnya mendengar nama yang ia benci itu.
Mata Noni membelak, karena mendengar Isak tangis yang sangat kecil, dan juga hembusan napas di dalam gudang. Apalagi tadi ada suara yang benar-benar seperti suara anak perempuannya, Noni!
Tidak mungkin, jika itu bukan suara Noni.
Ayahnya itu hapal betul, bagaimana suara anak perempuan semata wayangnya.
Langkah sepatu itu semakin cepat, melangkah, dan sekarang telah tepat berada di depannya.
Noni benar-benar gemetaran bukan main. Karena memang jika ketahuan, dirinya bukan hanya tidak mendapat handphone itu, tapi juga tidak bisa keluar rumah, lagi!
"Noni, bangun. Jangan sampai saya marah disini!" Pekik sang ayah sembari menghentakkan kaki. Yang otomatis membuat Noni bergidik ngeri.
Cewek cantik itu, Noni, menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak bersuara.
Cewek itu saat ini berpikir mungkin saja ada kesempatan untuknya pergi keluar dari rumah yang terlihat menempatkan kebahagiaan padahal sama sekali tidak.
Baginya, rumah adalah penjara paling menyeramkan.
"Noni!" Pekik ayahnya, sembari menghentakkan kaki lagi.
Noni kali ini menahan napasnya, agar benar-benar tidak ada tanda tanda orang disini.
Sabar ni
Ayok, anggep aja ini di kolam renang.
Tahan napasmu, dua menit aja!
Tenang, ni!
Kamu pasti bisa lewatin ini semua!
Kamu pasti bisa ketemu sama bintang!
Hiks …
"NONI!!!" Teriak ayah, sembari menghentakkan kaki dengan sangat cepat. Membuat jantung siapapun yang melihatnya pasti bergidik ngeri. Menandakan kalau sang pria hobi main tangan pada anak perempuannya.
Walaupun dibilang anak kesayangan, tapi peran Noni di dalam keluarga itu tidak benar-benar dianggap sebagai seorang anak.
Anak yang membutuhkan kasih sayang dan pengertian yang lebih.
Terlebih ia anak perempuan.
Sudah hampir dua menit, Noni menahan napasnya. Tentunya dirinya sekarang sudah merasa lemas dan berada di tengah tengah setengah sadar setengah tidak.
Sepertinya jika menahan lebih lama, dirinya bisa mati.
Bersamaan dengan itu, satu menit lebih tiga puluh lima detik.
"Ayah! Ada pesan dari Noni!" Pekik sang ibu dari lantai bawah, bermaksud untuk memanggil ayahnya agar cepat turun untuk melihat surat tersebut.
"Ya! Saya turun!" Balas ayah,menghela napas, lalu dengan langkah cepat, turun ke arah tangga.
Haaaaahh ….
Noni menghembuskan napas panjangnya, karena dirinya benar-benar sudah hampir mati, tadi.
Tapi, sepertinya sekarang cewek cantik itu bisa kabur dengan baik.
Terlebih, kamarnya berada di lantai dua juga. Dan itu langsung terhubung dengan taman belakang.
Sekarang ini, Noni mengendap-endap, untuk berjalan dengan hati-hati menuju kamarnya yang tak terkunci.
Sementara ibu dan ayah masih di bawah.
Noni tersenyum haru, lagi-lagi ibunya menyelamatkan dirinya.
Makasih bu …
Dan tidak butuh waktu lama, akhirnya Noni sudah berada di depan pintu kamarnya.
Di atas pintu itu, bertuliskan,
Noni's Room
dengan sangat hati-hati Noni membukakan pintu kamarnya, lalu masuk dan menutup dengan sangat pelan-pelan lagi.
Noni menghela napas, mengelap keringatnya yang sedari tadi tidak berhenti menetes.
Sekarang ini, Noni sedang berpikir keras, tentang perihal dirinya harus menggunakan apa untuk keluar kamar?
Beberapa saat kemudian, Noni baru mendapat ide, setelah melihat-lihat sekelilingnya.
Ternyata di dalam kamar cewek itu, ada tali tambang lama yang dulu ia gunakan bersama teman-teman SMP-nya!
Noni tersenyum sumringah, dan dengan cekatan mengambil tali tersebut.
Agak berat, tapi tak apa!
Semua demi cowok yang ia sukai, Bintang!
Akhirnya, tali tersebut sudah menjuntai ke bawah taman belakang, lebih tepatnya pekarangan rumah tersebut!
Dan sekarang, Noni tinggal mengikat tali tersebut dengan ikatan mati.
Untung saja, dirinya pernah mengikuti kegiatan tarik tambang, jadi hal tersebut lumayan mudah baginya!
Setelah memastikan berkali-kali kalau ikatan itu sudah pasti tidak akan copot ketika menahan tubuhnya, Noni bersiap-siap untuk menaiki pagar kecil itu, dan segera bertumpu pada tali tambang tersebut.
Bismillahirrahmanirrahim …
Walaupun agak sakit dan kesusahan, cewek cantik itu tetap bersikeras untuk berusaha dan tidak menyerah begitu saja.
Pelan-pelan tapi pasti, jemari-jemari cantik Noni yang perlahan-lahan mulai terasa sakit dan memerah juga lecet akibat cengkraman pada tali tambang tersebut.
Sedikit, sisa sedikit lagi, kakinya menyentuh tanah pekarangan rumah.
.
.
.
.
Dan akhirnya dirinya sudah berhasil turun dari tali tambang tersebut.
Tentunya cewek cantik yang tak memakai sepatu itu sudah membawa persiapan sejumlah uang dan handphone tadi yang ia cari-cari di gudang.
Dengan cekatan, Noni berlari ke arah pagar kecil yang menjadi pembatas antara lingkungan luar dengan wilayah rumahnya.
Noni menghela napas. Karena dirinya telah berhasil melewati rintangan sulit itu.
Cewek itu sudah berhasil kabur dari genggaman ayahnya.
Dan juga, rumah neraka itu.
"Oke. Sekarang gua harus ke rumah Asya." Gumam Noni sembari berlari ke pangkalan ojek yang lumayan jauh dari daerah rumahnya.
Itu sekitar 500 meter dari rumah minimalis mewah tersebut.
Terlihat beberapa ojek yang ternyata masih mangkal di tempat basecamp-nya.
Padahal, hari sudah gelap.
Alhamdulillah!
Noni berjalan perlahan-lahan mendekati salah satu tukang ojek yang terlihat sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Pak, ke rumah daerah jalan Pulomas Utara no.7a berapa, ya?" Tanya Noni dengan lemah lembut, sembari masih mengatur napasnya karena habis capek berlari tadi.
"Ah, lima puluh ribu aja, neng. Mau?" Tanya tukang ojek yang memakai jaket merah juga topi hitam, dan celana hitam panjang, segera merogoh saku celananya, tampaknya sedang mengambil kunci motor.
Noni segera mengangguk. Lalu tukang ojek tersebut dengan cekatan menyalami teman-temannya dahulu, lalu segera menaiki motor dan menyalakan mesin motor tersebut, diikuti Noni yang dengan cekatan menaiki jog belakang motor.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ucap Noni, sembari menghela napas. Diikuti dengan mesin motor yang perlahan-lahan berjalan maju.
"Mang, agak di cepetin lagi, boleh?" Tanya Noni yang tampaknya semakin gusar, karena pikiran dan perasaannya saat ini benar-benar tidak bisa dikendalikan.
Semakin memburuk.
Firasatnya semakin kuat kalau cowok yang ia sukai sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Mendengar hal tersebut, tukang ojek tersebut segera mempercepat gas mesin motornya.
Tak butuh waktu lama, sekarang mereka sudah sampai di depan rumah asya.
Cewek cantik itu turun, dan segera membayar uang dengan jumlah yang sama seperti awal perjanjian tadi.
Lima puluh ribu rupiah.
"Makasih, mang. Oh, iya. Kalo nanti ada yang nanya di pangkalan ojek, apa ada yang nganterin anak cewek pakai gaun merah dan rambut di gerai, tolong bilang nggak ya mang? Bilang aja nggak tahu. Ini saya kasih lima puluh ribu lagi. Bisa kan, mang?" Tanya Noni memastikan kalau jejaknya tidak terdeteksi oleh orang tuanya.
Wajah tukang ojek yang mengenakan helm biru tersebut tampak tersenyum menyeringai menatap nafsu pada uang yang di sodorkan cewek cantik tersebut.
"Oke deh, neng!" Jawab tukang ojek sembari mengambil dengan cepat, uang tersebut.
Dan segera pergi dari tempat tersebut.
Noni menghela napas. Memperhatikan jemari-jemari mungilnya. Tampak lecet dan ada yang berdarah beberapa bagian.
Bahkan sakitnya ngga kerasa, bin.
Yes. I am promise with u.
Forever.
Noni menghela napas lagi, menatap pagar rumah teman dekatnya, Asya.
Lalu berjalan tertatih-tatih karena masih sakit akibat lari nonstop tadi.
Kakinya yang tanpa alas, tapi dipaksa untuk terus berjalan, membuat bagian jemari dan bagian tertentu menjadi lecet dan memerah.
Noni memencet bel rumah Asya.
Terdengar dari dalam rumah, samar-samar suara seorang pembantu yang semakin mendekat, membukakan pintu pagar tersebut.
"Neng, cari siapa?" Tanya ramah dari seorang pembantu tersebut, berpakaian sederhana, rok bermotif batik dengan t-shirt merah maroon dan rambut diikat satu, membuatnya siapapun yang melihatnya akan memanggil 'bibi'
"Ah, iya, Aku temannya Asya, Bi." Jawab cewek cantik itu, Noni.
Bibi itu tampak mengerinyit. Mungkin sedikit ragu.
"Oh, sebentar ya, non. Saya panggilin non asya nya." Ucap sang bibi yang kemudian masuk ke dalam rumah.
Noni tidak disuruh masuk ke dalam rumah tersebut. Mungkin saja, dengan pakaian dan kondisinya saat ini yang tidak terlihat lagi seperti anak orang kaya, membuat si bibi agak curiga.
Noni terdiam sejenak, berkutat lagi dalam pikirannya.
Nanti aku harus bilang apa ke asya?
Oh, langsung aja kali ya?
Tanyain tentang Bintang?
Tapi, itu bukannya aneh?
Ah, gimana dong, ya?
Aku harus banget gitu, ceritain sedetailnya kenapa aku minta tolong sama dia?
Ah …
Ya udah deh.
.
.
.
.
Noni menghela napas, bersamaan dengan itu, asya keluar dari rumah mewahnya.
Cewek cantik dengan rambut seperti cowok, dengan celana pendek di atas dengkul, dan kaos putih bertuliskan 'DAMN' itu tersenyum sumringah menatap Noni yang tengah berdiri di depan pagar rumah cewek cantik itu.
"Eh, ini mah temenku, bi! Kenapa gak di suruh masuk, deh?" Antuasias Asya, sembari menghampiri Noni dengan langkah cepat.
"Ah, gitu ya. Maaf non, bibi kira …" ucap si bibi sembari melirik Noni yang tersenyum seperti paham apa maksud bibi.
"Maafin bibi ya, non." Pinta Bibi sembari menatap Noni dengan nanar mata tulus.
"Oke deh." Jawab Noni disertai tawa getirnya. Lalu melirik asya.
"Yuk masuk, ni." Ajak asya, menggandeng tangan Noni.
Tapi ada yang aneh. Cewek cantik tomboy itu, Asya, merasakan kalau tangan teman dekatnya, Noni, itu terasa seperti lecet sekali.
Bahkan lebih kasar dari tangan cowok!
Asya menatap heran Noni, dahi cewek tomboy itu mengerinyit.
"Noni, kamu habis ngapain?" Tanya Asya, masih menggandeng tangan itu untuk masuk ke dalam ruang tamu.
"Ah, ini Noni abis narik tambang tadi." Ucap Noni separuh-separuh. Membuat cewek tomboy, asya, semakin kebingungan.
"Kamu …, lomba lagi?" Tanya Asya yang hanya bisa menerka-nerka.
"Ah, nggak gitu …" jawab Noni yang tampak kebingungan.
Asya terdiam, dan hendak berdiri untuk mengambil P3K di rumahnya. Tapi, saat hendak berdiri, Noni mencegahnya.
"Sya, aku mau ngomong." Celetuk Noni yang masih menahan tangan asya agar tidak pergi dulu.
Asya kembali duduk, menghela napas, dan dagunya bertumpu pada tangan. Sepertinya siap mendengarkan ucapan Noni dengan telinga terbuka.
"Nanti aku jelasin, tapi karena ini udah malem. Nanti keburu malem, jadi maksudku, aku boleh kah minjem handphone-mu, aku perlu nomor Bintang. Handphone-ku rusak, sya …" Jelas Noni dengan nada pelan.
"Oke." Jawab asya yang beranjak berdiri, dan segera pergi, entah kemana. Mungkin ke kamarnya.
Sementara itu, si bibi telah membawakan dua teh hangat di ruang tamu, tepatnya tempat dimana Asya dan Noni berbincang-bincang tadi.
"Ini, non. Di minum, ya." Celetuk ramah si bibi, sembari tersenyum. Lalu pergi, sebelum Noni membalas anggukannya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Asya kembali lagi.
"Nih, no." Ucap asya sembari memberikan handphone-nya kepada Noni.
Dan dengan cekatan, Noni mulai mencatat nomor-nomor penting tersebut ke dalam handphone bekas yang ia bawa tadi dari gudang.
Dimulai dari nomor Bintang.
"Ngomong-ngomong kenapa lu nyariin Bintang?" Tanya asya yang di potong Noni yang tengah selesai mencatat nomor-nomor tersebut.
"Ntar aku ceritain, sya. Sekarang, karena aku belum beli kuota, aku mau coba cek grup kelas dulu." Ucap Noni sembari membuka aplikasi w******p yang ada di handphone Asya.
"Emang ada apa, sih?" Tanya Asya penasaran, sembari melihat Noni sedang membuka apa di w******p-nya.
Mata Noni membelak, separuh kaget. Dan dirinya langsung meneteskan air mata, lalu mengguncang-guncang tubuh asya.
"Sya! Gimana! Bintang kecelakaan!" Pekik Noni disertai Isak tangis yang pecah.
"Bener firasat aku …" lirih Noni di sela-sela Isak tangisnya. Dan asya, mengecek kebenarannya, dan ternyata memang benar.
Kebetulan asya, Leon, dan bintang satu kelas. Jadi semua info grup pasti asya mengetahuinya. Tapi, sejak tadi pagi, asya lumayan sibuk dengan tugas tugasnya, jadi belum mengecek info-info di whatsaap-nya.
"Astaghfirullah …, Bintang …" ucap Asya tak menyangka, mulutnya terbuka lebar, separuh menganga. Lalu menatap Noni yang tengah sibuk dengan Isak tangisnya. Cewek cantik dengan gaun merah itu menutup wajahnya.
"Kita ke rumah sakit, yuk. Lu mau ikut, no?" Tanya Asya yang sepertinya sangat panik.
Apakah cewek itu juga menyukai Bintang?
.
.
.
.
.
.
"IKUT!!!" pekik Noni dengan mata membelak.
"Iya-iya. Ayok." Ucap asya yang tengah memakai jaket kulit hitam miliknya.
"Bentar. Gua ambil celana dulu di kamar." Ucap Asya yang berlalu, pergi masuk ke kamar.
Sekarang, hanya ada Noni yang sibuk dengan Isak tangisnya.
Cewek cantik itu tengah memperhatikan foto bintang yang terkena serempetan truk tronton. Tepat pada pukul empat sore.
Pantesan aku tuh dari jam empat udah ngerasa have bad feeling!
Ternyata …
Hiks …
Kamu …
Tang, tungguin aku, yah …
Hiks …
"Noni, ayok cepetan." Celetuk Asya yang ternyata sudah siap dengan tambahan celana panjang hitamnya.
Noni dan Asya segera bergegas keluar dan menuju bagasi. Dan Asya mengeluarkan motor Vespa kesayangannya, lalu menyalakan mesin motor itu. Diikuti dengan Noni yang langsung menaiki Jog belakang.
"Bismillah." Ucap Noni, seperti biasa. Cewek itu menahan Isak tangisnya. Dia tidak ingin membuat suasana semakin suram. Apalagi Asya yang tengah menyetir, tentunya harus fokus melihat jalanan.