Hiks …
Ya Allah, Bintang …
Cewek itu, Noni sedari tadi diam saja. Cewek itu memilih bungkam karena sedang memikirkan, apakah bintang menjadi begini karena kencan mereka?
Atau …
Bintang ingin pergi ke tempat lain?
Yang jelas Noni merasa sangat bersalah.
"Noni. Lu gapapa?" Celetuk Asya, karena cewek tomboy itu merasa ada yang berbeda dengan Noni yang ia kenal.
Noni yang biasanya sedikit cerewet dan senang berbicara, kali ini terus bungkam walaupun sudah tiga puluh menit di dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Hiks …
Tidak ada jawaban dari belakang sana, yang ada hanya Isak tangis yang terdengar terus ditahan.
Asya menghela napas, memilih bungkam juga. Jujur saja, sebenarnya cewek tomboy yang rambutnya mirip cowok itu juga tidak tahu, harus bertingkah bagaimana.
Ini pertama kalinya untuk Asya, mendapati situasi seperti ini.
"Gapapa kok, sya." Lirih suara cewek dari belakang, siapa lagi kalau bukan Noni.
Dan untuk beberapa saat kedepan, mereka saling diam membisu, tidak ada yang berani angkat suara lagi.
Mungkin karena semuanya juga mengkhawatirkan teman kelasnya, Bintang.
Setelah di kurung macet perjalanan selama hampir satu jam, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah sakit Harapan Kita.
Rumah Sakit dimana Bintang dirawat. Menjadi saksi bisu, antara pertemuan Bintang dengan Noni, cewek yang dia taksir selama ini.
Karena sudah larut malam, tentu saja situasi Rumah Sakit menjadi lumayan sepi dan sunyi. Apalagi ini sudah jam 10 malam.
Di parkiran motor itu, hanya ada Asya dan Noni yang sibuk menyeka air matanya. Sebenarnya cewek cantik bergaun merah itu malu, karena pasti mata sembapnya akan menjadi buah pertanyaan untuk orang yang akan ia temui.
Entah itu Leon, Riko, Ryan, teman-teman lain, atau bahkan Bintang.
"Udah, no. Bintang baik-baik aja, kok." Asya mengelus-elus pundak Noni. Cewek cantik itu hanya bisa menunduk pilu. Diam seribu bahasa.
Pikirannya masih bertengkar tak henti-hentinya tentunya dengan batinnya.
Sekarang ini, mereka sudah berada di dalam Rumah Sakit Harapan Kita. Tepatnya di tempat pendaftaran atau pos informasi.
Terlihat suasana dari Rumah Sakit itu, banyak sekali orang berlalu lalang dan ada juga yang sekedar mengobrol, entah obrolan serius atau tidak.
Dan di tempat Pos informasi dijaga oleh wanita dengan rambut di ikat satu, yang memakai pakaian perawat lengkap. Mungkin saja, itu perawat bagian informasi.
Asya yang sedari tadi menggandeng lengan Noni, cewek itu masih termenung dan melamun. Membuat asya agak kesusahan.
Mungkin jiwanya terguncang.
Asya kasihan pada Noni, dia ingin sekali menghiburnya, tapi, cewek tomboy itu tidak terbiasa menjadi badut untuk seseorang.
Lebih tepatnya, tidak terbiasa. Dan belum pernah menjadi badut.
"Permisi, pak. Bu. Atas nama Bintang Garha, dirawat dimana, yah?" Tanya Asya dengan sopan, tangannya masih menggandeng lengan Noni yang menunduk lesu.
"Ah, sebentar ya dek. Saya cek dulu." Jawab perawat cantik yang memakai masker. Sembari tangan mungilnya membuka buku data pasien rawat.
"Ada, di lantai 2 ya. Nomor kamar 152." Sambungnya sembari tersenyum ramah pada Asya.
"Makasih, sus." Balas Asya sembari melangkah cepat menaiki tangga rumah sakit tersebut.
Gaara waktu buat nyari lift.
Noni udah parah.
Dia bakal baikan cuman pas liat Bintang fine aja.
Asya melirik Noni yang tak ada perubahan sedikitpun, lalu menghela napas.
"Bintang … maaf ya … semuanya jadi gini …" lirih Noni yang masih ingin melinangkan air mata.
"Noni!" Seru asya, karena cewek tomboy itu sadar kalau sekarang kondisi Noni sedang tidak baik baik saja. Bahkan sepertinya sudah memasuki ciri-ciri depresi.
Bagaimana mungkin Asya tidak panik?
Mendadak Noni terbelik, lalu menatap asya.
"Eh, iya, sya. Ada apa?" Tanya Noni seperti orang linglung. Lalu melepas gandengan tangan Asya.
Cewek tomboy itu menghela napas, lalu tersenyum senang.
Karena akhirnya Noni bisa sadar lagi.
"Lu gapapa no. Ayo cepet naik ke atas." Ucap asya sembari melangkah duluan, lebih cepat dari Noni.
Cewek cantik itu tidak menjawab, dia hanya mengikuti arahan Asya.
Sekarang, mereka sudah berada di depan pintu yang di tuju.
Nomor 152, tempat dimana Bintang dirawat.
Sebelum masuk, asya berkata
"No, disini tempat Bintang dirawat. Bismillahirrahmanirrahim, masuk yuk." Ucap asya yang menatap Noni, sembari membuka pintu kamar tersebut.
Noni menelan ludah, ketika melihat pintunya terbuka lebar. Ada seorang pria yang terbaring lemah di atas kasur.
Selang-selang infus itu masuk melalui kedua lubang hidungnya dan juga beberapa di bagian tangan dan kaki.
Kenapa?
Kenapa Bintang menjadi seperti ini?
Noni ambruk, terjatuh ke lantai, tapi masih sadar diri.
Mungkin saja, cewek cantik itu sedang mengalami shock berat.
Tapi, ketika ingin jatuh, badan rampingnya segera di papah oleh Asya yang cepat tanggap dan baik hati.
"No, lu kuat. Lu bisa. Yuk." Ajak Asya, sembari memapah Noni untuk duduk di kursi samping ranjang pasien.
Kini, jarak Noni dengan Bintang semakin dekat.
Cowok tampan yang terbaring lemah itu seperti tahu kedatangan seseorang.
Terlebih seseorang yang amat penting di hidupnya saat ini.
Noni Azuela.
Noni tak kuasa menitikkan air mata, sembari mencoba memegang tangan Bintang yang telah terinfus.
Cowok tampan itu tidak bisa berbicara. Belum sadar, masih koma.
Terlihat dari bunyi alat di samping alat infus yang tergantung.
Bunyi putus-putus menandakan kalau Bintang masih mengalami masa masa kritis.
Tak kuasa menahan Isak tangis, Noni pun akhirnya berhasil mendaratkan air mata lagi di pipi mulusnya.
"Tang, ini aku. Noni Azuela." Lirih Noni dengan nada gemetar.
"Tang, katanya kamu mau bilang sesuatu sama aku? Ini, aku udah disini sekarang, tang. Ayo bangun, tang …" lirih Noni diakhiri dengan Isak tangis yang sejak tadi tertahan, kini pecah membuat sedikit keberisikan di tengah malam.
Asya yang sedari tadi hanya memperhatikan tingkah laku Noni pun mulai merasa iba terhadap cewek malang itu.
Padahal, Asya dikenal sebagai gadis bengis di sekolahnya, dan sekarang cewek tampilan tomboy luar dalam itu tiba-tiba bisa iba?
Apakah asya telah berubah?
Atau …
Karena Noni adalah teman dekatnya?
Jujur saja, asya sebenarnya tidak begitu suka dengan adegan tangis-tangisan ini, terlebih ini tengah malam.
Pastinya menganggu orang-orang yang sedang tertidur atau petugas yang shift malam.
Atau bahkan sejumlah setan yang patroli tengah malam.
"No, udah malem. Nangisnya besok aja, gimana?" Tawar cewek tomboy itu, yang mulai merebahkan diri di sofa fasilitas kamar tersebut.
Sekarang ini, entah kenapa cuma ada mereka disini. Padahal harusnya setidaknya satu dari keluarga Bintang menemani cowok yang tengah terbaring tak berdaya itu.
Noni menggeleng dengan cepat, dahinya tetap mengernyit, air matanya terus mengalir dan bibirnya terus menahan Isak tangis di tengah malam.
"Gak … aku mau tidur Deket Bintang aja …" ucap Noni tanpa menoleh, pandangannya masih terus tertuju pada Bintang yang sedang terbaring di ranjang Rumah Sakit.