Burung-burung bercicitan, matahari mulai menampakkan dirinya, Sinar itu tembus ke kaca dengan gorden rumah sakit yang telah di buka oleh cewek berpakaian tangtop saja, dan tentunya masih mengenakan celana panjangnya yang kemarin, Asya.
Sementara di dalam ruangan kamar nomor 152 yang berada di lorong tersebut, tepatnya berada di lantai 2 rumah sakit Harapan Kita.
"Noni kemana?" Gumam Asya yang terkaget karena baru sadar kalau di dalam ruangan itu tidak ada Noni.
Asya menghela napas. Melihat-lihat pemandangan di luar lewat kaca jendela yang kini telah terbuka.
"Noni?" Celetuk suara seseorang yang terdengar sangat parau dan berat.
Asya menoleh, sejak lima hari yang lalu, dia dan Noni terus berada di rumah sakit ini, karena memang tidak ada yang menemani cowok malang itu, Bintang.
Entah mengapa, saat mereka menghubungi orang tua cowok tersebut, yang mereka dapatkan malah umpatan-umpatan terhadap Bintang.
Tidak tahu menahu ada masalah apa dalam keluarga Bintang, yang terkenal akan keharmonisan keluarganya.
Asya bergidik kaget, segera menghampiri Bintang, "Wow, lu udah sadar tang." Ucap Asya dengan santai, menatap Bintang yang mengerutkan dahi.
Asya ikutan berkerut kening, karena cewek tomboy itu bingung, kenapa Bintang seperti tengah memikirkan sesuatu?
Padahal, cowok itu' kan baru saja sadar!
"Kenapa?" Tanya Asya lagi, kali ini sambil menghela napas dan berkacak pinggang.
Deru napas yang baru saja pulih itu terdengar lumayan berat, sepertinya Bintang memang belum benar-benar sembuh.
"Tadi lu bilang …, Noni ...? Gua gak mimpi, kan?" Tanya bintang yang terdengar memastikan, sembari cowok tampan yang di perban dahinya itu mencoba untuk bersandaran di sisi tembok ranjang Rumah Sakit tersebut.
"Ah, iya. Gua sama Noni yang jagain lu selama ini. Nah, tapi, pagi ini Noni ngga ada disini. Gatau gua, dia kemana." Jelas Asya panjang lebar. Cewek tomboy itu mulai melangkah ke sofa yang sedari kemarin menjadi tempat tidur ternyamannya.
"Eh? Noni kemana?!" Tanya Bintang dengan mata lumayan membelak, sepertinya cowok itu sangat mengkhawatirkan cewek malang tersebut, Noni.
"Huft …, gatau gua, Bintang …, tapi gua aja yang cari. Lu disini. Diem aja, oke?" Tanya Asya sembari dengan cekatan menggunakan jaket kulitnya yang berwarna hitam.
Tanpa melihat anggukan Bintang, cewek tomboy itu segera bergegas setengah keluar dari kamar bertuliskan 152, lalu menuruni anak tangga, dan bergegas keluar mencari dimana keberadaan Noni.
"Untuk sekarang, gua cari sekitaran sini dulu, deh!" Gumam Noni sembari celingak-celinguk melihat ke berbagai arah, mungkin saja pikirnya, Noni sedang membeli makanan atau ada urusan sebentar ke bawah.
Asya segera berlari lagi, mengunjungi semua penjuru Rumah sakit. Dari parkiran motor, mobil, sampai sampai toilet umum dekat rumah sakit juga sudah cewek itu kunjungi.
Tapi, tak juga terlihat dimana keberadaan Noni.
Cewek tomboy itu, Asya, memberhentikan langkah cepatnya, sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal, mengelap kasar keringat di dahinya, "No, dimana sih … anjrit! Bintang udah sembuh, lu nya ilang gini! CK! Oke, gua cari pake motor sekarang." Gumam Asya sembari melangkah cepat lagi ke arah parkiran motor tempat motornya terparkir.
.
.
.
Sekarang ini, Asya sudah memasuki pintu keluar parkiran Rumah Sakit Harapan Kita, dan cewek cantik nan tomboy itu berpikir ingin mencari di sekitar rumah sakit lagi, tapi lebih jauh arahnya.
Kalau juga tidak ada, sudah pasti dia harus ke rumah Noni, yang siapa pun tahu betapa bengis dan kejamnya ayah Noni.
Setelah sekitar setengah jam lebih, sudah berputar-putar di sekitaran jalan Rumah sakit, cewek tomboy itu, Asya, tidak juga menemukan keberadaan Noni.
"Ck, yaudahlah gas aja." Gumam Noni sembari menekan gas kecepatan tertinggi.
Karena dirinya juga tidak bisa meninggalkan Bintang lama-lama di rumah sakit tersebut.
Siapa tahu, Bintang perlu sesuatu, dan saat ini, Asyalah yang bisa mendampinginya saja.
Semua temannya sibuk dengan urusan masing-masing.
Sedangkan Leon, cowok itu sedang tidak memegang handphone-nya.
Yaps, handphone-nya ditahan selama sebulan oleh ayahnya yang menyokong cowok itu untuk terus latihan supaya menang saat lomba MMA nanti!
.
.
.
.
Sekarang ini, Asya sudah sampai di depan gerbang pagar rumah Noni.
Inilah harapan satu-satunya cewek tomboy itu.
Kalau tidak ketemu, Asya sudah pasti menyerah.
Asya menghela napas, turun dari motornya, dan membuka helm yang menutupi kecantikannya sebagai keluarga darah biru juga.
Telunjuknya mulai mrmencet bel rumah yang terletak di sisi kiri pagar rumah Noni.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Setelah memencet tiga kali, akhirnya bibi rumah tersebut segera membukakan pintunya. "Cari siapa, non?" Tanya ramah sang bibi.
"Cari Noni. Noninya ada, bi?" Tanya asya sembari berusaha melihat ke dalam rumah.
"Anu, dari lima hari yang lalu. Non Noni gaada di rumah, non. Bapak sama ibuk juga lagi nyari-nyari Noni. Karena non Noni kabur gitu aja." Jelas si bibi dengan mimik wajah sedih.
"Oalah gitu, Okey deh, bi. Oh iya, aku boleh minta nomor ibunya Noni?" Tanya asya, karena dipikirannya, Mungkin saja kalau berkomunikasi dengan ibunya, bisa menjadikan kerja sama yang tepat untuk menemukan Noni. Kalau bapaknya, … tau sendirilah …
"Boleh, non. Ini nomornya." Balas bibi sembari menyodorkan ponsel jadulnya yang berisikan nomor ibu Noni.
Setelah mencatat nomor itu, Asya segera berpamitan dan segera menekan gasnya lagi, tentunya dengan kecepatan tertinggi.
Maklum saja, Asya sering ikut balapan liar.
.
.
.
Asya yang tengah mengendarai motor Vespanya, sekarang sedang berpikir keras. Cewek tomboy itu harus ambil tindakan apa?
Lanjut mencari Noni?
Atau …
Kembali ke rumah sakit?
.
.
.
Setelah berpikir cukup lama, Asya memilih untuk membelokkan arah motornya, untuk kembali ke rumah sakit saja.
Tak butuh waktu lama, akhirnya asya memasuki pintu parkir rumah sakit harapan kita, dan bergegas mematikan serta mengunci ganda mesin motornya, lalu berjalan cepat sembari mengepakkan jaket kulitnya.
Kemana lagi, kalau bukan ke atas, lantai dua, kamar nomor 152, tempat cowok bernama Bintang dirawat.
.
.
.
Setelah membuka pintu kamar tersebut, Asya menghempaskan dirinya di sofa, sembari menghela napas panjang dan mengusap kasar wajahnya.
"Kenapa, sya? Noni udah ketemu?" Tanya bintang dengan nada pelan. Nanar matanya terlihat tampak cemas.
"Gak tau gua, tang. Nih, gua telpon ibunya ya." Jawab Asya sembari mengambil handphone-nya yang berada di salah satu sisi dalam jaketnya.
Kemudian, dengan cekatan Asya menekan tombol Calling, dan menaruh handphone tersebut di telinga kanannya.
.
.
.
"Halo? Siapa ya?" Tanya seseorang dengan suara ciri khas yang pernah Asya dengar.
"Tante, ini aku, Asya. Temannya Noni." Jawab Asya dengan sopan santun.
"Oh, iya sya. Kamu udah ketemu Noni? Noni ada dirumahmu, kah?" Tanya ibunya Asya yang terlihat cemas dan panik dari suaranya.
"Ah, gini Tante. Jadi lima hari yang lalu. Aku sama Noni …," asya memberhentikan omongannya, karena lupa akan menjaga rahasia keberadaan Bintang dari ayahnya Noni.
"Tante, pokoknya dari lima hari kemarin, Noni sama aku. Aman. Tapi, gatau pagi ini dia kemana …, ini aku juga lagi nyariin." Sambung asya dengan nada pelan.
"Astaghfirullah …, terus Noni kemana dong, ini?" Tanya ibu Noni yang suaranya semakin cemas.
Membuat asya tak enak hati.
"Tante, kita bisa ketemuan? Aku mau bantu cari Noni." Pinta Asya, sembari melirik Bintang yang tengah menunduk lesu. Sepertinya cowok itu sudah menjadikan kehilangan Noni sebagai pikiran beratnya.
Tentu itu hal yang gawat …!
Bisa-bisa, cowok itu, makin lama terbaring di rumah sakit ini!
"Oh, oke." Jawab singkat ibu Asya, yang kemudian mematikan teleponnya secara sepihak.
Sedari tadi, Asya tidak berhenti melirik bintang.
Lalu, cewek tomboy itu mendekati Bintang yang masih tertunduk lesu.
"Kenapa, tang? Gua yakin kok, Noni baik- baik aja." Celetuk asya sembari memegang bahu Bintang, berusaha menguatkan cowok tersebut.
Bintang, cowok tampan itu, hanya bisa menghela napas. Bintang memang tipe cowok yang amat pendiam. Mereka pun bisa kenal dan dekat karena Leon.
"Okeh, gua mau hari ini ada titik temu. Jadi gua bakal ajak Tante ketemuan." Tegas Asya pada dirinya sendiri, menarik napas panjang, dan segera mengambil handphone-nya lagi. Tentu saja jemari-jemari kasar cewek itu tengah mengetik-ngetik alamat tempat mereka akan bertemu.
"Alhamdulillah …, Tante bisa, sejam lagi kita bakal ketemuan. Lu disini aja ya, tang." Celoteh Asya sembari mematikan handphone-nya dan memasukkannya kembali.
"Tang, gua mau cari makan. Lu mau gua beliin apa gimana?" Tanya Asya yang sudah berdiri, bersiap menuju pintu keluar kamar.
"Ah, boleh." Jawab Bintang dengan lesu. Cowok itu sekarang mulai memposisikan tubuhnya rebahan kembali.
"Menu?" Tanya Asya dengan singkat, dan menaikkan kedua alisnya.
"Apa aja." Jawab cowok yang memakai pakaian rumah sakit itu, Bintang.
"Oke." Jawab asya sembari menjempolkan ibu jarinya. Dan bergegas pergi meninggalkan cowok itu sendirian.
.
.
.
Setelah selesai makan di warteg terdekat, Asya memperhatikan jam yang ada di sudut kiri handphone-nya.
Ternyata, sudah setengah jam lebih dia berada disini. Lantas, dengan langkah cepat, Asya mengambil bungkusan pesanan Bintang, dan segera bergegas melangkah ke Rumah Sakit tadi.
Kamar 152
"Tang, nih. Makanan lu." Celetuk asya sembari menaruh makanan di samping meja ranjang cowok itu.
Asya tidak memusingkan urusan suasana hati cowok itu, jadi, dia lebih memilih untuk cepat-cepat keluar lagi untuk menyelesaikan masalah hilangnya Noni.
Karena, menurut cewek tomboy itu, yang lebih penting dari apapun, sekarang ini adalah, keberadaan Noni.
"Gua Cabut dulu yak?" Tanya Asya yang langsung bergegas keluar dari pintu kamar pasien tersebut, tanpa menoleh melirik Bintang.
Cowok itu hanya mengangguk.
.
.
.
Cewek cantik nan tomboy itu, Asya, segera menaiki motor Vespanya, menuju tempat restoran yang di janjikan untuk pertemuannya dengan ibu Noni.
Sementara itu, bintang di dalam rumah sakit.
Cowok dengan rambut coklat tua yang sedikit berantakan, dengan balutan berlapis-lapis perban di dahinya, juga di berbagai tubuh yang sepertinya terkena cedera serius karena peristiwa tabrakan itu, sepertinya masih lumayan sakit.
Ketika sendirian, Bintang sering meringis, seperti saat ini.
"Ashhh…." Rintihnya sembari memegang bagian tubuh yang sakit.
Cowok tampan itu kembali termenung, menghela napas.
"Kejadiannya cepet banget, no. Gua ga tau kalau ini bakal berakhir kayak gini. Maaf …" Gumam Bintang yang sepertinya dipenuhi rasa penyesalan kepada Noni.
Tak sadar, ternyata satu tetes air mata mendarat mulus di pipi cowok tampan itu, Bintang.