Sekarang ini, Asya telah berada di dalam restoran, tentunya dengan seseorang yang amat penting untuk Noni. Yaitu, ibu Noni.
"Tante, jadi, gimana?" Tanya asya yang menatap mata ibunya Noni.
Perempuan yang berpakaian kebaya sederhana dengan rambut disanggul itu tampak rapuh.
"Tante juga …-" omongannya terputus karena ada sebuah panggilan dari handphone-nya.
Yaps, betul sekali. Handphone ibu Noni berdering, dengan nomor tak dikenal is calling.
Nomor tak dikenal is calling
Tentu saja, pandangan mereka langsung tertuju pada handphone tersebut.
Ibu Noni melirik asya, "angkat?" Tanyanya.
Asya mengangguk lemah, sembari tersenyum menguatkan ibu Noni.
Dengan cekatan, jemari-jemari cantik ibu Noni segera memencet fitur gagang telepon berwarna hijau.
"Ha-halo?" Celetuk ibu Noni, sembari melirik Asya. Sepertinya, ibu itu agak ketakutan.
"Anak anda, ada sama saya. Sekarang, anda bawa uang anda 1 miliyar!" Bentak seseorang disana. Terdengar dari suaranya, itu adalah suara lelaki tulen.
Mata asya dan ibu Noni membelak seketika.
"Ka-kamu siapa?" Tanya ibu Noni lagi, kali ini dirinya begitu panik dan cemas, karena sepertinya anak semata wayangnya telah diculik.
"Aku? Kamu gak kenal siapa aku? Hah! Aku ini Gorhi! Musuh bebuyutan keluargamu! Azuela!" Teriak orang tersebut.
Deg!
Jadi, karena memang sifat ambisius ayahnya dalam memenangkan setiap proyek yang ia kerjakan, itu tentu saja membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya kurang menyukainya.
Keluarga Azuela bukanlah keluarga kaya raya, tapi karena keambisiusan ayah Noni, mereka jadi bisa kaya raya dan di akui sebagai keluarga darah biru terpandang.
"O-oke … tapi, kamu jangan apa-apain anak saya, ya …" isak tangis perempuan paruh baya itu tidak dapat tertahan lagi, dahinya mengernyit, suaranya semakin mengecil. Nanar matanya rapuh.
Tampaknya Asya tahu dirinya harus bertindak apa, dengan cekatan, Asya membopong ibu Noni ke arah parkiran.
Cewek tomboy itu, Asya, berpikir kalau sebaiknya ibu Noni di bawa ke rumah sakit harapan kita.
Supaya bisa istirahat dan kalau ada apa-apa bisa cepat di tangani.
Kondisi perempuan paruh baya itu pasti sedang tidak baik-baik saja.
Bagaimana bisa, ada seorang ibu yang baik-baik saja ketika anaknya sedang dalam posisi bahaya seperti itu?
Sekarang ini, motor Vespa cewek tomboy itu berjalan dengan kecepatan sedang, tentu saja, Asya tidak mungkin ngegas dengan kecepatan tinggi, terlebih ibu Noni sedang tidak baik-baik saja.
"Sya …, kita ke tempat Noni aja, yuk?" Lirih Ibu Noni yang mencengkram kedua pinggang ramping cewek tomboy itu, Asya.
"Ah … gabisa nte, maaf. Asya harus pentingin kesehatan Tante …" asya ikut-ikutan berbicara pelan.
Sekarang ini, mereka sudah berada di parkiran motor Rumah Sakit Harapan Kita.
Asya, cewek tomboy itu melepas helm yang tengah dipakainya.
Mata cantik cewek garang itu melirik mamanya Noni yang tampak semakin sulut dalam kesedihannya.
Asya dan ibu Noni berjalan ke arah pintu masuk atau loby Rumah Sakit Harapan Kita.
Sembari telapak tangan kasar cewek cantik itu mengusap-usap b****g wanita paruh baya itu.
"Hiks …" akhirnya Isak tangis itu pun keluar juga, walaupun ibu Noni memilih untuk memendamnya, tapi, tampaknya perempuan paruh baya itu sudah tak kuat lagi menahan nyeri di uluh hatinya.
Pastinya pikirannya juga kacau.
"Sya …" lirih ibu Noni sembari menyandarkan kepalanya di bahu asya.
Sedangkan cewek tomboy itu tengah sibuk mengisi formulir tamu yang datang ke dalam rumah sakit tersebut.
Tentunya untuk laporan ke atas saat ada pengecekan.
"sya, Tante mau ketemu Noni … hiks …," akhirnya Isak tangis itu makin menjadi-jadi tampaknya pikiran wanita itu semakin ruwet.
Asya, cewek tomboy itu tidak menjawab apa-apa. Dirinya juga sedang berpikir keras.
Harus apa dia?
Asya, kan tidak dibesarkan oleh kasih sayang seorang ibu.
Ibunya telah lama meninggal sejak dirinya masih balita.
Tentunya, itu membuat cewek tersebut menjadi pribadi yang dingin dan tidak mudah terbuai oleh omongan buaya darat.
"Nte, ayok ke atas. Ada Bintang …, jadi Tante bisa istirahat disana. Atau mau aku pesenin kamar?" Tawar asya, sembari menatap mata cantik yang sedang terlihat rapuh, ibu Noni.
"Tante gak mau sekamar sama Bintang. Pesenin aja, deh." Celetuk perempuan tua tersebut, sembari menatap polos mata cantik asya.
"Oke deh!" Asya antuasias dan menghela napas, lalus segera bergegas check out kamar pasien yang berdekatan dengan kamar Bintang.
Tujuannya agar nanti Asya tidak terlalu capek untuk bolak-balik.
Setelah mengantarkan ibu Noni ke kamar yang ia mau, sekarang asya ingin segera berdiskusi bagaimana baiknya pada perempuan paruh baya tersebut.
"Nte, jadi sekarang mau gimana? Telpon ayahnya Noni, kah?" Tebak cewek tomboi yang perlahan-lahan mulai duduk di kursi sofa berhadapan dengan ibunya Noni.
Perempuan paruh baya itu hanya mengangguk lemah, nanar matanya masih terlihat begitu rapuh.
Asya, cewek tomboy itu segera mengambil handphone yang ada di genggaman tangan ibunya Noni.
Dan dengan cekatan jari-jari cantiknya mencari nomor ayahnya asya, untuk segera di telepon.
Asya menatap serius handphone milik ibu Noni. Dan tak butuh waktu lama, cewek tomboy itu sudah menemukan nomor yang ia inginkan.
Klik
"Halo? Om, ini aku asya, temannya Noni. Em, ibunya Noni lagi ada di sebelah aku, om." Jelas asya panjang lebar agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Ah, ya. Ada apa?" Tanya pria paruh baya di dalam hp.
"Om, gini. Tadi, barusan banget, ada yang telepon Tante. Nah, itu sih, katanya musuh bebuyutan keluarga kalian. Kalau gak salah, namanya Gorhi." Celoteh asya menjelaskan lebih detail maksud tujuannya dalam menelpon ayah Noni.
"Oh ya? Ck, si brengsekk itu, dia minta berapa?" Tanya Ayahnya Noni, dengan nada acuh tak acuh.
"1 miliyar, om." Jawab asya dengan singkat dan langsung pada intinya.
"Oh, oke. Nanti saya tinggal bereskan masalah ini. Kamu jagain istri saya, ya. Sekarang kalian dimana?" Tanya lagi Ayah Noni yang kali ini terdengar sedikit peduli.
"Ah, nanti Tante saya anterin pulang, kok." Jawab Asya sembari menggaruk tengkuknya yang agak gatal.
"Oke. Udah, kamu dan mamanya Noni, gausah pusing-pusing pikirin ini." Jawab pria paruh baya itu, yang kemudian di akhir katanya segera mematikan sambungan telepon secara sepihak, tanpa mendengarkan jawaban Asya.
Asya, cewek tomboy itu menghela napas, dan segera membawa ibunya Noni untuk kembali ke rumahnya.
Setelah sampai di rumah kediaman keluarga Azuela.
"Tante, mau aku temenin, atau sendirian aja disini? Nanti, katanya om bakal pulang bawa Noni." Tanya cewek tomboy yang masih menggunakan helmnya, berada di dalam ruang tamu rumah minimalis nan megah itu.
"Tante disini sendiri aja. Kamu bantu Bintang, ya. Tante gamau Noni sedih karena Bintang terbengkalai begitu saja." Jawab ibunya Noni sembari duduk di kursi sofa dan menghela napas panjang. Raut wajahnya masih menampakkan sisa sisa kekhwatiran, meskipun Asya sudah berusaha memastikan kalau Noni akan tetap baik-baik saja dan pasti pulang ke rumah bersama Ayahnya.
"Hati-hati ya, Tante." Ucap asya sembari bergegas keluar dari pintu pagarnya, menutup pintu pagar tersebut.
Cewek tomboy itu, asya, menghela napas panjangnya. Terlihat dari raut wajahnya, cewek cantik dengan pakaian cool yang masih sama seperti lima hari yang lalu itu, tampak kelelahan mengurusi semua ini.
Sekarang gua bisa ke rumah sakit.
Tinggal urusin Bintang dan pastiin itu cowok gak kenapa-kenapa, aman terkendali.
Asya mulai menghidupkan mesin motor Vespanya.
Sekarang ini, cewek tomboy itu sudah berada di dalam parkiran rumah sakit tersebut.
Terlihat sangat tergesa-gesa, cewek itu sampai lupa mengambil kunci motornya.
Tapi, dia sudah pergi ke lantai atas untuk menemui Bintang.
Langkah besarnya menuju pintu kamar 152
Tapi, saat membuka kamar pintu tersebut, Bintang tidak ada.
Asya, cewek itu langsung panik seketika, dan segera mengecek ke segala penjuru ruangan kamar tersebut. Sampai ke kolong-kolongnya.
"Kemana sih anjingg! Sumpah deh? Ngerepotin banget!" Ucap Asya sembari berlari ke ruang utama Rumah sakit tersebut.
Tepatnya tempat informasi.
Dan bersamaan dengan arah kakinya yang melangkah, ia di kagetkan dengan sosok cowok yang tiba tiba menyentuh tangannya.
Refleks membuat asya emosi dan naik pitam!
Bagaimana bisa cowok itu menyentuh tangan cewek yang tidak ia kenal?
Mata asya melotot, "apaan sih! Lu siapa lagi, anjingg!" Pekik asya, kesal karena tidurnya jadi sangat kurang. Mungkin saja itu sudah termasuk ke gejala stres ringan?
"Hah? Anu.. ini, kunci motor lu ketinggalan." Ucap cowok itu sembari menyodorkan kunci motor yang memang benar milik Asya.
"Oh, iya makasih." Ucap asya singkat sembari pergi melangkah lagi.
Cowok itu hanya bisa tersenyum tulus menatap punggung asya yang semakin lama semakin jauh dan hilang.
"Sya, sya. Lo ga pernah berubah, ya?" Gumam cowok itu sembari terkekeh pelan.
.
.
.
.
Tibalah cewek itu di depan tempat informasi.
"Mba, temen saya pasien atas nama Bintang, hilang. Boleh ga liat Cctv-nya?" Tanya Asya yang langsung to the point.
"Ayok mbak, ikut saya." Celetuk satpam yang tengah berjaga di depan pintu utama tempat orang berlalu lalang keluar dan masuk.
Dengan cekatan kaki kecil cewek tomboy itu mengikuti langkah satpam yang kecepatannya sama dengan dirinya.
Dan sekarang, mereka sudah sampai di pos jaga satpam.
Bertuliskan rahasia di luar pintu tersebut.
Asya mengernyit heran, tapi memilih bungkam dan melihat apa yang mau satpam itu perlihatkan.
Terlihat di dalam ruangan tersebut ada beberapa layar monitor dan juga sebuah keyboard juga
"Oke, kamar temen mba nomor berapa?" Tanya satpam sambil mengutak-atik keyboardnya, lalu beralih ke mouse, menggeser posisinya dan menekannya dengan jari telunjuk, dan pandangannya tidak beralih dari layar monitor.
"152." Jawab asya sembari meneguk ludahnya, disertai dengan napasnya yang tidak normal alias cepat, itu karena cewek itu sedang dilanda kepanikan yang amat.
Tidak butuh waktu beberapa menit, kini terlihat jelas rekaman di luar lorong lantai dua, tepatnya menyorot bagian kamar bertuliskan nomor 152, kamar tempat cowok tampan itu, bintang, dirawat.
"Jam berapa?" Tanya satpam lagi, sembari mengutak-atik monitor tersebut, tanpa duduk.
"Sekitar jam 5 sore." Balas asya yang juga tengah serius memperhatikan layar monitor.
Terlihat jelas, disitu, Bintang yang keluar sendirian dari kamarnya, padahal kaki dan tangannya masih di perban.
Jadi, sebenarnya kemanakah cowok itu pergi?