"Anu, pak. Bisa lihat yang setelah Bintang jalan? Ke arah lorong kiri pintu keluar?" Tanya asya yang tengah serius memperhatikan layar monitor, tanpa berkedip sedikitpun.
Pak satpam mengangguk, mengutak-atik mouse yang ia pegang.
Tidak butuh waktu beberapa lama, terlihat Bintang yang tertatih-tatih melangkah dengan langkah terseok-seok memegang kakinya yang tengah terseret-seret.
"Ada, lagi pak? Ke arah yang lebih kesananya." Pinta Asya, berharap kalau segera bisa menemukan dimana titik Bintang berada saat ini.
"Ah, ya. Tapi ini sudut yang terakhir, mbak." Jawab pak satpam sembari mendengus lemah, mengutak-atik mouse itu lagi.
Tidak ada.
Tidak ada Bintang di akhir video.
Dahi asya mengernyit, mencoba mengerti.
"Hah? Mana si bintang, ya?" Tanya asya entah pada dirinya sendiri atau dengan pak satpam.
Lalu pria tua berkumis yang tak lain adalah pak satpam itu menghela napas, sembari melirik Asya yang tengah serius memperhatikan layar monitor.
"Mbak, mendingan kita langsung ke lantai dua, deh. Kita cari kira-kira ruangan apa aja yang nggak kesorot cctv-nya." Usul sang satpam.
"Oke. Ayok pak." Jawab asya disertai dengan derap langkah yang cepat. Lantas pak satpam mengimbangi kecepatan langkah cewek bergaya tomboy tersebut, Asya.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini mereka telah berada di lantai dua. Depan arah tangga berlalu lalang orang.
"Kiri." Ucap asya sembari semakin cepat melangkahkan kakinya. Diikuti dengan pak satpam yang terasa agak letih karena tidak terbiasa berjalan cepat.
Kini, asya berhenti di kamar 142, karena tadi saat memperhatikan layar monitor, cewek tomboy itu melihat batas cctv ke arah lorong kiri hanya pada kamar 142, sementara kamar nomor 141 dan seterusnya tidak terlihat.
Sepertinya cctv di rumah Sakit tersebut kurang lengkap.
"Pak. Disini, coba ketuk satu satu pintu disini." Pinta Asya, melirik pak satpam yang sedang mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Iya mbak." Jawab pak satpam sembari mengatur napasnya agar lancar dan normal kembali seperti semula.
Kamar 141
"Permisi, ada orang kah?" Tanya satpam dengan sopan, sembari mengetuk-ngetuk pintunya.
Terdengar suara dari dalam yang menyahut kemudian membukakan pintu. Ya, kini beberapa kamar bagian paling kiri mulai di geledah satu persatu.
"Cari siapa pak?" Tanya seorang cewek cantik dengan pakaian kaus kutang dan celana diatas paha, membuatnya terlihat semakin sekksi.
"Anu, ada pasien yang masuk ke kamar anda, kah?" Tanya satpam itu lagi. Asya yang melihat kelambatan itu merasa harus dialah yang segera menuntaskan kejadian ini.
"CK, gini mba. Ada cowok pake perban di tangan, kaki, sama dahi. Masuk gak?" Tanya asya yang langsung memotong pembicaraan mereka.
Cewek seksii itu menggeleng-geleng.
Lalu selanjutnya pintu nomor 140.
Seperti biasa, pak satpam mengetuk pintu terlebih dahulu, menyapa dan menanyakan dengan to the point seperti cara Asya bertanya.
Dan hasilnya nihil.
Sudah sampai pada kamar terakhir, yaitu kamar 131, sedangkan kamar nomor 130 ada di lantai satu atau lantai bawah.
Tapi, letak kamar nomor 131 tidak sepenuhnya berada di pojok tembok.
Ternyata, ada pintu darurat menuju lantai atas.
Dengan sigap tanpa memperdulikan pak satpam yang tengah berinteraksi yaitu bertanya pada pemilik kamar, cewek itu langsung bergegas lari ke lantai paling atas rumah sakit itu, tentunya menggunakan pintu darurat berwarna merah, yang bertuliskan
Dilarang masuk!
Pintu darurat.
Pak satpam yang melihat tingkah Asya yang semaunya sendiri pun segera mengejar cewek itu.
Karena tampilannya seperti orang tidak benar, pak satpam jadi berpikir kalau mungkin saja Asya mau bunuh diri!
Mungkin saja lelaki yang ia cari adalah pacarnya. Begitulah pikiran pak satpam.
Sehingga pak satpam mengejar, mengikuti jejak Asya.
Asya sudah tiba di lantai atas, bassement Rumah Sakit Harapan Kita.
Benar saja dugaannya, Bintang tengah duduk terbaring. Entah kenapa, feeling cewek tomboy yang berlagak semaunya itu rata rata hampir selalu benar.
Asya menghela napas, sekarang hatinya jauh lebih lega. Karena telah menemukan orang yang akan menjadi sumber perpecahan pertemanan antara Asya dan Noni.
Dengan gaya tomboynya, yaitu dengan tampilan kedua tangan di masukkan ke dalam saku jaket, membuat cewek tomboy yang keliatan urak-urakan itu terlihat semakin seperti cewek gengster.
Sementara pak satpam belum sampai, tentu saja pria paruh baya itu berjalan dengan pelan-pelan karena kecepatannya tidak akan bisa atau mampu mengimbangi Asya.
Di atas bassment.
"Bin. Anjing lu bikin gua panik." Ketus Asya, perlahan-lahan berjalan mendekat pada cowok itu.
Cowok tampan yang sedang melihat-lihat langit itu tidak menjawab, dirinya hanya menatap lesu langit-langit yang sebentar lagi akan gelap gulita.
Yaps, ini sudah memasuki waktu magrib.
Bintang menghela napas, lalu menoleh ke arah asya. "Sya, entah kenapa gua yakin Noni dan ayahnya ngga bakal ditemukan." Celetuk bintang.
Ada sesuatu yang aneh.
Kenapa, bintang tahu perihal Noni yang di cari ayahnya?
Padahal asya belum menceritakannya.
Darimana cowok itu bisa tahu?
Dahi asya mengerinyit heran. Lalu mencoba duduk di sebelah Bintang.
"Lu tau darimana?" Tanya asya penasaran, sampai-sampai ia tengah serius memperhatikan wajah Bintang yang masih setia menatap langit senja.
Fenomena tenggelamnya matahari di kala petang menuju malam.
Bintang meneguk ludahnya, sembari menoleh ke asya.
"Gatau, perasaan gua bilang gitu." Jawab Bintang yang tengah menatap mata asya.
"Oh." Asya memilih untuk menjawab singkat, karena setelah sembuh dari amnesia, bintang menjadi semakin aneh. Entah kenapa, asya merasa seperti itu.
Sebenarnya apa yang telah di lalui bintang saat masa masa komanya?
"Tang, kita berdoa aja. Semoga Noni cepet ketemu." Usul asya, yang beranjak berdiri.
"Lu pasti laper. Kuy lah gua ajak makan diluar." Ucap Asya sembari menghela napas panjangnya.
Bintang tersenyum tulus. Lalu ikut berdiri dibantu oleh tangan kasar cewek tomboy itu.
"Lu mau makan, apa-" pertanyaan Asya terputus, karena sangat terkaget melihat tindakan Bintang yang membuat siapapun ternganga.
Dengan gerakan santai, bintang berdiri di ujung bassment, seperti ingin loncat dari gedung tinggi rumah sakit tersebut.
"Sya, Bilang ke Noni. Gua cinta sama dia. Tapi tangan gua lumpuh. Gua udah bukan cowok yang bisa dibanggakan lagi. Gua ini, rongsokan bekas."
"Tolong jagain Noni. Dan juga, suruh Noni nurut aja sama ayahnya. Supaya kehidupan dia juga nggak terlalu tertekan karena mau hidup sama gua. Makasih ya, Sya." Ucap Bintang diakhiri dengan gerakan tutup mata serta menarik napasnya yang amat panjang, lalu merebahkan dirinya perlahan-lahan ke arah tempat mobil berlalu lalang.
Tubuh cowok itu jatuh sampai bawah, sudah tidak berbentuk lagi. Seperti mainan yang terbanting dari ketinggian 150 meter.
Bintang telah meninggal.
Keluarganya tidak perduli. Tapi, yang ditinggalkannya yaitu teman-temannya, tidak bisa mengikhlaskan dia begitu saja.
Bintang, dikenal cowok yang selalu baik pada siapa saja, ramah, asik, dan terlebih cintanya pada Noni, siapapun tahu kalau cintanya itu sangat tulus.
Apalagi Leon, Riko, Ryan, Asya dan Gaby. Mereka semua sangat merasa kehilangan pada sosok kalem yang biasanya menemani mereka saat sedang berkeluh kesah pada mereka.
Jangan tanyakan tentang kondisi Noni. Oh ya, perempuan itu sudah ditemukan oleh ayahnya. Dan baik baik saja.
Alasan kenapa Bintang memilih bunuh diri, sebenarnya memang sudah di dukung masalah-masalah lampau yang masih tersimpan rapat di hatinya, dan juga saat tau kalau ayah Noni sangat amat tidak menyukainya, membuat hati cowok baik baik itu semakin terluka. Jadi dia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Semuanya benar-benar sudah cowok itu rencanakan sejak sadar dari komanya.
.
.
.
.
Dan sekarang, Noni masih dirawat di Rumah Sakit Jiwa, padahal sudah 2 tahun sejak kejadian itu.
Flashback selesai
_________________