Inara sadar?!

1043 Kata
Tidak ada yang tahu kondisi mental dan psikis Leon. Cowok itu tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Tak terkecuali Ryan, Riko, Asya, dan Gaby. Lebih tepatnya mereka memilih untuk melupakan sosok Bintang. Yang jika di ingat-ingat itu adalah luka terdalam dari persahabatan mereka. . . . Langit mulai Berganti suasana, perlahan menjadi semakin gelap. Leon, cowok tampan yang sedang kacau itu tidak beranjak dari tempat duduknya. Sepertinya cowok itu ingin memastikan kalau cewek yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit itu baik-baik saja, alias sadar. Sedari tadi, kepala Leon tidak berhenti berpikiran negatif. Membuatnya semakin depresi. Cowok tampan itu tidak lagi memperhatikan dirinya barang sedikitpun. Terus menunduk, dengan dua kepalan tangan di dahinya. "Nar …" lirih Leon, sepertinya cowok itu tampak sangat kelelahan, matanya sudah setengah tertutup, dan juga kepalanya nyut-nyutan. Cklek Suara pintu kamar yang terbuka membuat cowok itu bergidik kaget, menoleh melihat siapa yang datang. "Nara …," lirih seorang ibu paruh baya yang sepertinya ibu yang sering inara ceritakan. Ibu paruh baya setinggi lengan Leon, yang berpakaian kaos hitam dengan rok batik dan juga rambut yang dicepol membuatnya terlihat semakin seperti sosok ibu-ibu pada umumnya. Ibu paruh baya yang tak lain adalah ibu Inara itu menoleh ke arah cowok yang matanya sudah sedikit membengkak akibat kejadian tangis-tangisan tadi. "Kamu, kamu tau Inara kenapa?" Tanya pelan ibu tersebut, sembari menatap Leon. "Ngga tau Bu, tadi saya hanya ajak jalan-jalan keluar …," lirih Leon karena merasa bersalah. Ibu itu tidak menjawab, sepertinya ia kecewa, tapi memilih bungkam saja. "Nara …, bangun sayang …, ibu udah Dateng, lho … hiks …," lirih ibu tersebut sembari mengusap-usap dahi cewek cantik yang diam membisu, masih belum sadarkan diri. Tak sadar linangan air mata itu mendarat mulus di pipi keriput ibu paruh baya tersebut, dengan nanar mata rapuh, ibu tersebut terus saja menatap wajah anak ceweknya yang terasa dingin dan sedikit pucat. . . . Sekarang sudah pukul 20:13 WIB Bersamaan dengan ketepatan detik itu, cewek cantik yang lubang hidungnya dimasukkan alat pembantu napas itu, perlahan-lahan mulai menggerakkan jari jemarinya. Perlahan membuka mata dengan mengerjap-erjap beberapa kali. Bersamaan dengan itu pula, suara nit nit dari mesin yang terhubung dengan infusan itu berhenti berbunyi. "Ibu …," lirih cewek yang terbaring itu, siapa lagi kalau bukan Inara Djustike. "Nar, kamu kok bisa gini? Makan pantangan, kah?" Lirih si ibu sembari mengusap-usap pucuk kepala Ina. Cewek cantik yang terlihat lemah itu menoleh, terlihat jelas wajah Leon yang masih sembap akibat kejadian dramatis tadi. "Nar? Gua balik ya. Udah ada mama lu kan." Ucap Leon sangat pelan seperti orang berbisik, kemudian sekilas menatap mata ibu Inara, dan bergegas pergi keluar. Dahi cewek cantik itu mengerinyit heran, "Yon …," lirih Inara sembari mencoba bangkit, namun badannya masih terasa sakit. "Nar, mendingan kamu pilih dulu. Nanti juga bisa ketemu kan? Mungkin temenmu ada urusan mendadak …" lirih si ibu sembari duduk di kursi tempat cowok tadi duduk, Leon. Inara mengangguk lemah, sembari menutup mata lagi. "Nar, ibu kaget loh. Baru pulang, capek, eh di telpon dan suruh segera kesini. Hmmmm …" keluh ibu Ina, sembari menatap cewek yang tengah terbaring lemah, masih menutup mata. "Iya. Ibu pulang aja. Aku kan cuma beban." Jawab Ina seadanya, masih menutup mata. Mendengar hal itu, ibunya mengernyit heran, bagaimana bisa, anak itu berani berkata hal yang tidak sopan pada ibunya sendiri? Cewek itu menghela napas, dan segera berpura-pura tidur. Ibunya tidak menjawab, memilih untuk diam bungkam seribu bahasa, lalu menghela napas dan pergi keluar.  Entah untuk pulang, atau sekedar cari angin lalu kembali lagi. Yang jelas Inara, cewek cantik itu agak sedikit kaget karena ternyata ibunya seperduli itu.  Tapi ini terlalu tiba-tiba untuknya. "Nar ….," Lirih sang ibu sembari hendak keluar dari kamar rawat itu. "Cepet sembuh, ya." Ucap sang ibu, yang terdengar sangat pelan. Lalu benar-benar meninggalkan Inara sendirian yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit tersebut. Cklek … Terdengar lagi, suara pintu yang terbuka. Siapa? Apakah ibunya, lagi? Lantas cewek itu menoleh membuka matanya sembari menghela napas. Terlihat cowok tampan yang tak lain adalah Leonara, masuk ke dalam ruangan tersebut. Lagi. Dahi cewek itu mengernyit, tapi sepertinya Inara bisa menebak, kalau cowok tampan itu, Leon kembali karena ingin memberikan bungkusan yang berada dalam genggamannya itu. Perlahan-lahan derap langkah cowok itu disertai hembusan napasnya yang terdengar jelas, berjalan ke arah dimana cewek itu, Inara, terbaring lemah. Sedari tadi, cowok itu hanya menunduk. Leon, cowok tampan itu mengangkat kepalanya, menatap mata Ina. "Nih." Ucap Leon pelan, sembari menyodorkan sebungkus makanan yang entah apa itu isinya. Inara tidak menjawab, dahinya masih mengerinyit, "Apa?" Tanya Inara disertai hembusan napasnya. Sementara cowok itu tidak menjawab, dia langsung menaruh bungkusan itu di atas meja samping ranjang Ina. "Gua balik." Ucap Leon tanpa berani menatap mata Inara. "Jangan pergi." Ucap cewek yang tengah terbaring, tapi sekarang terlihat berusaha mendudukkan dirinya di ranjang Tersebut. Langkah besar nan cepat cowok itu seketika terhenti, lalu berdiam diri sejenak. Entah kenapa cowok itu lumayan lama menjawab. "Gabisa." Ucap Leon yang menghela napas, sembari mempercepat langkahnya. Sepertinya cowok tampan itu tidak mau lama-lama berada di sini. "Yaudah gua ga bakal makan." Celetuk Inara yang detik itu juga mampu membuat leonara kembali ke sisinya.  Sekarang ini, jemari-jemari besar Leon sedang sibuk membuka bungkusan itu. Dan ternyata isinya adalah ayam geprek kesukaan Inara. Yang entah sejak kapan dirinya menjadikan ayam geprek adalah makanan favoritnya. " Mau gua suapin?" Tawar Leon yang masih menunduk, tapi tangannya sibuk mengaduk makanan tersebut. Inara mengangguk cepat, lalu tersenyum ringan. Entah mengapa, dirinya jadi seperti itu sekarang. Inara sendiri juga tidak tahu apa penyebabnya. Dan sebenarnya cewek canti itu, Inara, merasa aneh pada dirinya yang tidak mau Leon pergi. "Buka mulut." Perintah Leon yang masih menunduk. Sebelum menuruti hal tersebut, Inara mengerinyit heran, "kenapa sih? Lu kenapa?" Tanya Inara yang sepertinya agak kesal dengan tingkah Leon saat ini. "Gapapa. Udah ceper ma-" omongan Leon terputus oleh sautan inara. "Kalo lu gamau jujur. Gua gamau makan." Ancam Inara, cewek itu menghela napasnya lagi. Leon, cowok tampan itu berhenti menyiapkan makanan. Cowok itu hanya diam saja, mungkin bingung mau menjelaskan darimana. Sementara Inara terus saja menatap Leon yang tengah menunduk, tidak seperti Leon yang ia kenal. Inara menghela napas lagi, "Yon. Lu kenapa?" Tanya Inara lagi. "Ah, ga seru. Katanya cinta, masa suruh ngaku gini doan-" pancing Ina, karena tampaknya cewek cantik itu tau harus melakukan apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN