Saya tahu, sebisa mungkin Rahmat berusaha bersikap biasa seolah tidak tahu perasaan saya terhadap Salma. Ia tetap ceria, senyumnya tak pernah lepas dengan binar mata khasnya. Namun, sebaik apa pun ia menutupinya, sikapnya tersebut tidaklah alami. Saya dapat menangkap sedikit kekakuannya. Lantaran Rahmat tidak mengatakan apa-apa, saya pun memutuskan diam. Saya bersikap pura-pura tidak mengetahuinya juga. Kami sama-sama menatap kepergian Salma. “Gus,” panggilnya menyentakkan kesadaran saya. Buru-buru saya menoleh. Salma telah mengilang. Langkahnya yang tergesa-gesa membuat saya merasa sangat cepat kehilangannya. Bergumam, saya menjawab panggilan Rahmat. “Menurutmu bagaimana kalau aku mempercepat hari pernikahanku dengannya?” “Mempercepat bagaimana maksudmu? Bukannya lebaran dua hari su

