Matanya sembab dengan sisa-sisa air mata yang masih menggenang. Seorang diri ia terpekur di bangku koridor ruang IGD. Tak ingin mengganggunya, saya memilih menjauh dan mengamatinya diam-diam. Dalam keadaan seperti ini, Salma tampak sangat rapuh, mengingatkan saya akan dandelion yang mudah terbang ditiup angin. Raut cantiknya tampak murung, sementara mata sendunya menerawang entah apa yang ditatapnya. Membangkitkan naluri ingin melindungi dalam diri saya. Mata saya mengikuti gerakannya. Sesekali ia menyampirkan mukena yang masih dipakainya sejak dari rumah, ke bahunya. Jenis mukena terusan panjang. Mungkin ia baru saja melaksanakan salat Duha saat bapaknya mengalami sesak napas parah. Yakin di balik mukena itu Salma tidak mengenakan kerudung, saya beranjak keluar dari rumah sakit untuk

